Ada Rencana posts

Aling Martins Misa Ulang Tahun Kemerdekaan Tak lama lagi Bangsa Indonesia memperingati Ulang Tahun Kemerdekaannya. Umat Katolik Indonesia pun mensyukurinya dengan merayakan Misa khusus. Untuk apa dan bagaimana Misa khusus ini dirayakan? Saya akan coba mengupas se Read more ... cara singkat di bawah ini. Dalam Penanggalan Liturgi 2015, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah mencantumkan 17 Agustus sebagai suatu "Hari Raya" atau "Solemnitas" dalam Bahasa Latinnya. Apa artinya? Artinya, pada tanggal 17 Agustus seluruh umat Katolik di Indonesia wajib mengikuti Misa Kudus yang dirayakan dengan kemeriahan yang setingkat dengan "Hari Raya" yang lain. Di tahun 2015, 17 Agustus jatuh pada hari Senin; haruskah kita pergi ke gereja? Iya! Bukankah sebagian dari kita harus ikut upacara bendera di kantor, di sekolah/kampus atau di tempat lain? Seperti kata Yesus dalam bacaan Injil hari itu, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Tapi, pertama-tama, kenapa kita merayakan Ekaristi pada Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan? Jawabnya, sama seperti ketika kita merayakan Ekaristi pada hari-hari yang lain. "Ekaristi adalah kurban syukur kepada Bapa. Ia adalah pujian, yang olehnya Gereja menyatakan terima kasihnya kepada Allah untuk segala kebaikan-Nya ..." (Katekismus Gereja Katolik 1360) Jadi, merayakan Ekaristi di Hari Raya Kemerdekaan RI adalah ungkapan syukur dan pujian kita umat Katolik Indonesia kepada Bapa atas anugerah kemerdekaan bagi kita. Berikutnya, bagaimana Misa di hari itu dirayakan? Ya sama dengan Misa di hari-hari raya yang lain. Pada suatu Misa di "Hari Raya" ada dua bacaan plus Injil; Kemuliaan diucapkan; Aku Percaya diucapkan; bisa digunakan lilin altar sebanyak 6 buah; bisa pula digunakan dupa; gedung gereja pun bisa dihiasi dengan bunga secara lebih indah dari biasanya; dan lain sebagainya, yang kesemuanya menunjukkan bahwa hari itu bukanlah suatu hari yang biasa. Di beberapa tempat, ada yang memasukkan penghormatan bendera merah putih di dalam Misa. Pertanyaannya, untuk apa? Misa kan ungkapan syukur dan pujian kepada Bapa? Apa relevansi menghormati bendera dalam ritual syukur dan pujian kepada Bapa? Ada pula yang memasukkan pembacaan teks Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Hmmm. Ini kan bukan upacara bendera? Tentang hal ini, Vatikan sudah memberikan wejangan, "... perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak akan kehilangan artinya yang otentik." (Redemptionis Sacramentum 78) Jadi, hindarkanlah merayakan Ekaristi seperti merayakan upacara bendera, agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik, yang di antaranya adalah kurban syukur dan pujian kepada Bapa. Bagaimana dengan lagu-lagunya? Ada beberapa lagu liturgis untuk Nusa dan Bangsa di Puji Syukur nomor 704-707. Bisa juga digunakan lagu-lagu lain bertemakan pujian dan syukur di nomor 664-681. Bolehkan kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya? Pertanyaannya, apakah itu lagu-lagu yang liturgis dan sesuai untuk ritual suci melambungkan syukur dan pujian kepada Allah? Kalau jawabnya tidak, maka tidak ada manfaatnya menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam Misa dan malahan bisa mengaburkan makna Ekaristi. Silakan baca ulang kutipan dokumen Vatikan di paragraf di atas. Kreativitas dalam merayakan Ekaristi pada Peringatan Ulang Tahun Kemerdekaan bukan sama sekali ditabukan. Silakan direncanakan dengan baik dan cermat, dalam koridor norma-norma yang berlaku. Perlu diingat kembali hakikat perayaan suci ini dan jangan sampai pernak-pernik atau tambahan-tambahan kreativitas di dalamnya malahan mengaburkan makna dan tujuan perayaan ini dan/atau mengalihkan perhatian kita dari Kristus, yang harusnya menjadi pusat perayaan suci ini. Selamat memperingati Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Jangan lupa ikut Misa. Mari kita panjatkan syukur dan pujian kepada Allah Bapa yang mahabaik, yang telah menganugerahkan kemerdekaan dan kebebasan kepada bangsa kita. Tambahan: Untuk Misa di Hari Raya Kemerdekaan RI digunakan bacaan-bacaan seturut penanggalan liturgi. Baik juga jika digunakan Prefasi Tanah Air (TPE Imam, hal 104-106) dan Doa Pembuka seperti di bawah ini (Sumber: Misale Romawi - Untuk Nusa dan Bangsa): Doa Pembuka Ya Allah, Engkau mengatur alam semesta menurut rencana yang mengagumkan. Dengarkanlah dengan rela doa-doa kami untuk tanah air kami. Semoga berkat kebijaksanaan para pemimpin dan keluhuran pribadi para warga kerukunan dan keadilan diteguhkan dan terwujudlah kesejahteraan dalam damai. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Aling Martins
