Sehun EXO Tewas Dibunuh posts

Satria Sariputra HAM Rasa Kopi Sianida ? Adalah Wayan Mirna Solihin tewas stlh menyeruput VIC yg menurut polisi mengandung sianida, setelah kematiannya, polisi menjadikan Jessica Kumala teman ngopi barengnya sbg Tersangka » pembunuhan berencana yg mnrt polisi sudah
Read more ... mempunyai 2 alat bukti kuat ? Setelah melalui proses panjang sampai semua wewenang masa penahanan full dipakai polisi, akhirnya sampai jua di meja hijau Majelis Hakim yg dimuliakan. 13 kali sidang sudah digelar, JPU sdh berupaya menghadirkan saksi2 fakta, saksi2 ahli dan barang bukti utk meyakinkan Hakim, sementara Tim pengacarapun selalu menolak keterangan saksi dan barang bukti yg dirasa meragukan. Sampai disini, adakah pembuktian di persidangan yg menerangkan Jessica meracun Mirna ? Ada, asumsi dari ahli IT yg membaca pixel2 video cctv burem, adapula analisa2 ahli forensik brdasarkan keahliannya. Cukupkah itu ? Bila kita mengamati materi/pokok perkara tersimpul ada sesuatu pelanggaran HAM dgn mengabaikan azas Praduga Tak Bersalah. Adalah nasib Jessica Kumala, seorang anak manusia yg terpaksa menelan pahitnya HAM Rasa Kopi Sianida ? Kita semua penasaran bagaimana akhir drama ini, bukan ? https://m.facebook.com/Keadilan-untuk-Jessica-Kumala-Wongso-1785172445051002/?view_public_for=1785172445051002&ref=opera_speed_dial&_rdr
115 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Senin Malam, 08 Juni 2015
----------------------------------
“PKI Secara Lembaga Tidak Melakukan Pemberontakan Pada 30 September 1965”
Rezim Orde Baru merumuskannya sebagai 'Pemberontakan G30S/PKI'. Menurut versi ini, -- yang
Read more ... melakukan pemberontakan adalah 'Gerakan 30 September', dalangnya adalah PKI. Mengenai apa yang terjadi pada hari itu, yaitu 'Pemberontakan G30S/PKI', itu adalah versi resmi. Versi pemerintah Presiden Suharto. Versi ini dinyatakan sebagai kebenaran selama lebih dari 32 tahun mengenai apa yang terjadi ketika itu. Bahkan sampai sekarangpun sementara orang masih ada yang percaya pada kebohongn ini! Dan menjajakannya.
Tapi, lebih 30 tahun setelah kejadian, Pemerhati dan Penulis Masalah Militer, Prof Dr Salim Said, penulis buku “Dari Gestapu ke Reformasi”, -- memecahkan 'kebohongan ini' dalam suatu diskusi belum lama, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UI dan Penerbit Mizan di Ruang Sinema, Gedung Perpustakaan Pusat UI, Depok. (-- Minggu, 7 Juni 2015 La Luta @yahoo.com – Sastra Pembebasan).
Salim Said menegaskan : “PKI secara lembaga tidak melakukan pemberontakan pada 30 September 1965,” -- Ia menambahkan, menurut hasil otopsi, ketujuh jenderal itu tidak meninggal akibat disiksa seperti yang digambarkan di film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Isu penyiksaan digunakan untuk kampanye antikomunis yang dilakukan oleh militer, karena pada saat itu komunisme merupakan ancaman besar.
* * *
Para pemimpin utama PKI, --- DN Aidit, MH Lukman, Nyoto, Ir Sakirman, dll semua sudah dibunuh secara ekstra-judisial, tanpa proses pengadilan apapun. Sehingga tidak bisa langsung didakwa, di-interogasi dan diadili . Ini suatu keanehan, suatu 'keluar-biasaan' kebijakan Orde Baru. Menuduh PKI berontak, tapi piminan-pimpinan utamanya tidak langsung didakwa dan diadili. Salah satu pimpinan utama PKI, Sudisman, anggota Dewan Harian Politibiro CCPKI, diadili oleh Mahmilub. Sudisman menjelaskan di sidang Mahmilub tsb bahwa PKI tidak memberontak seperti yang dituduhkan oleh penguasa ketika itu.
Salim Said menjelaskan bahwa, “Gerakan 30 September merupakan ambisi pribadi DN Adit (Ketua Umum PKI), banyak anggota PKI yang tidak tahu rencana Gerakan 30 September, Aidit melakukan Gerakan 30 September tanpa sepengetahuan Komite Pusat dan Politbiro PKI,”.
* * *
Seluruh Rezim Orde Baru, sesungguhnya ditegakkan di atas dasar fitnah dan tuduhan belaka , diatas dasar kebohongan dan pemalsuan sejarah. Diatas dasar pembangkangan dan pengkhianatan Jendral Suharto pada atasannya, Presiden Panglima Tertinggi ABRI, Ir Sukarno. Hal ini bisa dijelaskan a.l dengan menelusuri fakta-fakta berikut ini:
Pertama, dengan menyalahgnakan sejadi-jadinya “Surat Perintah Prsiden Sukarno , Sebelas Maret 1966,” populer dikenal dng nama “SUPERSEMAR”. Jendral Suharto telah membubarkan PKI yang dituduhnya melakukan pemberontakan.
Kedua, lagi dengan menyalahgunakan “SUPERSEMAR”, Jendral Suharto merekayasa MPRS mengambil keputusan melorot Presiden Sukarno dari jabatannya sebagai Presiden RI.
Ketiga, lagi dengn menyalahgunakan “SUPERSEMAR”, Jendral Suharto telah merekayasa MPRS, menggangkat dirinya, menggantikan Presiden Sukarno jadi Presiden Ke-2 Republik Indonesia.
Keempat, seluruh komplotan pembubaran dan pemusnahan PKI dan pimpinannya , dilakukan di atas dasar kebohongan bahwa sebelum 8 jendral dan seorang perwira TNI dibunuh oleh Gerwani/Pemuda Rakyat/PKI, mereka disiksa dan dianiaya terlebih dahulu. Matanya dicukil dan kemaluannya dipotong. Seperti diungkapkan oleh Salim Said, semua itu tidak benar.
Kelima, Suatu keanehan lain yang tidak bisa dijelaskan. PKI dituduh memberontak terhadap pemerintah yang sah di bawah Presiden Sukarno. Tetapi Presiden Sukarno menentang PKI dibubarkan. Presiden Sukarno bahkan membela PKI sebgai suatu kekuatan politik nasional yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia dari kolonialisme Belanda.
