Finlandia vs Spanyol posts
AP Sports At Finlandia and Post, it's 75 games and no wins this winter http://apne.ws/2l19CwM
109 months ago
io9 My favorite part is how dogs are caught between humans and wolves.
122 months ago
Ari Setyo Nugroho Saya ari setyo nugroho ditunjuk oleh pssi untuk menyelamatkan sepakbola indonesia, saya telah diHubungi oleh ketua pssi la nyala mataliti dan menunggu keterangan dari pssi untuk diberikan surat tugas dan surat kuasa dari pssi untuk saYa, saya bisa me
Read more ... nyelamatkan sepakbola indonesia menyelamatkan liGa menyelamatkan kawan-kawan pesepakbola dan club dan semua yang mengisi di club untuk bisa bekerja lagi di sepakbola. Berdoa dan berusaha saya bisa menjadikan timNas indoNesia juara asean,juara asia dan juara dunia.menaikan level liGa indonesia setaraB Level liga eropa,liga inggris, liga jerman dan liGa sPanyol dan membuka peluang pemain sepakbola,pelatih,dll indonesia di seluruh pelosok tanah air di kota maupun desa di daerah,peDalaman hingga ujung terPencil di indonesia unTuk bisa berkarir di sepakbola di liGa tanah air maupun bisa di liGa eropa,liGa asia,liGa africa,liGA America,liGa australia dan semua liGA di seluruh penjuru dunia
129 months ago
Fast Company See the top 5 ads from this week:
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 21 April 2015
-------------------------------------
"MINI-SEMINAR" --- KASUS SEJARAH TERPENTING INDONESIA
* * *
Sepertinya, --- seakan-akan, . .. kejadian itu, sebagai sesuatu yang 'kebetulan' saja!
Pe
Read more ... nulis muda Leila S Chudori menempakan posting di FB. Tentang kesan dan komentarnya setelah melihat sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005).Aktivis dan pemeduli HAM Indonesia umumnya sudah melihat Film "40th Kesunyian". < Untuk kata 'silence' --- terjemahan yang lebih cocok, mungkin: 'keheningan' , atau 'kebisuan'>.
"40 Years of Silence", -- adalah sebuah dokumenter sekitar Peristiwa Pembantaian Masal 1965/66/67. Situs www.40yearsofsilence.com/2008, a.l menulis sbb :
SEBUAH TRAGEDI INDONESIA:
Adalah kisah empat keluarga Indonesia yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Keluarga Budi di Jogjakarta, Degung dan Kereta di Bali.
Diperkirakan 500 ribu sampai 1 juta orang dibunuh pada Oktober 1965 sampai April 1966. Salah satu kejahatan terhadap kemanusiaan yang belum terungkap di Indoensia.
Alex, ayah Lanny adalah tokoh Baperki. Penangkapan dan kematian Alex telah mengubah kehidupan Lanny sekeluarga.
Budi mengalamai trauma dendam akan apa yang dialami Kris, kakaknya yang mengalami cap sebagai anak PKI. Budi seperti hidup di dua dunia: hitam dan putih, dendam dan bersabar.
Orang tua Degung menjadi korban saat Degung berumur lima tahun. Degung masuk dalam dunia intelektual dan kebudayaan.
Kereta menyakiskan berbagai pembunuhan terhadap orangtua dan keluarganya. Saat ini Kereta hidup dengan roh-roh yang merasuki dirinya. Rob Lawson menekankan diagnosa Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) terhadap empat keluarga itu.
Tiga sejarawan, Baskara T Wardaya, John Rossa dan Geoffrey Robison, menerangkan temuan penelitian mereka bahwa pembunuhan massal itu diorganisasikan, berkait erat dengan politik nasional dan internasional masa perang dingin.
* * *
Lalu, --- Leila S. Chudori memberikan komentar dan kesannya a.l sbb: (19 April) 2015
“Semalam saya menyaksikan sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005), seorang antropolog AS tentang tapol dan keluarganya dengan akibat fisik dan mentalnya.
