Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu Malam, 07 Maret 2015
---------------------------------------
Buku “SUKARNO -- An Autobiography -
As Told to CINDY ADAMS”
< Apa Yang Direkayasa dan Dipalsukan?>
* * *
Judul diatas - "SUKARNO, An Autobio Read more ...graphy As Told to Cindy Adams", adalah buku OTOBIOGRAFI Sukarno, Sebagaimana Diceriterakan Kepada Cindy Adams (Edisi Asli Bahasa Inggris). Pertama diterbitkan oleh The Robbs-Merill Company, INC. New York. Cetakan pertama 1965. Copyright, 1965, By Cindy Adams.
Di Indonesia terbit Edisi Revisi, berjudul "BUNG KARNO, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". Cetakan pertama Agustus 2007; Cetakan Kedua, 2011.
Edisi Revisi yang terbit di Indonesia TERAMAT PENTING. Karena yang direvisi adalah suatu PEMALSUAN yang dilakukan dalam Edisi Indonesia tahun 1966. Edisi ini dengan kata pengantar dari Suharto. Dr Asvi Warman Adam, Peneliti Senior LIPI. yang menulis kata pengantar untuk Edisi Revisi (2007), menjelaskan proses terungkapnya PEMALSUAN dalam penerbitan buku Bung Karno, selama periode Orba, a.l sbb:
"Dalam diskusi yg diselenggarakan Yayasan Bung Karno di Gedung Pola tahun 2006, Safii Maarif mngutip buku Cindy Adams mengatakan bahwa Sukarno sangat melecehkan Hatta karena menganggp perananya tidak ada dalam sejarah Indonesia. Karena itu ketika buku ini akan diterbitkan ulang saya meminta kepada Yayasan Bung Karno untuk mengecek kembali terjemahan buku ini. Sebetulnya bagaimana bunyi asli dalam bahasa Inggris pernyataan yang merendahkan Hatta itu. Yayasan Bung Karno kemudian menugasi Syamsu Hadi untuk menerjemahkan ulang buku tersebut. Yang mengagetkan pada temuannya disamping ada beberapa kekeliruan terjemahan adalah dua alinea yang ditambahkan dalam edisi bahasa Indonesia sejak tahun 1966. Padahal kedua alinea itu tidak ada dalam edisi bahasa Inggris.
"Pada halaman 341 tertullis:
" . . Rakyat sudah berkumpul. Ucapkanlah Proklamasi".Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesakku, anehnya aku masih dapat brpikir dengan tenang.
"Hatta tidak ada", kataku. "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada".
Lanjutan teks ini kalau dicek teks asli bahasa Inggris: Dalam detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah air Indonesia menunggu kedatangqn Hatta.
Namun di antara kedua kalimat ini ternyata disisipkan dua alinea yang tidak ada dalam teks Inggrisnya yaitu:
Tidak ada yang berteriak, "kami menghendaki Bung Hatta". Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Syahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri, dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat syaraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada.
Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangqn kami tidak ada. Hanya Sukarnolah yang tetap mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan "pemimpin" ini karena ada pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat yang nomor dua terbesar di Indonesia.
Lanjut Asvi Adam: -- Sukarno tidak memerlukan Hatta dan Syahrir bahkan "peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". Demikain pernyataan Bung Karno dalam edisi bahasa Indonesia yang terbit sejak tahun 1966. Ternyata dua alinea itu tidak ada dalam naskah asli bahasa Ingris. Kalau demikian apakah ada seseorang yang merekayasa cerita tambahan ini?
* * *
Bisa timbul pertanyaan, mengapa aku 'tiba-tiba' menulis lagi sekitar "rekayasa" dan "pemalsuan" terhadap buku Bung Karno itu?
