Kamu Punya Instagram posts

Fajar
Cara Download Gambar di Instagram
  Instagram, aplikasi berbagi gambar paling populer di Android ini sudah mempunyai lebih dari 20 Milyar gambar yang di upload oleh para penggunanya. Banyak gambar-gambar keren yang ada di Instagram yang bisa kamu lihat. Namun, Instagram tidak meny Read more ... ediakan fitur download gambar. Dengan tidak adanya fitur tersebut, para pengguna yang ingin menyimpan gambar pasti akan mengalami sedikit kesulitan.   Untuk mengatasi masalah tersebut, Saya punya cara mudah agar kamu bisa memunculkan tomboldownload gambar di Instagram sehingga mempermudah kamu menyimpan gambar-gambar yang bagus. Sebelum menggunakan cara ini, pastikan kamu sudah melakukan Instalasi Xposed Framework, karena aplikasi ini adalah sebuah module Xposed yang hanya bisa dijalankan menggunakan Xposed Framework. Panduan instalasi Xposed Framework, kamu bisa membaca artikel berikut Cara Modifikasi ROM Tanpa Bongkar APK dengan Xposed   Jika kamu sudah meng-install Xposed Framework, kita mulai ke langkah-langkahnya. Berikut adalah langkah-langkahnya:   1. Download dan Install Instagram Downloader di Android kamu 2. Jika sudah di Install, buka Xposed Installer-nya kemudian masuk ke menu Modules     3. Ceklist module Instagram Downloader-nya kemudian Restart Android kamu     4. Jika sudah kamu restart, buka Instagram-nya lalu pilih salal satu gambar. Taraaa, tombol Download sudah muncul disana     Untuk menyimpan gambar tersebut, kamu hanya perlu menekan tombol download dan gambar tersebut akan tersimpan di folder /Download/Instagram.
10 days ago
Hany
Telekinesis (Season 3) #10
Telekinesis (Season 3) Part 10 Hastag : #Teleki_lovers Let's Read The Story.. #Ganbatte ! Yomimasho... . . . . . . . . (Nama kamu) terkejut ketika melihat sebuah kotak kecil ada di bawah kakinya setelah ia membuka pintu "A Read more ... paan nih?" (Nama kamu) mengambil kotak kecil itu lalu membukanya, isinya adalah sebuah botol kecil berisi air dan sebuah surat singkat Isi Surat : Minum air itu, air itu bukan air biasa, air itu di ambil langsung dari air terjun suci di jepang. Kamu bakal tau fungsinya nanti.. 未来 (みらい) Mirai "Mi-mirai?" (Nama kamu) terkejut setelah membaca kata 'Mirai' pada surat itu. Steffi datang, ia merasa bingung dengan ekspresi wajah (Nama kamu) yang tercengang setelah membaca surat itu "(Nama kamu) ?? Lo kenapa?" Tanya Steffi. Steffi membaca surat yang di pegang (Nama kamu) "Heyy ?!" Steffi mengagetkan (Nama kamu) "Ehh apa?" (Nama kamu) kaget "Lo kenapa?" Tanya Steffi "Oh ini.. ada yang ngirim air ini ke gue.." jawab (Nama kamu) "Kenapa lo gak minum airnya aja.. siapa tau itu ada hubungannya sama orang2 yg nyerang lo.." ujar Steffi "Iya deh" (Nama kamu) pun meminum air yang ada di botol kecil itu hingga habis. "Udah.." ucap (Nama kamu) "Yaudah.. taro itu di dalem..." ujar Steffi. Lalu (Nama kamu) menaruh kotak & botol itu di sofa. Tak lama Iqbaal & Rizky datang "Udah siap jalan sama cowok ganteng kaya kita?" Tanya Rizky. Steffi mendekati Rizky dan mencubit pipi Rizky "Iya yangggg...." ucapnya sambil menggoyang2kan cubitannya lalu melepaskannya. Rizky memegang pipinya yang di cubit tadi "Hah? Yang? Gue gak salah denger kan?" Rizky tercengang "Iya, Yang.. maksudnya Eyang.." Steffi meledek Rizky. Iqbaal & (Nama kamu) tertawa kecil "Haha.. bang.. sabar ya bang" Iqbaal masih tertawa. Rizky memasang ekspresi Illfeelnya "Gue kira mau di panggil Sayang.. gak taunya di panggilnya Eyang.. huhh.. pergi aja deh.." Rizky berbalik "Hih.. marah." Ucap (Nama kamu). Steffi menahan tangan Rizky "Jangan marah dong.. gue kan cuma bercanda" ucap Steffi ia merasa bersalah "Siapa yang marah.. gue kan balik badan mau berangkat jalan2 sama kalian.. masa jalan2 di sini aja.. ayo berangkat" ucap Rizky. (Nama kamu) menutup pintu rumahnya "Yuk berangkat" ucap (Nama kamu). Lalu mereka pergi untuk jalan2 Mereka pergi ke taman kota yang indah, dan bersenang2 di sana. Setelah itu mereka pergi ke sebuah taman bermain yang biasa di gunakan oleh anak2 "Eh ada ayunan tuh.. duduk yuk" ajak Iqbaal "Yuk" jawab (Nama kamu). Mereka pun mendekati ayunan yang berbentuk seperti bangku itu dan duduk saling berhadapan "Huhh.. panas juga ya hari ini.." (Nama kamu) mengelap keringatnya dengan sapu tangannya "Es nya di minum yuk.. biar segerr.." ucap Iqbaal "Boleh" jawab (Nama kamu). Iqbaal membuka bingkisan yang berisi 2 buah es cup yang ia beli sebelumnya "Nih ambil 1" ucap Iqbaal "Makasih.." (Nama kamu) mengambil salah satu es beserta sedotannya. Ia pun menusuk bagian atas cup itu dengan sedotan. "Aduuhh.." ucap Iqbaal "Kenapa?" Tanya (Nama kamu) "Gak apa2.. kasian banget itu es, di tusuk pake sedotan. Kalo gue yang jadi esnya sih.. gue maunya di tusuk pake cinta lo.." Iqbaal, lalu ia meminum esnya "Ahh bisa aja lo" (Nama kamu) tersenyum dan tersipu malu. "Ehh.. lagi lagi.. 1.. 2.. 3.." Rizky & Steffi sedang memotret diri mereka atau bisa di sebut Foto Selfie "Jiahh.. malah Selfie tuh anak 2" ucap Iqbaal "Biarin dong.. suka2 gue" jawab Rizky. Steffi hanya tersenyum "Weh.. balik yuk.. udah siang nih.. gue belum nyuci baju" ucap (Nama kamu) "Yaudah yuk.." ucap Iqbaal "Woyy ayo pulang.. Selfie mulu" ajak Iqbaal. Lalu mereka pun pulang Dalam perjalanan, tiba2 Akaiko (Wanita Samurai) & Bella menghadangnya. (Nama kamu), Iqbaal, Steffi & Rizky terkejut. Iqbaal langsung membelakangi (Nama kamu) untuk melindungi (Nama kamu). wanita itu menodongkan samurainya "Serahkan gadis itu atau akan ku penggal kepalamu !" Ucapnya. "Gak !" Bentak Iqbaal "Kurang ajar !" Wanita itu memulai penyerangan dengan samurainya, Wanita itu menggunakan samurainya untuk melawan Iqbaal. Iqbaal menangkis serangan samurainya dengan tangannya, otomatis tangan Iqbaal penuh dengan luka goresan samurai di sertai darah. Steffi & Rizky membawa (Nama kamu) ke tempat yang agak jauh dari tempat Iqbaal & Akaiko bertarung. Namun tiba2 Bella menyerang Steffi dgn kekuatannya hingga Steffi pingsan. "Steffi..!" (Nama kamu) berjongkok dan menggoyang2 kan tubuh Steffi. Rizky berbalik "Kurang ajar lo ya !" Rizky emosi dan menyerang Bella Wanita samurai itu memajukan samurainya dan ingin menusuk leher Iqbaal, namun Iqbaal menghindar dan memutar tangan wanita samurai itu dan menekan perut wanita itu dengan tonjokannya. Wanita itu mundur beberapa langkah dan memegang perutnya "Sial !" wanita samurai itu pun mengangkat samurainya ia mengeluarkan sebuah jurus, keluarlah api dari samurai itu ia mengibas2kan samurai itu, dan memajukan samurainya hingga terbentuk sebuah bola api yang bergerak cepat kearah Iqbaal dan mengenai dada Iqbaal, hingga ia mundur beberapa langkah "Arrgh ! Sial !" Iqbaal diam sejenak, ia memejamkan matanya. Tiba2 jam tangannya menyala sangat terang dan menjadi sebuah cahaya. Iqbaal membuka matanya. Ia melihat tangan kirinya yang bercahaya terang. Jam tangan itu berubah menjadi sebuah samurai yang indah. Langit mulai tertutup awan mendung. Iqbaal menodongkan samurainya "Sekarang kita