Belanda Tumbangkan Spanyol 5-1 posts

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Malam , 24 Juni 2015
----------------------------------
KRONIK “PULANG KAMPUNG” – (3)
* * *
----- Romo BASKARA WARDAYA Memperkenalkan Buku Greg POULGRAIN Yang Menarik:
------ “The Incubus Of Interventio
Read more ... n”: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles”.
* * *
Corat-coret – “Kronik Pulang Kampung” 1, dan 2 – yang diteruskan ke bagian ke-3 ini, memang sekadar corat-coret. Tetapi bagi penulis merupakan kesan mendalam dari kunjungannya ke Indonesia.
Salah satu acara bila berkunjung ke Indonesia, adalah menemui sahabat lama dan baru. Serta menjalin perkenalan dan persahabatan dengan sahabat baru lagi – khususnya mereka-mereka yang tergolong generasi muda Indonesia.
* * *
Meskipun aku pemegang paspor Belanda, dan berdomisili disitu selama puluhan tahun – namun bila berkunjung kembali ke Indonesia, perasaan dan fikiran selalu seperti “PULANG KAMPUNG”. Sering teringat kembali pertanyaan yang pernah diajukan seorang sahabat, mahasiswa Belanda, Philip van Aalst. Ia tanya, bagaimana identitas kalian yang sudah begitu lama terpisah dari tanah air? Dan berkewarganegaraan asing pula. Kujawab tegas: Rasanya seperti orang yang sedang bercintaan. Semakin jauh terpisah secara fisik, . . . semakin rindu dan semakin dekat di hati, – – – CINTA MENJADI SEMAKIN DALAM.
* * *
Mengesankan adalah pertemuan kembali dengan Prof. Dr. Baskara Wardaya dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, penulis a.l buku “Luka Kita adalah Luka Bangsa”. Kami berjabat tangan hangat dan berpelukan. Persis seperti dua orang kawan kental, yang sudah lama berpisah dan bertemu lagi. Kenyataannya, -- kami sebenarnya baru beberapa tahun ini saja berkenalan. Tiga tahun yang lalu masih bertemu beliau bersama mahasiswa-mahasiswinya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Aku bilang kepada Romo Baskoro: Kita belum begitu lama berkenalan, tapi rasanya, --- bila bertemu Anda, kok, seperti berjumpa dengan sahabat-lama. Ya, saya juga merasa begitu -- Jawab Baskoro. Sebabnya ialah, karena kita punya fikiran dan ideal yang sama mengenai nasib tanah air dan bangsa ini. Ya, -- saya kira itulah penjelasannya.
Dua orang sahabat lagi dari pimpinan “Gelanggang Press”, sebuah badan penerbit Yogyakarta, yang terkenal di Indonesia – datang bergabung dan membikin percakapan kami lebih meriah dan hangat dengan masalah Papua sebagai fokus pembicaraan.Dan situsi tanah air umumnya.
* * *
Keesokan harinya, dengan diantar sahabatku Sutriyanto, kami berkunjung ke kantor “Galang Press”. Tak lama kemudian tiba Prof Dr Baskoro. Meskipun ia harus segera berangkat ke Solo dengan beberapa sahabat dari kelompok penggiat HAM, untuk beraudiensi dengan Walikota Solo – Baskoro memerlukan datang. -- Rupanya ia hendak menyampaikan sesuatu yang dirasanya penting untuk kita ketahui.
Yaitu -- Sekitar buku yang belum lama terbit, oleh Graig Poulgrain, berjudul “The Incubus Of Intervention”: Conflicting Indonesia Strtegies of John F. Kennedy and Allen Dulles”. Bahasa Indonesianya, kira-kira begini:
Pagi itu kami membicarakan sekitar masalah Papua. Dari berbagi segi dan sudut pandangan. Tercatat “Gelanggng Press”, adalah penerbit yang termasuk banyak menerbitkan buku-buku sekitar masalah Papua.
Romo Baskoro minta perhatian kami mengenai buku baru oleh penulis Graig Pulgrain. Pulgrain mengajukan masalah Papua dari segi pandangan lain.
Romo Baskoro: -- Buku Pulgrain menganalisis a.l. Masalah Papua yang tidak terlepas dari dampak kuat 'Perang Dingin” yang sedang bergolak ketika itu. Saling hubungannya dan dampaknya terhadap Indonesia.
“The Incubus of Intervention”. . . . . Merupakan gambaran yang rumit terhadap apa yang terjadi di masa lampau. Dari judulnya saja sudah tampak ketika penulis menggunakan kata 'incubus', suatu 'mimpi buruk' atau 'setan gendruwo'. Hakikatnya buku tsb adalah penamaan yang pas sekitar intervensi Amerika Serikat terhadap negeri yang ketika itu masih disebut sebagai “Hindia Belanda”. Amerika Serikat ingin menggantikan Belanda sebagai penguasa kolonial baru di Indonesia.
* * *
Mengenai pemberontakan PRRI-Permesta, yang dalam catatan sejarah kebanyakan digambarkan sebagai konflik yang berkembang dan meledak antara kekuasaan PUSAT yang didominasi PKI -- dengan penguasa (militer-politik) di daerah, yang menuntut otonomi yang lebih besar. Dimana CIA/AS merupakan pensuply senjata, uang dan pilot Bomber B-25 (Allan Pope). Menurut gambqarqan itu AS bukan arsitek dari pemberontakan PRRI/Permesta.
Buku Poulgrain, 'mengungkapkan' bahwa latar belakang sesunguhnya dari konflik tsb adalah permainan Kepala CIA -Allen Dulles – yang ketika itu sudah menjadi kekuatan dominan menyangkut politik AS terhadap Indonesia. Menurut Pulgrain, pemberontakan PRRI/Permesta merupakan manupulasi licik yang 'disulut (CIA) untuk gagal.' (menipulated to have it fall). Tujuannya ialah untuk 'menyelamatkan Indonesia' dari kungkungan Komunis. Dan memperokoh pengaruh militer di pemerinthan (pusat) Jakarta.
Buku Ploulgriain mengungkap inti masalahnya, yaitu, bahwa terdapat kepentingan AS untuk menguasai sumber minyak dan emas di Papua.