Tidak ada alasan prinsipil. –- Mengungkapkan pemalsuan sejarah, dalam hal ini pemalsuan buku Bung Karno, -- yang tujuannya jelas untuk mengadu donba Sukarno dan Hatt-Syahrir. Terutama di kalangan pendukung Bung Karno dan pendukung Hatta dan Syahrir. -- Pemalsuan dan rekayasa yang dilakukan oleh Orba, adalah masalah PENTING. Maksud penulisan sejarah adalah mendidik generasi baru. Disini penting sekali mengungkap pemalsuan sejarah yang dilakukan Orde Baru, Rekayasa yang mereka lakukan itu, BUKAN ALANG KEPALANG! Hal mana menegaskan betapa perlunya dalam periode Reformasi dan Demokratisasi dewasa ini dan selanjutnya -- MELAKUKAN PELURUSAN SEJARAH YANG DIPALSUKAN ORDE BARU.
Penyebab lain mengapa aku menulis kolomku hari ini, sbb:
Ketika membaca ulang buku SUKARNO, An Autobiography As Told to Cindy Adams (1965), terbaca lagi catatanku dalam buku tsb, bahwa buku itu aku pesan dari The Book Bin-Pacifica - dan dikirimkan ke alamatku di Amsterdam, pada tgl 08 Maret 2009. Harganya in termasuk ongkos kirim, adalah USD 27, 11-- Artinya tepat 6 tahun yang lalu aku memiliki Edisi Asli buku Bung Karno yang teramt penting itu. Aku bilang kepada Murti, hari ini aku akan menulis lagi sekitar buku Bung Karno. Perlu mengangkat kembali pemalsuan Orba terhadap buku Bung Karno tsb yang diungkapkan oleh sejarawan Asvi Warman Adam.
Kami membaca lagi, yang ditulis di kulit dalam (inside flap) buku, tentang buku Bung Karno itu, a.l. sbb:
"Sebagaimana ia sendiri mengungkapkannya dalam sejarah pribadi yang penting dan mempesonakan itu -- krisis adalah sesuatu yang terus menerus terjadi dalam dirinya -- krisis yang sering disebabkan oleh diri sendiri --
" Adalah dalam momen-momen ini bahwa Sukarno, sebagaimana halnya tiap pemimpin besar dalam sejarah, berperanan paling efektif. Memang, adalah kemampuannya untuk melihat momen krisis, merebut momen itu, bersamaan dengan kepribadiannya yang karismatik, merupakan penyebab dari mencuatnya ia ke kekuasaan sebagai pemimpin dari negeri yang nomor 6 besarnya (wilayah) dan dengan penduduk terbesar ke-lima di dunia. Sebuah negeri yang barangkali seperti halnya Tiongkok, memegang kunci ke haridepan Asia"
* * *
Kami membaca kembali bagian tertentu dari buku tsb: Kata Bung Karno:
"Janjiku telah kupenuhi. Kuliahku telah selesai. Sejak saat ini telah tidak ada yang akan dapat menghalang-halangiku untuk melakukan sesuatu yang menjadi kewajiban hidupku.
Ketika aku berdiri di atas jembatan Surabaya itu dan mendengar jeritan rakyatku, aku menyadari bahwa akulah yang harus berjuang untuk mereka. Hasrat yang berkobar-kobar untuk membebaskan rakyatku bukanlah sekadar ambisi pribadi. Aku dipenuhi hasrat itu. Ia meresap ke sekujur tubuhku. Ia menjadi desah nafasku. Ia mengalir melalui urat nadiku. Untuk memenuhi hasrat itulah orang mengabdikan seluruh hidupnya. Itu lebih dari satu kewajiban. Lebih dari panggilan jiwa. Bagiku ia adalah satu agama.". . (Lihat buku BUNG KARNO Penyambung Lidah Rakyat Indonesia-- halaman 83, Edisi Revisi, 2011).
* * *
Suatu pernyataan Bung Karno yang selalu akan menginspirasi generasi penerus bangsa ini, untuk terus berjuang mengabdi tanah air dan rakyatnya .
* * *
133 months ago
Ari Wibisono http://video.liputan6.com/global/whoops-ini-pesan-terakhir-abraham-samad-sebelum-diberhentikan-jokowi-2178170
Rabu 18 Februari 2015 menjadi hari yang dipenuhi dengan detik-detik menegangkan terkait konflik Kpk dan Polri dari istana negara presiden Jokowi memberikan sebuah keputusan yang mencengangkan Presiden Jokowi akhirnya memberhentikan ketua KPK Abraham Read more ...Samad dan wakil ketua KPK Bambang Widjojanto keput…
133 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 31 Januari 2015
--------------------------------
Ikuti Bagaimana KEBIJAKAN JOKOWI “Menangani” . . . . Kemelut Perpolitikan . . .
