Sekadar kontrak wisnu posts

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Malam , 24 Juni 2015
----------------------------------
KRONIK “PULANG KAMPUNG” – (3)
* * *
----- Romo BASKARA WARDAYA Memperkenalkan Buku Greg POULGRAIN Yang Menarik:
------ “The Incubus Of Interventio
Read more ... n”: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles”.
* * *
Corat-coret – “Kronik Pulang Kampung” 1, dan 2 – yang diteruskan ke bagian ke-3 ini, memang sekadar corat-coret. Tetapi bagi penulis merupakan kesan mendalam dari kunjungannya ke Indonesia.
Salah satu acara bila berkunjung ke Indonesia, adalah menemui sahabat lama dan baru. Serta menjalin perkenalan dan persahabatan dengan sahabat baru lagi – khususnya mereka-mereka yang tergolong generasi muda Indonesia.
* * *
Meskipun aku pemegang paspor Belanda, dan berdomisili disitu selama puluhan tahun – namun bila berkunjung kembali ke Indonesia, perasaan dan fikiran selalu seperti “PULANG KAMPUNG”. Sering teringat kembali pertanyaan yang pernah diajukan seorang sahabat, mahasiswa Belanda, Philip van Aalst. Ia tanya, bagaimana identitas kalian yang sudah begitu lama terpisah dari tanah air? Dan berkewarganegaraan asing pula. Kujawab tegas: Rasanya seperti orang yang sedang bercintaan. Semakin jauh terpisah secara fisik, . . . semakin rindu dan semakin dekat di hati, – – – CINTA MENJADI SEMAKIN DALAM.
* * *
Mengesankan adalah pertemuan kembali dengan Prof. Dr. Baskara Wardaya dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, penulis a.l buku “Luka Kita adalah Luka Bangsa”. Kami berjabat tangan hangat dan berpelukan. Persis seperti dua orang kawan kental, yang sudah lama berpisah dan bertemu lagi. Kenyataannya, -- kami sebenarnya baru beberapa tahun ini saja berkenalan. Tiga tahun yang lalu masih bertemu beliau bersama mahasiswa-mahasiswinya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Aku bilang kepada Romo Baskoro: Kita belum begitu lama berkenalan, tapi rasanya, --- bila bertemu Anda, kok, seperti berjumpa dengan sahabat-lama. Ya, saya juga merasa begitu -- Jawab Baskoro. Sebabnya ialah, karena kita punya fikiran dan ideal yang sama mengenai nasib tanah air dan bangsa ini. Ya, -- saya kira itulah penjelasannya.
Dua orang sahabat lagi dari pimpinan “Gelanggang Press”, sebuah badan penerbit Yogyakarta, yang terkenal di Indonesia – datang bergabung dan membikin percakapan kami lebih meriah dan hangat dengan masalah Papua sebagai fokus pembicaraan.Dan situsi tanah air umumnya.
* * *
Keesokan harinya, dengan diantar sahabatku Sutriyanto, kami berkunjung ke kantor “Galang Press”. Tak lama kemudian tiba Prof Dr Baskoro. Meskipun ia harus segera berangkat ke Solo dengan beberapa sahabat dari kelompok penggiat HAM, untuk beraudiensi dengan Walikota Solo – Baskoro memerlukan datang. -- Rupanya ia hendak menyampaikan sesuatu yang dirasanya penting untuk kita ketahui.
Yaitu -- Sekitar buku yang belum lama terbit, oleh Graig Poulgrain, berjudul “The Incubus Of Intervention”: Conflicting Indonesia Strtegies of John F. Kennedy and Allen Dulles”. Bahasa Indonesianya, kira-kira begini:
Pagi itu kami membicarakan sekitar masalah Papua. Dari berbagi segi dan sudut pandangan. Tercatat “Gelanggng Press”, adalah penerbit yang termasuk banyak menerbitkan buku-buku sekitar masalah Papua.
Romo Baskoro minta perhatian kami mengenai buku baru oleh penulis Graig Pulgrain. Pulgrain mengajukan masalah Papua dari segi pandangan lain.
Romo Baskoro: -- Buku Pulgrain menganalisis a.l. Masalah Papua yang tidak terlepas dari dampak kuat 'Perang Dingin” yang sedang bergolak ketika itu. Saling hubungannya dan dampaknya terhadap Indonesia.
“The Incubus of Intervention”. . . . . Merupakan gambaran yang rumit terhadap apa yang terjadi di masa lampau. Dari judulnya saja sudah tampak ketika penulis menggunakan kata 'incubus', suatu 'mimpi buruk' atau 'setan gendruwo'. Hakikatnya buku tsb adalah penamaan yang pas sekitar intervensi Amerika Serikat terhadap negeri yang ketika itu masih disebut sebagai “Hindia Belanda”. Amerika Serikat ingin menggantikan Belanda sebagai penguasa kolonial baru di Indonesia.