127 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA Rabu Siang, 10 Juni 2015 -------------------------------- APA KOMUNISME BISA DIBASMI? * * * Dengan sendirinya! Kalau, sebuah tulisan (oleh Ed Sturton) – disiarkan oleh BBC (08 Jni 2015) – mempersoalkan “APAKAH PAUS F Read more ... RANSISKUS SEORANG KOMUNIS?” -- Maka, --- Bisa diajukan tanya-lanjut: “Apa Komunisme Bisa Dibasmi?” * * * Fikirkan perkembangan di Indonesia: -- Sudah setengah abad lebih berlalu, namun, -- Indonesia (masih) 'belum selesai' dengan problim bagaimana memahami sejarahnya sendiri. Terutama setelah kejadian PEMBNTAIAN MASAL SEKITAR PERISTIWA 1965. Angka korban berbeda-beda. Kebanyakan tulisan penelitian dan studi, menyatakan, bahwa, lebih dari setengah juta warganegara tak bersalah telah dibantai atas tuduhan 'terlibat G30S”, dianggp anggota atau simpatisan atau 'dekat' dengan PKI. Sudah setengah abad lebih berlalu pembantaian dan pemusnahan terhadap PKI, serta pengucilan dan diskriminasi terhadap korban dan keluarga mereka – tokh, . . . . masih saja ada sementara jendral, penulis dan pemimpin agama yang mencanangkan ' bahwa ada bahaya (laten) komunisme gaya baru'. Coba fikirkan: para korban Peristiwa 1965 yang masih hidup kumpul-kumpul dalam suatu paguyuban, terdiri dari orang-orang manula, gaék-gaék. Peristiwa itu serta merta dicap sebagai kegiatan untuk 'menghidupkan kembali PKI'. Sesuatu yang tak masuk akal waras, -- tapi masih terus douar-uarkan. Dari situasi ini bisa ditarik paling tidak dua macam kesimpulan: Pertama, --- Ribut-ribut 'bahaya komunis' semata-mata merupakan 'perang urat-syrat' (psywar) -- untuk mengalihkan perhatian. Suatu usaha mencegah diungkapkannya apa yang terjadi di sekitar Peristiwa Pembantaian Masal 1965. Dalam konteks ini merupakan usaha untuk MELAWAN POSES REKONSILIASI di atas dasar Keadilan dan Kebenaran. Berusaha mencegah terlaksananya rencana Presiden Jokowi untuk suatu REKONSILIASI sehubungan dengan Pelanggaran HAM Berat, terutama dalam Peristiwa 1965. Kedua, --- Mereka-mereka yang menguar-uarkan 'bahaya kebangkitan PKI/ Komunisme di Indonesia, -- benar-benar percaya ocehan mereka sendiri itu. Mereka percaya bahwa Komunisme dan PKI itu tetap merupakan bahaya! Suatu kepercayaan yang sulit masuk diakal. Mengingat Orba sudah merekayasa MPRS mengmbil keputusn TAP MPRS No XXV/ Th 1966, mengenai larangan terhadap ajaran Maxisme/Komunisme. Sebagai pelengkap di bidang 'perundang-undangan' – untuk 'melegitimasi' kampanye pemusnahan PKI, yang menimbulkan korban lebih setengah juta warga yang tidak bersalah. * * * Baiklah, asumsikan saja dua-dua kemungkinan tsb diatas itu memang ada. Di dunia internasional, -- apa masih ada kekhawatiran dan ketakutan terhadap komunisme? Jelas ada! Meskipun sejumlah orang terus mengkampanyekan: Agar tidak usah takut pada Tiongkok yang secara formal negaranya berdasarkan faham Komunisme – karena TIONGKOK DEWASA INI SUDAH BERUBAH, SUDAH BUKAN KOMUNIS LAGI-- Sudah menjadi KAPITALIS! Di lain fihak -- ada pendapat bahwa yang dipratekkan Tiongkok dengan politik-ekonominya yang baru -- Keterbukaan dan Perubahan – TETAP ADALAH SEBUAH NEGERI SOSIALIS – bahwa Tiongkok sedang membangun Solsialisme dengan Ciri-ciri Tiongkok. Kekhawatiran bahkan ketakutan di mancanegara terhadap 'bahaya Komunisme' tercermin dalam pemberitaan BBC sekitar tulisan Ed Sturton berjudul ; “APAKAH PAUS FRANSISKUS SEORANG KOMUNIS?”. Tulis Ed Sturton: -- . . . . Kritik Paus Fransiskus mengenai ekonomi pasar bebas menjadikannya ikon bagi sayap kiri dan memicu anggapan dirinya seorang komunis. Pemimpin bagi 1,2 miliar umat Katolik ini mengatakan bahwa kapitalisme sebagai sumber ketimpangan ekonomi . . . . . . – pada sisi buruknya adalah pembunuh. Apakah sang Paus, seperti menurut kritikusnya, adalah seorang yang radikal? Sugesti Ed Sturton ini bukan tanpa alasan. Ditunjukkannya bahwa Pemimpin Kuba Raul Castro -- berterima kasih kepada Paus Fransiskus untuk perannya dalam pemulihan hubungan antara Kuba dan AS. Sehubungan dengan sikap Paus tsb Raul Castro seakan-akan guyon, menyatakan: “Bila Paus akan terus begini, saya akan kembali berdoa dan pergi ke gereja – saya tidak bercanda.”