* * *
“ALOTNYA” MELAKSANAKAN “PERUBAHAN” . . .
Sejak periode Presiden BJ Habibi Read more ...e, Indonesia memasuki periode Reformasi dan Demokratisasi. Jatuhnya Suharto menunjukkan, bahwa proses Reformasi dan Demokratisasi itu tidak berlangsung dengan aman, damai dan tenteram. “Perubahan mendadak dan bergejolak”, menuju pada penjungkir-balikkan politik dan birokrasi yang puluhan tahun lamanya bergelimang dan berkubang di lumpur kekerasan dan ketiadaan hukum. Rezim Orde Baru telah menghancur-luluhkan tradisi pemerintah Republik Indonesia, yang didasarkan pada UUD dan hukum.
Sejak dibangunnya, --- rezim Orde Baru, --- 32 tahun lamanya, penguasa menjalankan pemerintahannya, dengan menginjak-injak UUD, hukum dan rasa keadilan. Segala plosok kekuasaan negara: --- eksekutif, legeslatif, dan yudikatif . .,., dicengkam disatu tangan besi yang TUNGGAL : Tangan besi Presiden Jendral Suharto.
Satu-satunya lembaga negara yang berfungsi, yang maha kuasa, adalah Tentara. Melalui pemberlakuan sistim kekuasaan menuruti logika dan falsafah fasis DWIFUNGSI ABRI, rezim Orde Baru menjadikan pemerinth sebagai kekuasaan amgkara murka.
* * *
Itulah sebabnya, -- proses Reformasi dan Demokrtisasi berlangsung BUKAN TANPA KEKERASAN. Sebut saja gerakan massa unjuk rasa protes yang meluas secara nasional --menuntut perubahan kebijakan ekonomi pemerintah yang menggantungkan nasib negeri pada kekuasaan asing, yang kemudian bermuara pada tuntutan turunnya Presiden Suharto. Gerakan ini ditindas penguasa dengan kekerasan. Telah juga minta korban beberapa mahasiswa Trisakti. Lalu “Perisiwa Mei 1998”, dimana warga etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, pembunuhan, pembakaran, perampokan, pemerkosaan. Yang semua itu direkayasa oleh penguasa. Peristiwa berdarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kemudian peristiwa penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan/penghilangan aktivis-aktivis Demokrasi dan Reformasi dari PRD, yang sampai detik ini masih merupakan kasus misterius.
* * *
Bangsa ini punya daya hidup dan berkembang yang luar biasa. Buktinya: suatu pertumpahan darah yang dicetuskan penguasa – terkenal dengan Pembantaian dan Persekusi Masal 1965/66/67; dimana kaum Kiri dan pendukung Presiden Sukarno
Pernah disinggung oleh salah seorang tokoh PDI-P, --- Rieke Pitalongga, bahwa situasi politik yang 'kemelut' ini, ada baiknya. Transparansi memperoleh kesempatan diberlakukan dan berkembang. Transparansi pemerintahan dan lembaga negeri lainnya, --- bila digalakkan, dijadikan kegiatan penting media dan kehidupan politik sehari-hari, akan lebih banyak lagi mengikut-sertakan publik dalam mengontrol penguasa. Rakyat pasti gairah menyambut usaha mengawasi, mengontrol, mengungkap, mengkoreksi dan menciptakan kekuatan pendorong positif, --- dalam kehidupan berdemokrasi di zaman Reformasi ini.
Muncul dan berkembangnya TRANSPARANSI -- biasanya terjadi dan tumbuh di kala fihak-fihak yang berkonflik itu, terutama yang ngeloni kedudukan kekuasaan, semakin gairah dan bersemangat dalam kegiatan 'saling bongkar' . Situasi seperti itu sering terjadi pada periode pra dan selama kampanye pemilihan daerah, apalagi pemilihan presiden.