* * *
Mengenai pemberontakan PRRI-Permesta, yang dalam catatan sejarah kebanyakan digambarkan sebagai konflik yang berkembang dan meledak antara kekuasaan PUSAT yang didominasi PKI -- dengan penguasa (militer-politik) di daerah, yang menuntut otonomi yang lebih besar. Dimana CIA/AS merupakan pensuply senjata, uang dan pilot Bomber B-25 (Allan Pope). Menurut gambqarqan itu AS bukan arsitek dari pemberontakan PRRI/Permesta.
Buku Poulgrain, 'mengungkapkan' bahwa latar belakang sesunguhnya dari konflik tsb adalah permainan Kepala CIA -Allen Dulles – yang ketika itu sudah menjadi kekuatan dominan menyangkut politik AS terhadap Indonesia. Menurut Pulgrain, pemberontakan PRRI/Permesta merupakan manupulasi licik yang 'disulut (CIA) untuk gagal.' (menipulated to have it fall). Tujuannya ialah untuk 'menyelamatkan Indonesia' dari kungkungan Komunis. Dan memperokoh pengaruh militer di pemerinthan (pusat) Jakarta.
Buku Ploulgriain mengungkap inti masalahnya, yaitu, bahwa terdapat kepentingan AS untuk menguasai sumber minyak dan emas di Papua.
* * *
Analisa Puldgrain: -- Menunjuk pada Aarti penting ditemukannya sjumlah besar sumber tembaga dan emas di Irian Barat. Halmana menyebabkan AS semakin bernafsu untuk menguasai Indonesia. Ini sejalan dengan intrik dan komplotn CIA untuk menguasai sumber kekayaan alam di Afrika – Kongo dan terbunuhnya Sekjen PBB Dag Hammarskjold. Dibunuhnya Presiden AS John F Kennedy dianggap berkaitan erat dengan politik Kennedy terhadap Indonesia ketika itu – yang ingin memelihara hubungan baik dengan Presiden Sukarno – dan 'menyelamatkan' Indonesia dari pengaruh komunis. Ini bertentangan dengan strategi CIA yang besandar pada AD untuk menyingkirkan samasekali Presiden Sukarno.
Romo Baskoro menekankan bahwa apa yang ditulis Greg Poulgrain itu adalah salah satu pandangan dan analisis dari segi pandangan lainnya. Belum tentu betul, kata Baskoro ---- tetapi merupakan bahan pertimbangan penting, sebagai suatu bahan penilaian-kembali (reassessment) atas fakta-fakta sejarah menyangkut tanah air kita.
* * *
129 months ago
Ari Setyo Nugroho Tadi beneran ngak ya diHUbungin pssi unTuk memperbaiki dan menyelamatkan sepakbola indonesia atau cuman orang iseng doang...dulu ari juga diHubungi kayak gtoe unTuk di koNtrak di club persib bandung, persebaya,ps bangka, abahani fc banglaDes dan trax
Read more ... tor fc iran, bahkan ada temen ari yang mengira ari mau dikoNtrak di real madrid,barceloNa, manchester united..
ari sudah mengajukan diri kepada presiden sebagai ketua pssi dan ari juga telah membuat perjanjian dari fifa untuk bisa menjadi presiden fifa
129 months ago
Heru Cahyono https://www.facebook.com/720697814628014/photos/pb.720697814628014.-2207520000.1433767398./889016961129431/?type=3&theater
Tolak Jokowi
Kultus dan Pemberhalaan
Para penyembah berhala selalu memiiki dalih yang sama. Mengapa mereka menuhankan sesuatu yang tidak patut dipertuhankan? Menjatuhkan diri pada belenggu. Mereka berujar, "Wajadna min abaina, kami temukan semua ini dari nenek
Read more ... moyang kami." Sebuah jawaban khas kaum Paganist yang dungu dan berkepala batu.
Berhala adalah simbol segala ketergantungan dan pembelengguan hidup manusia pada sesuatu yang tak semestinya mengerangkeng dirinya. Penyekutu Tuhan itu melakukan penuhanan pada berbagai illah selain Allah. Patung yang dibuat sendiri pun disembah, semisal rezim yang dikeramatkan pendukungnya dengan segala puja-puji. Sungguh betapa sesat jalan anak cucu Adam yang terjangkiti virus pemberhalaan.
Berhala itu dikultuskan dan berwajah dasa muka. Kekuasaan, harta, hawa nafsu, isme, dan segala permata dunia yang dicintai melebihi takaran dapat menjelma menjadi berhala-berhala baru. Sejarah daur ulang paganisme seolah niscaya. Pengultusan pun diproduksi menjadi budaya baru yang dimasifkan dan menciptakan atmosfer kolektif sarat pesona simbolis yang memerkosa fitrah kesejatian hidup.