* * *
Analisa Puldgrain: -- Menunjuk pada Aarti penting ditemukannya sjumlah besar sumber tembaga dan emas di Irian Barat. Halmana menyebabkan AS semakin bernafsu untuk menguasai Indonesia. Ini sejalan dengan intrik dan komplotn CIA untuk menguasai sumber kekayaan alam di Afrika – Kongo dan terbunuhnya Sekjen PBB Dag Hammarskjold. Dibunuhnya Presiden AS John F Kennedy dianggap berkaitan erat dengan politik Kennedy terhadap Indonesia ketika itu – yang ingin memelihara hubungan baik dengan Presiden Sukarno – dan 'menyelamatkan' Indonesia dari pengaruh komunis. Ini bertentangan dengan strategi CIA yang besandar pada AD untuk menyingkirkan samasekali Presiden Sukarno.
Romo Baskoro menekankan bahwa apa yang ditulis Greg Poulgrain itu adalah salah satu pandangan dan analisis dari segi pandangan lainnya. Belum tentu betul, kata Baskoro ---- tetapi merupakan bahan pertimbangan penting, sebagai suatu bahan penilaian-kembali (reassessment) atas fakta-fakta sejarah menyangkut tanah air kita.
* * *
129 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 23 Juni 2015
------------------------------------
KRONIK “PULANG KAMP UNG” (2)
* * *
Kangenan dan Silaturakhmi Keluarga-besar di Indonesia:
Salah satu tujuan utama kami – suami istri, dua putri da
Read more ... n dua menantu serta seorang cucu --- berkunjung ke Indonesia kali ini , adalah untuk melepas rindu dengan keluarga-besar yang cukup banyak di Indonesia.
Untung kebanyakan mereka itu domisilinya terpusat di ibukota. Ada juga yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Menjadi dosen di UGM. Banyak yang pofesinya dosen. Ada yang pegawai negeri. Tidak sedikit yang pengusaha. Dan, jangan heran . . Ada juga yang anggota ABRI, baik AD, Angkatan Laut, maupun AURI. Malah yang perwira tinggi Alri itu yang memberikan bantuan ketika kami pertama kali (1994) berkunjung ke Indonesia, dikala Orba masih berjaya. . . . .
* * *
Aku tidak pernah menghitung jumlah mereka – paling tidak sekitar seratusan.
Rezim Orba yang memerintah Indonesia selama lebih dari 32 tahun, telah amat merusak, memecah-belah hubungan dan ketenteraman jutaan keluarga Indonesia. Jutaan anggota keluarga Indonesia, adalah korban Peristiwa persekusi dan pembantaian masal 1965 yang dilancarkan oleh Orde Baru di bawah Presiden Suharto. Banyak keluarga yang terpisah dan terpecah-belah, saling tidak tahu dimana masing-masing berlindung -- karena menyelamatkan diri dari persekusi Orba. Mereka hidup dalam ketakutan dan sengsara serta terpencar-pencar serta terpisah-pisah.
Banyak yang terpaksa ganti-nama, bahkan ganti identitas. Tidak sedikit juga yang mengganti keyakinan agamanya.
Ini semua adalah akibat politik persekusi rezim Orde Baru – terhadap anggota PKI, dituduh PKI, simpatisan PKI, pendukung Presiden Sukarno -- dan lebih parah lagi fitnahannya ialah : Terlibat dengan G30S. Padahal mereka-mereka itu samasekali tidak tahu-menahu apa itu G30S. Padahal di sepanjang hidup mereka adalah warganegara yang tidak pernah melanggar hukum dan setia pada Republik Indonesia dan Presiden Sukarno.
Tidak sedikit dari keluarga-keluarga itu telah memberikan sumbangan menurut syarat masing-masing dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Bahkan tidak sedikit adalah veteran pejuang anti-kolonialisme Belanda sejak sebelum Perang Dunia II.
* * *
Hubungan dan ketenteraman keluarga kami, seperti banyak korban lainnya -- amat terganggu, sejak berkuasanya rezim Orba. Disebabkan oleh dicabutnya dengan sewenang-wenang paspor seluruh keluarga kami. Sehingga kami terpaksa mengambil identitas baru dengan paspor negeri domisili kami. ----- Untung di Eropah, kebanyakan negeri terikat dengan dan mematuhi persetujuan internasional,-- yang melindungi warga yang di negerinya sendiri dipersekusi penguasa -- oleh sebab keyakinan politik atau keyakinan agama/kepercayaan. Adalah negeri di tempat kami berdomisili sekarang ini, Holland -- yang memberikan perlindungan politik pada keluarga kami. Perlindungan politik dari persekusi rezim Orde Baru.
Sejak Mei 1998, rezim Orba telah tumbang. Syukur Alhamdulillah --- Hubungan kekeluargaan-besar kami pada pokoknya telah pulih kembali. Yang dulunya tidak sedikit yang takut-takut diketahui ada hubungn keluarga dengan kami, kekhawtiran itu sekarang sudah hilang.
Tidak bisa dibayangkan betapa pilu dan hancurnya hati ini – di saat ada anggota keluarga besar, bukan saja tidak berani hubungan – bahkan mengambil sikap seolah-olah tidak kenal samasekali. Malapetaka di kalangan keluarga ini penyebabnya HANYA satu --- Politik persekusi Orba dan kebijakan 'bersih lingkungan' yang dilakukan pemerintah selama berkuasanya Presiden Suharto.
Apakah politik persekusi dan diskriminasi ini sudah sepenuhnya ditinggalkan oleh penguasa? Masih harus dilihat dalam praktek kehidupan nyata sehari-hari.
* * *
Maka alangkah bahagianya ketika kami berkunjung ke Indonesia kali ini, yang tujuh orang anggota keluarga Isa yang berdomisli di luar negeri bisa berkumpul bersama dan bersilaturahkmi dalam suasana tenang, damai dan leluasa.
* * *
Selanjutnya, bagaimana dalam prakteknya nanti pemerintah Presiden Jokowi hendak melaksanakan Program Rekonsiliasi Nasional . . . memang tidak sederhana.
Yang jelas – adalah, -- bahwa program REKONSILIASI TIDAK MUNGKIN DILAKSANAKAN TANPA MENGUNGKAP KEBENARAN DAN MELAKSANAKAN KEADILAN BAGI PARA KORBAN.