seimbang.. kita sama2 punya senjata ! Ayo lawan aku sebelum kamu mengambil jantung itu !" Bentak Iqbaal. "Beraninya kamu !" Wanita itu memulai penyerangan. Mereka saling menangkis serangannya dengan samurai mereka masing2. Suara samurai itu menghiasi perkelahian mereka. Iqbaal sedikit menjauh dan mengibaskan samurainya hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Wanita itu mengeluarkan jurus yang ia lakukan tadi secara tiba2, hingga bola api itu mengenai Iqbaal lagi. Iqbaal memegangi dadanya. Ia pun diam sejenak dan memejamkan matanya, tubuhnya tampak bercahaya, kekuatannya muncul. Iqbaal mengangkat samurainya lalu ia membuka matanya, matanya tampak bercahaya biru, begitu juga dengan samurainya. Suara petir mulai bermunculan, dan sebuah petir menyambar samurai itu, sepertinya samurai itu menyerap kekuatan petir dari langit. Iqbaal pun berlari dan menyerang wanita jahat itu. Mereka saling beradu kekuatan dengan samurai mereka masing2. Iqbaal membuat samurai wanita itu terlepas dari tangannya dan terlempar jauh. Iqbaal benar2 marah, ia mengibaskan samurainya hingga wanita itu menjauh beberapa langkah. Rizky berhasil mengalahkan Bella dalam perkelahiannya, ia memegang kedua tangan Bella seperti memegang tahanan yang akan di penjara. "Dulu lo bunuh Stefhanie !! Sekarang gue yang bakal bunuh lo !" Rizky ingin memukul Bella. Namun tiba2 Bella menghilang "Pengecut !!" Ucap Rizky. Lalu Rizky mendekati (Nama kamu) & Steffi. Steffi masih pingsan "Steffi belum sadar ki.." ucap (Nama kamu). Rizky mengangkat kepala Steffi dan menyandarkan kepala Steffi di tangannya "Steff.. bangun Steff" Rizky menggoyang2kan pipi Steffi. Namun Steffi belum juga sadar Wanita samurai itu menghilang, Iqbaal mendekati Rizky & (Nama kamu) yang sedang berusaha menyadarkan Steffi "Steffi kenapa?" Tanya Iqbaal "Dia pingsan" jawab Rizky "Yaudah.. bawa dia pulang" ujar Iqbaal sedikit khawatir. Lalu mereka membawa Steffi pulang Bersambung.. Gimana Part ini? Kasih komentar kalian Kasih masukan ya guys.. ;-) ありがとうございました。。 Arigatou Gozaimashita.. By : Hany Follow twitter : @HyunaUzumaki @HyunaUzumaki2 @cerpencerbung6 Follow Instagram : hyuna_uzumaki Invite BBM : 7CFFDD1B
13 days ago
Siti Get a LIFE :)
Profile Pictures
[ Jamu ] Sering saya berfikir ada yang aneh denga
20 days ago
Farra Touching..
Kakinovel
Hari ini aku harus berterus-terang. Luahkan segalanya pada suami. Aku nak minta dia lepaskan aku. Ceraikan. Ding! Mesej masuk di Whatsapp. “Awak jangan risau. Saya janji akan bahagiakan awak. Kuatkan hati, kuatkan tekad. Tak guna hidup bersama Read more ... kalau dah tak cinta.” Mesej dari pemuda yang sudah 6 bulan ku kenali. Tua dua tahun dariku. Bermula kenal dari Instagram bisnes tudungku. Dia tawarkan diri untuk jadi jurugambar professional. Kerja sebenarnya, arkitek di sebuah syarikat ternama. Hasil dari gambar-gambar cantik yang diambilnya, bisnes tudung makin bertambah maju. Dalam masa 4 bulan, sudah mampu bayar deposit kereta baru. Dari hanya bisnes, akhirnya hubungan kami jadi rapat. Suamiku langsung tiada syak wasangka. Sangkanya cuma rakan perniagaan. Suami sendiri kenal pemuda itu. Malah, dia sendiri yang hantar dan ambilku ke studio untuk photoshoot. Dalam diam, pemuda itu meluahkan rasa cintanya padaku. Aku pada mulanya berat untuk menerima. Status ‘isteri orang’. Namun, lama-kelamaan aku mengakui punya rasa yang sama dengannya. Cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya, dia kagum dengan kecantikan dan kelembutanku. Matang dalam berfikir, bijak dalam bisnes. Bernikah seawal umur 21. Hayat perkahwinanku dah menginjak tangga lima tahun. Dikurniakan seorang cahaya mata lelaki. Suamiku kerjanya biasa saja. Seorang despatch. Itulah kerjanya sejak awal bernikah sampai sekarang. Kadang-kadang kerjanya itu sampai ke petang. Kadang sampai ke malam andai ada masalah. Semua kiriman dan surat perlu sampai tepat pada masa. Suamiku itu umumnya baik. Tapi, selalu kami bertengkar juga. Masalah dia terlalu sibuk. Tiada masa untuk anak dan keluarga. Balik lewat petang, dah sangat penat. Nak buat overtime lagi. Katanya nak cari duit lebih, nak beli rumah. Tak mahu lagi menyewa. Tiga empat bulan ni, dia struggle untuk tujuan tu. Banyak kali dia balik rumah, aku dah tertidur pun. Aku pula cuma suri rumah yang ada bisnes tudung di internet. Akhir-akhir ni, pendapatanku lebih lumayan berbanding suami. Minggu lepas kami bergaduh besar. Dia sangka aku nak menunjuk-nunjuk aku lagi lebih darinya; nak tunjuk aku dah ada duit, so aku nak belikan segalanya dalam rumah. Hatta kepada kereta pun. Dia rasa kecil hati tak pasal-pasal. Malas aku nak bertekak. Tension bila niat baik disalahfahami. Pertengkaran berlanjutan. Bila aku stress, aku adukan masalah pada pemuda si jantung hati. Dia sangat memahami. Malah, mampu menenangkan aku. Aku rasa damai di sampingnya. Malam ni aku tekad. Aku nak bercerai. Aku tunggu dia balik kerja. Lambat sangat sampai aku tertidur. Bila bangun, dia tak ada di sebelah. Aku tengok motornya dah ada di parkir. Aku melangkah ke bilik anak. Nampak pintu sedikit terbuka. Ternampak kelibat suamiku di dalam. Aku mematikan langkah sekadar di luar pintu. Aku menantinya keluar dulu dari bilik anak. Tak mahu anak terdengar nanti. Berdiri di sisi dinding bilik anak. Telingaku terdengar anak dan ayah sedang berbual. Menangkap jelas segala tutur kata. “Ayah, kenapa ayah asyik cerita pasal Nabi Muhammad saja?” Si ayah tersenyum menjawab, “Sebab ayah nak anak ayah ni tiru Nabi. Tak ada cerita yang terbaik selain cerita Nabi. Buku cerita lain hanya berkisar tentang fantasi, fairytales. Sedangkan tu semua tak wujud. Khayalan. Namun, Nabi kita wujud di realiti. Malah, menanti umatnya di akhirat kelak. Hero kamu bukan ayah, bukan watak-watak komik cerita fantasi. Hero kamu adalah Nabi Muhammad. Bukan sekadar bedtime stories. Ayah tak tahu banyak, jadi ayah bacakan saja dari buku Biografi Nabi Muhammad ni. Dulu, ayah belajar setakat STPM saja. Ayah tak pandai. Ayah orang miskin. Tak ada siapa pun ceritakan tentang Nabi secara terperinci pada ayah. Atok pun tak pernah. Jadi, ayah tak nak kamu jadi macam ayah. Ayah nak kamu jadi dewasa untuk jadi seperti Rasulullah. Berjaya di dunia dan akhirat. Andai suatu hari kamu tak berjaya di dunia sekalipun, kamu miskin sekalipun. Harapnya kamu tak miskin agama. Pegang kuat apa yang ayah cakap ni, ya?” Si anak mengangguk. Senyum. “Malam ni, ayah nak pesan apa-apa sebelum saya tidur?” Si ayah menjawab ringkas, “Ada. Ada seorang ustaz kata, kita kena berinteraksi pujuk anggota badan kita sendiri. Motivasi anggota badan supaya tak buat benda-benda tak elok.” “Macam mana tu, ayah?” “Misalnya, ambil masa seminit dua, sambil gosok tangan, cakap pada tangan, ‘Hei tangan, hari ini jangan buat maksiat tahu. Allah nampak.’ ‘Hai kaki, hari ni kita melangkah ke masjid ya.’ Usap mata pula dan kata, ‘Wahai mata, hari ni nak melihat yang baik-baik saja. Nak tundukkan pandangan.’ Beritahu dengan seluruh anggota badan yang selalu buat benda tak baik, ‘hari ini, kena takut pada Allah. Jangan buat maksiat, okay?’.” Si anaknya tersenyum. “Jadi, saya kena beritahu mata saya, ‘Wahai mata, hari ni jangan tengok kartun banyak sangat. Tengoklah Al-Quran!’” “Pandainya anak ayah!” Si ayah mencium dahi anaknya. “Dah, tidur ya? Baca doa tidur sama-sama. Allahumma Bismika Ahya Wa Amut. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati. Amin… Baiklah. Jumpa malam esok pula.” Si ayah bangun dan nak keluar bilik. Tiba-tiba tangan si ayah digapai si anak. Menangguh langkahnya. “Ayah sayang saya tak?” Ayahnya tersenyum. “Sayang sangat.” “Sayang umi tak?” Ayahnya tersenyum lagi. “Sayang. Lebih dari kamu tahu. Saat ayah tiada apa-apa dalam hidup, umimu itu sanggup terima ayah jadi suaminya. Baik kan hati ummi? Sayang ayah pada umi, sampai menutup mata. Sampai akhirat sana.” Anaknya tersenyum lebar sampai terlelap. ** Suamiku melangkah keluar bilik. Langkahnya terhenti. Aku menanti di luar bilik. Basah sudah pipi ini dengan air mata. Mengalir tanpa henti. Sungguh hati ini terusik sangat dalam. Aku tak tahu pun suamiku itu setiap malam berada di sisi anak bercerita tentang Rasulullah s.a.w.. Selama ini, ku sangka suami itu langsung tidak peduli. Sungguh, aku khilaf! Ku capai tangan suami. Ku salami tangan kasar itu. “Awak ok ke?” Suami kaget seketika. “Maafkan saya, abang. Maafkan saya. Selama ini, saya curang dengan abang. Saya isteri derhaka. Maafkan saya. Ampunkan saya, bang.” Suami mengusap ubun-ubun kepalaku. “Abang dah lama tahu… Abang maafkan..” Suamiku itu senyum. Tapi, ternyata ada hambar di wajahnya. “Awak cinta lelaki cameraman tu? Kalau awak cinta dia dan dah tak cinta abang, abang rela korbankan kebahagiaan abang demi melihat awak bahagia.” Kerana terpaksa, dia relakan. Rela lepaskanku. Bagai nak luruh jantungku ketika itu. Menggigil tangan. Seram sejuk. Aku yang tadi rasa diri kuat nak minta cerai, sekarang dah kaku terus. Tak berdaya. Dalam terketar-ketar, ku kuatkan hati. Sebak mencengkam rasa. Air mata tak daya diseka. “Tak nak…tak nak..Saya nak abang seorang je…Nak ke Syurga dengan abang…bawa anak kita sama..” Lantas suamiku itu tersenyum. Kali ini riaknya ikhlas riang. Tumpah air mata lelakinya di hadapanku. “Jangan ulang lagi…Hargai abang..boleh?” Ringkas saja tuturnya dalam sebak bicara sama. Rupa-rupanya dia naik angin dan bertengkar bukan kerana aku ada duit banyak, ada duit lebih. Tak, dia marah dan sakit hati bila dapat tahu tentang aku dan pemuda itu. Disembunyikan sedaya boleh. Aku mengangguk mengiyakan. “Tak kisah suami awak ni miskin? Tak kerja best?” “Tulusly, tak kisah!” *** Mesej Whatsapp masuk. DP pemuda kacak. Si cameraman merangkap arkitek. “Macam mana? Dah selesai?” Aku membalas ringkas mesej itu. “Maaf. Saya putuskan untuk memilih setia. Kita selesai di sini. Lepas ni, suami saya sendiri yang akan jadi cameraman.” Mesej masuk lagi. “Tapi..tapi…kita kan sama-sama menyintai! Dah janji sehidup semati!” Aku terus tekan uninstall Whatsapp. Buang sim. Patahkan. Depan suami. Dalam hati, enggan lagi melukai. Insan yang lama setia di sisi. Enggan kerana indahnya mahligai harapan yang belum jadi kenyataan, setia sanggup ku korbankan. cerita oleh: Muhammad Rusydi
1 month ago
Fenty
Selamatkan Indonesia dengan Action
Minggu, 17 Agustus 2014, hari ini bangsa Indonesia genap berumur 69 tahun, umur yang sudah bisa dikatakan termasuk lansia kalau dibandingkan dengan umur manusia. 69 tahun,  Indonesiapun masih memiliki berbagai masalah, seperti halnya Jakarta.  Pen Read more ... didikan, teknologi, ekonomi, pertanian, semuanya masih butuh perbaikan. Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara-negara lainnya bahkan dengan negara tetangga sekalipun. Lalu, apa yang bisa dilakukan generasi muda seperti saya? Apakah saya perlu berorasi didepan istana Negara ataupun media sosial, berkoar-koar bahwa Indonesia belum maju. Indonesia tidak perlu itu. Orasi dan tindakan retorikal lainnya tidak akan pernah membantu Indonesia. Apa kita perlu membawa bambu runcing lagi dan berperang seperti zaman dahulu? Jawabannyapun juga tidak. Itu sudah basi. Tidak ada penjajah yang harus kita lawan lagi. Terus apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda? 1. Buat Travelling Blog Kalau kamu punya hobbi travelling, cobalah untuk jalan-jalan mengeksplore objek-objek wisata yang ada di Indonesia, mulailah dari objek wisata yang dekat rumahmu.. Maka, buatlah ulasan tentang objek wisata itu, post di sosial media yang kamu punya seperti  facebook, twitter, blog pribadi kamu ataupun instagram, usahakan untuk nulis menggunakan bahasa Inggris juga.  Gadget dari advan seperti  Advan T3X bisa membantu kita untuk mengupdate dan mengshare informasi-informasi tentang objek wisata-wisata tersebut. Zaman sekarang, sebuah informasi sangat mudah untuk disebarkan. Bayangkan kalau tulisan kamu di sosial media ini dibaca seorang warga Negara asing dan mengajak satu keluarga besarnya untuk berlibut ke  objek wisata tersebut? Tentunya devisa-devisa akan mengalir dong ke kas Negara? Apalagi kalau mereka nantinya pulang dan menyebarkan kabar baik tentang Indonesia ke teman atau kerabat lainnya? Makin banyak devisa yang akan kita dapatkan, bukan? 2. Pendidikan Online Di Negara-negara maju sedang trend yang namanya pendidikan online, mereka tidak perlu datang langsung ke sebuah institusi untuk belajar, cukup bermodalkan laptop dan internet, kita bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Nah hal ini juga bisa diterapkan untuk memberantas buta pendidikan di Indonesia. Ajak teman-temanmu dari daerah untuk membantu. Kumpulkan warga yang tertarik untuk belajar. Gunakan laptop ataupun modem dari Advan. Beri informasi berdasarkan pengetahun yang kamu punya. Bisa ngajarin cara baca tulis, bahasa Inggris ataupun pendidikan keterampilan seperti cara membuat kerajinan tangan dan lain-lain. 3. Buatlah sebuah produk yang bermanfaat Kalau kamu mempunyai jiwa seorang pebisnis, maka buatlah sebuah produk yang bermanfaat  seperti halnya produk DamnILoveIndonesia. Hal ini tidak hanya bisa menambah pundi-pundi uang untuk dirimu sendiri tapi juga bisa membuka peluang pekerjaan untuk teman-teman kita yang lainnya.  Pasti kalian akan sangat bangga kalau produk kalian itu bisa dipakai orang banyak dan  secara tidak langsung kita sudah membantuk untuk memutar roda perekonomian di Indonesia. Satu lagi, kalau suatu hari nanti, kamu atau kamu udah menjadi orang-orang yang berhasil, janganlah lupa dengan Indonesia. Banggalah menyebut bahwa kamu orang Indonesia, bangunlah Indonesia,  dan sebarkan virus kesuksesan itu dengan Indonesia. Inilah yang dibutuhkan Indonesia, anak muda yang berbakat. Jadilah agent of change yang bertindak melalui tindakan bukan retorika semata. Selamatkan Indonesia dengan action, anak muda!   Tulisan ini diikutsertakan di Writing Contest Advan dan Damn! I Love Indonesia dengan tema Generasi Muda bisa Apa? #PatriotIsMe #Advan #damniloveindonesia
1 month ago
Wani very touching..