Peluruhan kemanusiaan
Kultus dan pemberhalaan itu membenamkan manusia pada sikap membudakkan diri. Keduanya melumpuhkan akal sehat. Nalar cerdas menjadi mati suri. Daya kritik pun dianggap negative thinking. Ketika terjadi rentetan kesalahan di ruang publik, terjadi pembenaran dan pembiaran yang sesungguhnya sama dengan menanam benih kehancuran bangsa.
Insan berilmu dan figur-figur kritis pun ikut berbelok arah jalan. Para begawan kehilangan kebegawanannya karena turun gunung ke lembah politik partisan. Mereka jadi pembebek yang alim karena harus menopang rezim. Akal sehat sekadar jadi wacana utopis dan komoditas akademik. Sebagian terjangkiti penyakit rabun ayam dalam mencandra kebenaran dan ketakbenaran. Ilmunya kehilangan hikmah hingga tak lagi memercikkan sinar pencerahan.
Kebenaran dibuat serba abu- abu, kalah pamor oleh tampilan luar. Nalar publik disilaukan oleh beragam perilaku teatrikal yang indah dipandang sesaat, tetapi sesungguhnya laksana buih. Ibarat warna serbaputih untuk mengesankan pesona bersih dan jernih meski di dalamnya kusam. Panorama masif seperti ini lama-kelamaan akan melahirkan budaya instan yang mematikan proses, kerja keras, dan kebenaran substansi.
Kultus dan pemberhalaan yang melemahkan potensi kemanusiaan sejati itu biasanya tumbuh kembang sering bukan karena sistem tirani belaka, tetapi oleh minda atau sistem kognisi yang dikonstruksi salah kaprah. Antonio Gramsci menyebutnya sebagai ideologi Hegemony. Mereka yang terkena penyakit pembudakan diri bukan karena dipaksa rezim, melainkan karena menikmatinya.
Nikmat ditindas, ditelikung, dibodohi, dimanipulasi, dan dihegemoni oleh sistem dan budaya yang mampu menciptakan kenyamanan semu.
Fir'aun dengan takabur mengklaim diri sebagai Tuhan. Karena kedigdayaan yang dibangun secara hegemoni, banyak rakyat menjadi lemah dan membudakkan diri. Sikap rakyat yang takut, lemah, membebek, dan menaruh kepentingan-kepentingan sesaat sering menggiring mereka pada pemberhalaan dan pengultusan terhadap para penguasa. Akibatnya, para penguasa itu menjadi sewenang-wenang karena dimanjakan oleh elite dan rakyatnya.
Kultus dan pemberhalaan dalam bentuk apa pun sesungguhnya musuh utama kaum beriman yang bertauhid. Manusia yang dianugerahi fitrah bertuhan dan akal murni pun dibuat tak berdaya. Jika nikmat Tuhan yang sangat berharga itu tidak digunakan dengan baik dan lumpuh karena manusia terjebak pada penuhanan dan pembudakan sesuatu, manusia menjadi kehilangan kemanusiaan nya yang sejati. Kalbu, pendengaran, penglihatan, dan akal sehat insan beriman mati dan akhirnya terjerembap pada perangai hewani (QS al-'Araf [7]: 179).
Peran kaum berilmu
Kaum beriman dan bertauhid wajib menggunakan akal yang fitri agar tidak terjebak pada praktik pemberhalaan dan pengultusan yang membelenggu kehidupan. Allah memerintahkan insan beriman agar tafakur, ta'aqul, ta'abbur, tazakkur, dan tadabur. Pelakunya disebut uli-nuha, ulil- abshar, ulil-albab, al-alim, ulama, dan yang semakna dengannya. Tuhan meninggikan derajat kaum berilmu bersama orang beriman yang menggunakan akal dan kalbunya dengan segala kegiatan berpikir atas segala kekuasaan dan hasil ciptaan-Nya.
Rasulullah bersabda, "Berpikir sesaat lebih baik dari ibadah setahun." Pada hadis lain, Nabi bersabda, "Tiga waktu bagi orang berakal. Pertama, untuk bermunajat kepada Tuhannya. Kedua, untuk menghisab dirinya. Ketiga, untuk memikirkan ciptaan Allah SWT." Rasulullah bersabda, "Seseorang tidak akan memperoleh sesuatu yang sebaik akal. Akal membimbing pemiliknya kepada petunjuk dan menghindarkannya dari kesesatan." (Muttafaq`alaih).
Ketaknalaran dan hilangnya akal kritis disamakan dengan kebutaan. Allah SWT berfirman, "Perbandingan antara dua golongan (orang kafir dan orang beriman) seperti keadaan orang yang buta dan pekak dengan orang yang melihat dan mendengar, adakah sama kedua-duanya? Adakah kamu tidak mengambil pengajaran?"(QS Hud [11]: 24).