Sebelumnya saya menyaksikan dokumenter ini sepotong-sepotong melalui trailer saja dan tempo hari Lemelson mengirimkan jauh-jauh dari AS.Sebelum ada nama Joshua Oppenheimer, dokumenter ini saya rasa lengkap (dengan cara dokumenter 'konvensional) mengikuti 4 narasumber di Jawa dan Bali serta komentar beberapa pengamat seperti Baskara Wardaya dan John Roosa.
Meski sudah bertahun-tahun saya melakukan riset soal 1965, tetap saja cerita para saksi masih mengejutkan dan menggedor hati. Salah satu anak yang diikuti dengan sabar oleh sutradara, sejak dia masih remaja hingga agak dewasa berkisah bagaimana dia menyaksikan sendiri kakaknya dianiaya di depan dia.
Anak ini tumbuh jadi anak pemarah dan sering berkelahi. Yang agak membuat dia sekarang lebih tenang dan tidak murka seperti masa kanak-kanaknya adalah karena dia kini ikut latihan bela diri dan meditasi.
"Dulu rasanya saya ingin membunuh para penyiksa kakak saya," katanya.
Tapi kini kemarahan itu dia salurkan pada olahraga. Saya jadi ingat itu sosok yang saya bayangkan tentang Segara Alam dalam Pulang, hasil wawancara dengan beberapa kawan, putera tahanan di Salemba dan Nusakambangan serta Pulau Buru. Kawan-kawan, 50 Tahun sudah peristiwa itu.
Saya hormat kepada rekan-rekan IPT (International People's Tribunal) yang setia bergerak mencari keadilan.
* * *
Dari komentar Leila inilah dimulai “MINI SEMINAR” .. yang temanya berkembang menjadi hakikat yang sesungguhnya, dari massalahnya, yaitu KASUS PERISTIWA SEJARAH PEMBANTAIAN MASAL 1965/66/67. Dan keterlibatan para aktivis dan pemeduli mancanegara mengenai kasus tsb. Kemudian diseminarkan pada tgl 10 April 2015, di Den Haag, Belanda. Dalam suatu wadah kegiatan pro -korban pelanggaran HAM terbesar di Indnesia. Lembaga itu bernama “THE INTERNATIONAL PEOPLE'S TRIBUNAL 1965 (IPT-65)”. Badan kegiatan HAM ini berkedudukan di Den Haag. Dipandu oleh seorang sarjana Belanda, Prof Dr Saskia Swieringga dan Koordinator, seorang advokat Indonesia, Nursyahbani Kacasungkana.
* * *
Berbagai pendapat dan komentar diajukan di MINI-Seminar di FB. Sungguh penting dan menarik. Ini adalah diskusi, yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mau bergabung di Facebook.
Baik disoroti salah satu komentar – pendapat seorang partisipan yang diajukan a.l sbb:
“. . . . . saya khawatir fakta-fakta penting tentang peristiwa 30 Sep. 1965 itu tidak akan pernah terungkap sepenuhnya selama para pelaku atau keluarga dekat mereka masih berkuasa dan pasal-pasal tentang limitasi rahasia negara di dalam UU Keterbukaan Informasi Publik tidak segera direvisi. (Abdullah Alamudi).
Lalu ditanggapi oleh Leila S. Chudori a.l sbb:
“Sepenuhnya memang tidak mungkin . . . Di negara Barat yang sering sekali mengulik sejarah mereka saja tak pernah bisa sepenuhnya mengangkat 'the truth'. Tapi sekedar pengakuan dar pemerintah bahwa massacre itu terjadi, menurut saya penting, pasti ada caranya untuk mengatasi keterbatasan itu.
Leila melanjutkan: . . . . . “iya, tentu saya tidak mimpi semua pemimpin bisa membuat statement seperti Gus Dur. Semua kenyataan pak Alamudi itu betul sekali terutama soal Megawati dan SBY. Saya belajar banyak hal dan salah satunya: bersiap untuk kecewa. Tapi ya kalau kita duduk-duduk saja, saya tidak merasa tepat. Dalam film itu salah satu pengamat (kalau tak salah Baskara Wardaya) menyampaikan satu hal menarik: kalau kita diam tenang-tenang saja puluhan tahun, peristiwa berdarah ini terus terusan berulang dan nyawa orang sedemikian tidak dihargai.