. * * * Lanjut Ed Sturton -- “Terdapat rasa skeptis di antara kaum Katolik (di AS),” . Kata Stephen Moore, pakar ekonomi di lembaga Heritage Foundation dan juga penganut kepercayaan Katolik: -- “Saya rasa Paus ini cenderung berhaluan pada ajaran Marx. Itu tidak diragukan dan dia sangat vokal atas kritikannya mengenai kapitalisme dan pasar bebas...saya sangat terganggu oleh itu.” * * * Maka, -- Jadi teringat pada suatu episode yang terjadi di Itali di periode awal Perang Dingin. Ketika itu Partai Komunis di sementara negeri Eropah Barat seperti a.l Perancis, Itali dan Belanda, amat populer dan mendapat dukungan cukup luas, karena peranan mereka selama pendudukan Nazi Jerman, paling aktif dalam perlawanan (bersenjata) untuk pembebasan negeri dari pendudukan. Vatikan yang amat khawatir semakin meluasnya pengaruh Partai Komunis Itali, mengambil kebijakan mengirimkan sejumlah pastor ke daerah perkampungan buruh dimana pengaruh Komunis terbanding Katolik, jauh lebih besar. Vatikan menugaskan para pastor yang dikirim turba itu, untuk mengubah kaum buruh yang pro-Komunis itu, menjadi Katolik yang anti- Komunis. Resultatnya, malah kontra-poroduktif. Setelah para pastor itu ditarik kembali ke Vatikan, ternyata mereka tidak berhasil membalikkan kaum buruh yang pro-Komunis menjadi Katolik yang anti-Komunis --- Sebaliknya yang terjadi – setelah beberapa bulan turba di perkampungan buruh – mayoritas pastor-pastor itu yang berubah menjadi ANGGOTA PARTAI KOMUNIS ITALI. * * * Rupanya, penderitaan dan kemiskinan yang dialami kaum buruhlah yang menyebabkan mereka menjadi pro—Komunis. * * * Di Indonesia sekarang, sudah tidak ada lagi PKI – anggota-anggota PKI yang bisa survive dari kampanye pembantaian masal Suharto, sudah pada tua-tua dan atau sakit-sakitan. TAP MPRS No XXV/1966, masih belum dicabut. Namun, -- setelah jatuhnya Presiden Suharto, ratusan bahkan ribuan literatur Marxis/Komunis memenuhi toko-toko buku. Beberapa tahun yang lalu telah terbit karya klasik Karl Marx dan Friederich Engels – DAS KAPITAL – Edisi Indonesia. Juga telah terbit lagi 'Manifes Partai Komunis', karya klasik Karl Marx. Telah terbit pula edisi bahasa Indonesia – Biografi TAN MALAKA, salah seorang pendiri dan pemimpin PKI ketika itu. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tulisan-tulisan Marxis, yang mengandung ajaran faham Komunisme, bisa muncul kembali dan dibaca orang. Dan penguasa tidak berdaya mencegahnya. * * * Apakah yang membuat Paus Fransiskus; kaum buruh Itali -- bersimpati bahkan menganggap Marxisme menunjukkan jalan keluar dari kemiskinan dan penderitaan mereka? Apa yang menyebabkan Sukarno menganut Sosialisme yang mengandung ajaran Marxis – apa yang menyebabkan PDI-P mencantumkasn TRISAKTI – yang mengandung ajaran Marxis, didalam program partainya? Apa yang menyebabkan Bung Karno, keras membela PKI, menentang PKI dibubarkan? Dan hal ini berlangsung di saat propaganda anti-Komunis berlangsung tak henti-hentinya. Setelah sementara negeri yang menyatakan menganut Marxisme/Komunisme, seperti Uni Sovyet, - ternyata gagal membangun ekonomi negeri, kemudian ambruk sebagai negara sosialis dan Rusia kembali ke sistim kapitalisme. Setelah praktek sementara partai komunis mendapat kritik keras karena dinilai tidak demokratis dan melanggar HAM. * * * Sebabnya, ---- besar sekali,--- karena sebegitu jauh, Marxisme adalah satu-satunya ajaran, yang mengadakan analisa-kritis paling mendalam terhadap sistim kapitalisme ketika itu. Suatu karya hasil studi di lapangan serta ditimba dari pengalaman kongkrit gerakan buruh di beberapa negeri. Marxime meniai sistim kaspitlisme sebagai suatu sistim ekonomi yang melakukan penghisapan terhadap kaum pekerja, terhadap rakyat luas, serta yang telah menimbulkan krisis-krisis ekonomi ; dan peperangan-peperangan perampokan dan penguasaan dari satu atau beberapa negeri kapitalis terhadap negeri lainnya, di Asia-Afrika dan Latin Amerika. Bahwa, meskipun mengandung kekurangan-kekurngan Marxisme --- telah menunjukkan hari depan dunia ini: Bahwa untuk bebas dari penghisapan dan pemerasan, jalan keluarnya bagi kaum pekerja adalah SOSIALISME. * * *
130 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA Senin Malam, 08 Juni 2015 ---------------------------------- “PKI Secara Lembaga Tidak Melakukan Pemberontakan Pada 30 September 1965” Rezim Orde Baru merumuskannya sebagai 'Pemberontakan G30S/PKI'. Menurut versi ini, -- yang Read more ... melakukan pemberontakan adalah 'Gerakan 30 September', dalangnya adalah PKI. Mengenai apa yang terjadi pada hari itu, yaitu 'Pemberontakan G30S/PKI', itu adalah versi resmi. Versi pemerintah Presiden Suharto. Versi ini dinyatakan sebagai kebenaran selama lebih dari 32 tahun mengenai apa yang terjadi ketika itu. Bahkan sampai sekarangpun sementara orang masih ada yang percaya pada kebohongn ini! Dan menjajakannya. Tapi, lebih 30 tahun setelah kejadian, Pemerhati dan Penulis Masalah Militer, Prof Dr Salim Said, penulis buku “Dari Gestapu ke Reformasi”, -- memecahkan 'kebohongan ini' dalam suatu diskusi belum lama, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UI dan Penerbit Mizan di Ruang Sinema, Gedung Perpustakaan Pusat UI, Depok. (-- Minggu, 7 Juni 2015 La Luta @yahoo.com – Sastra Pembebasan). Salim Said menegaskan : “PKI secara lembaga tidak melakukan pemberontakan pada 30 September 1965,” -- Ia menambahkan, menurut