Tuhan menisbahkan orang yang tak menggunakan akalnya sebagai hewan melata di muka bumi untuk menunjukkan betapa rendahnya manusia jika mati akal sehatnya atas kebenaran.
Kaum berilmu lagi beriman yang hadir di muka bumi untuk membebaskan umat manusia dari segala bentuk pemberhalaan dan pengultusan yang merusak tauhid, mereka disebut para pewaris Nabi karena membawa obor pencerahan. Mereka bermisi membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat manusia dari segala bentuk pembelengguan, penindasan menuju kehidupan yang bercahaya lahir dan batin. Karena itu, siapa pun yang berilmu hendaklah dalam dirinya melekat jiwa pencerahan yang bebas dari segala belenggu dunia demi kebenaran dan kebaikan.
Betapa berat, tetapi mulia tugas ulama, intelektual, intelegensia, dan kaum berilmu dalam kehidupan di muka bumi ini. Lebih-lebih ketika orang-orang berilmu itu menjadi pemimpin dan begawan bangsa. Mereka dengan ilmunya harus menyinari alam pikiran rakyat dan para elitenya. Mereka harus menjadi penyebar nilai-nilai kebenaran meski harus berhadapan dengan penguasa yang didukungnya. Apalagi, jika penguasa itu bertindak zalim dan bertentangan dengan kebenaran. Para pemilik ilmu itu bahkan harus berani meluruskan kesalahan rakyatnya dengan risiko dijauhi dan dimusuhi.
Sungguh akan menjadi ben cana manakala kaum berilmu justru bertaklid buta dan hanya menjadi stempel pembenar para penguasa ataupun rakyatnya. Jika hal itu terjadi, selain meluruhkan keberadaan dirinya selaku pembawa obor pencerahan, akibatnya pun sangat fatal. Para penguasa akan semakin sewenang-wenang, rakyatnya pun akan kehilangan arah kehidupan.
Mungkinkah kaum berilmu salah jalan? Banyak bukti menunjukkan kaum berilmu menempuh jalan bengkok yang oleh Imam al-Ghazali disebut ulama asy-syuu alias ulama buruk. Meminjam nalar Julien Benda, ketika insan berilmu bersekutu dengan penguasa yang salah jalan, itulah ben tuk pelacuran kaum intelektual.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/15/01/25/nipx0p-kultus-dan-pemberhalaan
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Minggu Pagi – 17 Mei 2015
----------------------------------
KELUHAN RAKYAT “Untuk Telinga PRESIDEN”
Blusukan adalah cara yang termasuk 'khas' langgam kerja JOKOWI untuk “mendengar” sendiri suara, terutama keluhan rak
Read more ... yat kecil yang dipimpinnya. Juga merupakan cara mengkonsekwenkan transparansi.
Berita Viva.co.id patut dibaca. Karena merupakan gambaran hidup metode 'blusukan' Jokowi. Di 'forum transparan' tsb rakyat menyatakan 'curhatnya', keluhannya dan harapannya kepada Sang Pemimpin.
* * *
Tadinya akan ku-mulai menulis sekadar “KRONIK PULANG KAMPUNG” setelah kunjungan tiga minggu ke Tanah Air tertcinta. yang amat mengesankan dan mengisnpirasi.
Tetapi berita pagi ini sekitar 'curhat' para pendukung Jokowi, dan janji serta komitmen Jokowi pada pendukungnya adalah lebih penting untuk bisa segera diketahui masyarakat luas.
Misalnya, – – Baru saja disiarkan sekitar 'gregetanya' kalangn TNI untuk memenuhi rayuan sementara kalangn KPK untuk melibatkan diri dalam kegiatan yang bukan bidangnya. Padahal dalam 'curhat' warga yang didengr sendiri oleh Presiden, bisa dibaca antara lain berita berikut ini:
“Seorang warga Deli Serdang, Sumatera Utara bernama Suriani Manurung, dengan berlinang air mata, mengadukan perilaku TNI yang menyerobot tanah mereka.
Dia mengaku, dulu kawasan tempat dia tinggalnya selalu swasembada beras. Tapi kondisi berbalik usai aksi TNI tersebut.
"Lahan pertanian kami yang sudah swasembada telah diobrak-abrik TNI. Bagaimana tercapainya program Pak Jokowi, kalau lahan itu diobrak-abrik TNI. Kami mohon, selaku panglima tertinggi harus menyelesaikan permasalah kami. Ini ada dokumennya," katanya.
Suriani mengatakan desa mereka sudah ditemboki oleh TNI. Sehingga, anak-anak yang hendak ke sekolah harus memanjat tembok itu. Dan tidak ada akses keluar lagi.