Keenam, Keanehan lainnya yang tidak mungkin bisa dijelaskan oleh Orde Baru, adalah perkembangan berikut ini:
Jendral Suharto menuduh PKI memberontak. Tetapi kenyataannya, yang menggeser Presiden Sukarno dari jabatannya, adalah Jendral Suharto sendiri dkk. Dan Jendral Suharto menegakkan rezim Orde Baru, dengan memanipulasi MPRS mengangkat dirinya menjadi Presiden Ke-2 Repubik Indonesia. * * *
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Kemis Malam --- 21 Mei 2015
-------------------------------
BENAR KATA AHOK . . . “PERISTIWA MEI 1998”
MENCORENG MUKA BANGSA DAN NEGARA
* * *
BENAR ADANYA, SEPERTI DIKATAKAN GUBERNUR JAKARTA, AHOK:
"Bagi saya, itu (Peristiwa
Read more ... Mei 1998) adalah sebuah kejadian
yang sangat mencoreng muka bangsa dan negara," (Liputan6.com)
Menoleh lebih jauh lagi ke belakang ... . . . . . Ke tahun 1965/'66/'67 . .
* * *
LALU . . . .
Apa namanya PEMBUNUHAN MASAL EKSTRA-JUDISIAL – DI SEKITAR “PERISTIWA 1965”, OLEH FIHAK MILITER DAN PENDUKUNGNYA, TERHADAP LEBIH SEJUTA WARGA TAK BERSALAH, DENGAN DALIH BAHWA MEREKA ADALAH ANGGOTA PKI, SIMPATISAN PKI, BERINDIKASI PKI, KAUM KIRI PENDUKUNG PRESIDEN SUKARNO??
YAITU, MEREKA-MEREKA YANG DITUDUH DAN DI FITNAH TERLIBAT, MENDUKUNG ATAU BERSIMPATI DENGAN G30S?
LALU - - - --
Apa namanya PENYALAHGUNAAN "SUPERSEMAR" - PERINTAH PRESIDEN SUKARNO 11 MARET, 1966. KPD JEND. SUHARTO,
GUNA MENGGULINGKAN PRESIDEN SUKARNO DARI JABATAN KEPRESIDENAN REPUBLIK INDONESIA?
* * *
Lampiran :
Kerusuhan
Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama milik warga Indonesia keturunan. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakartwa, Medan dan Solo. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh.
Banyak warga Indonesia keturunan Tiomghoa yang meninggalkan Indonesia. Seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Maertadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.
Amuk massa ini membuat para pemilik toko di kedua kota tersebut ketakutan dan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi". . . . .
* * *
Sampai bertahun-tahun berikutnya Pemerintah Indonesia belum mengambil tindakan apapun terhadap nama-nama yang dianggap kunci dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa bukti-bukti konkret tidak dapat ditemukan atas kasus-kasus pemerkosaan tersebut, namun pernyataan ini dibantah oleh banyak pihak.
Sebab dan alasan kerusuhan ini masih banyak diliputi ketidakjelasan dan kontroversi sampai hari ini. Namun umumnya masyarakat Indonesia secara keseluruhan setuju bahwa peristiwa ini merupakan sebuah lembaran hitam sejarah Indonesia, sementara beberapa pihak, terutama pihak Tionghoa, berpendapat ini merupakan tindakan pembasmian (genosida) terhadap orang Tionghoa, walaupun masih menjadi kontroversi apakah kejadian ini merupakan sebuah peristiwa yang disusun secara sistematis oleh pemerintah atau perkembangan provokasi di kalangan tertentu hingga menyebar ke masyarakat.
Pengusutan dan penyelidikan
Tidak lama setelah kejadian berakhir dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini. TGPF ini mengeluarkan sebuah laporan yang dikenal dengan "Laporan TGPF"]
Mengenai pelaku provokasi, pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan seksual, TGPF menemukan bahwa terdapat sejumlah oknum yang berdasar penampilannya diduga berlatar belakang militer[5]. Sebagian pihak berspekulasi bahwa PANGKOSTRAD LETJEN PRBOWO SUBIANTO dan PANGDAM JAYA MAJEN SYAFRIE SJAMSOEDDIN melakukan pembiaran atau bahkan aktif terlibat dalam provokasi kerusuhan.
Pada 2004 KomnasHam mempertanyakan kasus ini kepada Kejaksaan Agung namun sampai 1 Maret 2004, belum menerima tanggapan dari Kejaksaan Agung.
Penuntutan Amandemen KUHP
Pada bulan Mei 2010, Andy Yentriyani , Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat di Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), meminta supaya dilakukan amandemen terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Menurut Andy, Kitab UU Hukum Pidana hanya mengatur tindakan perkosaan berupa penetrasi alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan. Namun pada kasus Mei 1998, bentuk kekerasan seksual yang terjadi sangat beragam. Sebanyak 85 korban saat itu (data Tim Pencari Fakta Tragedi Mei 1998), disiksa alat kelaminnya dengan benda tajam, anal, dan oral. Bentuk-bentuk kekerasan tersebut belum diatur dalam pasal perkosaan Kitab UU Hukum Pidana. (Narasumber: Wikipedia)
* * *
130 months ago
Panic King Izham https://www.facebook.com/wargaprihatin/videos/10153871938952786/
How's about a piece on this issue. I'd love to hear what you guys think of it.
Thanks :)
Warga Prihatin
ROHINGYA – ANTARA KEJAHATAN MANUSIA DAN KESESATAN AGAMA
Tersentuh hati atas nama kemanusiaan dan persaudaraan sesama Islam apabila bot yang sarat dengan muatan manusia terutama kanak-kanak dan wanita dari Rohingya tidak dibenarkan mendarat. Sejak
Read more ... 20 tahun dahulu begitu ramai pelarian ini yang ‘ghaib’ di lautan apabila tiada negara yang mahu menerima mereka.
Kami telusuri semua artikel dari pelbagai sumber, termasuk video dari portal berita antarabangsa untuk membuat sedikit rumusan. Perhatikan klips dalam video ini; termasuk ulasan para sami, beberapa wartawan antarabangsa, juga luahan penduduk budha dan warga Rohingya sendiri.
Ada yang kata mereka ini bangsa pengecut kerana lari meninggalkan tanah air sendiri. Jika diberi perlindungan dan mendapat Identiti UNHCR pula, mereka akan naik lemak dan tidak menghormati kita selaku tuan rumah. Bagaimanalah mereka harus melawan penghapusan etnik yang disokong kerajaan bekas dikatator itu dengan jumlah yang kurang dari 10% dan tanpa sokongan moral, dana dan senjata?