hasil otopsi, ketujuh jenderal itu tidak meninggal akibat disiksa seperti yang digambarkan di film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Isu penyiksaan digunakan untuk kampanye antikomunis yang dilakukan oleh militer, karena pada saat itu komunisme merupakan ancaman besar. * * * Para pemimpin utama PKI, --- DN Aidit, MH Lukman, Nyoto, Ir Sakirman, dll semua sudah dibunuh secara ekstra-judisial, tanpa proses pengadilan apapun. Sehingga tidak bisa langsung didakwa, di-interogasi dan diadili . Ini suatu keanehan, suatu 'keluar-biasaan' kebijakan Orde Baru. Menuduh PKI berontak, tapi piminan-pimpinan utamanya tidak langsung didakwa dan diadili. Salah satu pimpinan utama PKI, Sudisman, anggota Dewan Harian Politibiro CCPKI, diadili oleh Mahmilub. Sudisman menjelaskan di sidang Mahmilub tsb bahwa PKI tidak memberontak seperti yang dituduhkan oleh penguasa ketika itu. Salim Said menjelaskan bahwa, “Gerakan 30 September merupakan ambisi pribadi DN Adit (Ketua Umum PKI), banyak anggota PKI yang tidak tahu rencana Gerakan 30 September, Aidit melakukan Gerakan 30 September tanpa sepengetahuan Komite Pusat dan Politbiro PKI,”. * * * Seluruh Rezim Orde Baru, sesungguhnya ditegakkan di atas dasar fitnah dan tuduhan belaka , diatas dasar kebohongan dan pemalsuan sejarah. Diatas dasar pembangkangan dan pengkhianatan Jendral Suharto pada atasannya, Presiden Panglima Tertinggi ABRI, Ir Sukarno. Hal ini bisa dijelaskan a.l dengan menelusuri fakta-fakta berikut ini: Pertama, dengan menyalahgnakan sejadi-jadinya “Surat Perintah Prsiden Sukarno , Sebelas Maret 1966,” populer dikenal dng nama “SUPERSEMAR”. Jendral Suharto telah membubarkan PKI yang dituduhnya melakukan pemberontakan. Kedua, lagi dengan menyalahgunakan “SUPERSEMAR”, Jendral Suharto merekayasa MPRS mengambil keputusan melorot Presiden Sukarno dari jabatannya sebagai Presiden RI. Ketiga, lagi dengn menyalahgunakan “SUPERSEMAR”, Jendral Suharto telah merekayasa MPRS, menggangkat dirinya, menggantikan Presiden Sukarno jadi Presiden Ke-2 Republik Indonesia. Keempat, seluruh komplotan pembubaran dan pemusnahan PKI dan pimpinannya , dilakukan di atas dasar kebohongan bahwa sebelum 8 jendral dan seorang perwira TNI dibunuh oleh Gerwani/Pemuda Rakyat/PKI, mereka disiksa dan dianiaya terlebih dahulu. Matanya dicukil dan kemaluannya dipotong. Seperti diungkapkan oleh Salim Said, semua itu tidak benar. Kelima, Suatu keanehan lain yang tidak bisa dijelaskan. PKI dituduh memberontak terhadap pemerintah yang sah di bawah Presiden Sukarno. Tetapi Presiden Sukarno menentang PKI dibubarkan. Presiden Sukarno bahkan membela PKI sebgai suatu kekuatan politik nasional yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda. Keenam, Keanehan lainnya yang tidak mungkin bisa dijelaskan oleh Orde Baru, adalah perkembangan berikut ini: Jendral Suharto menuduh PKI memberontak. Tetapi kenyataannya, yang menggeser Presiden Sukarno dari jabatannya, adalah Jendral Suharto sendiri dkk. Dan Jendral Suharto menegakkan rezim Orde Baru, dengan memanipulasi MPRS mengangkat dirinya menjadi Presiden Ke-2 Repubik Indonesia. * * *
130 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA Minggu Pagi – 17 Mei 2015 ---------------------------------- KELUHAN RAKYAT “Untuk Telinga PRESIDEN” Blusukan adalah cara yang termasuk 'khas' langgam kerja JOKOWI untuk “mendengar” sendiri suara, terutama keluhan rak Read more ... yat kecil yang dipimpinnya. Juga merupakan cara mengkonsekwenkan transparansi. Berita Viva.co.id patut dibaca. Karena merupakan gambaran hidup metode 'blusukan' Jokowi. Di 'forum transparan' tsb rakyat menyatakan 'curhatnya', keluhannya dan harapannya kepada Sang Pemimpin. * * * Tadinya akan ku-mulai menulis sekadar “KRONIK PULANG KAMPUNG” setelah kunjungan tiga minggu ke Tanah Air tertcinta. yang amat mengesankan dan mengisnpirasi. Tetapi berita pagi ini sekitar 'curhat' para pendukung Jokowi, dan janji serta komitmen Jokowi pada pendukungnya adalah lebih penting untuk bisa segera diketahui masyarakat luas. Misalnya, – – Baru saja disiarkan sekitar 'gregetanya' kalangn TNI untuk memenuhi rayuan sementara kalangn KPK untuk melibatkan diri dalam kegiatan yang bukan bidangnya. Padahal dalam 'curhat' warga yang didengr sendiri oleh Presiden, bisa dibaca antara lain berita berikut ini: “Seorang warga Deli Serdang, Sumatera Utara bernama Suriani Manurung, dengan berlinang air mata, mengadukan perilaku TNI yang menyerobot tanah mereka. Dia mengaku, dulu kawasan tempat dia tinggalnya selalu swasembada beras. Tapi kondisi berbalik usai aksi TNI tersebut. "Lahan pertanian kami yang sudah swasembada telah diobrak-abrik TNI. Bagaimana tercapainya program Pak Jokowi, kalau lahan itu diobrak-abrik TNI. Kami