* * *
'Kan menimbulkan pertanyaan --- 'quo vadis' TNI --- , kok masih terus saja menindas rakyat di daerah . . ??? Bukankah ini meneruskan praktek 'dwifungsi abri'. . .??
* * *
Berita yang lebih lengkap mengenai 'curhat' para pendukung Jokowi, a.l sbb:
Presiden Joko Widodo menghadiri Jambore Komunitas Juang Relawan Jokowi, di bumi perkemahan Cibubur Jakarta Timur, Sabtu 16 Mei 2015. Presiden Jokowi menyempatkan dialog dan mendengar keluhan para pendukungnya.
Di bawah panggung, berbaur dengan sekitar lebih dari tujuh ribu relawan, Jokowi membuka sesi dialog.
Kesempatan untuk menyampaikan keluhan, diberikan kepada Ketua Waria Indonesia, Mamie Yulie. Dia menyoroti perlakuan masyarakat terhadap kaum waria.
"Kami minta bapak tolong dengar suara hati kami yang selalu ditekan masyarakat," kata Mami Yulie, sambil menangis.
Dia mengaku, ada tujuh juta lebih waria di Indonesia yang mendukung Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Bahkan, mereka menggabungkan diri dalam salah satu bagian relawan Jokowi yakni Relawan Merah Putih.
"Nanti Mami Yuli saya undang ke Istana saja lah. Nanti bicara di sana ya. Nanti saya atur," kata Presiden Jokowi menyikapi keluhan itu.
Relawan perwakilan dari Nias Sumatera Utara, Yaredi Waruhu, juga menyampaikan keluhan soal pembangunan di daerahnya. Presiden Jokowi mengaku, akan mencatat itu untuk ditindak lanjuti.
Syarif Hidayat, dari komunitas relawan kemanusian Indonesia di Riau, mempersoalkan tapal batas. Syarif menyampaikan, di daerahnya masih terjadi illegal fishing oleh kapan-kapal besar. Sementara transportasi untuk warga belum ada, hanya rencana tapi tidak terealisasi.
Seorang warga Deli Serdang, Sumatera Utara bernama Suriani Manurung, dengan berlinang air mata, mengadukan perilaku TNI yang menyerobot tanah mereka.
Dia mengaku, dulu kawasan tempat dia tinggalnya selalu swasembada beras. Tapi kondisi berbalik usai aksi TNI tersebut.
"Lahan pertanian kami yang sudah swasembada telah diobrak-abrik TNI. Bagaimana tercapainya program Pak Jokowi, kalau lahan itu diobrak-abrik TNI. Kami mohon, selaku panglima tertinggi harus menyelesaikan permasalah kami. Ini ada dokumennya," katanya.
Suriani mengatakan desa mereka sudah ditemboki oleh TNI. Sehingga, anak-anak yang hendak ke sekolah harus memanjat tembok itu. Dan tidak ada akses keluar lagi.
* * *
130 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu Malam, 07 Maret 2015
---------------------------------------
Buku “SUKARNO -- An Autobiography -
As Told to CINDY ADAMS”
< Apa Yang Direkayasa dan Dipalsukan?>
* * *
Judul diatas - "SUKARNO, An Autobio
Read more ... graphy As Told to Cindy Adams", adalah buku OTOBIOGRAFI Sukarno, Sebagaimana Diceriterakan Kepada Cindy Adams (Edisi Asli Bahasa Inggris). Pertama diterbitkan oleh The Robbs-Merill Company, INC. New York. Cetakan pertama 1965. Copyright, 1965, By Cindy Adams.
Di Indonesia terbit Edisi Revisi, berjudul "BUNG KARNO, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia". Cetakan pertama Agustus 2007; Cetakan Kedua, 2011.
Edisi Revisi yang terbit di Indonesia TERAMAT PENTING. Karena yang direvisi adalah suatu PEMALSUAN yang dilakukan dalam Edisi Indonesia tahun 1966. Edisi ini dengan kata pengantar dari Suharto. Dr Asvi Warman Adam, Peneliti Senior LIPI. yang menulis kata pengantar untuk Edisi Revisi (2007), menjelaskan proses terungkapnya PEMALSUAN dalam penerbitan buku Bung Karno, selama periode Orba, a.l sbb:
"Dalam diskusi yg diselenggarakan Yayasan Bung Karno di Gedung Pola tahun 2006, Safii Maarif mngutip buku Cindy Adams mengatakan bahwa Sukarno sangat melecehkan Hatta karena menganggp perananya tidak ada dalam sejarah Indonesia. Karena itu ketika buku ini akan diterbitkan ulang saya meminta kepada Yayasan Bung Karno untuk mengecek kembali terjemahan buku ini. Sebetulnya bagaimana bunyi asli dalam bahasa Inggris pernyataan yang merendahkan Hatta itu. Yayasan Bung Karno kemudian menugasi Syamsu Hadi untuk menerjemahkan ulang buku tersebut. Yang mengagetkan pada temuannya disamping ada beberapa kekeliruan terjemahan adalah dua alinea yang ditambahkan dalam edisi bahasa Indonesia sejak tahun 1966. Padahal kedua alinea itu tidak ada dalam edisi bahasa Inggris.