Sebenarnya ada beberapa keluarga Rohingya yang berhubungan sangat rapat dengan kami selama beberapa tahun sebelum ini. Mereka adalah kumpulan yang awal-awal berjaya melarikan diri dari kekejaman kerajaan mereka. Di RPWP, kami jadikan mereka sebagai asnaf yang memerlukan perlindungan.
Salim, salah seorang yang rapat dengan kami telah 18 tahun berada di Malaysia. Dalam setiap perbualan, beliau sering menceritakan suasana yang berlaku di negara asalnya. Kini, beliau dan sekian banyak keluarga Rohingya telah dipindahkan ke Amerika. Yang lainnya dipindahkan ke Australia dan beberapa negara lain.
Kekerabatan dengan mereka itu telah memberi kami banyak gambaran tentang budaya bangsa ini. Tidak dinafikan memang benar jika dikatakan mereka itu ada yang pengotor, pemalas, besar kepala dan sebagainya. apa tidaknya, standard hidup mereka 50 tahun di belakang kita. Namun, Salim rakan Rohingya kami itu pula amat kuat bekerja dan pandai berniaga.
Orang berbudi kita berbahasa. Apabila kita buat baik pada mereka, mereka juga kami dapati sangat hormat dan baik dengan kami. Sampai saat berangkat ke Amerika, beliau tidak habis-habis menyatakan amat keberatan meninggalkan Malaysia. 18 tahun beliau bekerja keras untuk mengumpul wang bagi membawa ayah ibu dan keluarga besarnya ke Malaysia sebelum berangkat ke negara ketiga.
Sampai hari ini beliau masih berhubungan dengan kami untuk memberikan perkembangan terkini. Yang penting apa yang beliau jangkakan dahulu telah benar-benar berlaku, iaitu tentang nasib pendidikan anak beliau. Itu sahaja sebab beliau terima tawaran UNHCR untuk dipindahkan ke negara ketiga, iaitu pendidikan anak-anak yang tidak disediakan di Malaysia. Malangnya apa yang berlaku di negara ketiga lebih merisaukan hatinya.
NASIB PELARIAN ROHINGYA
Dapat kita lihat dari video ini mereka menggunakan sampan kayu yang bocor dan setengahnya berkayuh dengan tangan meredah lautan. Dalam satu video kami terkedu apabila mereka yang berada dalam sampan kecil melihat bot besar yang berlayar bersama mereka ditembak oleh sebuah helikopter lalu karam tanpa berita.
Bangladesh yang dikatakan berkait repat dengan asal usul mereka adalah sebuah negara yang miskin. Kerana itu mereka tidak mampu menerima pelarian ini kerana sudah terlalu ramai. Kem pelarian yang disediakan juga kebanyakannya tidak didaftarkan.
Apa yang dinyatakan dalam video ini juga munasabah. Kelima-lima sampan bocor yang dihalau semula ke laut itu tidak dapat dikesan apa beritanya. Ungkapan yang mengatakan “Pulanglah ke laut… Allah akan selamatkan kamu” yang diungkap oleh pengawal pantai itu agak mengguris hati. Ia seolah-olah sengaja menghalau mereka 'untuk mati'.
Kematian semasa perlayaran sudah terlalu banyak. Kelaparan dan kehausan mereka amat dahsyat. Ada yang melapurkan sampai ke tahap meminum semula ‘air kencing’ mereka untuk terus hidup.
Berita tentang penemuan KUBUR RAHSIA yang tertanam mayat-mayat Rohingya seperti yang dilapur baru-baru ini bukan perkara baharu. Berapa banyak aduan oleh pelarian tentang kekejaman pihak berkuasa Thai yang telah menahan, menyiksa dan membunuh mereka. Video ini sendiri menampakkan bahawa dunia sudah tahu apa yang berlaku, cuma mereka tidak berminat untuk membantu.
Bagi kami, tidak kira atas dasar apa sekalipun, atas dasar kemanusiaan, kami fikir mereka wajar dibantu sekalipun ada banyak kelemahan dan kekurangan pada mereka.
Bertahun-tahun kami melihat gambar yang ditunjukkan oleh warga Rohingya tentang kekejaman yang dilakukan terhadap kaum keluarga mereka tanpa dapat berbuat apa-apa. NGO antarabangsa tidak dialu-alukan di sana. Warga yang berjaya melarikan diri tidak berani pulang semula untuk menyelamatkan keluarga mereka kerana takut dibunuh.
Jika kita sukar atau tidak berpeluang membantu mereka di sana sebagai manusia dan saudara seagama, kini mereka telah pun berjaya melarikan diri. Alangkah ruginya jika kita tidak ambil peluang untuk menghulurkan bakti.
TAWARAN RPWP
Bagi sesiapa yang mempunyai jalan, atau laluan yang legal bagaimana mereka ini boleh kami lindungi, insyaAllah kami di RPWP sudi untuk bersaudara dengan mereka. Tidak sampai hati melihat kesengsaraan mereka selama ini, khasnya golongan kanak-kanak, wanita dan orang tua.
Mereka ini hanya orang yang berusaha melarikan diri dari kekejaman kerajaan yang menindas untuk mencari ruang hidup yang lebih aman. Hijrah mereka adalah perintah Allah apabila tiada keupayaan lagi untuk melawan lalu mereka terus terusan ditindas.
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri ini." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, (QS: 4. An Nisaa' 97 (terus baca sampai ayat 100).
KESIMPULAN
Sebagai sebuah negara Islam yang mendaulatkan agama Islam, adalah menjadi tanggungjawab kita untuk menghulurkan bantuan kemanusiaan kepada mereka atas dasar aqidah yang sama.
Suatu ketika dahulu, Tun Mahathir pernah melaksanakan misi menyelamatkan warga Islam dari bumi Bosnia yang dizalimi dan memerlukan perlindungan. Mungkin kerajaan boleh mengkaji dan merangka sesuatu yang lebih kurang serupa dengan misi itu. Ingatlah, pelarian Vietnam lagikan pernah kita tolong, inikan pula Rohingya, saudara seagama dengan kita.
Di kala negara lain, ada yang menerima dan ada yang menolak. Kita bimbang nasib mereka kembali menjadi mangsa kerakusan manusia yang mahu menjadikan mereka ini sebagai hamba semata-mata. Maklumbalas dari keluarga mereka yang sudah berpindah ke negara ketiga sebenarnya ‘kurang menyenangkan’ hati kami.
Pedih sampai ke hulu hati apabila seorang imam mereka mengatakan “Jangan kirim kami balik ke Myanmar kerana mereka akan bunuh kami. Jika perlu, bunuhlah kami. Kami lebih rela dibunuh oleh tangan saudara Islam kami berbanding mati di tangan kuffar”. Apapun, kita berterima kasih kepada Acheh kerana mengizinkan mereka mendarat untuk bernafas.