mohon, selaku panglima tertinggi harus menyelesaikan permasalah kami. Ini ada dokumennya," katanya. Suriani mengatakan desa mereka sudah ditemboki oleh TNI. Sehingga, anak-anak yang hendak ke sekolah harus memanjat tembok itu. Dan tidak ada akses keluar lagi. * * * 'Kan menimbulkan pertanyaan --- 'quo vadis' TNI --- , kok masih terus saja menindas rakyat di daerah . . ??? Bukankah ini meneruskan praktek 'dwifungsi abri'. . .?? * * * Berita yang lebih lengkap mengenai 'curhat' para pendukung Jokowi, a.l sbb: Presiden Joko Widodo menghadiri Jambore Komunitas Juang Relawan Jokowi, di bumi perkemahan Cibubur Jakarta Timur, Sabtu 16 Mei 2015. Presiden Jokowi menyempatkan dialog dan mendengar keluhan para pendukungnya. Di bawah panggung, berbaur dengan sekitar lebih dari tujuh ribu relawan, Jokowi membuka sesi dialog. Kesempatan untuk menyampaikan keluhan, diberikan kepada Ketua Waria Indonesia, Mamie Yulie. Dia menyoroti perlakuan masyarakat terhadap kaum waria. "Kami minta bapak tolong dengar suara hati kami yang selalu ditekan masyarakat," kata Mami Yulie, sambil menangis. Dia mengaku, ada tujuh juta lebih waria di Indonesia yang mendukung Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Bahkan, mereka menggabungkan diri dalam salah satu bagian relawan Jokowi yakni Relawan Merah Putih. "Nanti Mami Yuli saya undang ke Istana saja lah. Nanti bicara di sana ya. Nanti saya atur," kata Presiden Jokowi menyikapi keluhan itu. Relawan perwakilan dari Nias Sumatera Utara, Yaredi Waruhu, juga menyampaikan keluhan soal pembangunan di daerahnya. Presiden Jokowi mengaku, akan mencatat itu untuk ditindak lanjuti. Syarif Hidayat, dari komunitas relawan kemanusian Indonesia di Riau, mempersoalkan tapal batas. Syarif menyampaikan, di daerahnya masih terjadi illegal fishing oleh kapan-kapal besar. Sementara transportasi untuk warga belum ada, hanya rencana tapi tidak terealisasi. Seorang warga Deli Serdang, Sumatera Utara bernama Suriani Manurung, dengan berlinang air mata, mengadukan perilaku TNI yang menyerobot tanah mereka. Dia mengaku, dulu kawasan tempat dia tinggalnya selalu swasembada beras. Tapi kondisi berbalik usai aksi TNI tersebut. "Lahan pertanian kami yang sudah swasembada telah diobrak-abrik TNI. Bagaimana tercapainya program Pak Jokowi, kalau lahan itu diobrak-abrik TNI. Kami mohon, selaku panglima tertinggi harus menyelesaikan permasalah kami. Ini ada dokumennya," katanya. Suriani mengatakan desa mereka sudah ditemboki oleh TNI. Sehingga, anak-anak yang hendak ke sekolah harus memanjat tembok itu. Dan tidak ada akses keluar lagi. * * *
130 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA Kemis Pagi , 23 April, 2015 Jokowi Beri Lampu Hijau . . . Penuntasan Pelanggaran HAM Masa Lalu * * * Membaca berita yang tersiar kemarin (Liputan.com – Jak\rta), berjudul “Jokowi Beri LAMPU HIJAU PENUNTASAN HAM MASA Read more ... LALU”,- para pemeduli dan penggiat HAM, beserta lapisan masyarakat yang luas, teristimewa para KORBAN PERISTIWA PERSEKUSI DAN PEMBANTAIAN MASAL 1965. '66, '67, . . . . menarik nafas panjang. Rupanya Jokowi memang akan melaksanakan janji-pemilunya bahwa bila jadi Presiden ia akan menangani masalah pelanggarn HAM masa lalu. * * * Kita baca lagi berita tsb selengkapnya sbb: “. . . Jaksa Agung HM Prasetyo menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah menteri bidang politik pertahanan dan keamanan. Rapat tertutup itu dihadiri Menkopolhukam Tedjo Eddy Purdijatno, Menkumham Yassona Laoly, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kepala BIN Marciano Norman, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan Ketua Komnas HAM Nur Kholis. Menkopolhukam Tedjo Eddy Purdijatno mengatakan, pertemuan tertutup tadi tidak membahas eksekusi mati, – – – – melainkan membahas penuntasan kasus dugaan pelanggaran HAM berat di masa lalu. Ia menjelaskan hasil pertemuan tadi yaitu disepakati cara-cara untuk menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. "Kami sepakat bagaimana menyelesaikan kasus HAM masa lalu, bagaimana cara terbaiknya menyelesaikan masalah itu dengan sebaik-baiknya," kata Tedjo dalam jumpa pers usai pertemuan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (21/4/2015). Tedjo mengungkapkan penuntasan kasus ini sudah mendapatkan lampu hijau dari Presiden Joko Widodo. Ia menambahkan dari pertemuan itu juga akan dibentuk tim teknis. Setelahnya akan kembali dilaporkan kepada Presiden Jokowi. "Hal ini sebenarnya sudah mendapat lampu hijau dari bapak Presiden. Nanti kami akan laporkan lagi ke presiden apa yang harus kami kerjakan di masa yang akan datang terkait persoalan ini," ujar Tedjo. Sementara itu, Jaksa Agung HM Prasetyo menambahkan pertemuan tadi mencari solusi menghilangkan