Cen Polo
Hari ini aku harus berterus-terang. Luahkan segalanya pada suami. Aku nak minta dia lepaskan aku. Ceraikan. Ding! Mesej masuk di Whatsapp. “Awak jangan risau. Saya janji akan bahagiakan awak. Kuatkan hati, kuatkan tekad. Tak guna hidup bersama Read more ... kalau dah tak cinta.” Mesej dari pemuda yang sudah 6 bulan ku kenali. Tua dua tahun dariku. Bermula kenal dari Instagram bisnes tudungku. Dia tawarkan diri untuk jadi jurugambar professional. Kerja sebenarnya, arkitek di sebuah syarikat ternama. Hasil dari gambar-gambar cantik yang diambilnya, bisnes tudung makin bertambah maju. Dalam masa 4 bulan, sudah mampu bayar deposit kereta baru. Dari hanya bisnes, akhirnya hubungan kami jadi rapat. Suamiku langsung tiada syak wasangka. Sangkanya cuma rakan perniagaan. Suami sendiri kenal pemuda itu. Malah, dia sendiri yang hantar dan ambilku ke studio untuk photoshoot. Dalam diam, pemuda itu meluahkan rasa cintanya padaku. Aku pada mulanya berat untuk menerima. Status ‘isteri orang’. Namun, lama-kelamaan aku mengakui punya rasa yang sama dengannya. Cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya, dia kagum dengan kecantikan dan kelembutanku. Matang dalam berfikir, bijak dalam bisnes. Bernikah seawal umur 21. Hayat perkahwinanku dah menginjak tangga lima tahun. Dikurniakan seorang cahaya mata lelaki. Suamiku kerjanya biasa saja. Seorang despatch. Itulah kerjanya sejak awal bernikah sampai sekarang. Kadang-kadang kerjanya itu sampai ke petang. Kadang sampai ke malam andai ada masalah. Semua kiriman dan surat perlu sampai tepat pada masa. Suamiku itu umumnya baik. Tapi, selalu kami bertengkar juga. Masalah dia terlalu sibuk. Tiada masa untuk anak dan keluarga. Balik lewat petang, dah sangat penat. Nak buat overtime lagi. Katanya nak cari duit lebih, nak beli rumah. Tak mahu lagi menyewa. Tiga empat bulan ni, dia struggle untuk tujuan tu. Banyak kali dia balik rumah, aku dah tertidur pun. Aku pula cuma suri rumah yang ada bisnes tudung di internet. Akhir-akhir ni, pendapatanku lebih lumayan berbanding suami. Minggu lepas kami bergaduh besar. Dia sangka aku nak menunjuk-nunjuk aku lagi lebih darinya; nak tunjuk aku dah ada duit, so aku nak belikan segalanya dalam rumah. Hatta kepada kereta pun. Dia rasa kecil hati tak pasal-pasal. Malas aku nak bertekak. Tension bila niat baik disalahfahami. Pertengkaran berlanjutan. Bila aku stress, aku adukan masalah pada pemuda si jantung hati. Dia sangat memahami. Malah, mampu menenangkan aku. Aku rasa damai di sampingnya. Malam ni aku tekad. Aku nak bercerai. Aku tunggu dia balik kerja. Lambat sangat sampai aku tertidur. Bila bangun, dia tak ada di sebelah. Aku tengok motornya dah ada di parkir. Aku melangkah ke bilik anak. Nampak pintu sedikit terbuka. Ternampak kelibat suamiku di dalam. Aku mematikan langkah sekadar di luar pintu. Aku menantinya keluar dulu dari bilik anak. Tak mahu anak terdengar nanti. Berdiri di sisi dinding bilik anak. Telingaku terdengar anak dan ayah sedang berbual. Menangkap jelas segala tutur kata. “Ayah, kenapa ayah asyik cerita pasal Nabi Muhammad saja?” Si ayah tersenyum menjawab, “Sebab ayah nak anak ayah ni tiru Nabi. Tak ada cerita yang terbaik selain cerita Nabi. Buku cerita lain hanya berkisar tentang fantasi, fairytales. Sedangkan tu semua tak wujud. Khayalan. Namun, Nabi kita wujud di realiti. Malah, menanti umatnya di akhirat kelak. Hero kamu bukan ayah, bukan watak-watak komik cerita fantasi. Hero kamu adalah Nabi Muhammad. Bukan sekadar bedtime stories. Ayah tak tahu banyak, jadi ayah bacakan saja dari buku Biografi Nabi Muhammad ni. Dulu, ayah belajar setakat STPM saja. Ayah tak pandai. Ayah orang miskin. Tak ada siapa pun ceritakan tentang Nabi secara terperinci pada ayah. Atok pun tak pernah. Jadi, ayah tak nak kamu jadi macam ayah. Ayah nak kamu jadi dewasa untuk jadi seperti Rasulullah. Berjaya di dunia dan akhirat. Andai suatu hari kamu tak berjaya di dunia sekalipun, kamu miskin sekalipun. Harapnya kamu tak miskin agama. Pegang kuat apa yang ayah cakap ni, ya?” Si anak mengangguk. Senyum. “Malam ni, ayah nak pesan apa-apa sebelum saya tidur?” Si ayah menjawab ringkas, “Ada. Ada seorang ustaz kata, kita kena berinteraksi pujuk anggota badan kita sendiri. Motivasi anggota badan supaya tak buat benda-benda tak elok.” “Macam mana tu, ayah?” “Misalnya, ambil masa seminit dua, sambil gosok tangan, cakap pada tangan, ‘Hei tangan, hari ini jangan buat maksiat tahu. Allah nampak.’ ‘Hai kaki, hari ni kita melangkah ke masjid ya.’ Usap mata pula dan kata, ‘Wahai mata, hari ni nak melihat yang baik-baik saja. Nak tundukkan pandangan.’ Beritahu dengan seluruh anggota badan yang selalu buat benda tak baik, ‘hari ini, kena takut pada Allah. Jangan buat maksiat, okay?’.” Si anaknya tersenyum. “Jadi, saya kena beritahu mata saya, ‘Wahai mata, hari ni jangan tengok kartun banyak sangat. Tengoklah Al-Quran!’” “Pandainya anak ayah!” Si ayah mencium dahi anaknya. “Dah, tidur ya? Baca doa tidur sama-sama. Allahumma Bismika Ahya Wa Amut. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati. Amin… Baiklah. Jumpa malam esok pula.” Si ayah bangun dan nak keluar bilik. Tiba-tiba tangan si ayah digapai si anak. Menangguh langkahnya. “Ayah sayang saya tak?” Ayahnya tersenyum. “Sayang sangat.” “Sayang umi tak?” Ayahnya tersenyum lagi. “Sayang. Lebih dari kamu tahu. Saat ayah tiada apa-apa dalam hidup, umimu itu sanggup terima ayah jadi suaminya. Baik kan hati ummi? Sayang ayah pada umi, sampai menutup mata. Sampai akhirat sana.” Anaknya tersenyum lebar sampai terlelap. ** Suamiku melangkah keluar bilik. Langkahnya terhenti. Aku menanti di luar bilik. Basah sudah pipi ini dengan air mata. Mengalir tanpa henti. Sungguh hati ini terusik sangat dalam. Aku tak tahu pun suamiku itu setiap malam berada di sisi anak bercerita tentang Rasulullah s.a.w.. Selama ini, ku sangka suami itu langsung tidak peduli. Sungguh, aku khilaf! Ku capai tangan suami. Ku salami tangan kasar itu. “Awak ok ke?” Suami kaget seketika. “Maafkan saya, abang. Maafkan saya. Selama ini, saya curang dengan abang. Saya isteri derhaka. Maafkan saya. Ampunkan saya, bang.” Suami mengusap ubun-ubun kepalaku. “Abang dah lama tahu… Abang maafkan..” Suamiku itu senyum. Tapi, ternyata ada hambar di wajahnya. “Awak cinta lelaki cameraman tu? Kalau awak cinta dia dan dah tak cinta abang, abang rela korbankan kebahagiaan abang demi melihat awak bahagia.” Kerana terpaksa, dia relakan. Rela lepaskanku. Bagai nak luruh jantungku ketika itu. Menggigil tangan. Seram sejuk. Aku yang tadi rasa diri kuat nak minta cerai, sekarang dah kaku terus. Tak berdaya. Dalam terketar-ketar, ku kuatkan hati. Sebak mencengkam rasa. Air mata tak daya diseka. “Tak nak…tak nak..Saya nak abang seorang je…Nak ke Syurga dengan abang…bawa anak kita sama..” Lantas suamiku itu tersenyum. Kali ini riaknya ikhlas riang. Tumpah air mata lelakinya di hadapanku. “Jangan ulang lagi…Hargai abang..boleh?” Ringkas saja tuturnya dalam sebak bicara sama. Rupa-rupanya dia naik angin dan bertengkar bukan kerana aku ada duit banyak, ada duit lebih. Tak, dia marah dan sakit hati bila dapat tahu tentang aku dan pemuda itu. Disembunyikan sedaya boleh. Aku mengangguk mengiyakan. “Tak kisah suami awak ni miskin? Tak kerja best?” “Tulusly, tak kisah!” *** Mesej Whatsapp masuk. DP pemuda kacak. Si cameraman merangkap arkitek. “Macam mana? Dah selesai?” Aku membalas ringkas mesej itu. “Maaf. Saya putuskan untuk memilih setia. Kita selesai di sini. Lepas ni, suami saya sendiri yang akan jadi cameraman.” Mesej masuk lagi. “Tapi..tapi…kita kan sama-sama menyintai! Dah janji sehidup semati!” Aku terus tekan uninstall Whatsapp. Buang n. Patahkan. Depan suami. Dalam hati, enggan lagi melukai. Insan yang lama setia di sisi. Enggan kerana indahnya mahligai harapan yang belum jadi kenyataan, setia sanggup ku korbankan.