* * *
Ada satu lagi yang perlu disoroti , yaitu pendapat sbb:
“ . . . . saya kira (re)solusi thd 1965 & dampaknya berat dan tidaklah mungkin tanpa gerakan politik dari masyarakat. Mendem jero, seperti dimaksud Lies M, benar itu dilakukan Orde Baru, bukan solusi, malah merupakan hipokrisi.
“Pengakuan pemerintah atau pengakuan oleh presiden seperti dilakukan Gus Dur, hanya Gus Dur yg (berani dan mampu) melakukannya.
“Tribunal Rakyat pun hanya satu jalan utk mendorong lahirnya momentum. IPT tidak mungkin menyelesaikan tanpa gerakan politik. Di Spanyol, gerakan masyarakat itu dimulai oleh kelompok cendekia dan seniman, diperkuat oleh guru2 sejarah, terutama setelah Franco mati (1975).
“Saya kira, betapa pun terbatas, upaya Spanyol resolving dampak Perang Saudara 1930an lumayan. Apalagi mengingat gerakan ini, selang 70 tahun (!) kemudian, berhasil menggolkan UU Historical Memory (2004) yg meruntuhkan peninggalan politik & senirupanya fasisme Franco dan mendorong rekonsiliasi eksil Spanyol mudik ke tanahairnya.
“Point saya: mendem jero, pengakuan, islah (menurut sebagian elite kini), juga IPT,semua itu mustahil menyelesaikan masalah warisan politik dan ideologis utk mengobati luka2 besar 1965.
“Mustahil bila tanpa gerakan politik dan budaya dari tengah masyarkat. (Aboeprijadi Santoso)
* * *
Seorang hadirin yang datang ke Seminar “IPT – 1965”, di Den Haag 10 April, 2015 y.l – mempertanyakan langsung padaku, apakah kegiatan pro-HAM Indonesia yg diadakan di luarnegeri seperti ini, akan punya dampak di Indonesia?
Aku tunjukkan, bahwa setiap kegiatan pro-HAM di luarnegeri, -- demi diberlakukannya HAM di Indonesia, --- pasti punya pengaruh dan efek tertentu, --- seperti banyak fakta membuktikan hal tsb.
Kegiatan-kegiatan di luar Indonesia merupakan manifestasi kepedulian dan solidaritas internasional pada rakyat Indonesia yang memperjuangkan diberlakukannya HAM di Indonesia. Sejak dulu , – -- kehidupan masyarakat negeri manapun di dunia ini, pertumbuhan dan perkembangnnya – tidak terpisah dan TIDAK BISA DIPISAHKAN, dari kehidupan masyarakat bangsa-bangsa dan negeri-negeri di dunia pada keseluruhannya.
Bagaimanapun penguasa dan kekuatan politik parpol dsb dari sementara negeri berusaha memisahkan dan membendung kehidupan masyarakat Indonesia dari kehidupan masyarakat dunia, --- usaha tsb pasti akan menemukan kegagalan.
Dengan sendirinya kekuatan dan gerakan politik dalam negeri merupakan faktor yang menentukan apakah penguasa akan memenuhi tuntutan keadilan yang diajukan di dalam maupun di luar negeri. Saling hubngannya dan adanya faktor pengaruh luarnegri – selalu merupakan 'pelengkap' untuk adanya suatu perubahan medasar dari suatu negeri.
* * *
Sementara itu, ---- “MINI – SEMINAR”, Mini-Seminar -- yang berlangsung di media mancanegara sekitar Hak-Hak Azasi Manuisa dan Demokrasi, sekitar tuntutan keadilan bagi para korban Peristiwa Persekusi dan Pembantaian Masal 1965-66-67 di Indonesia akan berlangsung terus! Terus dan terus, sampai cita-cita dan tujuannya tercapai.
* * *
131 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu Siang, 04 April 2015
---------------------------------
Pengantar:
Pada tanggl 22 Februari 2015, y.l Sebuah Panitya Gabungan NGO Perancis dan Indonesia di Paris -- menyelenggarkan Hari Indonesia, dalam rangka kegiatan Anti-K
Read more ... olonialisme. Dalam kesempatan tsb saya diminta memberikan pandangan mengenai Konferensi Bandung (1955).
