Tolak Jokowi
Kultus dan Pemberhalaan
Para penyembah berhala selalu memiiki dalih yang sama. Mengapa mereka menuhankan sesuatu yang tidak patut dipertuhankan? Menjatuhkan diri pada belenggu. Mereka berujar, "Wajadna min abaina, kami temukan semua ini dari nenek Read more ... moyang kami." Sebuah jawaban khas kaum Paganist yang dungu dan berkepala batu.
Berhala adalah simbol segala ketergantungan dan pembelengguan hidup manusia pada sesuatu yang tak semestinya mengerangkeng dirinya. Penyekutu Tuhan itu melakukan penuhanan pada berbagai illah selain Allah. Patung yang dibuat sendiri pun disembah, semisal rezim yang dikeramatkan pendukungnya dengan segala puja-puji. Sungguh betapa sesat jalan anak cucu Adam yang terjangkiti virus pemberhalaan.
Berhala itu dikultuskan dan berwajah dasa muka. Kekuasaan, harta, hawa nafsu, isme, dan segala permata dunia yang dicintai melebihi takaran dapat menjelma menjadi berhala-berhala baru. Sejarah daur ulang paganisme seolah niscaya. Pengultusan pun diproduksi menjadi budaya baru yang dimasifkan dan menciptakan atmosfer kolektif sarat pesona simbolis yang memerkosa fitrah kesejatian hidup.
Peluruhan kemanusiaan
Kultus dan pemberhalaan itu membenamkan manusia pada sikap membudakkan diri. Keduanya melumpuhkan akal sehat. Nalar cerdas menjadi mati suri. Daya kritik pun dianggap negative thinking. Ketika terjadi rentetan kesalahan di ruang publik, terjadi pembenaran dan pembiaran yang sesungguhnya sama dengan menanam benih kehancuran bangsa.
Insan berilmu dan figur-figur kritis pun ikut berbelok arah jalan. Para begawan kehilangan kebegawanannya karena turun gunung ke lembah politik partisan. Mereka jadi pembebek yang alim karena harus menopang rezim. Akal sehat sekadar jadi wacana utopis dan komoditas akademik. Sebagian terjangkiti penyakit rabun ayam dalam mencandra kebenaran dan ketakbenaran. Ilmunya kehilangan hikmah hingga tak lagi memercikkan sinar pencerahan.
Kebenaran dibuat serba abu- abu, kalah pamor oleh tampilan luar. Nalar publik disilaukan oleh beragam perilaku teatrikal yang indah dipandang sesaat, tetapi sesungguhnya laksana buih. Ibarat warna serbaputih untuk mengesankan pesona bersih dan jernih meski di dalamnya kusam. Panorama masif seperti ini lama-kelamaan akan melahirkan budaya instan yang mematikan proses, kerja keras, dan kebenaran substansi.
Kultus dan pemberhalaan yang melemahkan potensi kemanusiaan sejati itu biasanya tumbuh kembang sering bukan karena sistem tirani belaka, tetapi oleh minda atau sistem kognisi yang dikonstruksi salah kaprah. Antonio Gramsci menyebutnya sebagai ideologi Hegemony. Mereka yang terkena penyakit pembudakan diri bukan karena dipaksa rezim, melainkan karena menikmatinya.
Nikmat ditindas, ditelikung, dibodohi, dimanipulasi, dan dihegemoni oleh sistem dan budaya yang mampu menciptakan kenyamanan semu.
Fir'aun dengan takabur mengklaim diri sebagai Tuhan. Karena kedigdayaan yang dibangun secara hegemoni, banyak rakyat menjadi lemah dan membudakkan diri. Sikap rakyat yang takut, lemah, membebek, dan menaruh kepentingan-kepentingan sesaat sering menggiring mereka pada pemberhalaan dan pengultusan terhadap para penguasa. Akibatnya, para penguasa itu menjadi sewenang-wenang karena dimanjakan oleh elite dan rakyatnya.
Kultus dan pemberhalaan dalam bentuk apa pun sesungguhnya musuh utama kaum beriman yang bertauhid. Manusia yang dianugerahi fitrah bertuhan dan akal murni pun dibuat tak berdaya. Jika nikmat Tuhan yang sangat berharga itu tidak digunakan dengan baik dan lumpuh karena manusia terjebak pada penuhanan dan pembudakan sesuatu, manusia menjadi kehilangan kemanusiaan nya yang sejati. Kalbu, pendengaran, penglihatan, dan akal sehat insan beriman mati dan akhirnya terjerembap pada perangai hewani (QS al-'Araf [7]: 179).