Sebenarnya Allah sedang menguji kita yang kononnya kini sedang hidup aman sejahtera, kaya, berkuasa dan berupaya menolong mereka.
Memanglah setiap isu itu ada pro dan kontranya. Dalam hal kemanusiaan dan persaudaraan ini, mari kita cari jalan membantu mereka dahulu. Ketepikanlah dahulu isu kebanjiran warga asing dan sebagainya. Selepas itu baru kita fikirkan apa kaedah terbaik untuk membantu mereka pada jangka panjang. Bukan saling berdebat untuk menunjuk siapa yang lebih handal berhujah lalu membiarkan mereka mati ditelan ombak dan dimamah panas matahari.
InsyaAllah jika kita tolong Allah dengan menghulurkan bantuan kepada hamba Nya, nanti Allah akan tolong kita dan anak cucu kita bila sampai masanya. Sesungguhnya ajal, maut, jodoh dan rezeki ini urusan Allah yang bijaksana dalam mengatur keperluan umatNya. Kita pun hanya menumpang di bumi bertuah ini untuk seketika sahaja.
Hakikatnya inilah UJIAN sebenar kepada umat Islam seluruh dunia. Adakah hanya mahu melihat sahaja tetapi memekakkan telinga, menutup terus pintu hati sebagai manusia, atau masih berbaki sisa-sisa iman yang mahu melihat Islam itu adalah agama kasih sayang, bukan agama yang mengajak kepada persengketaan.
Kami amat rimas dengan keganasan terutamanya berasbabkan konflik agama. Janganlah kita musuhi penganut Budha yang tidak ada kena mengena.
Perhatikan apa yang dinyatakan oleh beberapa Sami dalam video ini. Keganasan yang turut melibatkan golongan Sami itu bukan ajaran agama mereka. Ini termasuk kenyataan mengutuk Islam oleh beberapa sami yang menjadi BATU API.
Janganlah kita amalkan budaya memperbaiki sesuatu kerosakan dengan cara melakukan kerosakan juga. Peperangan adalah agenda dajjal untuk menghancurkan kesejahteraan manusia. Janganlah kita ikut tergoda. Ia tidak sekali-kali akan menyelesaikan masalah melainkan malah menambahnya.
WARGA PRIHATIN
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Pagi, 19 Mei 2015
---------------------------------
KRONIK “PULANG KAMPUNG” (1)
* * *
Buku-Buku Untuk “Universitas Gajah Mada” Yogyakarta, “Wertheim Collection Library”
Buku-buku dari Penerbit “Gala
Read more ... ngpress” dan dari
Jaya Suprana
* * *
Setiap kunjungan ke Indonesia, ketika dilakukan setelah jatuhnya Presiden Suharto, --- selalu memberikan dampak positif. Teristimewa pada semangat dan jiwa warga Republik Indonesia, yang oleh rezim Orba, secara sewenang-wenang telah dicabut paspor dan kewarganegaraannya, tanpa proses hukum apapun. Suatu periode “lawlesness”, ketika hukum dan undang-undang, hak-hak wargnegara diinjak-injak semena-mena. Ketika kekereasan dan senjata menguasai segala. Suatu periode Hitam dan Gelap ketika dimulai berdirinya rezim Orde Baru (1965-66), di bawah Jendrál Suharto.
Dalam suatu percakapan di rumahku beberapa waktu yg lalu, sahabat baru, Philip van Aalst terkait pogram Universsitas Amsterdam yang bertujuan membuat sebuah 'topografi sekitar orang-orang buangan di Amsterdam sejak 1950', bertanya: : --- “Apakah Anda, atau siapa saja dari kalangan orang-orang 'EKSIL' di Belanda atau negri lainnya -- masih bisa menyebut dirinya 'EKSIL' – ketika ia sudah bisa kembali lagi ke negerinya?” --- Sungguh -- Suatu pertanyaan yang tiba-tiba, tapi cerdik dan menarik. Yang keluar dari mulut seorang mahasiswa Belanda.
Begini jawaban yang diberikan: Aku tak pernah menyebut diri sebagai seorang 'Eksil'. “Ya, tapi buku Anda yang pertama judulnya adalah: 'SUARA SEORANG EKSIL' ( Jakarta, 2002)”, sela teman Belanda itu. Nama buku itu, adalah sahabat-sahabatku dari penerbit Jakarta, yang memberikannya– tanpa konsultasi. Judul aslinya yang kuberikan ialah: Reformasi dan Demokratisasi di Indonesia setelah jatuhnya Suharto. Teman Belanda itu senyum geli.
Kami-kami ini, --- bukan orang-orang 'EKSIL', kataku. Pada 'periode gejolak 65' itu kebetulan sedang berada di luar negeri. Banyak yang sedang mengemban tugas pemerintah atau urusan lainnya . Ada yang sedang studi. Ada yang bekerja di luar negeri. Mendadak sontak paspor dan kewarganegaraan kami dicabut fihak militer Indonesia. Militer sudah mulai merebut kekuasaan negara Indonesia pada tahun 1965-66. Penyebabnya paspor dan kewarganegaraan kami dicabut, ialah -- karena kami menolak mengutuk Presiden Sukarno dan tidak mau mendukung rezim militer Jendral Suharto.
Maka, --- kami bukan orang-orang yang di-eksilkan oleh penguasa. Tapi yang tak bisa pulang karena tidak punya paspor dan sudah dibikin jadi 'stateless' oleh fihak militer. Kalau tokh bisa pulang, pasti di persekusi, ditangkap atau dibunuh, dengan alasan, tuduhan serta fitnah ini atau itu. Seperti nasib banyak korban '65 lainnya.
Bagaimana penyelesaiannya, tanya temanku Philip van Aalst?
Pemerintah Indonesia yang sekarang ini, pertama-tama harus minta maaf atas tindakan sewenang-wenang penguasa dulu, mencabut paspor dan kewarganegaraan kami, tanpa proses hukum apapun. Membuat kami, warganegara yang setia pada Republik Indonesia dan Presiden Sukarno, menjadi orang-orang yang 'stateless'. Hal itu juga disarankan oleh peneliti senior LIPI, Prof Dr Asvi Warman Adam. Asvi bahkan mendesak agar pemerintah minta maaf pada keluarga korban '65. Selanjutnya pemerintah wajib MEREHABILITASI HAK KEWARGANEGARAAN DAN NAMA BAIK mereka-mereka yang 'dicabut paspornya itu'. Demikian kunyatakan pada Philip van Aalst. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya!