1 month ago
Nurul Touching T.T
Usni Kamaruddin
Hari ini aku harus berterus-terang. Luahkan segalanya pada suami. Aku nak minta dia lepaskan aku. Ceraikan. Ding! Mesej masuk di Whatsapp. “Awak jangan risau. Saya janji akan bahagiakan awak. Kuatkan hati, kuatkan tekad. Tak guna hidup bersama Read more ... kalau dah tak cinta.” Mesej dari pemuda yang sudah 6 bulan ku kenali. Tua dua tahun dariku. Bermula kenal dari Instagram bisnes tudungku. Dia tawarkan diri untuk jadi jurugambar professional. Kerja sebenarnya, arkitek di sebuah syarikat ternama. Hasil dari gambar-gambar cantik yang diambilnya, bisnes tudung makin bertambah maju. Dalam masa 4 bulan, sudah mampu bayar deposit kereta baru. Dari hanya bisnes, akhirnya hubungan kami jadi rapat. Suamiku langsung tiada syak wasangka. Sangkanya cuma rakan perniagaan. Suami sendiri kenal pemuda itu. Malah, dia sendiri yang hantar dan ambilku ke studio untuk photoshoot. Dalam diam, pemuda itu meluahkan rasa cintanya padaku. Aku pada mulanya berat untuk menerima. Status ‘isteri orang’. Namun, lama-kelamaan aku mengakui punya rasa yang sama dengannya. Cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya, dia kagum dengan kecantikan dan kelembutanku. Matang dalam berfikir, bijak dalam bisnes. Bernikah seawal umur 21. Hayat perkahwinanku dah menginjak tangga lima tahun. Dikurniakan seorang cahaya mata lelaki. Suamiku kerjanya biasa saja. Seorang despatch. Itulah kerjanya sejak awal bernikah sampai sekarang. Kadang-kadang kerjanya itu sampai ke petang. Kadang sampai ke malam andai ada masalah. Semua kiriman dan surat perlu sampai tepat pada masa. Suamiku itu umumnya baik. Tapi, selalu kami bertengkar juga. Masalah dia terlalu sibuk. Tiada masa untuk anak dan keluarga. Balik lewat petang, dah sangat penat. Nak buat overtime lagi. Katanya nak cari duit lebih, nak beli rumah. Tak mahu lagi menyewa. Tiga empat bulan ni, dia struggle untuk tujuan tu. Banyak kali dia balik rumah, aku dah tertidur pun. Aku pula cuma suri rumah yang ada bisnes tudung di internet. Akhir-akhir ni, pendapatanku lebih lumayan berbanding suami. Minggu lepas kami bergaduh besar. Dia sangka aku nak menunjuk-nunjuk aku lagi lebih darinya; nak tunjuk aku dah ada duit, so aku nak belikan segalanya dalam rumah. Hatta kepada kereta pun. Dia rasa kecil hati tak pasal-pasal. Malas aku nak bertekak. Tension bila niat baik disalahfahami. Pertengkaran berlanjutan. Bila aku stress, aku adukan masalah pada pemuda si jantung hati. Dia sangat memahami. Malah, mampu menenangkan aku. Aku rasa damai di sampingnya. Malam ni aku tekad. Aku nak bercerai. Aku tunggu dia balik kerja. Lambat sangat sampai aku tertidur. Bila bangun, dia tak ada di sebelah. Aku tengok motornya dah ada di parkir. Aku melangkah ke bilik anak. Nampak pintu sedikit terbuka. Ternampak kelibat suamiku di dalam. Aku mematikan langkah sekadar di luar pintu. Aku menantinya keluar dulu dari bilik anak. Tak mahu anak terdengar nanti. Berdiri di sisi dinding bilik anak. Telingaku terdengar anak dan ayah sedang berbual. Menangkap jelas segala tutur kata. “Ayah, kenapa ayah asyik cerita pasal Nabi Muhammad saja?” Si ayah tersenyum menjawab, “Sebab ayah nak anak ayah ni tiru Nabi. Tak ada cerita yang terbaik selain cerita Nabi. Buku cerita lain hanya berkisar tentang fantasi, fairytales. Sedangkan tu semua tak wujud. Khayalan. Namun, Nabi kita wujud di realiti. Malah, menanti umatnya di akhirat kelak. Hero kamu bukan ayah, bukan watak-watak komik cerita fantasi. Hero kamu adalah Nabi Muhammad. Bukan sekadar bedtime stories. Ayah tak tahu banyak, jadi ayah bacakan saja dari buku Biografi Nabi Muhammad ni. Dulu, ayah belajar setakat STPM saja. Ayah tak pandai. Ayah orang miskin. Tak ada siapa pun ceritakan tentang Nabi secara terperinci pada ayah. Atok pun tak pernah. Jadi, ayah tak nak kamu jadi macam ayah. Ayah nak kamu jadi dewasa untuk jadi seperti Rasulullah. Berjaya di dunia dan akhirat. Andai suatu hari kamu tak berjaya di dunia sekalipun, kamu miskin sekalipun. Harapnya kamu tak miskin agama. Pegang kuat apa yang ayah cakap ni, ya?” Si anak mengangguk. Senyum. “Malam ni, ayah nak pesan apa-apa sebelum saya tidur?” Si ayah menjawab ringkas, “Ada. Ada seorang ustaz kata, kita kena berinteraksi pujuk anggota badan kita sendiri. Motivasi anggota badan supaya tak buat benda-benda tak elok.” “Macam mana tu, ayah?” “Misalnya, ambil masa seminit dua, sambil gosok tangan, cakap pada tangan, ‘Hei tangan, hari ini jangan buat maksiat tahu. Allah nampak.’ ‘Hai kaki, hari ni kita melangkah ke masjid ya.’ Usap mata pula dan kata, ‘Wahai mata, hari ni nak melihat yang baik-baik saja. Nak tundukkan pandangan.’ Beritahu dengan seluruh anggota badan yang selalu buat benda tak baik, ‘hari ini, kena takut pada Allah. Jangan buat maksiat, okay?’.” Si anaknya tersenyum. “Jadi, saya kena beritahu mata saya, ‘Wahai mata, hari ni jangan tengok kartun banyak sangat. Tengoklah Al-Quran!’” “Pandainya anak ayah!” Si ayah mencium dahi anaknya. “Dah, tidur ya? Baca doa tidur sama-sama. Allahumma Bismika Ahya Wa Amut. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati. Amin… Baiklah. Jumpa malam esok pula.” Si ayah bangun dan nak keluar bilik. Tiba-tiba tangan si ayah digapai si anak. Menangguh langkahnya. “Ayah sayang saya tak?” Ayahnya tersenyum. “Sayang sangat.” “Sayang umi tak?” Ayahnya tersenyum lagi. “Sayang. Lebih dari kamu tahu. Saat ayah tiada apa-apa dalam hidup, umimu itu sanggup terima ayah jadi suaminya. Baik kan hati ummi? Sayang ayah pada umi, sampai menutup mata. Sampai akhirat sana.” Anaknya tersenyum lebar sampai terlelap. ** Suamiku melangkah keluar bilik. Langkahnya terhenti. Aku menanti di luar bilik. Basah sudah pipi ini dengan air mata. Mengalir tanpa henti. Sungguh hati ini terusik sangat dalam. Aku tak tahu pun suamiku itu setiap malam berada di sisi anak bercerita tentang Rasulullah s.a.w.. Selama ini, ku sangka suami itu langsung tidak peduli. Sungguh, aku khilaf! Ku capai tangan suami. Ku salami tangan kasar itu. “Awak ok ke?” Suami kaget seketika. “Maafkan saya, abang. Maafkan saya. Selama ini, saya curang dengan abang. Saya isteri derhaka. Maafkan saya. Ampunkan saya, bang.” Suami mengusap ubun-ubun kepalaku. “Abang dah lama tahu… Abang maafkan..” Suamiku itu senyum. Tapi, ternyata ada hambar di wajahnya. “Awak cinta lelaki cameraman