beban masa lalu atas dugaan pelanggaran HAM berat yang belum tuntas. Ada 7 kasus dugaan pelanggaran HAM berat masa lalu yang belum tuntas. Yakni, perkara Talangsari, penghilangan paksa orang, Wamena Wasior, penembakan misterius, peristiwa G30 S/PKI dan Mei 1998. "Beberapa kasus yang sempat kita bahas, semuanya adalah hasil penyelidikan Komnas HAM," kata Prasetyo. Ia menegaskan kasus yang sedemikian lama bergulir ini tentunya harus diakhiri. Dan beban masa lalu bangsa harus segera berakhir. Karenanya, pertemuan itu membahas mencari penyelesaian terbaik. "Supaya tidak jadi warisan bagi generasi setelah kita," tutur Prasetyo. Sepakati Penyelesaian Kasus HAM Jaksa Agung Prasetyo mengungkapkan dalam pertemuan tadi juga disepakati 2 cara penyelesaian kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Yakni yudisial dan non yudisial. "Yudisial tentunya membawa perkaranya ke pengadilan bagi perkara pelanggaran HAM berat yang masih mudah ditemukan bukti dan saksi serta pelakunya," kata Prasetyo. Sementara, sambung Prasetyo, untuk perkara lama atau yang kejadiannya 16 tahun hingga 50 tahun kebelakang tentu sulit menemukan barang bukti, saksi bahkan tersangka. Ia menjelaskan, pasal 47 UU nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM memberikan solusi dimungkinkannya penyelesaian perkara melalui komisi kebenaran dan rekonsiliasi. "Yang saya katakan non Yudisial adalah rekonsiliasi. Kita tawarkan ke pihak bersangkutan, baik korban dan ahli waris, tentu para pelaku kalau ditemukan. Tapi tentunya sulit ditemukan," terangnya. Sementara itu, Ketua Komnas HAM Nur Kholis menambahkan, ini komitmen bersama dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Ia akan memetakan dan melihat kembali kasus yang pernah diselesaikan pada tingkat penyelidikan di Komnas HAM yang saat ini sudah di Kejagung. "Kita akan pilah dan pilih mana yang kira-kira jalurnya rekonsiliasi," ungkap Kholis. (Han/Yus) * * * Perhatikan teliti pernyataan Menkopolhukam Tedjo Eddy Purdijatno: "Kami sepakat bagaimana menyelesaikan kasus HAM masa lalu, bagaimana cara terbaiknya menyelesaikan masalah itu dengan sebaik-baiknya," (21/4/2015). * * * Mari kita ikut dan pelajari bersama perkembangan selanjutnya. Adalah penting sekali mendesak pemerintah agar Membuat Rencana dan Jadwal Kongkrit yang Melibatkan Lembaga KomnasHAM dan Semua Organisasi Masyarakat Peduli HAM. Khususnya para KORBAN 1965 DAN KELUARGANYA. * * *
131 months ago
Heru Cahyono https://www.facebook.com/720989934649096/photos/a.721163457965077.1073741828.720989934649096/806031849478237/?type=1&theater
Metro TiVu
:v JANGAN BERIKAN LEHER KALIAN GRATIS PADA PKI.... Setelah menumpas G30S di Jakarta, Pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) bergerak ke Jawa Tengah. Salah satu kota sasaran RPKAD adalah Solo yang saat itu menjadi salah satu basis PKI. Read more ... RPKAD mulai memasuki Solo sekitar akhir Oktober 1965. Kedatangan komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan pasukannya disambut aksi mogok kerja Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Stasiun Solo Balapan. Mereka hanya duduk-duduk di pinggir rel. Kereta dari Yogyakarta, Semarang, Madiun dan tujuan lain tertahan di Solo. Kolonel Sarwo pun berdialog dengan para buruh tersebut. Wartawan Senior Hendro Subroto melukiskan peristiwa itu dalam buku 'Perjalanan Seorang Wartawan Perang' yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan. Sarwo yang berkaca mata hitam berteriak. "Siapa yang mau mogok, berkumpul di sebelah kiri saya." Hening. Tak ada yang bergerak. Sarwo berteriak lagi. "Siapa yang tidak mau mogok supaya berkumpul di sebelah kanan saya. Saya beri waktu lima menit!" Ternyata semua pekerja itu berkumpul di sebelah kanan Sarwo. Tak ada satu pun yang berdiri di kiri. "Lho ternyata tidak ada yang mau mogok. Kalau begitu jalankan kereta api," kata Sarwo. Para pekerja itu bergerak ke pos masing-masing. Mogok kerja berakhir, kereta pun berjalan kembali. Di Jawa Tengah, pasukan ini juga kerap melakukan show of force. Mereka konvoi keliling kota dengan panser dan puluhan truk pasukan RPKAD. Para prajurit melambai-lambaikan tangan dengan ramah pada masyarakat yang semula takut. Strategi itu berhasil, rakyat menyambut sementara para pendukung G30S mulai ciut. Sekain konvoi, Sarwo juga berorasi di rapat umum yang dihadiri ribuan massa. Sarwo mencoba menggerakan rakyat agar berani melawan PKI. http://www.merdeka.com/peristiwa/sarwo-edhie-jangan-berikan-leher-kalian-gratis-pada-pki.html "Siapa yang bersedia dipotong lehernya dibayar seribu rupiah?" teriak Sarwo. Massa terdiam. "Sepuluh ribu rupiah?" Massa masih diam. "Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta?" lanjut Sarwo pada massa yang terdiam. "Jika