Hari ini pembicaraan tsb dipublikasikan di bawah ini sebagai sambutan MEMPERINGATI 60TH KONFRENSI ASIA AFRIKA (1955)
* * *
KONFERENSI ASIA-AFRIKA, BANDUNG (1955): SEBUAH TONGGAK SEJARAH.
* * *
Pertama-tama, saya menyatakan terima kasih kepada Panitia Penyelenggara Pertemuan ini dan kepada Miss Ibaruri Sudarsono, atas undangan hadir dalam pertemuan ini, dan kesempatan untuk menyampaikan pandangan sekitar Konferensi Asia-Afrika, Bandung 1955; peranan Sukarno; dan sekitar Gerakan Non-Aligned Movement (NAM), populer disebut GNB - Gerakan Non-Blok ; Non-Bloc Movement, sebagai kelanjutan dari Konferensi Bandung, 1955.
* * *
Pada periode kepresidenan Presiden Sukarno, pada bulan Agustus 1953, PM Ali Sastroamidjoyo dari Indonesia, atas petunjuk Presiden Sukarno, --- untuk pertama kalinya mengajukan, kepada para peserta Konferensi Colombo, -- IDE menggalang kerjasama Asia-Afrika, demi USAHA KEMERDEKAAN DAN PERDAMAIAN DUNIA. Visi Presiden Sukarno adalah: - - - Bangsa-bangsa dan negeri-negeri Asia dan Afrika, bangkitlah . . . . Pegang nasib dan haridepan ditangan sendiri. Harus menulis sejarahnya sendiri!
Gerakan ini harus terlepas dan bebas dari pengaruh geo-politik yang didominasi oleh semangat dan politik "Perang Dingin". IDE SUKARNO menolak bahwa haridepan dunia ditentukan oleh beberapa negara besar --- yang didasarkan atas konflik antara Blok Barat dan Blok Timur.
* * *
Sesungguhnya IDE Sukarno tsb yang inti-sarinya, ialah , ---- Keharusan berdiri serta berkirprahnya suatu KEKUATAN KETIGA, yang menolak keberpihakan pada salah satu blok, yang berkonflik keras dalam "Perang Dingin". Kekuatan, gerakan ini mengambil bentuk GNB - Gerakan Non-Blok.
Dalam proses selanjutnya - - - Dimulai dengan BANDUNG PRINCIPLES, tercipta gerakan dan persepakatan negeri-negeri NON BLOK, negeri-negeri yang NON-ALIGNED.. yang menempuh dan mempertahankan politik NON ALIGNMENT . . .Yang menolak berfihak, kepada salah satu fihak, ketika berkecamuk "Perang Dingin", dan TETAP MEMPERTAHANKAN POLITIK LUAR NGERI YANG BEBAS BERDIRI SENDIRI.
Tokoh-tokoh Konferensi AA Bandung: Sukarno (Indonesia), Nehru (India) , Nasser (Mesir) , Nkrumah (Ghana) merupakan pilar ide non-blok, Bersama Tito dari Yugoslavia, pada tahun 1961 berhasil meluncurkan Konferensi Non- Blok pertama di Belgrado, Jugoslavia. Gerakan Non Blok merupakan pengembangan dari PRINSIP-PRINSIp HUBUNGAN INTERNAIONAL yang dideklarasikan di Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955.
Gerakan Non-Alignment-Movement (NAM), berhasil mencakup lebih dari 100 negeri di dunia ini, termasuk Kuba yang diisolasi dan mengalami blokade ekonomi AS, yang bertujuan menghancurkan pemerintah Kuba.
* * *
Visi Sukarno sbb: --- Meskipun Asia-Afrika terdiri dari berbagai bangsa dan negeri yang berbeda-beda, mempunyai kultur dan tradisi sendiri-sendiri --- menempuh sistim politik yang berbeda-beda, serta menganut doktrin ekonomi yang beraneka ragam --- bangsa-bangsa dan negeri-negeri Asia dan Afrika, punya kesamaan besar. Yaitu, kebersamaan untuk berdiri tegak sebagai bangsa merdeka, yang sama derajat dan sama hak dengan bangsa-bangsa lainnya. Membangun dunia baru yang damai dan makmur! Mereka bertekad memegang nasib mereka di tangan mereka sendiri.