* * *
129 months ago
Ari Setyo Nugroho Saya ari setyo nugroho ditunjuk oleh pssi untuk menyelamatkan sepakbola indonesia, saya telah diHubungi oleh ketua pssi la nyala mataliti dan menunggu keterangan dari pssi untuk diberikan surat tugas dan surat kuasa dari pssi untuk saYa, saya bisa me
Read more ... nyelamatkan sepakbola indonesia menyelamatkan liGa menyelamatkan kawan-kawan pesepakbola dan club dan semua yang mengisi di club untuk bisa bekerja lagi di sepakbola. Berdoa dan berusaha saya bisa menjadikan timNas indoNesia juara asean,juara asia dan juara dunia.menaikan level liGa indonesia setaraB Level liga eropa,liga inggris, liga jerman dan liGa sPanyol dan membuka peluang pemain sepakbola,pelatih,dll indonesia di seluruh pelosok tanah air di kota maupun desa di daerah,peDalaman hingga ujung terPencil di indonesia unTuk bisa berkarir di sepakbola di liGa tanah air maupun bisa di liGa eropa,liGa asia,liGa africa,liGA America,liGa australia dan semua liGA di seluruh penjuru dunia
129 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at Sore 19 Juni 2015
-----------------------------
SEMINAR LEIDEN MEMPERINGATI 60-Th Konferensi Asia-Arika BANDUNG -1955, yang SUKSES
(1)
< Diselenggarakan oleh: --- Leiden Global -- Univ
Read more ... ersiteit Leiden
-- African Studies Centre – KITLV -- IIAS>
* * *
Pada suatu hari, --- aku di-email oleh Dr. Fridus Steijlen, Peneliti Senior dari KITLV. Bertanya, apa ia bisa bicara lewat tilpun. . . Aduh! . . Baru sekali ini aku merasa begitu terhormat, -- seorang sahabat Belanda, mau menilpun – tapi, . . . ia terlebih dulu mengirim berita e-mail menanyakan apa bersedia ditilpun. Begitu sopan-santun . . . . !
Fridus menyampaikan undangan untuk ambil bagian dan diwawancarai dalam seminar yang akan diselenggarakan di Leiden, UNTUK MEMPERINGATI ULTAH Ke-60 KONFERENSI Asia-Afrika, BANDUNG (1955). Dengan rasa terima kasih dan terhormat aku menerima undangan penting Fridus Steiijlen.
* * *
Pada hari Kemis, 18 Juni kemarin itu, ketika tiba di NS Station Leiden Centraal – di dekat pintu eksit, sudah menanti Ratna Saptari (Dosen Universitas Leiden0 dan Fridus Steijlen (KITLV). Atas nama panitia penyelenggra Seminar, mereka menanti di stasiun Leiden. Menyambut 'delegasi' kata mereka. Ini seperti guyon. Tapi memang mereka menanti di stasiun itu untuk 'menyambut' kami -- Cisca Pattipilohy dan aku. Cisca dan aku diundang sebagai pihak-pihak yang kegiatannya ketika itu terlibat di bidang NGO dengan penyelengaraan dan pelaksanasan keputusan Konferensi AA Bandung – 60 tahun yang lalu.
* * *
Seminar yang diselenggarakan di Leiden itu, merupakan manifestasi kepedulian kalangan cendekiawan Belanda dan sementara cendekiawan negeri Asia-Afrika-Arab sekitar yang terjadi di Bandung pada tqhun 1955.
DARWIS KHUDORI (dosen warga Indonesia) dari University of Le Havre, Perancis – dalam uraiannya menyatakan bahwa seminar hari ini adalah yang pertama kalinya diadakan di Belanda UNTUK MEMPERINGATI KONFERENSI ASIA-AFRIKA – BANDUNG, 1955. Bukankah ini sesuatu yang perlu disambut hangat?
Cisca dan aku beruntung diundang hadir pada Seminar Leiden - (resminya dalam bahasa Inggris) – “BANDUNG At 60 – Toward a Geneology of the Global Present”. Ketika Fridus Steijlen menanyakan apa impresiku terhadap disenlggarakannya Seminar di Leiden, untuk memperingati ultah ke-60 Konferensi AA Bandung, kukatakan:
Saya amat menghargai Seminar ini – teristimewa karena judul pidato Presiden Sukarno di Konferensi AA Bandung: “Let a New Asia and a New Africa be born!”. (terjemahan bebas) “Biarlah Lahir Asia dan Afrika Yang Baru”-- telah dimuat dan disiarkan oleh Penyelenggara Seminar, sebagai senboyan-Logo dari Seminar. Ini mencerminkan adanya pengertian yang mendalam dari fihak penyelenggara seminar, mengenai arti-penting Konferensi AA Bandung, 1955.
* * *
Direktur IIAS, Phillipe Peycam, (Belanda); Darwis Khudori, dosen Universitas Le Havre, Perancis; dan Christopher Lee, Universitas Witwatersran, Afrika Selatan – dengan resmi membuka sidng Seminar, yang didakan di gedung National Museum of Ethnology, Steenstraat 1, Leiden. Mereka menggaris-bawahi arti penting seminar memperingati 60Th KAA Bndung.
Dilanjutkan oleh wawancara yang dilakukan Fridus Steijlen (Belanda) dengan dua orang saksi: Cisca Pattipilohy, yang terlibat di Persatuan Wartawan Asia-Afrika-- dan Ibrahim Isa yang terlibat dengan OISRAA – Organisasi Setiakawan Rakyat Asia-Afrika – AAPSO.
* * *
Panel 1 --- Yang diketuai oleh Dr Gerry van Klinke (KITLV) adalah sekitar: BANDUNG DIPANDANG DARI SEGI SEJARaH.Tampill sebagai diskusan Philip Peycam. Darwis Khudori bicara sekitar Bandung Conference and its Constellation: The Fundamental Books. --Christopher Lee bicara soal After the Fact: Bandung as History, Bandung a Epistemology. -- Boutros Labaki dari Université Libnaise, bicara soal The Arab World: From Bandung to the “Arab Spring”.
Panel 2, --- Afterlives of Bandung, yang diketuai oleh Thomas Asher dari Social Science Research Centre , USA. Diskusan: Carol Gluck dari Columbia University, USA.- Chun Lin dari London School of Economics, UK – bicara soal Thirdworldism as Interntionalism: A hidden ideological Dimensison of the Cold War. Kweku Ampiah dari University of Leeds, UK, bicara soal The Bandung Conference and the Discourse of Post-colonial Economic Development. Frqncois Verges dari College d'etudes mondiales, Paris, bicara soal Bandung 2015, Richards Wright's “The Colour Curtain” Revisited.