* * *
Kali ini kunjungan 7 orang dari keluarga kami ke Indonesia (25 April – 15 Mei, 2015), sesungguhnya lebih banyak merupakan 'pulang kampung'. Meskipun asal etnisku adalah Sumatra, tapi aku dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. -- Betawi. Aku 'anak Betawi' yang cinta pada Jakarta. Jakarta adalah kampung halamanku.
Di koper kami tersimpan baik-baik 6 jilid buku mengenai HUKUM ADAT INDONESIA dan “PRIANGAN, De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811”. Buku-buku tsb adalah hasil studi sarjana ilmu sosial Belanda. Tadinya buku-buku milik pribadi perpustakaan Prof Dr W.F. Wertheim (alm), yang dihibahkan oleh keluarga beliau kepada “” Stichting Wertheim Amsterdam”. Masing-masing buku tsb sedikitnya berisi lebih dari 1000 halaman. Buku-buku tsb kami sumbangkan pada “Collection Wertheim Library” di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bersama sahabatku Sutriyanto dari Jakarta, kami bawa sendiri buku-buku yang umurnya lebih dari 100 tahun itu. Selain itu ada beberapa jilid buku lainnya terbitan Indonesia mengenai masalah Indonesia yang disumbangkan pada Wertheim Collection Library.
Sebelumnya, kami dari – Stichting Wertheim – sudah menyumbangkan buku-buku terbitan Indonesia lainnya, seperti a.l buku “BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”, Edisi Revisi; dan beberapa buah buku lainnya. Dengan demikian Stichting Werteim Amsterdam secara reguler menghibahkan buku-buku untuk “Wertheim Collection Library”, UGM, Yogyakarta.
* * *
Pada kesempatan berkunjung ke kantor Redaksi Penerbit “Galangpress”, Yogyakarta, cakap-cakap dengan kawan baru redaktur Peter dan kawan lama, Romo Baskoro, aku beruntung dioleh-olehi beberapa jilid buku berharga dan bermutu sekitar masalah Papua dll.
“Galangpress” adalah penerbit buku bermutu yang menerbitkan a.l buku Prof Dr Baskara Werdaya – “Luka Bangsa, Luka Kita”; dan buku berjudul “SUKARNO-HATTA BUKAN PROKLAMATOR PAKSAAN” , oleh penyunting Peter Kasenda.
* * *
Ketika berkunjung ke “MURIA”, Musium Rekor Indonesia yang dikelola oleh komponis/ pianis, budayawan terkenal Jaya Suprana, dan mendengarkan uraian menarik sekitar “Muria” dan “Jaya Suprana School of Performing Arts”- lagi-lagi aku beruntung dibekali buku-buku buah pena Jaya Suprana dan 7 set CD musik ciptaan dan yang dimainkannya di piano..
Masih ada dua buah buku lagi yang kubawa dari Jakarta. Yaitu buku-buku bermutu oleh-oleh dan kenangan dari penulis generasi baru LEILA S. CHUDORI. Berjudul “PULANG” dan bukunya terbaru “NADIRA”.
* * *
Buku-buku bermutu, -- adalah salah satu sumber penting pengetahuan, ilmu dan kebijakan umat manusia -- yang tak ternilai!
Menyaksikan sendiri begitu banyaknya buku-buku baru yang terbit di negeri kita, hasil karya penulis-penulis dan peneliti Indonesia sendiri, dan penulis asing – serta ramainya pembeli – terutama dari kaum muda -- merupakan kepuasan. kebanggaan dan kebahagiaan, sebagai orang Indonesia yang “PULANG KAMPUNG”.
Apalagi sesudah memilikinya dan akan membacanya sendiri!
* * *
130 months ago

Yanuarius Badii Commander of the TPN-OPM Paniai, Leonardus Magai Yogi Shot Dead in Nabire
.Nabire, STEP MAGAZINE - Commander-National Liberation Army of Free Papua Movement (OPM) Division II Pemka IV Defenders Paniai Regional Justice, Magai Yogi Leonardus died on t
Read more ... he way to the General Hospital (Hospital) Nabire after the clash with Team Task Force Papua Police and Special Police Team in Kampung Sanoba Top Nabire Nabire District, Thursday (04/30/2015), At 10:40 local time.
Two others Yulian Nawipa and Marchel Muyapa (driver) shot during the clash. Meanwhile, the two others said to have escaped.
Information compiled majalahselangkah.com, Marchel Muyapa is majoring driver inland airport group Leonardus Magai Yogi.
"He was my younger brother, he's just the driver alone. Whoever he is serving as her driver inland," said one of the family this morning.
This morning, the Task Force and Timsus Nabire Police are still on guard fully armed in Nabire Hospital. Family of Yulian Nawipa and Marchel Muyapa not allowed to visit.
"I'll visit at 11:00 am CEST yes. All waiting outside," said police were on guard in the treatment room of men.
Information received from the local police, the group Leonardus Magai Yogi using taxi cars toyota innova DS 7372 K. Police Task Force and Timsus Nabire stop the car and the group Leonardus issued senpi types FN and resistance, so that the Task Force and Timsus Nabire paralyze them. (GE / HI / MS)
SOURCE :http://majalahselangkah.com/content/-panglima-tpn-opm-paniai-leonardus-magai-yogi-tewas-ditembak-di-nabire
131 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 21 April 2015
-------------------------------------
"MINI-SEMINAR" --- KASUS SEJARAH TERPENTING INDONESIA
* * *
Sepertinya, --- seakan-akan, . .. kejadian itu, sebagai sesuatu yang 'kebetulan' saja!
Pe
Read more ... nulis muda Leila S Chudori menempakan posting di FB. Tentang kesan dan komentarnya setelah melihat sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005).Aktivis dan pemeduli HAM Indonesia umumnya sudah melihat Film "40th Kesunyian". < Untuk kata 'silence' --- terjemahan yang lebih cocok, mungkin: 'keheningan' , atau 'kebisuan'>.
"40 Years of Silence", -- adalah sebuah dokumenter sekitar Peristiwa Pembantaian Masal 1965/66/67. Situs www.40yearsofsilence.com/2008, a.l menulis sbb :
SEBUAH TRAGEDI INDONESIA:
Adalah kisah empat keluarga Indonesia yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Keluarga Budi di Jogjakarta, Degung dan Kereta di Bali.
Diperkirakan 500 ribu sampai 1 juta orang dibunuh pada Oktober 1965 sampai April 1966. Salah satu kejahatan terhadap kemanusiaan yang belum terungkap di Indoensia.
Alex, ayah Lanny adalah tokoh Baperki. Penangkapan dan kematian Alex telah mengubah kehidupan Lanny sekeluarga.
Budi mengalamai trauma dendam akan apa yang dialami Kris, kakaknya yang mengalami cap sebagai anak PKI. Budi seperti hidup di dua dunia: hitam dan putih, dendam dan bersabar.