"Pada halaman 341 tertullis:
" . . Rakyat sudah berkumpul. Ucapkanlah Proklamasi".Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana di mana setiap orang mendesakku, anehnya aku masih dapat brpikir dengan tenang.
"Hatta tidak ada", kataku. "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada".
Lanjutan teks ini kalau dicek teks asli bahasa Inggris: Dalam detik yang gawat dalam sejarah inilah Sukarno dan tanah air Indonesia menunggu kedatangqn Hatta.
Namun di antara kedua kalimat ini ternyata disisipkan dua alinea yang tidak ada dalam teks Inggrisnya yaitu:
Tidak ada yang berteriak, "kami menghendaki Bung Hatta". Aku tidak memerlukannya. Sama seperti aku tidak memerlukan Syahrir yang menolak untuk memperlihatkan diri di saat pembacaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannya seorang diri, dan memang aku melakukannya sendirian. Di dalam dua hari yang memecahkan urat syaraf itu maka peranan Hatta dalam sejarah tidak ada.
Peranannya yang tersendiri selama masa perjuangqn kami tidak ada. Hanya Sukarnolah yang tetap mendorongnya ke depan. Aku memerlukan orang yang dinamakan "pemimpin" ini karena ada pertimbangan. Aku memerlukannya oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra dan di hari-hari yang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah jalan yang paling baik untuk menjamin sokongan dari rakyat yang nomor dua terbesar di Indonesia.
Lanjut Asvi Adam: -- Sukarno tidak memerlukan Hatta dan Syahrir bahkan "peranan Hatta dalam sejarah tidak ada". Demikain pernyataan Bung Karno dalam edisi bahasa Indonesia yang terbit sejak tahun 1966. Ternyata dua alinea itu tidak ada dalam naskah asli bahasa Ingris. Kalau demikian apakah ada seseorang yang merekayasa cerita tambahan ini?
* * *
Bisa timbul pertanyaan, mengapa aku 'tiba-tiba' menulis lagi sekitar "rekayasa" dan "pemalsuan" terhadap buku Bung Karno itu?
Tidak ada alasan prinsipil. –- Mengungkapkan pemalsuan sejarah, dalam hal ini pemalsuan buku Bung Karno, -- yang tujuannya jelas untuk mengadu donba Sukarno dan Hatt-Syahrir. Terutama di kalangan pendukung Bung Karno dan pendukung Hatta dan Syahrir. -- Pemalsuan dan rekayasa yang dilakukan oleh Orba, adalah masalah PENTING. Maksud penulisan sejarah adalah mendidik generasi baru. Disini penting sekali mengungkap pemalsuan sejarah yang dilakukan Orde Baru, Rekayasa yang mereka lakukan itu, BUKAN ALANG KEPALANG! Hal mana menegaskan betapa perlunya dalam periode Reformasi dan Demokratisasi dewasa ini dan selanjutnya -- MELAKUKAN PELURUSAN SEJARAH YANG DIPALSUKAN ORDE BARU.
Penyebab lain mengapa aku menulis kolomku hari ini, sbb:
Ketika membaca ulang buku SUKARNO, An Autobiography As Told to Cindy Adams (1965), terbaca lagi catatanku dalam buku tsb, bahwa buku itu aku pesan dari The Book Bin-Pacifica - dan dikirimkan ke alamatku di Amsterdam, pada tgl 08 Maret 2009. Harganya in termasuk ongkos kirim, adalah USD 27, 11-- Artinya tepat 6 tahun yang lalu aku memiliki Edisi Asli buku Bung Karno yang teramt penting itu. Aku bilang kepada Murti, hari ini aku akan menulis lagi sekitar buku Bung Karno. Perlu mengangkat kembali pemalsuan Orba terhadap buku Bung Karno tsb yang diungkapkan oleh sejarawan Asvi Warman Adam.