* * *
Di saat ketika "Perang Dingin" sedang berkecamuk dengan heibatnya ---, di kala Perancis berkeras kepala hendak memperpanjang masa
penjajahannya di Indocina. Dengan dukungan Blok Barat Perancis melancarkan perang penindasan/penghancuran terhadap rakyat Vietnam yang pada tanggal 02 September 1945, memproklamasikan kemerdekaan nasionalnya.
Di Semenanjung Korea, sejak 1950 meletus Perang Korea, yang nyaris menyeret dunia ke perang dunia baru!
* * *
Lebih separuh benua Afrika massih g e l a p ! -- Masih merana di bawah kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme Barat. Afrika Selatan masih merana di bawah kekuasaan rezim Apartheid. Di Rhodesia Utara dan Rhodesia Selatan ( yang kemudian menjadi Zambia dan Zimbabwe), kaum settlers kulit putih masih berkuasa. Aljazair disiapkan menjadi suatu negeri Apartheid lainnya di benua Afrika. Conggo masih gelap... dan banyak lagi wilayah dan negeri serta bangsa-bangsa Afrika masih didominasi oleh kekuasaan Barat -- Inggris, Perancis, Belgia, Portugis, Spanyol dan Amerika. Sementara negeri di Asia juga masih berada di bawah kekuasaan Barat yang lama.
Last but not least . . Israel masih menduduki sebagian besar wilayah Palestina! Rakyat Palestina dengan gigih mempertahankan dan mengembangkan perjuangn mereka untuk suatu negara Palestina Merdeka. Berjuang melawan politik Israel, yang tak henti-hentinya, memperluas perkampungan Yahudi, di daerah Palestina yang diduduki militer Israel.
* * *
Gerakan massa meluas di dunia ketika itu a.l. ----- Ditandai oleh hasrat besar bersama -- kehendak mencegah perang dunia baru, menentang bom A dan H serta percobannya yang membahayakan kesehatan umum rakyat di daerah tempat percobaan. .
Situasi mancanegara amat rumit. Rakyat-rakyat sedunia mempergencar kegiatan dan perjuangan demi perdamaian dunia. Gerakan Perdamaian Dunia adalah, gerakan besar yang melibatkan nasib negeri-negeri di dunia.
* * *
Dalam situasi dunia demikian itu . . . . . pada tanggal 19 April, 1955, - - - - 60 tahun yuang lalu, ----- Bandung, ibukota Provinsi Jawa Barat, -- Indonesia --- menjadi pusat perhatian dunia. Bukan saja -- karena keindahan panorama dan alam sekitarnya, ----- bukan semata-mata karena kecantikan pemandangan di sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Malabar; serta sifat ramah-bersahabat penduduknya saja, . . . . . tetapi ---- langkah bersejarah yang diayunkannya . maka Bandung menjadi pusat perhatian mancanegara.
* * *
Para wakil dan utusan dari 29 negeri dan wilayah benua Asia dan Afrika, yang sudah lama merdeka, yang baru merdeka, dan yang dalam proses memerdekakan diri dari kolonialisme, sedang berjuang melawan imperialisme, ---- berkumpul bersama, mengadakan musyawarah dan mufakat.
* * *
Perhatikan, bahwa IDE SUKARNO untuk suatu PERSATUAN DAN PERJUANGAN RAKYAT Asia-Afrika -- DEMI KEMERDEKAAN DAN PERDAMAIAN DUNIA, diluncurkan pada suatu periode ketika tentera ekspedisi Perancis (16.000 serdadu dan opsir) dipusatkan di Dien Bien Phu, sebuah desa di lereng gunun di perbatasan Vietaam dengan Laos.
Strategi militer Perancis ialah,-- hendak memancing masuk perangkap dan menghancurkan kekuatan bersenjata Vietminh , populer disebut Vietcong - yang sedang maju menderu menghalau tentara Perancis dari Indochina.