dibayar Rp 10 juta saja kalian tidak mau dipotong lehernya, jangan berikan leher kalian secara gratis pada PKI. Kalian lawan PKI. Jika kalian takut, ABRI berada di belakang kalian. Jika kalian merasa tidak mampu, ABRI bersedia melatih," kata Sarwo disambut sorak sorai massa. Ucapan Sarwo Edhie benar-benar dilakukan. RPKAD melatih pemuda-pemuda maupun aktivis ormas antikomunis. Rakyat ikut bangkit melawan PKI. Merekalah yang kelak menjadi jagal bagi para anggota PKI, atau simpatisan, atau orang yang dituding sebagai PKI. Sejarah kemudian mencatat pembantaian massal terjadi di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sarwo Edhie mencatat korban tewas tak kurang dari 3 juta orang. :v JENDRAL YANI : ASAH PISAU KOMANDO MU...!!! http://www.merdeka.com/peristiwa/jenderal-yani-rpkad-asah-pisau-komandomu.html :v KISAH KONVOI RPKAD DI HADANG PANTAT GERWANI... http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-konvoi-rpkad-dihadang-pantat-gerwani.html :v HEBOH, DOKUMEN RENCANA PEMBERONTAKAN PKI DITEMUKAN... http://www.beritalangitan.com/index.php/berita/item/328-heboh-dokumen-rencana-pemberontakan-pki-ditemukan
132 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA Jum'at Sore, 03 April 2015 --------------------------------- - Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Dikatagorikan Pemimpin Terbesar Dunia Sebuah majalah terkenal Dunia Bisnis mancanegara (AS), “FORTUNE”, dalam edisi Eropah, 05 Ap Read more ... ril 2015, “Fortune.com” Number 5, memfokuskan 'cover-story-nya', pada - “Limapuluh Pemimpin Terbesar Dunia” -- “THE WORLD'S 50 GREATEST LEADERS”. Yang terpilih masuk katagori 50 pemimpin terbesar dunia, a.l tokoh-tokoh seperti Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (karena berhasil memimpin Tiongkok maju, stabil dan konsisten dalam usaha menangani masalah korupsi - di bawah pimpinannya bukan saja koruptor klas 'nyamuk 'yang ditindak, --- tetapi juga koruptor klas 'harimau', sepert Zhou Yungkang); --- Pemenang Hadiah Nobel Kailash Sayarthi, pemimpin perjuangan melawan pekerja kanak-kanak sedunia; --- Joanne Liu, Presiden International Medecine Sans Frontiers; Mark Zuckerberg – CEO Facebook, dan CEO APPLE, Tim Cook . . Dan 45 tokoh-tokoh selebriti mancanegara lainnya dari dunia politik, ekonomi, finans, sosial, ilmu, kemanuiaan, religi, dan bisnis. * * * Namun, yang membikin tergerak dibuatnya tulisan ini adalah,--- dimasukkannya nama Walikota Surabaya TRI RISMAHARINI - (54th), yang dinilai oleh “FORTUNE” sejajar dengan nama-nama selebriti seperti Kailash Sayarthi, Xi Jinping, Paus Frnciscus, Putin, Presiden Liberia, dll, sebagai tokoh-tokoh dunia tergolong LIMA PULUH PEMIMPIN TERBESAR DUNIA dewasa ini. Setiap warga Indonesia yang punya rasa KEBANGSAAN PATRIOTIK tidak-bisa-tidak akan bangga. Bangga bahwa di kalangan pengelola pemerintahan (daerah) di Indonesia juga terdapat pegawai negeri – birokrat – yang baik, bersih, yang dengan sepenuh hati mengabdi warga yang memilihnya sebagai pejabat walikota yang baik. SIAPA TRI RISMAHARINI? Pada tanggal 30 Desember 2013, kutulis di kolomku, a.l sbb: “Pada penghujung tahun 2013 ini, seyogianya bahagia kita membaca berita baik sekitar prestasi yang dicapai oleh warga kota Surabaya. Warga Surabaya, di bawah asuhan Walikota Bu Risma, berhasil meraih penghargaan nasional dan internasional dalam mengelola dan memperindah kota Surbaya. Prestasi ini untuk kesekian kalinya mendesak ke belakang segala keluhan dan rintihan fihak-fihak yang hanya bisa melihat segi-segi negatif bangsa ini. Melihat gejala-gejala negatif dalam kehidupan bangsa, seperti belum tegaknya hukum, membudayanya birokrasi, nepotisme, manipulasi, korupsi dengan mencuatnya a.l kasus korupsi mantan Ketua MK dan kasus korupsi Gubernur Banten, dll . . . lalu . . . menjadi pesimis mengenai haridepan bangsa dan negeri ini. Selanjutnya berkembanglah fikiran masa-bodoh dan pasrah. Tidak punya kepercayaan pada kemampuan berjuang dan sukses dari bangsa Indonesia. Sesungguhnya mereka seolah-olah lupa bahwa berdirinya negara REPUBLIK INDONESIA, TEGAKNYA BANGSA INDONESIA. . . . menunjukkan WATAK NASION INDONESIA, yang sessungguhnya. Pandangan pesimis demikian itu, tidak mampu mengkhayati sejarah bangsa kita. Bukankah para pejuang-bangsa para pendahulu kita telah membuktikan bahwa mereka adalah insan-insan yang berkarakter! Yang telah memberikan sumbangan besar? Yang paling fatal ialah munculnya suara yang minta dikasihani seperti celetukan : “SAYA MALU JADI ORANG INDONESIA” * * * Rakyat Surabaya, . . . . bukan saja pada periode Awal Perang Kemerdekaan, tetapi juga dalam periode damai dan pembangunan dewasa ini menunjukkan bahwa bangsa ini, di bawah pimpinan seorang "jurumudi" yang benar-benar punya