Orang tua Degung menjadi korban saat Degung berumur lima tahun. Degung masuk dalam dunia intelektual dan kebudayaan.
Kereta menyakiskan berbagai pembunuhan terhadap orangtua dan keluarganya. Saat ini Kereta hidup dengan roh-roh yang merasuki dirinya. Rob Lawson menekankan diagnosa Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) terhadap empat keluarga itu.
Tiga sejarawan, Baskara T Wardaya, John Rossa dan Geoffrey Robison, menerangkan temuan penelitian mereka bahwa pembunuhan massal itu diorganisasikan, berkait erat dengan politik nasional dan internasional masa perang dingin.
* * *
Lalu, --- Leila S. Chudori memberikan komentar dan kesannya a.l sbb: (19 April) 2015
“Semalam saya menyaksikan sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005), seorang antropolog AS tentang tapol dan keluarganya dengan akibat fisik dan mentalnya.
Sebelumnya saya menyaksikan dokumenter ini sepotong-sepotong melalui trailer saja dan tempo hari Lemelson mengirimkan jauh-jauh dari AS.Sebelum ada nama Joshua Oppenheimer, dokumenter ini saya rasa lengkap (dengan cara dokumenter 'konvensional) mengikuti 4 narasumber di Jawa dan Bali serta komentar beberapa pengamat seperti Baskara Wardaya dan John Roosa.
Meski sudah bertahun-tahun saya melakukan riset soal 1965, tetap saja cerita para saksi masih mengejutkan dan menggedor hati. Salah satu anak yang diikuti dengan sabar oleh sutradara, sejak dia masih remaja hingga agak dewasa berkisah bagaimana dia menyaksikan sendiri kakaknya dianiaya di depan dia.
Anak ini tumbuh jadi anak pemarah dan sering berkelahi. Yang agak membuat dia sekarang lebih tenang dan tidak murka seperti masa kanak-kanaknya adalah karena dia kini ikut latihan bela diri dan meditasi.
"Dulu rasanya saya ingin membunuh para penyiksa kakak saya," katanya.
Tapi kini kemarahan itu dia salurkan pada olahraga. Saya jadi ingat itu sosok yang saya bayangkan tentang Segara Alam dalam Pulang, hasil wawancara dengan beberapa kawan, putera tahanan di Salemba dan Nusakambangan serta Pulau Buru. Kawan-kawan, 50 Tahun sudah peristiwa itu.
Saya hormat kepada rekan-rekan IPT (International People's Tribunal) yang setia bergerak mencari keadilan.
* * *
Dari komentar Leila inilah dimulai “MINI SEMINAR” .. yang temanya berkembang menjadi hakikat yang sesungguhnya, dari massalahnya, yaitu KASUS PERISTIWA SEJARAH PEMBANTAIAN MASAL 1965/66/67. Dan keterlibatan para aktivis dan pemeduli mancanegara mengenai kasus tsb. Kemudian diseminarkan pada tgl 10 April 2015, di Den Haag, Belanda. Dalam suatu wadah kegiatan pro -korban pelanggaran HAM terbesar di Indnesia. Lembaga itu bernama “THE INTERNATIONAL PEOPLE'S TRIBUNAL 1965 (IPT-65)”. Badan kegiatan HAM ini berkedudukan di Den Haag. Dipandu oleh seorang sarjana Belanda, Prof Dr Saskia Swieringga dan Koordinator, seorang advokat Indonesia, Nursyahbani Kacasungkana.
* * *
Berbagai pendapat dan komentar diajukan di MINI-Seminar di FB. Sungguh penting dan menarik. Ini adalah diskusi, yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mau bergabung di Facebook.
Baik disoroti salah satu komentar – pendapat seorang partisipan yang diajukan a.l sbb:
“. . . . . saya khawatir fakta-fakta penting tentang peristiwa 30 Sep. 1965 itu tidak akan pernah terungkap sepenuhnya selama para pelaku atau keluarga dekat mereka masih berkuasa dan pasal-pasal tentang limitasi rahasia negara di dalam UU Keterbukaan Informasi Publik tidak segera direvisi. (Abdullah Alamudi).
Lalu ditanggapi oleh Leila S. Chudori a.l sbb:
“Sepenuhnya memang tidak mungkin . . . Di negara Barat yang sering sekali mengulik sejarah mereka saja tak pernah bisa sepenuhnya mengangkat 'the truth'. Tapi sekedar pengakuan dar pemerintah bahwa massacre itu terjadi, menurut saya penting, pasti ada caranya untuk mengatasi keterbatasan itu.
Leila melanjutkan: . . . . . “iya, tentu saya tidak mimpi semua pemimpin bisa membuat statement seperti Gus Dur. Semua kenyataan pak Alamudi itu betul sekali terutama soal Megawati dan SBY. Saya belajar banyak hal dan salah satunya: bersiap untuk kecewa. Tapi ya kalau kita duduk-duduk saja, saya tidak merasa tepat. Dalam film itu salah satu pengamat (kalau tak salah Baskara Wardaya) menyampaikan satu hal menarik: kalau kita diam tenang-tenang saja puluhan tahun, peristiwa berdarah ini terus terusan berulang dan nyawa orang sedemikian tidak dihargai.
* * *
Ada satu lagi yang perlu disoroti , yaitu pendapat sbb:
“ . . . . saya kira (re)solusi thd 1965 & dampaknya berat dan tidaklah mungkin tanpa gerakan politik dari masyarakat. Mendem jero, seperti dimaksud Lies M, benar itu dilakukan Orde Baru, bukan solusi, malah merupakan hipokrisi.
“Pengakuan pemerintah atau pengakuan oleh presiden seperti dilakukan Gus Dur, hanya Gus Dur yg (berani dan mampu) melakukannya.
“Tribunal Rakyat pun hanya satu jalan utk mendorong lahirnya momentum. IPT tidak mungkin menyelesaikan tanpa gerakan politik. Di Spanyol, gerakan masyarakat itu dimulai oleh kelompok cendekia dan seniman, diperkuat oleh guru2 sejarah, terutama setelah Franco mati (1975).
“Saya kira, betapa pun terbatas, upaya Spanyol resolving dampak Perang Saudara 1930an lumayan. Apalagi mengingat gerakan ini, selang 70 tahun (!) kemudian, berhasil menggolkan UU Historical Memory (2004) yg meruntuhkan peninggalan politik & senirupanya fasisme Franco dan mendorong rekonsiliasi eksil Spanyol mudik ke tanahairnya.
“Point saya: mendem jero, pengakuan, islah (menurut sebagian elite kini), juga IPT,semua itu mustahil menyelesaikan masalah warisan politik dan ideologis utk mengobati luka2 besar 1965.