Menarik bahwa IDE SUKARNO tentang Persatuan dan Perjuangan Rakyat Asia-Afrika, diluncurkan, pada saat yang sama ketika tentara Vietminh di bawah Jendral Vo Nguyen Giap, dengan 40.000 psukan gerilyanya mengepung dan pada tanggal 07 Mei 1954, (dimulai pada tanggal 12 Maret - setelah bertempur siang malam selama 57 hari) -- , menghancurkan tentara ekspedisi kolonial Perancis di Dien Bien Phu. Kelanjutannya Perancis terpaksa angkat kaki dari Indochina, untuk digantikan oleh Amerika Serikat.
* * *
Banyak diajukan pertanyaan: APA PERAN INDONESIA dan Sukarno sekitar Konferensi A-A Bandung (1955) dan kaitannya dengan Non-Alignment, Gerakan Non-Blok?
Peran Sukarno dan Indonesia, adalah -- bahwa Sukarno dan Indonesia merupakan PEMRAKARSA, pengambil inisiatif IDE BESAR INI. Presiden Sukarno dan Indonesia tampil, maju ke depan --- , ambil inisiatif untuk mendorong maju GERAKAN KEMERDEKAAN DI ASIA DAN AFRIKA, mempersatukan dan mencapai kemenangan.
Berani melawan arus, berani menantang oposisi dan tantangan "Perang Dingin", menentang pandangan, bahwa konflik di dunia ini, antara Blok Timur dan Blok Barat, sebagai masalah yang "over-riding", yang di atas segala-galanya, yang menentukan siapa kawan siapa kawan. Yang menentukan haridepan dunia.
* * *
Ketika Konferensi AA Bndung (1955), aku baru berumur 25 tahun. Belum banyak mengerti tentang politik. nasional dan apalagi internasional.
Namun, 3 tahun sebelumnya, yaitu pada bulan Juli 1952, aku dikirimkan ke Kopenhagen, ibukota Denmark. Bersama seorng kawan ditugaskan untuk mewakili Pemuda Indonesia, dalam suatu konferensi persiapan internasional, yang akan menyelenggarakan Kongres Pemuda Sedunia, Di Wina, Austria. Pada waktu itu di Asia sedang berkobar Perang Korea.
Geo-politik mancanegara masih didominasi oleh suasana "PERANG DINGIN". Dua kekuatan di dunia ini berhadap-hadapan: Blok Barat, yang dikepalai oleh AS-- versus Blok Timur, dengan Uni Sovyet, sebagai pemimpinnya. Perang Korea, baru saja sedikit mereda.
Namun, Ada satu hal yang tidak mereda, bahkan semakin berkobar. Itu adalah perjuangaan bangsa-bangsa dan negeri-negeri terjajah di kawasan yang luas di benua Asia- dan Afrika, Perjuangan ini, adalah perjuangan dari bangsa-bangsa dan negeri-negeri terjajah, untuk merebut kemerdekaannya.
Kekuatan politik dari perjuangn ini, punya satu tujuan bersama: Yaitu, mengusir kekuasaan kolonial asing yang selama ini menguasai negeri dan bangsa mereka. Perjuangn ini adalah perjuangan anti-kolonialisme melawan kolonialisme, lama dan baru, untuk kemrdekaan bangsa dan tanah air.
* * *
Dunia tersentak! Tidak habis keheranan menyaksikan suatu peristiwa sejarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Terselenggaranya suatu konferensi yang terdiri dari bangsa-bangsa dan negeri-negeri merdeka, seperti Ethiopia, Mesir, Thailand, India, Burma, Indonesia dan Jepang; dan yang berada dalam proses mencapai kemerdekaannya, seperti Ghana dan Vietnam Selatan. Hadir di situ negeri-negeri yang terikat dengan pakta-pakta militer Barat seperti SEATO, CENTO DAN NATO.
Bagaimana mungkin negeri-negeri yang begitu beraneka ragam politik luar negeri dan aliansi militernya, bisa berkumpul dan mencapai PERSETUJUAN BERSAMA?