Panel 3, Bandung Today: Impact, Memory, Discourse.Yang diketuai oleh Ratna Swaptri dari Leiden University Insitute of Culturql Anrthropology and Development Soiology, The Netherlqands). Diskusan: Pralay Kamungo dari IIAS The Netherlands. Lazare Ki-zerbo dari Office Internatinal de la Francophonie, France, bicara sekitar masalah The Dream of African Unity before the Bandung Conference. Oka Obono dari Univerity of Ibadan, Nigeria, bicara sekitar Between Berlin and Bndung: Continuities and Discntinuities in the Making of Modern Africa. Istvan Tarrosy dari University of Pécs, Hungary, bicara sekitar The Impact of Bandung in an interpolar Context: Any Chance for an Intitutionalize Form of Afro-Asian Linkages.
* * *
Dikemukakannya pokok-pokok yang dibicarakan diatas, tanpa perincian, adalah s e k a d a r untuk memberikan gambaran umum pada pembaca -- betapa seriusnya dan beragamnya pandangan yang dikemukakan oleh para dikusan dan pembicara. Juga hdirin ambil baigian dalam diskusi yang berlangsung dengan menarik dan hangat. --
Sudah diajuka resmi kepada para penyelenggara agar -- Suatu laporan yang lebih lengkap akan terbit kelak. Mengingat artipentingnya dan perhatian besar kalangan sarjana maupun masyarakat, mengenai Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan keputusan-keputusannya.
Seminar Leiden kemarin itu dihadiri oleh sekitar 80 peserta, Merupakan suatu Seminar yang sukses.
* * *
129 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Senin Malam, 08 Juni 2015
----------------------------------
“PKI Secara Lembaga Tidak Melakukan Pemberontakan Pada 30 September 1965”
Rezim Orde Baru merumuskannya sebagai 'Pemberontakan G30S/PKI'. Menurut versi ini, -- yang
Read more ... melakukan pemberontakan adalah 'Gerakan 30 September', dalangnya adalah PKI. Mengenai apa yang terjadi pada hari itu, yaitu 'Pemberontakan G30S/PKI', itu adalah versi resmi. Versi pemerintah Presiden Suharto. Versi ini dinyatakan sebagai kebenaran selama lebih dari 32 tahun mengenai apa yang terjadi ketika itu. Bahkan sampai sekarangpun sementara orang masih ada yang percaya pada kebohongn ini! Dan menjajakannya.
Tapi, lebih 30 tahun setelah kejadian, Pemerhati dan Penulis Masalah Militer, Prof Dr Salim Said, penulis buku “Dari Gestapu ke Reformasi”, -- memecahkan 'kebohongan ini' dalam suatu diskusi belum lama, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UI dan Penerbit Mizan di Ruang Sinema, Gedung Perpustakaan Pusat UI, Depok. (-- Minggu, 7 Juni 2015 La Luta @yahoo.com – Sastra Pembebasan).
Salim Said menegaskan : “PKI secara lembaga tidak melakukan pemberontakan pada 30 September 1965,” -- Ia menambahkan, menurut hasil otopsi, ketujuh jenderal itu tidak meninggal akibat disiksa seperti yang digambarkan di film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Isu penyiksaan digunakan untuk kampanye antikomunis yang dilakukan oleh militer, karena pada saat itu komunisme merupakan ancaman besar.
* * *
Para pemimpin utama PKI, --- DN Aidit, MH Lukman, Nyoto, Ir Sakirman, dll semua sudah dibunuh secara ekstra-judisial, tanpa proses pengadilan apapun. Sehingga tidak bisa langsung didakwa, di-interogasi dan diadili . Ini suatu keanehan, suatu 'keluar-biasaan' kebijakan Orde Baru. Menuduh PKI berontak, tapi piminan-pimpinan utamanya tidak langsung didakwa dan diadili. Salah satu pimpinan utama PKI, Sudisman, anggota Dewan Harian Politibiro CCPKI, diadili oleh Mahmilub. Sudisman menjelaskan di sidang Mahmilub tsb bahwa PKI tidak memberontak seperti yang dituduhkan oleh penguasa ketika itu.
Salim Said menjelaskan bahwa, “Gerakan 30 September merupakan ambisi pribadi DN Adit (Ketua Umum PKI), banyak anggota PKI yang tidak tahu rencana Gerakan 30 September, Aidit melakukan Gerakan 30 September tanpa sepengetahuan Komite Pusat dan Politbiro PKI,”.
* * *
Seluruh Rezim Orde Baru, sesungguhnya ditegakkan di atas dasar fitnah dan tuduhan belaka , diatas dasar kebohongan dan pemalsuan sejarah. Diatas dasar pembangkangan dan pengkhianatan Jendral Suharto pada atasannya, Presiden Panglima Tertinggi ABRI, Ir Sukarno. Hal ini bisa dijelaskan a.l dengan menelusuri fakta-fakta berikut ini:
Pertama, dengan menyalahgnakan sejadi-jadinya “Surat Perintah Prsiden Sukarno , Sebelas Maret 1966,” populer dikenal dng nama “SUPERSEMAR”. Jendral Suharto telah membubarkan PKI yang dituduhnya melakukan pemberontakan.
Kedua, lagi dengan menyalahgunakan “SUPERSEMAR”, Jendral Suharto merekayasa MPRS mengambil keputusan melorot Presiden Sukarno dari jabatannya sebagai Presiden RI.
Ketiga, lagi dengn menyalahgunakan “SUPERSEMAR”, Jendral Suharto telah merekayasa MPRS, menggangkat dirinya, menggantikan Presiden Sukarno jadi Presiden Ke-2 Republik Indonesia.
Keempat, seluruh komplotan pembubaran dan pemusnahan PKI dan pimpinannya , dilakukan di atas dasar kebohongan bahwa sebelum 8 jendral dan seorang perwira TNI dibunuh oleh Gerwani/Pemuda Rakyat/PKI, mereka disiksa dan dianiaya terlebih dahulu. Matanya dicukil dan kemaluannya dipotong. Seperti diungkapkan oleh Salim Said, semua itu tidak benar.