tu? Kalau awak cinta dia dan dah tak cinta abang, abang rela korbankan kebahagiaan abang demi melihat awak bahagia.” Kerana terpaksa, dia relakan. Rela lepaskanku. Bagai nak luruh jantungku ketika itu. Menggigil tangan. Seram sejuk. Aku yang tadi rasa diri kuat nak minta cerai, sekarang dah kaku terus. Tak berdaya. Dalam terketar-ketar, ku kuatkan hati. Sebak mencengkam rasa. Air mata tak daya diseka. “Tak nak…tak nak..Saya nak abang seorang je…Nak ke Syurga dengan abang…bawa anak kita sama..” Lantas suamiku itu tersenyum. Kali ini riaknya ikhlas riang. Tumpah air mata lelakinya di hadapanku. “Jangan ulang lagi…Hargai abang..boleh?” Ringkas saja tuturnya dalam sebak bicara sama. Rupa-rupanya dia naik angin dan bertengkar bukan kerana aku ada duit banyak, ada duit lebih. Tak, dia marah dan sakit hati bila dapat tahu tentang aku dan pemuda itu. Disembunyikan sedaya boleh. Aku mengangguk mengiyakan. “Tak kisah suami awak ni miskin? Tak kerja best?” “Tulusly, tak kisah!” *** Mesej Whatsapp masuk. DP pemuda kacak. Si cameraman merangkap arkitek. “Macam mana? Dah selesai?” Aku membalas ringkas mesej itu. “Maaf. Saya putuskan untuk memilih setia. Kita selesai di sini. Lepas ni, suami saya sendiri yang akan jadi cameraman.” Mesej masuk lagi. “Tapi..tapi…kita kan sama-sama menyintai! Dah janji sehidup semati!” Aku terus tekan uninstall Whatsapp. Buang sim. Patahkan. Depan suami. Dalam hati, enggan lagi melukai. Insan yang lama setia di sisi. Enggan kerana indahnya mahligai harapan yang belum jadi kenyataan, setia sanggup ku korbankan.
1 month ago
Britziee BRITZIEE LOVESHOP sudah buka lagi ya,sista..WE ARE OPEN ORDER NOW..!!! Yg mau tanya2 atau paen,silahkan bbm/wa/line kita ya..(pilih salah satu saja) Yang mau HAIRCLIP BERKUALITAS,yang bukan asal ngmg made in korea trus harga selangit, tapi kualitas Read more ... indonesia, disini, dijamin harganya bersaing.. JEGGING yang CUTTING-AN POLAnya TOP punya, bodyfit & ga murahan, serta KOSMETIK IMPORT yg tentunya sudah di coba terlebih dahulu oleh owner sebelum di jual..So,udah pasti aman n bagus hasilnya.. Mau cantik n stylish? ga salah lagi deh kalau kalian berbelanja di BRITZIEE LOVESHOP..Kita pastinya akan kasih kamu harga special dan diskon tanpa perlu takut harganya kemahalan ataupun ‘diketok’..Karena BRITZIEE LOVESHOP adalah First-Hand Onlineshop..^^ !! Jangan Lupa dilihat2 dl update harga terbaru yg sudah kita cantumin dibawah..keep updated,girls..!! FOR ORDER : (Pilih SALAH SATU aja ya..kl dah add bbm,jgn nge LINE or nge WHATSAPP lagi..Biar ga double order..soalnya masing2 admin pegang bbm/line/wa masing2..) 1. BBM (pin BB) : 29506475/237f4db8 2. SMS / WHATSAPP (NO CALL !) : 08170724622 3. LINE : lyndabritziee Please follow our TWITTER @britzieelove Please follow our Instagram @britzieeloveshop Untuk produk lain yang harganya tidak tercantum di sini,jangan sungkan bt bbm/sms/wa/line ya.. Thx,darling..HAPPY SHOPPING..! PS : All products are NETT PRICE
1 month ago
Arlini Love isn't just an opened door....
Kakinovel
Hari ini aku harus berterus-terang. Luahkan segalanya pada suami. Aku nak minta dia lepaskan aku. Ceraikan. Ding! Mesej masuk di Whatsapp. “Awak jangan risau. Saya janji akan bahagiakan awak. Kuatkan hati, kuatkan tekad. Tak guna hidup bersama Read more ... kalau dah tak cinta.” Mesej dari pemuda yang sudah 6 bulan ku kenali. Tua dua tahun dariku. Bermula kenal dari Instagram bisnes tudungku. Dia tawarkan diri untuk jadi jurugambar professional. Kerja sebenarnya, arkitek di sebuah syarikat ternama. Hasil dari gambar-gambar cantik yang diambilnya, bisnes tudung makin bertambah maju. Dalam masa 4 bulan, sudah mampu bayar deposit kereta baru. Dari hanya bisnes, akhirnya hubungan kami jadi rapat. Suamiku langsung tiada syak wasangka. Sangkanya cuma rakan perniagaan. Suami sendiri kenal pemuda itu. Malah, dia sendiri yang hantar dan ambilku ke studio untuk photoshoot. Dalam diam, pemuda itu meluahkan rasa cintanya padaku. Aku pada mulanya berat untuk menerima. Status ‘isteri orang’. Namun, lama-kelamaan aku mengakui punya rasa yang sama dengannya. Cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya, dia kagum dengan kecantikan dan kelembutanku. Matang dalam berfikir, bijak dalam bisnes. Bernikah seawal umur 21. Hayat perkahwinanku dah menginjak tangga lima tahun. Dikurniakan seorang cahaya mata lelaki. Suamiku kerjanya biasa saja. Seorang despatch. Itulah kerjanya sejak awal bernikah sampai sekarang. Kadang-kadang kerjanya itu sampai ke petang. Kadang sampai ke malam andai ada masalah. Semua kiriman dan surat perlu sampai tepat pada masa. Suamiku itu umumnya baik. Tapi, selalu kami bertengkar juga. Masalah dia terlalu sibuk. Tiada masa untuk anak dan keluarga. Balik lewat petang, dah sangat penat. Nak buat overtime lagi. Katanya nak cari duit lebih, nak beli rumah. Tak mahu lagi menyewa. Tiga empat bulan ni, dia struggle untuk tujuan tu. Banyak kali dia balik rumah, aku dah tertidur pun. Aku pula cuma suri rumah yang ada bisnes tudung di internet. Akhir-akhir ni, pendapatanku lebih lumayan berbanding suami. Minggu lepas kami bergaduh besar. Dia sangka aku nak menunjuk-nunjuk aku lagi lebih darinya; nak tunjuk aku dah ada duit, so aku nak belikan segalanya dalam rumah. Hatta kepada kereta pun. Dia rasa kecil hati tak pasal-pasal. Malas aku nak bertekak. Tension bila niat baik disalahfahami. Pertengkaran berlanjutan. Bila aku stress, aku adukan masalah pada pemuda si jantung hati. Dia sangat memahami. Malah, mampu menenangkan aku. Aku rasa damai di sampingnya. Malam ni aku tekad. Aku nak bercerai. Aku tunggu dia balik kerja. Lambat sangat sampai aku tertidur. Bila bangun, dia tak ada di sebelah. Aku tengok motornya dah ada di parkir. Aku melangkah ke bilik anak. Nampak pintu sedikit terbuka. Ternampak kelibat suamiku di dalam. Aku mematikan langkah sekadar di luar pintu. Aku menantinya keluar dulu dari bilik anak. Tak mahu anak terdengar nanti. Berdiri di sisi dinding bilik anak. Telingaku terdengar anak dan ayah sedang berbual. Menangkap jelas segala tutur kata. “Ayah, kenapa ayah asyik cerita pasal Nabi Muhammad saja?” Si ayah tersenyum menjawab, “Sebab ayah nak anak ayah ni tiru Nabi. Tak ada cerita yang terbaik selain cerita Nabi. Buku cerita lain hanya berkisar tentang fantasi, fairytales. Sedangkan tu semua tak wujud. Khayalan. Namun, Nabi