Negeri-negeri Barat yang selama ratusan tahun menjadi penjajah mayoritas negeri-negeri benua Asia dan Afrika, dan para juru-ramal mereka memprediksi dan mengharapkan bahwa Konferensi Asia-Afrika di Bandung itu akan berakhir dengan percekcokan dan kegagalan total. Di dunia ini tidak mungkin mengambil sikap bebas dan berdikari, begitu anggapan mereka. "Kalau kalian tidak berfihak kami, berarti kalian menentang dan jadi musuh kami"!
Begitu logika blok Barat yang dikepalai oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis ketika itu. "If you are not with us, you are against us!" Begitu John Foster Dullers, Menlu AS pernah mengancam . . . .
* * *
Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang berkumpul di Bandung selama seminggu itu, menyatakan bahwa mereka berhasrat dan bertekad untuk hadir di dunia ini sebagai kekuatan politik yang berjuang untuk bebas berdiri sendiri, tidak menjadi émbél-émbél blok-blok yang merupakan fihak-fihak terlibat dalam'Perang Dingin'. Hal mana sesungguhnya merupakan fenomena baru yang muncul di dunia geo-politik internasional.
Apakah mungkin suatu negeri atau kelompok negeri-negeri untuk berdiri sendiri, tidak 'mihak sana' tidak 'mihak sini'? Bukankah di antara yang hadir di Bandung itu ada yang terikat dengan blok Barat, seperi Filipina dan Thailand yang anggota SEATO, yang dikepalai oleh AS? Bukankah Tiongkok dan Vietnam Utara, adalah bagian dari Blok Timur yang dikepalai oleh Uni Sovyet? Bukankah Turki anggota NATO, dan bukankah Irak anggota CENTO, yang dikepalai oleh AS? Selain itu terdapat negeri-negeri yang menemp;uh politk luarnegeri yang 'bebas dan aktif' , yang sering dikatakan 'netral', tidak mihak sana dan tidak mihak sini, seperti India dan Indonesia?
Bisakah negeri-negeri yang demikian berbedanya politik luarnegerinya, berkumpul dan berunding. Di tengah-tengah situasi berkecamuknya 'Perang Dingin'?
Tetapi, ---- bangsa-bangsa Asia dan Afrika, yang para wakilnya berkumpul di Bandung 60 tahun yang lalu, telah menciptakan KEAJAIBAN SEJARAH . Suatu FONOMENA LANGKA DALAM GEO-POLITIK INTERNASIONAL menjadi suatu kenyataan.
* * *
Para utusan dari negeri-negeri Asia Afrika itu bisa berunding, bisa musyawarah dan TELAH MENCAPAI KATA SEPAKAT. Mereka mewakili bangsa-bangsa dan negeri-negeri yang mendambakan kermerdekaan dan kebebasan, kerjasama, kemajuan dan perdamaian dunia. Musuh bersama mereka adalah kolonialisme dalam segala manifestasinya!
* * *
Muncullah pertanyaan berikut ini? Apakah DASA SILA BANDUNG, 10 PRINSIP BANDUNG masih relevan. Memperingati Konferensi Bandung (1955), bukankah itu NOSTALGIA SEMATA?
Nyatanya - - - dimulai dengan BANDUNG PRINCIPLES, gerakan dan persepakatan negeri-negeri NON BLOK, negeri-negeri yang NON-ALIGNED.. yang menempuh dan mempertahankan politik NON ALIGNMENT . . .Yang menolak berfihak ketika berkecamuk "Perang Dingin", dan TETAP MEMPERTAHANKAN POLITIK LUAR NGERI YANG BEBAS BERDIRI SENDIRI. Tokoh-tokoh Konferensi AA Bandung: Sukarno, Nehru, Nasser, Nkrumah merupakan pilar ide non blok, Bersama Tito dari Yugoslavia, pada tahun 1961 meluncurkan Konferensi Non Blok pertama di Belgrado, Jugoslavia. Gerakan Non Blok merupakan pengembangan dari PRINSWIP-PRINSIp HUBUNGN INTERNAIONAL yang dideklarasikan di Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955.