Kelima, Suatu keanehan lain yang tidak bisa dijelaskan. PKI dituduh memberontak terhadap pemerintah yang sah di bawah Presiden Sukarno. Tetapi Presiden Sukarno menentang PKI dibubarkan. Presiden Sukarno bahkan membela PKI sebgai suatu kekuatan politik nasional yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda.
Keenam, Keanehan lainnya yang tidak mungkin bisa dijelaskan oleh Orde Baru, adalah perkembangan berikut ini:
Jendral Suharto menuduh PKI memberontak. Tetapi kenyataannya, yang menggeser Presiden Sukarno dari jabatannya, adalah Jendral Suharto sendiri dkk. Dan Jendral Suharto menegakkan rezim Orde Baru, dengan memanipulasi MPRS mengangkat dirinya menjadi Presiden Ke-2 Repubik Indonesia. * * *
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 06 Juni 2015
-----------------------------
SELAMAT UNTUK BUNG MINTARDJO ---
HARI INI HARI ULTAHNYA KE-79 (06 Juni 1936)
Kawan-kawan SARDJIO MINTARDJO hari ini ikut bergembira dan mengucapkan selamat kepada PAK MIN -- nama
Read more ... yang populer dikenal di kalangan masyarakat Indonesia di Belanda dan Eropah.
Pak Min ---- lebih dikenal lagi, --- bukan saja karena pribadinya yang
peramah dan menjadi langgam-hidupnya untuk membantu (teristimewa mahasiswsa-mahasiswa yang datang ke Belanda untuk studi atau mengambil PhD-nya) yang memerlukan bantuan.
Tidak asing di kalangan masyarakat Indonesia di Holland, alamat rumah Pak Min di Korenbloemlaan 59, Oestgeest/Leiden, adalah sebuah "OPEN INDONESIAN HOUSE". Rumah Pak Min lebih sibuk dan lebih giat dengan pertemuan-pertemuan silaturakhmi dan tukar-fikiran mengenai perkembangan situasi Indonesia, terbanding (misalnya) kegiatan KBRI Den Haag -- yang mewakili pemerintah RI.
Ketika masih berjayanya rezim Orde Baru, -- kalau hendak mendengar 'suara-lain' serta bertukar fikiran secara kritis dan leluasa mengenai rezim Orba - tempatnya adalah di Open Housenya Pak Min.
* * *
Jika ada 'kumpul-kumpul' di rumah 'Pak Min' dengan yang datang dari Indonesia dan kawan-kawan PPI, jarang undangan itu kutolak. Rumah Mintardjo di Korenbloemlaan 59, Oestgeest – Leiden, sudah lama menjadi 'INDONESIA OPEN HOUSE'. Mohon jangan salah tafsir. Nama 'Indonesia Open House'-nya Pak Min, itu aku sendiri yang memberikan. Sebelumnya, tak ada orang lain yang menyebutnya begitu. Bukan apa-apa! Tapi, ini penting dijelaskan. Jangan sampai fihak KBRI Den Haag menjadi salah faham. Bukankah bagi setiap orang Indonesia, KBRI-lah yang merupakan 'Indonesia House', yang selalu 'open'?
Rumah Mintardjo itu sudah bertahun-tahun lamanya praktis adalah 'INDONESIA OPEN HOUSE'. Dalam arti dan makna yang sesungguhnya. Dari rumah Mintardjo itu berhembus angin dan semangat segar patriotisme, motivasi dan jiwa serta rasa kepedulian terhadap nasib bangsa Indonesia dan haridepannya.
* * *
Pada kesempatan HARI ULTAH KE-79 SARDJIO MINTARDJO --
KITA SAMPAIKAN HARAPAN Dan DOA TERBAIK UNTUK MINTARDJO, SEHAT, DAN BAHAGIA
MEMEPERTAHANKAN 'RUMAH PAK MIN' SEBAGAI INDONESIA OPEN HOUSE
DALAM RANGKA MEMAJUKAN USAHA REFORMASI, DEMOKRASI, DAN KEADILAN BAGI RAKYAT INDONESIA.
* * *
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Siang, 20 Mei 2015
--------------------------------
MEMPERKOKOH JIWA Dan Semangat KEBANGSAAN INDONESIA yang Bersatu-Padu, Demi INDONESIA YANG MAKMUR Dan ADIL
* * *
Hari ini, hari Rabu tanggal 20 Mei 2015.
Seratus
Read more ... tujuh tahun yang lalu, --- berdiri Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.
Duapuluh tahun kemudian, -- 28 Oktober 1928 lahir SUMPAH PEMUDA.
28 Oktober 1928 adalah saat bersejarah bangsa ini, ketika, --- masih di bawah kekuasaan kolonial Belanda yang kokoh dan kejam, . . . . seolah- olah halilintar di tengah siang hari bolong, sejumlah pemuda Indonesia yang berasal dari empat penjuru angin Nusantara, mendengungkan SUMPAH PEMUDA INDONESIA, mengumandangkan Ikrar Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
SATU BAHASA, SATU BANGSA, SATU TANAH AIR INDONSIA.
* * *
Dua peristiwa bersejarah tsb --- Didirikannya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda, merupakan sangkakala lahirnya JIWA DAN SEMANGAT KEBANGSAAN INDONESIA, di atas bumi Nusantara.
* * *
Pengalaman sejarah bangsa Indonesia, -- sejak lahirnya Boedi Otomo dan Sumpah Pemuda Indonesia, memberikan pelajaran sejarah teramat dan maha penting:
Bahwa HANYALAH dengan PERSATUAN SEGENAP KEKUATAN NASIONAL yang meliputi seluruh kekuatan politik dalam masyarakat yang cinta Tanah Air dan Bangsa, – – barulah bisa dicapai perkembangan dan kemajuan dalam perjuangnan yang akhirnya ---- melahirkan Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, -- hari lahirnya negara Republik Indonesia.
* * *
Mari atasi bersama sikap sinisme dan pessimisme, serta kembangkan pandangan optimisme yang realis!
Di masa selanjutnya, melalui perjuangan dan kegiatan putra-putrinya yang mengutamakan PERUBAHAN Dan |Kemajuan, pasti akan dicapai tujuan untuk mengakhiri secara definitif periode dan kultur politik dan budaya KKN rezim Orba yang bergelimang dan berkubang dalam lumpur KETIADAAN HUKUM DAN KEADILAN.