Kami membaca lagi, yang ditulis di kulit dalam (inside flap) buku, tentang buku Bung Karno itu, a.l. sbb:
"Sebagaimana ia sendiri mengungkapkannya dalam sejarah pribadi yang penting dan mempesonakan itu -- krisis adalah sesuatu yang terus menerus terjadi dalam dirinya -- krisis yang sering disebabkan oleh diri sendiri --
" Adalah dalam momen-momen ini bahwa Sukarno, sebagaimana halnya tiap pemimpin besar dalam sejarah, berperanan paling efektif. Memang, adalah kemampuannya untuk melihat momen krisis, merebut momen itu, bersamaan dengan kepribadiannya yang karismatik, merupakan penyebab dari mencuatnya ia ke kekuasaan sebagai pemimpin dari negeri yang nomor 6 besarnya (wilayah) dan dengan penduduk terbesar ke-lima di dunia. Sebuah negeri yang barangkali seperti halnya Tiongkok, memegang kunci ke haridepan Asia"
* * *
Kami membaca kembali bagian tertentu dari buku tsb: Kata Bung Karno:
"Janjiku telah kupenuhi. Kuliahku telah selesai. Sejak saat ini telah tidak ada yang akan dapat menghalang-halangiku untuk melakukan sesuatu yang menjadi kewajiban hidupku.
Ketika aku berdiri di atas jembatan Surabaya itu dan mendengar jeritan rakyatku, aku menyadari bahwa akulah yang harus berjuang untuk mereka. Hasrat yang berkobar-kobar untuk membebaskan rakyatku bukanlah sekadar ambisi pribadi. Aku dipenuhi hasrat itu. Ia meresap ke sekujur tubuhku. Ia menjadi desah nafasku. Ia mengalir melalui urat nadiku. Untuk memenuhi hasrat itulah orang mengabdikan seluruh hidupnya. Itu lebih dari satu kewajiban. Lebih dari panggilan jiwa. Bagiku ia adalah satu agama.". . (Lihat buku BUNG KARNO Penyambung Lidah Rakyat Indonesia-- halaman 83, Edisi Revisi, 2011).
* * *
Suatu pernyataan Bung Karno yang selalu akan menginspirasi generasi penerus bangsa ini, untuk terus berjuang mengabdi tanah air dan rakyatnya .
* * *
133 months ago

Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 31 Januari 2015
--------------------------------
Ikuti Bagaimana KEBIJAKAN JOKOWI “Menangani” . . . . Kemelut Perpolitikan . . .
* * *
“ALOTNYA” MELAKSANAKAN “PERUBAHAN” . . .
Sejak periode Presiden BJ Habibi
Read more ... e, Indonesia memasuki periode Reformasi dan Demokratisasi. Jatuhnya Suharto menunjukkan, bahwa proses Reformasi dan Demokratisasi itu tidak berlangsung dengan aman, damai dan tenteram. “Perubahan mendadak dan bergejolak”, menuju pada penjungkir-balikkan politik dan birokrasi yang puluhan tahun lamanya bergelimang dan berkubang di lumpur kekerasan dan ketiadaan hukum. Rezim Orde Baru telah menghancur-luluhkan tradisi pemerintah Republik Indonesia, yang didasarkan pada UUD dan hukum.
Sejak dibangunnya, --- rezim Orde Baru, --- 32 tahun lamanya, penguasa menjalankan pemerintahannya, dengan menginjak-injak UUD, hukum dan rasa keadilan. Segala plosok kekuasaan negara: --- eksekutif, legeslatif, dan yudikatif . .,., dicengkam disatu tangan besi yang TUNGGAL : Tangan besi Presiden Jendral Suharto.
Satu-satunya lembaga negara yang berfungsi, yang maha kuasa, adalah Tentara. Melalui pemberlakuan sistim kekuasaan menuruti logika dan falsafah fasis DWIFUNGSI ABRI, rezim Orde Baru menjadikan pemerinth sebagai kekuasaan amgkara murka.
* * *
Itulah sebabnya, -- proses Reformasi dan Demokrtisasi berlangsung BUKAN TANPA KEKERASAN. Sebut saja gerakan massa unjuk rasa protes yang meluas secara nasional --menuntut perubahan kebijakan ekonomi pemerintah yang menggantungkan nasib negeri pada kekuasaan asing, yang kemudian bermuara pada tuntutan turunnya Presiden Suharto. Gerakan ini ditindas penguasa dengan kekerasan. Telah juga minta korban beberapa mahasiswa Trisakti. Lalu “Perisiwa Mei 1998”, dimana warga etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, pembunuhan, pembakaran, perampokan, pemerkosaan. Yang semua itu direkayasa oleh penguasa. Peristiwa berdarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kemudian peristiwa penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan/penghilangan aktivis-aktivis Demokrasi dan Reformasi dari PRD, yang sampai detik ini masih merupakan kasus misterius.