kita wujud di realiti. Malah, menanti umatnya di akhirat kelak. Hero kamu bukan ayah, bukan watak-watak komik cerita fantasi. Hero kamu adalah Nabi Muhammad. Bukan sekadar bedtime stories. Ayah tak tahu banyak, jadi ayah bacakan saja dari buku Biografi Nabi Muhammad ni. Dulu, ayah belajar setakat STPM saja. Ayah tak pandai. Ayah orang miskin. Tak ada siapa pun ceritakan tentang Nabi secara terperinci pada ayah. Atok pun tak pernah. Jadi, ayah tak nak kamu jadi macam ayah. Ayah nak kamu jadi dewasa untuk jadi seperti Rasulullah. Berjaya di dunia dan akhirat. Andai suatu hari kamu tak berjaya di dunia sekalipun, kamu miskin sekalipun. Harapnya kamu tak miskin agama. Pegang kuat apa yang ayah cakap ni, ya?” Si anak mengangguk. Senyum. “Malam ni, ayah nak pesan apa-apa sebelum saya tidur?” Si ayah menjawab ringkas, “Ada. Ada seorang ustaz kata, kita kena berinteraksi pujuk anggota badan kita sendiri. Motivasi anggota badan supaya tak buat benda-benda tak elok.” “Macam mana tu, ayah?” “Misalnya, ambil masa seminit dua, sambil gosok tangan, cakap pada tangan, ‘Hei tangan, hari ini jangan buat maksiat tahu. Allah nampak.’ ‘Hai kaki, hari ni kita melangkah ke masjid ya.’ Usap mata pula dan kata, ‘Wahai mata, hari ni nak melihat yang baik-baik saja. Nak tundukkan pandangan.’ Beritahu dengan seluruh anggota badan yang selalu buat benda tak baik, ‘hari ini, kena takut pada Allah. Jangan buat maksiat, okay?’.” Si anaknya tersenyum. “Jadi, saya kena beritahu mata saya, ‘Wahai mata, hari ni jangan tengok kartun banyak sangat. Tengoklah Al-Quran!’” “Pandainya anak ayah!” Si ayah mencium dahi anaknya. “Dah, tidur ya? Baca doa tidur sama-sama. Allahumma Bismika Ahya Wa Amut. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati. Amin… Baiklah. Jumpa malam esok pula.” Si ayah bangun dan nak keluar bilik. Tiba-tiba tangan si ayah digapai si anak. Menangguh langkahnya. “Ayah sayang saya tak?” Ayahnya tersenyum. “Sayang sangat.” “Sayang umi tak?” Ayahnya tersenyum lagi. “Sayang. Lebih dari kamu tahu. Saat ayah tiada apa-apa dalam hidup, umimu itu sanggup terima ayah jadi suaminya. Baik kan hati ummi? Sayang ayah pada umi, sampai menutup mata. Sampai akhirat sana.” Anaknya tersenyum lebar sampai terlelap. ** Suamiku melangkah keluar bilik. Langkahnya terhenti. Aku menanti di luar bilik. Basah sudah pipi ini dengan air mata. Mengalir tanpa henti. Sungguh hati ini terusik sangat dalam. Aku tak tahu pun suamiku itu setiap malam berada di sisi anak bercerita tentang Rasulullah s.a.w.. Selama ini, ku sangka suami itu langsung tidak peduli. Sungguh, aku khilaf! Ku capai tangan suami. Ku salami tangan kasar itu. “Awak ok ke?” Suami kaget seketika. “Maafkan saya, abang. Maafkan saya. Selama ini, saya curang dengan abang. Saya isteri derhaka. Maafkan saya. Ampunkan saya, bang.” Suami mengusap ubun-ubun kepalaku. “Abang dah lama tahu… Abang maafkan..” Suamiku itu senyum. Tapi, ternyata ada hambar di wajahnya. “Awak cinta lelaki cameraman tu? Kalau awak cinta dia dan dah tak cinta abang, abang rela korbankan kebahagiaan abang demi melihat awak bahagia.” Kerana terpaksa, dia relakan. Rela lepaskanku. Bagai nak luruh jantungku ketika itu. Menggigil tangan. Seram sejuk. Aku yang tadi rasa diri kuat nak minta cerai, sekarang dah kaku terus. Tak berdaya. Dalam terketar-ketar, ku kuatkan hati. Sebak mencengkam rasa. Air mata tak daya diseka. “Tak nak…tak nak..Saya nak abang seorang je…Nak ke Syurga dengan abang…bawa anak kita sama..” Lantas suamiku itu tersenyum. Kali ini riaknya ikhlas riang. Tumpah air mata lelakinya di hadapanku. “Jangan ulang lagi…Hargai abang..boleh?” Ringkas saja tuturnya dalam sebak bicara sama. Rupa-rupanya dia naik angin dan bertengkar bukan kerana aku ada duit banyak, ada duit lebih. Tak, dia marah dan sakit hati bila dapat tahu tentang aku dan pemuda itu. Disembunyikan sedaya boleh. Aku mengangguk mengiyakan. “Tak kisah suami awak ni miskin? Tak kerja best?” “Tulusly, tak kisah!” *** Mesej Whatsapp masuk. DP pemuda kacak. Si cameraman merangkap arkitek. “Macam mana? Dah selesai?” Aku membalas ringkas mesej itu. “Maaf. Saya putuskan untuk memilih setia. Kita selesai di sini. Lepas ni, suami saya sendiri yang akan jadi cameraman.” Mesej masuk lagi. “Tapi..tapi…kita kan sama-sama menyintai! Dah janji sehidup semati!” Aku terus tekan uninstall Whatsapp. Buang sim. Patahkan. Depan suami. Dalam hati, enggan lagi melukai. Insan yang lama setia di sisi. Enggan kerana indahnya mahligai harapan yang belum jadi kenyataan, setia sanggup ku korbankan. cerita oleh: Muhammad Rusydi
1 month ago
Zaida Touching
Kakinovel
Hari ini aku harus berterus-terang. Luahkan segalanya pada suami. Aku nak minta dia lepaskan aku. Ceraikan. Ding! Mesej masuk di Whatsapp. “Awak jangan risau. Saya janji akan bahagiakan awak. Kuatkan hati, kuatkan tekad. Tak guna hidup bersama Read more ... kalau dah tak cinta.” Mesej dari pemuda yang sudah 6 bulan ku kenali. Tua dua tahun dariku. Bermula kenal dari Instagram bisnes tudungku. Dia tawarkan diri untuk jadi jurugambar professional. Kerja sebenarnya, arkitek di sebuah syarikat ternama. Hasil dari gambar-gambar cantik yang diambilnya, bisnes tudung makin bertambah maju. Dalam masa 4 bulan, sudah mampu bayar deposit kereta baru. Dari hanya bisnes, akhirnya hubungan kami jadi rapat. Suamiku langsung tiada syak wasangka. Sangkanya cuma rakan perniagaan. Suami sendiri kenal pemuda itu. Malah, dia sendiri yang hantar dan ambilku ke studio untuk photoshoot. Dalam diam, pemuda itu meluahkan rasa cintanya padaku. Aku pada mulanya berat untuk menerima. Status ‘isteri orang’. Namun, lama-kelamaan aku mengakui punya rasa yang sama dengannya. Cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya, dia kagum dengan kecantikan dan kelembutanku. Matang dalam berfikir, bijak dalam bisnes. Bernikah seawal umur 21. Hayat perkahwinanku dah menginjak tangga lima tahun. Dikurniakan seorang cahaya mata lelaki. Suamiku kerjanya biasa saja. Seorang despatch. Itulah kerjanya sejak awal bernikah sampai sekarang. Kadang-kadang kerjanya itu sampai ke petang. Kadang sampai ke malam andai ada masalah. Semua kiriman dan surat perlu sampai tepat pada masa. Suamiku itu umumnya baik. Tapi, selalu kami bertengkar juga. Masalah dia terlalu sibuk. Tiada masa untuk anak dan keluarga. Balik lewat petang, dah sangat