* * *
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Pagi, 19 Mei 2015
---------------------------------
KRONIK “PULANG KAMPUNG” (1)
* * *
Buku-Buku Untuk “Universitas Gajah Mada” Yogyakarta, “Wertheim Collection Library”
Buku-buku dari Penerbit “Gala
Read more ... ngpress” dan dari
Jaya Suprana
* * *
Setiap kunjungan ke Indonesia, ketika dilakukan setelah jatuhnya Presiden Suharto, --- selalu memberikan dampak positif. Teristimewa pada semangat dan jiwa warga Republik Indonesia, yang oleh rezim Orba, secara sewenang-wenang telah dicabut paspor dan kewarganegaraannya, tanpa proses hukum apapun. Suatu periode “lawlesness”, ketika hukum dan undang-undang, hak-hak wargnegara diinjak-injak semena-mena. Ketika kekereasan dan senjata menguasai segala. Suatu periode Hitam dan Gelap ketika dimulai berdirinya rezim Orde Baru (1965-66), di bawah Jendrál Suharto.
Dalam suatu percakapan di rumahku beberapa waktu yg lalu, sahabat baru, Philip van Aalst terkait pogram Universsitas Amsterdam yang bertujuan membuat sebuah 'topografi sekitar orang-orang buangan di Amsterdam sejak 1950', bertanya: : --- “Apakah Anda, atau siapa saja dari kalangan orang-orang 'EKSIL' di Belanda atau negri lainnya -- masih bisa menyebut dirinya 'EKSIL' – ketika ia sudah bisa kembali lagi ke negerinya?” --- Sungguh -- Suatu pertanyaan yang tiba-tiba, tapi cerdik dan menarik. Yang keluar dari mulut seorang mahasiswa Belanda.
Begini jawaban yang diberikan: Aku tak pernah menyebut diri sebagai seorang 'Eksil'. “Ya, tapi buku Anda yang pertama judulnya adalah: 'SUARA SEORANG EKSIL' ( Jakarta, 2002)”, sela teman Belanda itu. Nama buku itu, adalah sahabat-sahabatku dari penerbit Jakarta, yang memberikannya– tanpa konsultasi. Judul aslinya yang kuberikan ialah: Reformasi dan Demokratisasi di Indonesia setelah jatuhnya Suharto. Teman Belanda itu senyum geli.
Kami-kami ini, --- bukan orang-orang 'EKSIL', kataku. Pada 'periode gejolak 65' itu kebetulan sedang berada di luar negeri. Banyak yang sedang mengemban tugas pemerintah atau urusan lainnya . Ada yang sedang studi. Ada yang bekerja di luar negeri. Mendadak sontak paspor dan kewarganegaraan kami dicabut fihak militer Indonesia. Militer sudah mulai merebut kekuasaan negara Indonesia pada tahun 1965-66. Penyebabnya paspor dan kewarganegaraan kami dicabut, ialah -- karena kami menolak mengutuk Presiden Sukarno dan tidak mau mendukung rezim militer Jendral Suharto.
Maka, --- kami bukan orang-orang yang di-eksilkan oleh penguasa. Tapi yang tak bisa pulang karena tidak punya paspor dan sudah dibikin jadi 'stateless' oleh fihak militer. Kalau tokh bisa pulang, pasti di persekusi, ditangkap atau dibunuh, dengan alasan, tuduhan serta fitnah ini atau itu. Seperti nasib banyak korban '65 lainnya.
Bagaimana penyelesaiannya, tanya temanku Philip van Aalst?
Pemerintah Indonesia yang sekarang ini, pertama-tama harus minta maaf atas tindakan sewenang-wenang penguasa dulu, mencabut paspor dan kewarganegaraan kami, tanpa proses hukum apapun. Membuat kami, warganegara yang setia pada Republik Indonesia dan Presiden Sukarno, menjadi orang-orang yang 'stateless'. Hal itu juga disarankan oleh peneliti senior LIPI, Prof Dr Asvi Warman Adam. Asvi bahkan mendesak agar pemerintah minta maaf pada keluarga korban '65. Selanjutnya pemerintah wajib MEREHABILITASI HAK KEWARGANEGARAAN DAN NAMA BAIK mereka-mereka yang 'dicabut paspornya itu'. Demikian kunyatakan pada Philip van Aalst. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya!
* * *
Kali ini kunjungan 7 orang dari keluarga kami ke Indonesia (25 April – 15 Mei, 2015), sesungguhnya lebih banyak merupakan 'pulang kampung'. Meskipun asal etnisku adalah Sumatra, tapi aku dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. -- Betawi. Aku 'anak Betawi' yang cinta pada Jakarta. Jakarta adalah kampung halamanku.
Di koper kami tersimpan baik-baik 6 jilid buku mengenai HUKUM ADAT INDONESIA dan “PRIANGAN, De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811”. Buku-buku tsb adalah hasil studi sarjana ilmu sosial Belanda. Tadinya buku-buku milik pribadi perpustakaan Prof Dr W.F. Wertheim (alm), yang dihibahkan oleh keluarga beliau kepada “” Stichting Wertheim Amsterdam”. Masing-masing buku tsb sedikitnya berisi lebih dari 1000 halaman. Buku-buku tsb kami sumbangkan pada “Collection Wertheim Library” di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bersama sahabatku Sutriyanto dari Jakarta, kami bawa sendiri buku-buku yang umurnya lebih dari 100 tahun itu. Selain itu ada beberapa jilid buku lainnya terbitan Indonesia mengenai masalah Indonesia yang disumbangkan pada Wertheim Collection Library.
Sebelumnya, kami dari – Stichting Wertheim – sudah menyumbangkan buku-buku terbitan Indonesia lainnya, seperti a.l buku “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”, Edisi Revisi; dan beberapa buah buku lainnya. Dengan demikian Stichting Werteim Amsterdam secara reguler menghibahkan buku-buku untuk “Wertheim Collection Library”, UGM, Yogyakarta.
* * *
Pada kesempatan berkunjung ke kantor Redaksi Penerbit “Galangpress”, Yogyakarta, cakap-cakap dengan kawan baru redaktur Peter dan kawan lama, Romo Baskoro, aku beruntung dioleh-olehi beberapa jilid buku berharga dan bermutu sekitar masalah Papua dll.