“Mustahil bila tanpa gerakan politik dan budaya dari tengah masyarkat. (Aboeprijadi Santoso)
* * *
Seorang hadirin yang datang ke Seminar “IPT – 1965”, di Den Haag 10 April, 2015 y.l – mempertanyakan langsung padaku, apakah kegiatan pro-HAM Indonesia yg diadakan di luarnegeri seperti ini, akan punya dampak di Indonesia?
Aku tunjukkan, bahwa setiap kegiatan pro-HAM di luarnegeri, -- demi diberlakukannya HAM di Indonesia, --- pasti punya pengaruh dan efek tertentu, --- seperti banyak fakta membuktikan hal tsb.
Kegiatan-kegiatan di luar Indonesia merupakan manifestasi kepedulian dan solidaritas internasional pada rakyat Indonesia yang memperjuangkan diberlakukannya HAM di Indonesia. Sejak dulu , – -- kehidupan masyarakat negeri manapun di dunia ini, pertumbuhan dan perkembangnnya – tidak terpisah dan TIDAK BISA DIPISAHKAN, dari kehidupan masyarakat bangsa-bangsa dan negeri-negeri di dunia pada keseluruhannya.
Bagaimanapun penguasa dan kekuatan politik parpol dsb dari sementara negeri berusaha memisahkan dan membendung kehidupan masyarakat Indonesia dari kehidupan masyarakat dunia, --- usaha tsb pasti akan menemukan kegagalan.
Dengan sendirinya kekuatan dan gerakan politik dalam negeri merupakan faktor yang menentukan apakah penguasa akan memenuhi tuntutan keadilan yang diajukan di dalam maupun di luar negeri. Saling hubngannya dan adanya faktor pengaruh luarnegri – selalu merupakan 'pelengkap' untuk adanya suatu perubahan medasar dari suatu negeri.
* * *
Sementara itu, ---- “MINI – SEMINAR”, Mini-Seminar -- yang berlangsung di media mancanegara sekitar Hak-Hak Azasi Manuisa dan Demokrasi, sekitar tuntutan keadilan bagi para korban Peristiwa Persekusi dan Pembantaian Masal 1965-66-67 di Indonesia akan berlangsung terus! Terus dan terus, sampai cita-cita dan tujuannya tercapai.
* * *
131 months ago
Heru Cahyono https://www.facebook.com/720989934649096/photos/a.721163457965077.1073741828.720989934649096/806031849478237/?type=1&theater
Metro TiVu
:v JANGAN BERIKAN LEHER KALIAN GRATIS PADA PKI....
Setelah menumpas G30S di Jakarta, Pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) bergerak ke Jawa Tengah. Salah satu kota sasaran RPKAD adalah Solo yang saat itu menjadi salah satu basis PKI.
Read more ...
RPKAD mulai memasuki Solo sekitar akhir Oktober 1965. Kedatangan komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan pasukannya disambut aksi mogok kerja Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Stasiun Solo Balapan.
Mereka hanya duduk-duduk di pinggir rel. Kereta dari Yogyakarta, Semarang, Madiun dan tujuan lain tertahan di Solo.
Kolonel Sarwo pun berdialog dengan para buruh tersebut. Wartawan Senior Hendro Subroto melukiskan peristiwa itu dalam buku 'Perjalanan Seorang Wartawan Perang' yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan.
Sarwo yang berkaca mata hitam berteriak. "Siapa yang mau mogok, berkumpul di sebelah kiri saya."
Hening. Tak ada yang bergerak. Sarwo berteriak lagi. "Siapa yang tidak mau mogok supaya berkumpul di sebelah kanan saya. Saya beri waktu lima menit!"
Ternyata semua pekerja itu berkumpul di sebelah kanan Sarwo. Tak ada satu pun yang berdiri di kiri. "Lho ternyata tidak ada yang mau mogok. Kalau begitu jalankan kereta api," kata Sarwo.
Para pekerja itu bergerak ke pos masing-masing. Mogok kerja berakhir, kereta pun berjalan kembali.
Di Jawa Tengah, pasukan ini juga kerap melakukan show of force. Mereka konvoi keliling kota dengan panser dan puluhan truk pasukan RPKAD. Para prajurit melambai-lambaikan tangan dengan ramah pada masyarakat yang semula takut. Strategi itu berhasil, rakyat menyambut sementara para pendukung G30S mulai ciut.
Sekain konvoi, Sarwo juga berorasi di rapat umum yang dihadiri ribuan massa. Sarwo mencoba menggerakan rakyat agar berani melawan PKI.
http://www.merdeka.com/peristiwa/sarwo-edhie-jangan-berikan-leher-kalian-gratis-pada-pki.html
"Siapa yang bersedia dipotong lehernya dibayar seribu rupiah?" teriak Sarwo. Massa terdiam.
"Sepuluh ribu rupiah?" Massa masih diam.
"Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta?" lanjut Sarwo pada massa yang terdiam.
"Jika dibayar Rp 10 juta saja kalian tidak mau dipotong lehernya, jangan berikan leher kalian secara gratis pada PKI. Kalian lawan PKI. Jika kalian takut, ABRI berada di belakang kalian. Jika kalian merasa tidak mampu, ABRI bersedia melatih," kata Sarwo disambut sorak sorai massa.
Ucapan Sarwo Edhie benar-benar dilakukan. RPKAD melatih pemuda-pemuda maupun aktivis ormas antikomunis. Rakyat ikut bangkit melawan PKI.
Merekalah yang kelak menjadi jagal bagi para anggota PKI, atau simpatisan, atau orang yang dituding sebagai PKI. Sejarah kemudian mencatat pembantaian massal terjadi di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Sarwo Edhie mencatat korban tewas tak kurang dari 3 juta orang.
:v JENDRAL YANI : ASAH PISAU KOMANDO MU...!!!
http://www.merdeka.com/peristiwa/jenderal-yani-rpkad-asah-pisau-komandomu.html
:v KISAH KONVOI RPKAD DI HADANG PANTAT GERWANI...
http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-konvoi-rpkad-dihadang-pantat-gerwani.html
:v HEBOH, DOKUMEN RENCANA PEMBERONTAKAN PKI DITEMUKAN...
http://www.beritalangitan.com/index.php/berita/item/328-heboh-dokumen-rencana-pemberontakan-pki-ditemukan
132 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Sore , 17 Maret 2015
-----------------------------------
Tidak Mustahil: Aksi CORAT-CORÉT “PALU ARIT” Di MAGETAN , Adalah "BIKINAN SENDIRI"
* * *
Hari ini tersiar berita berjudul : FENOMENA PALU ARIT:
Grafit
Read more ... i Simbol Palu Arit, TNI Magetan Kalang Kabut
* * *
Selanjutnya: SURYAMALANG.COM, MAGETAN – “. . .TNI Magetan dibuat geger dengan munculnya graffiti atau coretan dinding mirip simbol palu arit di sejumlah infrastruktur dan fasilitas umum di Magetan. . . . . Simbol ini dinilai telah terlarang. Tidak boleh satu pun warga menggambar simbol palu arit ini di fasilitas umum. Namun di kota Kabuptern Mgetan tiba-tiba muncul symbol terlarang itu. . . .