penat. Nak buat overtime lagi. Katanya nak cari duit lebih, nak beli rumah. Tak mahu lagi menyewa. Tiga empat bulan ni, dia struggle untuk tujuan tu. Banyak kali dia balik rumah, aku dah tertidur pun. Aku pula cuma suri rumah yang ada bisnes tudung di internet. Akhir-akhir ni, pendapatanku lebih lumayan berbanding suami. Minggu lepas kami bergaduh besar. Dia sangka aku nak menunjuk-nunjuk aku lagi lebih darinya; nak tunjuk aku dah ada duit, so aku nak belikan segalanya dalam rumah. Hatta kepada kereta pun. Dia rasa kecil hati tak pasal-pasal. Malas aku nak bertekak. Tension bila niat baik disalahfahami. Pertengkaran berlanjutan. Bila aku stress, aku adukan masalah pada pemuda si jantung hati. Dia sangat memahami. Malah, mampu menenangkan aku. Aku rasa damai di sampingnya. Malam ni aku tekad. Aku nak bercerai. Aku tunggu dia balik kerja. Lambat sangat sampai aku tertidur. Bila bangun, dia tak ada di sebelah. Aku tengok motornya dah ada di parkir. Aku melangkah ke bilik anak. Nampak pintu sedikit terbuka. Ternampak kelibat suamiku di dalam. Aku mematikan langkah sekadar di luar pintu. Aku menantinya keluar dulu dari bilik anak. Tak mahu anak terdengar nanti. Berdiri di sisi dinding bilik anak. Telingaku terdengar anak dan ayah sedang berbual. Menangkap jelas segala tutur kata. “Ayah, kenapa ayah asyik cerita pasal Nabi Muhammad saja?” Si ayah tersenyum menjawab, “Sebab ayah nak anak ayah ni tiru Nabi. Tak ada cerita yang terbaik selain cerita Nabi. Buku cerita lain hanya berkisar tentang fantasi, fairytales. Sedangkan tu semua tak wujud. Khayalan. Namun, Nabi kita wujud di realiti. Malah, menanti umatnya di akhirat kelak. Hero kamu bukan ayah, bukan watak-watak komik cerita fantasi. Hero kamu adalah Nabi Muhammad. Bukan sekadar bedtime stories. Ayah tak tahu banyak, jadi ayah bacakan saja dari buku Biografi Nabi Muhammad ni. Dulu, ayah belajar setakat STPM saja. Ayah tak pandai. Ayah orang miskin. Tak ada siapa pun ceritakan tentang Nabi secara terperinci pada ayah. Atok pun tak pernah. Jadi, ayah tak nak kamu jadi macam ayah. Ayah nak kamu jadi dewasa untuk jadi seperti Rasulullah. Berjaya di dunia dan akhirat. Andai suatu hari kamu tak berjaya di dunia sekalipun, kamu miskin sekalipun. Harapnya kamu tak miskin agama. Pegang kuat apa yang ayah cakap ni, ya?” Si anak mengangguk. Senyum. “Malam ni, ayah nak pesan apa-apa sebelum saya tidur?” Si ayah menjawab ringkas, “Ada. Ada seorang ustaz kata, kita kena berinteraksi pujuk anggota badan kita sendiri. Motivasi anggota badan supaya tak buat benda-benda tak elok.” “Macam mana tu, ayah?” “Misalnya, ambil masa seminit dua, sambil gosok tangan, cakap pada tangan, ‘Hei tangan, hari ini jangan buat maksiat tahu. Allah nampak.’ ‘Hai kaki, hari ni kita melangkah ke masjid ya.’ Usap mata pula dan kata, ‘Wahai mata, hari ni nak melihat yang baik-baik saja. Nak tundukkan pandangan.’ Beritahu dengan seluruh anggota badan yang selalu buat benda tak baik, ‘hari ini, kena takut pada Allah. Jangan buat maksiat, okay?’.” Si anaknya tersenyum. “Jadi, saya kena beritahu mata saya, ‘Wahai mata, hari ni jangan tengok kartun banyak sangat. Tengoklah Al-Quran!’” “Pandainya anak ayah!” Si ayah mencium dahi anaknya. “Dah, tidur ya? Baca doa tidur sama-sama. Allahumma Bismika Ahya Wa Amut. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan aku mati. Amin… Baiklah. Jumpa malam esok pula.” Si ayah bangun dan nak keluar bilik. Tiba-tiba tangan si ayah digapai si anak. Menangguh langkahnya. “Ayah sayang saya tak?” Ayahnya tersenyum. “Sayang sangat.” “Sayang umi tak?” Ayahnya tersenyum lagi. “Sayang. Lebih dari kamu tahu. Saat ayah tiada apa-apa dalam hidup, umimu itu sanggup terima ayah jadi suaminya. Baik kan hati ummi? Sayang ayah pada umi, sampai menutup mata. Sampai akhirat sana.” Anaknya tersenyum lebar sampai terlelap. ** Suamiku melangkah keluar bilik. Langkahnya terhenti. Aku menanti di luar bilik. Basah sudah pipi ini dengan air mata. Mengalir tanpa henti. Sungguh hati ini terusik sangat dalam. Aku tak tahu pun suamiku itu setiap malam berada di sisi anak bercerita tentang Rasulullah s.a.w.. Selama ini, ku sangka suami itu langsung tidak peduli. Sungguh, aku khilaf! Ku capai tangan suami. Ku salami tangan kasar itu. “Awak ok ke?” Suami kaget seketika. “Maafkan saya, abang. Maafkan saya. Selama ini, saya curang dengan abang. Saya isteri derhaka. Maafkan saya. Ampunkan saya, bang.” Suami mengusap ubun-ubun kepalaku. “Abang dah lama tahu… Abang maafkan..” Suamiku itu senyum. Tapi, ternyata ada hambar di wajahnya. “Awak cinta lelaki cameraman tu? Kalau awak cinta dia dan dah tak cinta abang, abang rela korbankan kebahagiaan abang demi melihat awak bahagia.” Kerana terpaksa, dia relakan. Rela lepaskanku. Bagai nak luruh jantungku ketika itu. Menggigil tangan. Seram sejuk. Aku yang tadi rasa diri kuat nak minta cerai, sekarang dah kaku terus. Tak berdaya. Dalam terketar-ketar, ku kuatkan hati. Sebak mencengkam rasa. Air mata tak daya diseka. “Tak nak…tak nak..Saya nak abang seorang je…Nak ke Syurga dengan abang…bawa anak kita sama..” Lantas suamiku itu tersenyum. Kali ini riaknya ikhlas riang. Tumpah air mata lelakinya di hadapanku. “Jangan ulang lagi…Hargai abang..boleh?” Ringkas saja tuturnya dalam sebak bicara sama. Rupa-rupanya dia naik angin dan bertengkar bukan kerana aku ada duit banyak, ada duit lebih. Tak, dia marah dan sakit hati bila dapat tahu tentang aku dan pemuda itu. Disembunyikan sedaya boleh. Aku mengangguk mengiyakan. “Tak kisah suami awak ni miskin? Tak kerja best?” “Tulusly, tak kisah!” *** Mesej Whatsapp masuk. DP pemuda kacak. Si cameraman merangkap arkitek. “Macam mana? Dah selesai?” Aku membalas ringkas mesej itu. “Maaf. Saya putuskan untuk memilih setia. Kita selesai di sini. Lepas ni, suami saya sendiri yang akan jadi cameraman.” Mesej masuk lagi. “Tapi..tapi…kita kan sama-sama menyintai! Dah janji sehidup semati!” Aku terus tekan uninstall Whatsapp. Buang sim. Patahkan. Depan suami. Dalam hati, enggan lagi melukai. Insan yang lama setia di sisi. Enggan kerana indahnya mahligai harapan yang belum jadi kenyataan, setia sanggup ku korbankan. cerita oleh: Muhammad Rusydi
1 month ago
More Kamu Punya Instagram posts »

Kamu Punya Instagram news

No news about Kamu Punya Instagram

Kamu Punya Instagram videos

No videos about Kamu Punya Instagram