“Galangpress” adalah penerbit buku bermutu yang menerbitkan a.l buku Prof Dr Baskara Werdaya – “Luka Bangsa, Luka Kita”; dan buku berjudul “SUKARNO-HATTA BUKAN PROKLAMATOR PAKSAAN” , oleh penyunting Peter Kasenda.
* * *
Ketika berkunjung ke “MURIA”, Musium Rekor Indonesia yang dikelola oleh komponis/ pianis, budayawan terkenal Jaya Suprana, dan mendengarkan uraian menarik sekitar “Muria” dan “Jaya Suprana School of Performing Arts”- lagi-lagi aku beruntung dibekali buku-buku buah pena Jaya Suprana dan 7 set CD musik ciptaan dan yang dimainkannya di piano..
Masih ada dua buah buku lagi yang kubawa dari Jakarta. Yaitu buku-buku bermutu oleh-oleh dan kenangan dari penulis generasi baru LEILA S. CHUDORI. Berjudul “PULANG” dan bukunya terbaru “NADIRA”.
* * *
Buku-buku bermutu, -- adalah salah satu sumber penting pengetahuan, ilmu dan kebijakan umat manusia -- yang tak ternilai!
Menyaksikan sendiri begitu banyaknya buku-buku baru yang terbit di negeri kita, hasil karya penulis-penulis dan peneliti Indonesia sendiri, dan penulis asing – serta ramainya pembeli – terutama dari kaum muda -- merupakan kepuasan. kebanggaan dan kebahagiaan, sebagai orang Indonesia yang “PULANG KAMPUNG”.
Apalagi sesudah memilikinya dan akan membacanya sendiri!
* * *
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 21 April 2015
-------------------------------------
"MINI-SEMINAR" --- KASUS SEJARAH TERPENTING INDONESIA
* * *
Sepertinya, --- seakan-akan, . .. kejadian itu, sebagai sesuatu yang 'kebetulan' saja!
Pe
Read more ... nulis muda Leila S Chudori menempakan posting di FB. Tentang kesan dan komentarnya setelah melihat sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005).Aktivis dan pemeduli HAM Indonesia umumnya sudah melihat Film "40th Kesunyian". < Untuk kata 'silence' --- terjemahan yang lebih cocok, mungkin: 'keheningan' , atau 'kebisuan'>.
"40 Years of Silence", -- adalah sebuah dokumenter sekitar Peristiwa Pembantaian Masal 1965/66/67. Situs www.40yearsofsilence.com/2008, a.l menulis sbb :
SEBUAH TRAGEDI INDONESIA:
Adalah kisah empat keluarga Indonesia yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Keluarga Budi di Jogjakarta, Degung dan Kereta di Bali.
Diperkirakan 500 ribu sampai 1 juta orang dibunuh pada Oktober 1965 sampai April 1966. Salah satu kejahatan terhadap kemanusiaan yang belum terungkap di Indoensia.
Alex, ayah Lanny adalah tokoh Baperki. Penangkapan dan kematian Alex telah mengubah kehidupan Lanny sekeluarga.
Budi mengalamai trauma dendam akan apa yang dialami Kris, kakaknya yang mengalami cap sebagai anak PKI. Budi seperti hidup di dua dunia: hitam dan putih, dendam dan bersabar.
Orang tua Degung menjadi korban saat Degung berumur lima tahun. Degung masuk dalam dunia intelektual dan kebudayaan.
Kereta menyakiskan berbagai pembunuhan terhadap orangtua dan keluarganya. Saat ini Kereta hidup dengan roh-roh yang merasuki dirinya. Rob Lawson menekankan diagnosa Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) terhadap empat keluarga itu.
Tiga sejarawan, Baskara T Wardaya, John Rossa dan Geoffrey Robison, menerangkan temuan penelitian mereka bahwa pembunuhan massal itu diorganisasikan, berkait erat dengan politik nasional dan internasional masa perang dingin.
* * *
Lalu, --- Leila S. Chudori memberikan komentar dan kesannya a.l sbb: (19 April) 2015
“Semalam saya menyaksikan sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005), seorang antropolog AS tentang tapol dan keluarganya dengan akibat fisik dan mentalnya.
Sebelumnya saya menyaksikan dokumenter ini sepotong-sepotong melalui trailer saja dan tempo hari Lemelson mengirimkan jauh-jauh dari AS.Sebelum ada nama Joshua Oppenheimer, dokumenter ini saya rasa lengkap (dengan cara dokumenter 'konvensional) mengikuti 4 narasumber di Jawa dan Bali serta komentar beberapa pengamat seperti Baskara Wardaya dan John Roosa.
Meski sudah bertahun-tahun saya melakukan riset soal 1965, tetap saja cerita para saksi masih mengejutkan dan menggedor hati. Salah satu anak yang diikuti dengan sabar oleh sutradara, sejak dia masih remaja hingga agak dewasa berkisah bagaimana dia menyaksikan sendiri kakaknya dianiaya di depan dia.
Anak ini tumbuh jadi anak pemarah dan sering berkelahi. Yang agak membuat dia sekarang lebih tenang dan tidak murka seperti masa kanak-kanaknya adalah karena dia kini ikut latihan bela diri dan meditasi.
"Dulu rasanya saya ingin membunuh para penyiksa kakak saya," katanya.
Tapi kini kemarahan itu dia salurkan pada olahraga. Saya jadi ingat itu sosok yang saya bayangkan tentang Segara Alam dalam Pulang, hasil wawancara dengan beberapa kawan, putera tahanan di Salemba dan Nusakambangan serta Pulau Buru. Kawan-kawan, 50 Tahun sudah peristiwa itu.
Saya hormat kepada rekan-rekan IPT (International People's Tribunal) yang setia bergerak mencari keadilan.