visi. . . dan yang tujuan utamanya adalah mengabdi rakyat yang dipimpinnya, PUNYA KEMAMPUAN TINGGI DAN SANGGUP BERPRESTASI TIDAK KALAH DARI BANGSA-BANGSA LAINNYA. * * * Apa yang ditunjukkan oleh Walikota Bu Risma dan warga Surabaya, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tetapi, . . . dalam situasi dimana sebagian masyarakat meragukan apakah bangsa dan negeri ini bisa survive, mampu menghadapi tantangan dan maju, menjadi bangsa dan negeri yang kuat, adil dan makmur, – – yang disebabkan begitu merajalelanya kultur korupsi dan nepotisme, berlanjutmya suasana was-was terhadap pemberlakuan hukum, . . . maka semangat dan prestasi warga Surabaya, pasti punya arti besar! Perkembangan tsb menunjukkan satu hal kongkrit: -- Walikota Surabaya dan rakyat yang dipimpinnya, dengan perbuatan nyata, telah membuktikan kesekian kalinya, bahwa dikalangan bangsa ini tidak sedikit abdi-abdi rakyat yang sejati. Asal saja ada kesempatan yang wajar untuk tercapainya PRESTASI yang memajukan bangsa ini. * * * Ketika mengakatagoprikan TRI HISMARINI sebagai salah seorang dari tokoh PEMIMPIN DUNIA TERBESAR, majalah FPRTUNE, menulis: “Terpilih sebagai Walikota Surabaya pada tahun 2010 Rismaharini telah mentransformasi kota berpenduduk 2,7 juta tswb menjadi sebuah kota metropolis Indonesia, yang kaya dengan ruang hijau dan lingkugan yang bagus. Kota Surabaya yang dikenal lama kaena polusinya dan lalu-lintas yang macet, dewasa ini bangg dengan 11 lokasi daerah taman yang indah subur dan daerh-darah hijau lainnya.” * * * Penilaian lainnya yang bisa dibaca di media a.l sbb: “Ia adalah wanita pertama yang terpilih sebagai Walikota Surabaya sepanjang sejarah. Risma adalah perempuan pertama Indonesia yang berulang kali masuk daftar walikota terbaik dunia. “Risma adalah insinyur lulusan Arsitektur dan pasca sarjana Manajemen Pembangunan Kota. . . Ia tercatat sebagai wanita pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia pasca Reformasi 98. “Pada 4 Maret 2015, ia mendapatkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Insitut Teknologi Spuluh Nopember Surbaya (ITS]. Gelar kehormatan tersebut diberikan dalam bidang Manajemen Pembangunan Kota di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. * * * “Belum setahun menjabat, pada tanggal 31 Januari 2011, Ketua DPRD Surabaya Whisnu Wardhana menurunkan Risma dengan hak angketnya. Alasannya adalah karena adanya Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) Nomor 56 tahun 2010 tentang Perhitungan nilai sewa reklame dan Peraturan wali kota Surabaya Nomor 57 tentang perhitungan nilai sewa reklame terbatas di kawasan khusus kota Surabaya yang menaikkan pajak reklame menjadi 25%. Risma dianggap telah melanggar undang-undang, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) nomor 16/2006 tentang prosedur penyusunan hukum daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008. Sebab Walikota tidak melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dalam membahas maupun menyusun Perwali. Keputusan ini didukung oleh 6 dari 7 fraksi politik yang ada di dewan, termasuk PDI-P; - - - - - (Catat ini: Tri Hismaharini adalah kader parpol PDI-P. Namun, wakil PDI-P di DPRD, ikut-ikut rencana 'memecat' kader parpolnya sendiri -- Fikiran orang tiba-tiba teringat pada Gubernur Jakarta Ahok, yang sedang bernafsunya digembosi oleh DPRD, dimana terdapat wakil PDI-P) * * * Tentang Perwali nomor 57 yang diterbitkannya itu, Risma beralasan, pajak di kawasan khusus perlu dinaikkan agar pengusaha tidak seenaknya memasang iklan di jalan umum, dan agar kota tak menjadi belantara iklan. Dengan pajak yang tinggi itu, pemerintah berharap, pengusaha iklan beralih memasang iklan di media massa, ketimbang memasang baliho di jalan-jalan kota.[9] Akhirnya, Mendagri Gamawan Fauzi angkat bicara akan hal ini dan menegaskan bahwa Tri Risma tetap menjabat sebagai Wali Kota Surabaya dan menilai alasan pemakzulan Risma adalah hal yang mengada-ada. Belakangan kemudian beredar kabar bahwa hal ini disebabkan banyaknya kalangan DPRD Kota Surabaya yang tidak senang dengan sepak terjang politik Tri Risma yang terkenal tidak kompromi dan terus maju berjuang membangun Kota Surabaya, termasuk menolak keras pembangunan tol tengah Kota Surabaya yang dinilai tidak akan bermanfaat untuk mengurai kemacetan dan lebih memilih meneruskan proyek frontage road dan MERR-IIC (Middle East Ring Road) yang akan menghubungkan area industri Rungkut hingga ke Jembatan Suramadu via area timur Surabaya yang juga akan bermanfaat untuk pemerataan pembangunan kota. (Narasumber: Wikipedia). * * *
132 months ago
More Ada Rencana posts »

Ada Rencana news

No news about Ada Rencana

Ada Rencana videos

No videos about Ada Rencana

Related searches