MendingKejebakHujan or Kenangan posts

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA Selasa Pagi, 19 Mei 2015 --------------------------------- KRONIK “PULANG KAMPUNG” (1) * * * Buku-Buku Untuk “Universitas Gajah Mada” Yogyakarta, “Wertheim Collection Library” Buku-buku dari Penerbit “Gala Read more ... ngpress” dan dari Jaya Suprana * * * Setiap kunjungan ke Indonesia, ketika dilakukan setelah jatuhnya Presiden Suharto, --- selalu memberikan dampak positif. Teristimewa pada semangat dan jiwa warga Republik Indonesia, yang oleh rezim Orba, secara sewenang-wenang telah dicabut paspor dan kewarganegaraannya, tanpa proses hukum apapun. Suatu periode “lawlesness”, ketika hukum dan undang-undang, hak-hak wargnegara diinjak-injak semena-mena. Ketika kekereasan dan senjata menguasai segala. Suatu periode Hitam dan Gelap ketika dimulai berdirinya rezim Orde Baru (1965-66), di bawah Jendrál Suharto. Dalam suatu percakapan di rumahku beberapa waktu yg lalu, sahabat baru, Philip van Aalst terkait pogram Universsitas Amsterdam yang bertujuan membuat sebuah 'topografi sekitar orang-orang buangan di Amsterdam sejak 1950', bertanya: : --- “Apakah Anda, atau siapa saja dari kalangan orang-orang 'EKSIL' di Belanda atau negri lainnya -- masih bisa menyebut dirinya 'EKSIL' – ketika ia sudah bisa kembali lagi ke negerinya?” --- Sungguh -- Suatu pertanyaan yang tiba-tiba, tapi cerdik dan menarik. Yang keluar dari mulut seorang mahasiswa Belanda. Begini jawaban yang diberikan: Aku tak pernah menyebut diri sebagai seorang 'Eksil'. “Ya, tapi buku Anda yang pertama judulnya adalah: 'SUARA SEORANG EKSIL' ( Jakarta, 2002)”, sela teman Belanda itu. Nama buku itu, adalah sahabat-sahabatku dari penerbit Jakarta, yang memberikannya– tanpa konsultasi. Judul aslinya yang kuberikan ialah: Reformasi dan Demokratisasi di Indonesia setelah jatuhnya Suharto. Teman Belanda itu senyum geli. Kami-kami ini, --- bukan orang-orang 'EKSIL', kataku. Pada 'periode gejolak 65' itu kebetulan sedang berada di luar negeri. Banyak yang sedang mengemban tugas pemerintah atau urusan lainnya . Ada yang sedang studi. Ada yang bekerja di luar negeri. Mendadak sontak paspor dan kewarganegaraan kami dicabut fihak militer Indonesia. Militer sudah mulai merebut kekuasaan negara Indonesia pada tahun 1965-66. Penyebabnya paspor dan kewarganegaraan kami dicabut, ialah -- karena kami menolak mengutuk Presiden Sukarno dan tidak mau mendukung rezim militer Jendral Suharto. Maka, --- kami bukan orang-orang yang di-eksilkan oleh penguasa. Tapi yang tak bisa pulang karena tidak punya paspor dan sudah dibikin jadi 'stateless' oleh fihak militer. Kalau tokh bisa pulang, pasti di persekusi, ditangkap atau dibunuh, dengan alasan, tuduhan serta fitnah ini atau itu. Seperti nasib banyak korban '65 lainnya. Bagaimana penyelesaiannya, tanya temanku Philip van Aalst? Pemerintah Indonesia yang sekarang ini, pertama-tama harus minta maaf atas tindakan sewenang-wenang penguasa dulu, mencabut paspor dan kewarganegaraan kami, tanpa proses hukum apapun. Membuat kami, warganegara yang setia pada Republik Indonesia dan Presiden Sukarno, menjadi orang-orang yang 'stateless'. Hal itu juga disarankan oleh peneliti senior LIPI, Prof Dr Asvi Warman Adam. Asvi bahkan mendesak agar pemerintah minta maaf pada keluarga korban '65. Selanjutnya pemerintah wajib MEREHABILITASI HAK KEWARGANEGARAAN DAN NAMA BAIK mereka-mereka yang 'dicabut paspornya itu'. Demikian kunyatakan pada Philip van Aalst. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya! * * * Kali ini kunjungan 7 orang dari keluarga kami ke Indonesia (25 April – 15 Mei, 2015), sesungguhnya lebih banyak merupakan 'pulang kampung'. Meskipun asal etnisku adalah Sumatra, tapi aku dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. -- Betawi. Aku 'anak Betawi' yang cinta pada Jakarta. Jakarta adalah kampung halamanku. Di koper kami tersimpan baik-baik 6 jilid buku mengenai HUKUM ADAT INDONESIA dan “PRIANGAN, De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811”. Buku-buku tsb adalah hasil studi sarjana ilmu sosial Belanda. Tadinya buku-buku milik pribadi perpustakaan Prof Dr W.F. Wertheim (alm), yang dihibahkan oleh keluarga beliau kepada “” Stichting Wertheim Amsterdam”. Masing-masing buku tsb sedikitnya berisi lebih dari 1000 halaman. Buku-buku tsb kami sumbangkan pada “Collection Wertheim Library” di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bersama sahabatku Sutriyanto dari Jakarta, kami bawa sendiri buku-buku yang umurnya lebih dari 100 tahun itu. Selain itu ada beberapa jilid buku lainnya terbitan Indonesia mengenai masalah Indonesia yang disumbangkan pada Wertheim Collection Library. Sebelumnya, kami dari – Stichting Wertheim – sudah menyumbangkan buku-buku terbitan Indonesia lainnya, seperti a.l buku “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”, Edisi Revisi; dan beberapa buah buku lainnya. Dengan demikian Stichting Werteim Amsterdam secara reguler menghibahkan buku-buku untuk “Wertheim Collection Library”, UGM, Yogyakarta. * * * Pada kesempatan berkunjung ke kantor Redaksi Penerbit “Galangpress”, Yogyakarta, cakap-cakap dengan kawan baru redaktur Peter dan kawan lama, Romo Baskoro, aku beruntung dioleh-olehi beberapa jilid buku berharga dan bermutu sekitar masalah Papua dll. “Galangpress” adalah penerbit buku bermutu yang menerbitkan a.l buku Prof Dr Baskara Werdaya – “Luka Bangsa, Luka Kita”; dan buku berjudul “SUKARNO-HATTA BUKAN PROKLAMATOR PAKSAAN” , oleh penyunting Peter Kasenda. * * * Ketika berkunjung ke “MURIA”, Musium Rekor Indonesia yang dikelola oleh komponis/ pianis, budayawan terkenal Jaya Suprana, dan mendengarkan uraian menarik sekitar “Muria” dan “Jaya Suprana School of Performing Arts”- lagi-lagi aku beruntung dibekali buku-buku buah pena Jaya Suprana dan 7 set CD musik ciptaan dan yang dimainkannya di piano.. Masih ada dua buah buku lagi yang kubawa dari Jakarta. Yaitu buku-buku bermutu oleh-oleh dan kenangan dari penulis generasi baru LEILA S. CHUDORI. Berjudul “PULANG” dan bukunya terbaru “NADIRA”. * * * Buku-buku bermutu, -- adalah salah satu sumber penting pengetahuan, ilmu dan kebijakan umat manusia -- yang tak ternilai! Menyaksikan sendiri begitu banyaknya buku-buku baru yang terbit di negeri kita, hasil karya penulis-penulis dan peneliti Indonesia sendiri, dan penulis asing – serta ramainya pembeli – terutama dari kaum muda -- merupakan kepuasan. kebanggaan dan kebahagiaan, sebagai orang Indonesia yang “PULANG KAMPUNG”. Apalagi sesudah memilikinya dan akan membacanya sendiri! * * *
130 months ago
More MendingKejebakHujan or Kenangan posts »

MendingKejebakHujan or Kenangan news

No news about MendingKejebakHujan or Kenangan

MendingKejebakHujan or Kenangan videos

No videos about MendingKejebakHujan or Kenangan