Peran kaum berilmu
Kaum beriman dan bertauhid wajib menggunakan akal yang fitri agar tidak terjebak pada praktik pemberhalaan dan pengultusan yang membelenggu kehidupan. Allah memerintahkan insan beriman agar tafakur, ta'aqul, ta'abbur, tazakkur, dan tadabur. Pelakunya disebut uli-nuha, ulil- abshar, ulil-albab, al-alim, ulama, dan yang semakna dengannya. Tuhan meninggikan derajat kaum berilmu bersama orang beriman yang menggunakan akal dan kalbunya dengan segala kegiatan berpikir atas segala kekuasaan dan hasil ciptaan-Nya.
Rasulullah bersabda, "Berpikir sesaat lebih baik dari ibadah setahun." Pada hadis lain, Nabi bersabda, "Tiga waktu bagi orang berakal. Pertama, untuk bermunajat kepada Tuhannya. Kedua, untuk menghisab dirinya. Ketiga, untuk memikirkan ciptaan Allah SWT." Rasulullah bersabda, "Seseorang tidak akan memperoleh sesuatu yang sebaik akal. Akal membimbing pemiliknya kepada petunjuk dan menghindarkannya dari kesesatan." (Muttafaq`alaih).
Ketaknalaran dan hilangnya akal kritis disamakan dengan kebutaan. Allah SWT berfirman, "Perbandingan antara dua golongan (orang kafir dan orang beriman) seperti keadaan orang yang buta dan pekak dengan orang yang melihat dan mendengar, adakah sama kedua-duanya? Adakah kamu tidak mengambil pengajaran?"(QS Hud [11]: 24).
Tuhan menisbahkan orang yang tak menggunakan akalnya sebagai hewan melata di muka bumi untuk menunjukkan betapa rendahnya manusia jika mati akal sehatnya atas kebenaran.
Kaum berilmu lagi beriman yang hadir di muka bumi untuk membebaskan umat manusia dari segala bentuk pemberhalaan dan pengultusan yang merusak tauhid, mereka disebut para pewaris Nabi karena membawa obor pencerahan. Mereka bermisi membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat manusia dari segala bentuk pembelengguan, penindasan menuju kehidupan yang bercahaya lahir dan batin. Karena itu, siapa pun yang berilmu hendaklah dalam dirinya melekat jiwa pencerahan yang bebas dari segala belenggu dunia demi kebenaran dan kebaikan.
Betapa berat, tetapi mulia tugas ulama, intelektual, intelegensia, dan kaum berilmu dalam kehidupan di muka bumi ini. Lebih-lebih ketika orang-orang berilmu itu menjadi pemimpin dan begawan bangsa. Mereka dengan ilmunya harus menyinari alam pikiran rakyat dan para elitenya. Mereka harus menjadi penyebar nilai-nilai kebenaran meski harus berhadapan dengan penguasa yang didukungnya. Apalagi, jika penguasa itu bertindak zalim dan bertentangan dengan kebenaran. Para pemilik ilmu itu bahkan harus berani meluruskan kesalahan rakyatnya dengan risiko dijauhi dan dimusuhi.
Sungguh akan menjadi ben cana manakala kaum berilmu justru bertaklid buta dan hanya menjadi stempel pembenar para penguasa ataupun rakyatnya. Jika hal itu terjadi, selain meluruhkan keberadaan dirinya selaku pembawa obor pencerahan, akibatnya pun sangat fatal. Para penguasa akan semakin sewenang-wenang, rakyatnya pun akan kehilangan arah kehidupan.
Mungkinkah kaum berilmu salah jalan? Banyak bukti menunjukkan kaum berilmu menempuh jalan bengkok yang oleh Imam al-Ghazali disebut ulama asy-syuu alias ulama buruk. Meminjam nalar Julien Benda, ketika insan berilmu bersekutu dengan penguasa yang salah jalan, itulah ben tuk pelacuran kaum intelektual.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/15/01/25/nipx0p-kultus-dan-pemberhalaan