* * *
Bagaimana Presiden Jokowi – Menghadapi pelbagai konflik-politik dan 'conflict of interest' sekitar pengangkatan Kapolri baru Budi Gunawan; penetapan BG sebagai tersangka kasus korupi oleh KPK; dan ditangkapnya untuk beberapa saat, Wakil Ketua KPK, serta pergesekan yang semakin meningkat antara yang pro “KPK” dan lawannya -- yang “pro-Polri”.
Setelah menghentikan Kepala Polri yang lama dan mengangkat pelaksana tugas Kapolri , --- Jokowi “menunda” pelantikan kepala Polri yang baru Budi Gunawan. Selanjutnya Jokowi memanggil pemimpin-pemimpin KPK dan Polri yang melakukan tugas masing-masing agar bertindak sesuai aturan dan hukum. Tidak boleh melakukan tindakan 'kriminalisasi'. --- Jokowi selanjutnya membentuk 'tim atau panitia independen' terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat yang kredibel, diketuai oleh mantan Ketua Muhammadiyah, Syafei Maarif.
Panitia Independen telah mengajukan sarannya agar Presiden Jokowi mengangkat KaPolri yang baru. Karena adalah tidak etis dan merusak kepercayaan publik bila Presiden melantik Kapolri yang 'bermasaalah'.
* * *
Sebegitu jauh duduk perkaranya sudah jelas bagi publik, bagi masyarakat dan bagi siapa saja. Sebuah panitia independen, yang dibentuk Presiden, telah mengajukan saran solusinya.
Budi Gunawan harus mundur, sebaiknya atas inisiatif sendiri, kalau tidak, Presiden yang membatalkan pencalonannya sebagai Kapolri.
Sebelumnya Syafii Maarif --- Ketua tim independen Konflik KPK dan Kepolisian RI, -- menegaskan a.l:
“Pokoknya kami ingin selamatkan KPK dan Polri. Jangan dibiarkan negara rusak oleh oknum-oknum yang meng-atas-namakan institusi” (27/1/2015).
* * *
Dalam pada itu, Jokowi mengambil langkah “surprise” -- yang strategis, yaitu mengadakan pertemuan, berkonsultasi dengan mantan saingannya dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto. (mungkin juga sampai sekarang Prabowo merupakan saingan Jokowi yang paling serius). - Hasil pertemuan, tidak banyak yang meramalkan sebelumnya:
Prabowo Subianto, Ketua Gerindra dan tokoh KMP yang selama ini, mengambil sikap oposisi – tapi dalam DPR bermanuver mendukung pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri --- , kini mengambil MENDUKUNG SIKAP APAPUN YANG AKAN DIAMBIL OLEH PRESIDEN JOKOWI DALAM MENANGANI KONFLIK KPK – POLRI.
Sungguh menarik dan mempesonakan perkembangan baru ini, yang disebabkan oleh kebijakan Presiden Jokowi. Ternyata langkah-langkah Jokowi, diambil secara hati-hati. Dengan memperimbangkan situasi keseluruhan, serta menomor-satukan kepentingan bangsa dan negara secra nasional . . untuk masa kini dan di hari depan.
* * *
Bukankah perkembangan situasi politik Indonesia belakangan ini, merupakan pengungkapan gamblang di muka umum, untuk lebih mengenal, siapa-siapa, yang terlibat dalan konflik, bagaimana sikap masing-masing. Dan -- APA . . . . SESUNGGUHNYA YANG DIRIBUTKAN SELAMA INI.
* * *
Seruan menggelédeék Relawan Jokowi -- – “KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKAN JOKOWI SENDIRIAN” , a.l menunjukkan bahwa kebangkitan kekuatan masyarakat, khususnya para Relawan Jokowi, tidak akan berhenti. Ia bahkan akan berkembang dan bertambah besar dan kokoh.
Proses ini akan berlangsung terus --- justru dalam pergolakan politik serta berkembangnya TRANSPARANSI dalam kehidupan berbangsa.
* * *