* * *
Dari komentar Leila inilah dimulai “MINI SEMINAR” .. yang temanya berkembang menjadi hakikat yang sesungguhnya, dari massalahnya, yaitu KASUS PERISTIWA SEJARAH PEMBANTAIAN MASAL 1965/66/67. Dan keterlibatan para aktivis dan pemeduli mancanegara mengenai kasus tsb. Kemudian diseminarkan pada tgl 10 April 2015, di Den Haag, Belanda. Dalam suatu wadah kegiatan pro -korban pelanggaran HAM terbesar di Indnesia. Lembaga itu bernama “THE INTERNATIONAL PEOPLE'S TRIBUNAL 1965 (IPT-65)”. Badan kegiatan HAM ini berkedudukan di Den Haag. Dipandu oleh seorang sarjana Belanda, Prof Dr Saskia Swieringga dan Koordinator, seorang advokat Indonesia, Nursyahbani Kacasungkana.
* * *
Berbagai pendapat dan komentar diajukan di MINI-Seminar di FB. Sungguh penting dan menarik. Ini adalah diskusi, yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mau bergabung di Facebook.
Baik disoroti salah satu komentar – pendapat seorang partisipan yang diajukan a.l sbb:
“. . . . . saya khawatir fakta-fakta penting tentang peristiwa 30 Sep. 1965 itu tidak akan pernah terungkap sepenuhnya selama para pelaku atau keluarga dekat mereka masih berkuasa dan pasal-pasal tentang limitasi rahasia negara di dalam UU Keterbukaan Informasi Publik tidak segera direvisi. (Abdullah Alamudi).
Lalu ditanggapi oleh Leila S. Chudori a.l sbb:
“Sepenuhnya memang tidak mungkin . . . Di negara Barat yang sering sekali mengulik sejarah mereka saja tak pernah bisa sepenuhnya mengangkat 'the truth'. Tapi sekedar pengakuan dar pemerintah bahwa massacre itu terjadi, menurut saya penting, pasti ada caranya untuk mengatasi keterbatasan itu.
Leila melanjutkan: . . . . . “iya, tentu saya tidak mimpi semua pemimpin bisa membuat statement seperti Gus Dur. Semua kenyataan pak Alamudi itu betul sekali terutama soal Megawati dan SBY. Saya belajar banyak hal dan salah satunya: bersiap untuk kecewa. Tapi ya kalau kita duduk-duduk saja, saya tidak merasa tepat. Dalam film itu salah satu pengamat (kalau tak salah Baskara Wardaya) menyampaikan satu hal menarik: kalau kita diam tenang-tenang saja puluhan tahun, peristiwa berdarah ini terus terusan berulang dan nyawa orang sedemikian tidak dihargai.
* * *
Ada satu lagi yang perlu disoroti , yaitu pendapat sbb:
“ . . . . saya kira (re)solusi thd 1965 & dampaknya berat dan tidaklah mungkin tanpa gerakan politik dari masyarakat. Mendem jero, seperti dimaksud Lies M, benar itu dilakukan Orde Baru, bukan solusi, malah merupakan hipokrisi.
“Pengakuan pemerintah atau pengakuan oleh presiden seperti dilakukan Gus Dur, hanya Gus Dur yg (berani dan mampu) melakukannya.
“Tribunal Rakyat pun hanya satu jalan utk mendorong lahirnya momentum. IPT tidak mungkin menyelesaikan tanpa gerakan politik. Di Spanyol, gerakan masyarakat itu dimulai oleh kelompok cendekia dan seniman, diperkuat oleh guru2 sejarah, terutama setelah Franco mati (1975).
“Saya kira, betapa pun terbatas, upaya Spanyol resolving dampak Perang Saudara 1930an lumayan. Apalagi mengingat gerakan ini, selang 70 tahun (!) kemudian, berhasil menggolkan UU Historical Memory (2004) yg meruntuhkan peninggalan politik & senirupanya fasisme Franco dan mendorong rekonsiliasi eksil Spanyol mudik ke tanahairnya.
“Point saya: mendem jero, pengakuan, islah (menurut sebagian elite kini), juga IPT,semua itu mustahil menyelesaikan masalah warisan politik dan ideologis utk mengobati luka2 besar 1965.
“Mustahil bila tanpa gerakan politik dan budaya dari tengah masyarkat. (Aboeprijadi Santoso)
* * *
Seorang hadirin yang datang ke Seminar “IPT – 1965”, di Den Haag 10 April, 2015 y.l – mempertanyakan langsung padaku, apakah kegiatan pro-HAM Indonesia yg diadakan di luarnegeri seperti ini, akan punya dampak di Indonesia?
Aku tunjukkan, bahwa setiap kegiatan pro-HAM di luarnegeri, -- demi diberlakukannya HAM di Indonesia, --- pasti punya pengaruh dan efek tertentu, --- seperti banyak fakta membuktikan hal tsb.
Kegiatan-kegiatan di luar Indonesia merupakan manifestasi kepedulian dan solidaritas internasional pada rakyat Indonesia yang memperjuangkan diberlakukannya HAM di Indonesia. Sejak dulu , – -- kehidupan masyarakat negeri manapun di dunia ini, pertumbuhan dan perkembangnnya – tidak terpisah dan TIDAK BISA DIPISAHKAN, dari kehidupan masyarakat bangsa-bangsa dan negeri-negeri di dunia pada keseluruhannya.
Bagaimanapun penguasa dan kekuatan politik parpol dsb dari sementara negeri berusaha memisahkan dan membendung kehidupan masyarakat Indonesia dari kehidupan masyarakat dunia, --- usaha tsb pasti akan menemukan kegagalan.
Dengan sendirinya kekuatan dan gerakan politik dalam negeri merupakan faktor yang menentukan apakah penguasa akan memenuhi tuntutan keadilan yang diajukan di dalam maupun di luar negeri. Saling hubngannya dan adanya faktor pengaruh luarnegri – selalu merupakan 'pelengkap' untuk adanya suatu perubahan medasar dari suatu negeri.
* * *
Sementara itu, ---- “MINI – SEMINAR”, Mini-Seminar -- yang berlangsung di media mancanegara sekitar Hak-Hak Azasi Manuisa dan Demokrasi, sekitar tuntutan keadilan bagi para korban Peristiwa Persekusi dan Pembantaian Masal 1965-66-67 di Indonesia akan berlangsung terus! Terus dan terus, sampai cita-cita dan tujuannya tercapai.
* * *
131 months ago
Ari Wibisono http://video.liputan6.com/global/mitos-urban-misteri-makhluk-gaib-di-terowongan-berdarah-benteng-pendem-2183207
133 months ago
More Belanda Tumbangkan Spanyol 5-1 posts »