Dalam situasi dunia yang bertambah rumit, masih terjadinya berbagai konflik kekerasan serta munculnya kecenderungan baru hegemonisme pasca 'Perang Dingin', benarlah sikap Indonesia dan sementara negeri AA lainnya bahwa SEMANGAT BANDUNG dan 10 PRINSIP BANDUNG MASIH RELEVAN!
* * *
Kelanjutan dari Konferensi AA di Bandung (1955), yang merupakan kegiatan di jajaran pemerintah--- adalah berdirinya gerakan besar setiakawan rakyat-rakyat Asia dan Afrika melawan kolonialisme dan neokolonialisme. Gerakan ini adalah gerakan non-governmental. Muncul AAPSO, Konferensi Mahasiswa AA, Konferensi Pengarang AA, Konferensi Wanita AA, Festival Film AA , KIAPPMA, dan Ganefo. Yang dilengkapi dengan Konferensi Trikontinental di Havana, Cuba, 1966. Sebagai aktivis setiakawan Raqkyt-Rakyat Asia Afrika aku sepenuhnya menceburkan diri dalam kegiatan dan gerakan besar ini.
* * *
Menarik membaca ulang yang pernah ditulis oleh waratawan senior Indonesia, Rosihan Anwar (almarhum) tentang Konferensi Bandung:
"Dewasa ini ada orang yang bertanya apakah gunanya bagi kita memperingati 50 tahun KAA Bandung, sedangkan dunia sudah berubah?
Sebagai wartawan yang meliput KAA dulu saya ingin menjawabnya dengan mengemukakan bahwa betul dunia sudah berubah, namun kita mesti berusaha menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda Indonesia. Generasi muda jangan sampai melihat sejarah bangsa kita seperti terputus- putus, merasa hidup hanya dalam zamannya saja, bersikap bagaikan "muara melupakan hilirnya".
"50 Tahun yang lalu Indonesia tampil aktif di gelanggang politik internasional dengan tujuan membebaskan bangsa Asia-Afrika dari kolonialisme."Indonesia sukses menyelenggarakan KAA walaupun keadaannya masih sukar dan pengalamannya masih kurang. Tapi, Indonesia tetap maju ke depan dan aktif bergerak dalam human pilgrimage, perjalanan umat manusia.
"Apakah pengetahuan sejarah tentang KAA itu tidak memberi inspirasi dan optimisme bagi generasi sekarang untuk menatap masa depan? Saya yakin ada, karena itu ada gunanya memperingati 50 tahun KAA Bandung. God bless Indonesia.'
* * *
Lampiran: -- I
Dibawah ini bisa dibaca lagi apa itu DEKLARASI BANDUNG?
Isi Dasasila Bandung – Bandung Principles:
1.. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB
2.. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
3.. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
4.. Tidak melakukan intervensiatau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
5.. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
6.. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
7.. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritaw wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
8.. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
9.. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
10.. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional
* * *
Lampiran II
PESERTA KONFERENSI ASIA-AFRIKA, BANDUNG 1955
1.. Afganistan
2.. Indonesia
3.. Pakistan
4.. Birma
5.. IranFilipina
6.. Kamboja
7.. Irak
8.. Iran
9.. Arab Saudi
10.. Ceylon
11.. Jepang
12.. Sudan
13.. Republik Rakyat Tiongkok
14.. Yordania
15.. Suriah
16.. Laos
17.. Thailand
18.. Mesir
19.. Libanon
20.. Turki
21.. Ethiopia
22.. Liberia
23.. Vietnam (Utara)
24.. Vietnam (Selatan)
25.. Pantai Emas
26.. Libya
27.. India
28.. Nepal
29.. Yaman
* * *
Lampiran III
Non-Aligned Movement/NAM)
adalah suatu organisasi internaswional yang terdiri dari lebih dari 100 negara-negara yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun.
Tujuan dari organisasi ini, seperti yang tercantum dalam Deklarasi Havana tahun 1979, adalah untuk
menjamin "kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok" dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme, Apartheid Zionisme, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi, interferensi atau hegemonii dan menentang segala bentuk blok politik.
Mereka merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir 2/3 keangotaan PBB. Negara-negara yang telah menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT).
Paris, 22 Februari, 2015
* * *
132 months ago
More Finlandia vs Spanyol posts »