“TNI pun terusik dan merspons kuat coretan di sejumlah fasilitas umum itu. “Simbol tersebut dinilai membangkitkan trauma masyarakat. Setiap melintas di pusat kota kabupaten itu, TNI terusik dan makin tak nyaman.
“Tim intelijen TNI itu menyisir lokasi. . . . .
“Intelijen juga masih belum memahami tulisan BBK pada graffiti di Magetan tersebut. Kemudian ditemukan kepanjangannya bahwa BBK adalah kepanjangan dari Barikade Baru Komunis.
“Dari temuan itu, tim intelijen gabungan ini menyisir daerah daerah yang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda. Belum ada konfirmasi dari pihak TNI Magetan. (Doni Prasetyo). Demikian a.l diberitakan oleh SURYAMALANG.,COM.
* * *
Dalam sejarah politik mancanaegara tercatat, bahwa, kaum fasis Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler, pada 27 Februri 1933, merekayasa pembakaran gedung Reichstag (Parlemen Jerman). Berikutnya menuding kaum Komunis yang melakukan pembakaran. Seorang tokoh pimpinan Komunis, G. Dimitrov, diseret ke pengadilan. 4.000 Komunis Jerman dijebloskan dalam penjara. Pengadilan Leipzig kemudin “mengadili” Dimitrov.
* * *
Di Indonesia, Kabinet PM Dr Sukiman (Masyumi), merekayasa “suatu serangan PKI Malam di Tjilincing.” Sebagai dalih dan awal melegitimasi “Razia Agustus 1951”. Dimana kaum Komunis dan sementara kader PSI dan Partai Murba dijebloskan dalam penjara.
Apa yang dilakukan oleh Adolf Hitler di Jerman dan Dr Sukiman di Indonesia, adalah cara provokasi klasik merekayasa suatu peristiwa, seperti dibakarnya gedung Reichstag, di Indonesia merekayasa suatu 'serangan bersenjata” terhadap pemerintah, kemudian menuduh 'PKI Malam' yang bertanggungjawab. Ini sebuah varian dari taktik “maling-teriak-maling”.
Jendral Suharto dan klik militernya juga mentrapkan taktik “maling-teriak maling”. Merekayasa, menyebar kebohongan dan fitnah sekitar, 'perbuatan mesum perempuan Gerwani/PKI' di Lubang Buaya. Yang melakukan “orgi” kemudian dengan kejam dan biadab menyiksa para jendral sebelum mereka itu dibunuh. Jendral Suharto, mengawali genosidanya terhadap warga Indonesia tak bersalah yang PKI atau dituduh PKI, dengan suatu kampanye besar-besaran sekitar kebiadaban perempuan-perempuan Gerwani.
Ternyata kemudian semua itu adalah fitnah dan bohong besar belaka, diakukan dalam rangka mencari 'legitimasi' pembunuhan masal yang dilakukannya.
* * *
Kali ini apa yang terjadi di Magetan -- suatu aksi corat-coret 'mirip Palu-Arit', itu, bukan mustahil, dilakukan oleh 'mereka-mereka sendiri'. Penglaman menunjukkan tidak sekali-dua, taktik “maling-teriak maling” digunakan oleh penguasa. Pembantaian 1965 dimulai oleh fihak militer dengan mentrapkan 'cara Hitler' itu.
Persis terjadi apa yang sudah bisa diduga. . . Mereka dengan riuh-rendah menabuh genderang, sambil berteriak-teriak 'Awas Bahaya Laten PKI'.
* * *
BUKANKAH BELAKANGAN INI 'MEREKA' KEPÉPÉT? KARENA ADA SATU KESATUAN TNI YANG MEMUTAR FILM DOKUMENTER "SENYAP" . Disusul oleh kegagalan fihak tertentu universitas Yogyakarta, yang berrencana melarang pemutaran film dokumenter SENYA di kampus universitas Yogyakarta. * * *
133 months ago

Galunggung Tasikmalaya Ask Andrew Lunt Observer International UN UN troops Protect Journalists In Battlefields.
"Perhaps fellow journalists in Antero, such as start and participation for letting half, a friend who was taken hostage in the hands of terrorists Isis, two Japa
Read more ... nese reporters, meaning that both friends of Japanese journalists that they were imprisoned by the terrorist isis, already where pembelaaan journalists throughout her to speak up for their mebebaskan, and the only sound that of a Japanese journalist friend had been massacred by terrorists ISIS, are you not touched to hear that fellow journalists from Japan that has been slaughtered by way beheaded.? ". Hearing all that how you feel with journalists across all,? and what should be made to be able to defend.? so far may not maximized even fellow journalists is like looking sepeleh on events that, if want to explore how much the journalists who had been taken hostage, terrorist isis seems almost every country they've kidnapped journalist and killed, there were journalists from America, Britain, Francis German , maybe that is not only a Russian journalist, journalists Indonesia and India, or maybe he will slaughter all the journalists there.?. Thus uangkap Andrew Lunt observers International Online when contacted this afternoon. Andrew also added if the terrorists will continue to occur isis cutting head reporter guess how.?, Therefore before all wartwana that the cover should be a terrorist target Isis, all journalists have the courage to make searching as hard as possible for the data to see where the nest -sarang Terrorist isis , and immediately report it, and after that all journalists should have the courage to make can simultaneously realize isis, in a way that can serve -tulisan writing makes them tremble and could return to the streets, the true should the death of journalists is Japan that have been cut or killed Isis, by journalists is antero diportes and if necessary all journalists no longer need to be positioned on the danger, is there among isis or journalists should be able to avoid making friends with terrorists isis it, feared he would look for more victims tabahan particularly like reporters, meaning if you are careless or forget you will be captured by isis and kidnapped after that you will also dibunuh.Harapan I see events that are always repeated again with journalists always get targeted isis, should all journalists is antero feasible if the fight against terrorism must hold isis.Cetusnya, he also UN UN troops hope to be able to protect the journalists is served on the battlefield can be in 111lindungi.katanya.99
134 months ago
More Sehun EXO Tewas Dibunuh posts »