* * *
Bangsa ini punya daya hidup dan berkembang yang luar biasa. Buktinya: suatu pertumpahan darah yang dicetuskan penguasa – terkenal dengan Pembantaian dan Persekusi Masal 1965/66/67; dimana kaum Kiri dan pendukung Presiden Sukarno
Pernah disinggung oleh salah seorang tokoh PDI-P, --- Rieke Pitalongga, bahwa situasi politik yang 'kemelut' ini, ada baiknya. Transparansi memperoleh kesempatan diberlakukan dan berkembang. Transparansi pemerintahan dan lembaga negeri lainnya, --- bila digalakkan, dijadikan kegiatan penting media dan kehidupan politik sehari-hari, akan lebih banyak lagi mengikut-sertakan publik dalam mengontrol penguasa. Rakyat pasti gairah menyambut usaha mengawasi, mengontrol, mengungkap, mengkoreksi dan menciptakan kekuatan pendorong positif, --- dalam kehidupan berdemokrasi di zaman Reformasi ini.
Muncul dan berkembangnya TRANSPARANSI -- biasanya terjadi dan tumbuh di kala fihak-fihak yang berkonflik itu, terutama yang ngeloni kedudukan kekuasaan, semakin gairah dan bersemangat dalam kegiatan 'saling bongkar' . Situasi seperti itu sering terjadi pada periode pra dan selama kampanye pemilihan daerah, apalagi pemilihan presiden.
* * *
Bagaimana Presiden Jokowi – Menghadapi pelbagai konflik-politik dan 'conflict of interest' sekitar pengangkatan Kapolri baru Budi Gunawan; penetapan BG sebagai tersangka kasus korupi oleh KPK; dan ditangkapnya untuk beberapa saat, Wakil Ketua KPK, serta pergesekan yang semakin meningkat antara yang pro “KPK” dan lawannya -- yang “pro-Polri”.
Setelah menghentikan Kepala Polri yang lama dan mengangkat pelaksana tugas Kapolri , --- Jokowi “menunda” pelantikan kepala Polri yang baru Budi Gunawan. Selanjutnya Jokowi memanggil pemimpin-pemimpin KPK dan Polri yang melakukan tugas masing-masing agar bertindak sesuai aturan dan hukum. Tidak boleh melakukan tindakan 'kriminalisasi'. --- Jokowi selanjutnya membentuk 'tim atau panitia independen' terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat yang kredibel, diketuai oleh mantan Ketua Muhammadiyah, Syafei Maarif.
Panitia Independen telah mengajukan sarannya agar Presiden Jokowi mengangkat KaPolri yang baru. Karena adalah tidak etis dan merusak kepercayaan publik bila Presiden melantik Kapolri yang 'bermasaalah'.
* * *
Sebegitu jauh duduk perkaranya sudah jelas bagi publik, bagi masyarakat dan bagi siapa saja. Sebuah panitia independen, yang dibentuk Presiden, telah mengajukan saran solusinya.
Budi Gunawan harus mundur, sebaiknya atas inisiatif sendiri, kalau tidak, Presiden yang membatalkan pencalonannya sebagai Kapolri.
Sebelumnya Syafii Maarif --- Ketua tim independen Konflik KPK dan Kepolisian RI, -- menegaskan a.l:
“Pokoknya kami ingin selamatkan KPK dan Polri. Jangan dibiarkan negara rusak oleh oknum-oknum yang meng-atas-namakan institusi” (27/1/2015).
* * *
Dalam pada itu, Jokowi mengambil langkah “surprise” -- yang strategis, yaitu mengadakan pertemuan, berkonsultasi dengan mantan saingannya dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto. (mungkin juga sampai sekarang Prabowo merupakan saingan Jokowi yang paling serius). - Hasil pertemuan, tidak banyak yang meramalkan sebelumnya:
Prabowo Subianto, Ketua Gerindra dan tokoh KMP yang selama ini, mengambil sikap oposisi – tapi dalam DPR bermanuver mendukung pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri --- , kini mengambil MENDUKUNG SIKAP APAPUN YANG AKAN DIAMBIL OLEH PRESIDEN JOKOWI DALAM MENANGANI KONFLIK KPK – POLRI.
Sungguh menarik dan mempesonakan perkembangan baru ini, yang disebabkan oleh kebijakan Presiden Jokowi. Ternyata langkah-langkah Jokowi, diambil secara hati-hati. Dengan memperimbangkan situasi keseluruhan, serta menomor-satukan kepentingan bangsa dan negara secra nasional . . untuk masa kini dan di hari depan.
* * *
Bukankah perkembangan situasi politik Indonesia belakangan ini, merupakan pengungkapan gamblang di muka umum, untuk lebih mengenal, siapa-siapa, yang terlibat dalan konflik, bagaimana sikap masing-masing. Dan -- APA . . . . SESUNGGUHNYA YANG DIRIBUTKAN SELAMA INI.
* * *
Seruan menggelédeék Relawan Jokowi -- – “KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKAN JOKOWI SENDIRIAN” , a.l menunjukkan bahwa kebangkitan kekuatan masyarakat, khususnya para Relawan Jokowi, tidak akan berhenti. Ia bahkan akan berkembang dan bertambah besar dan kokoh.
Proses ini akan berlangsung terus --- justru dalam pergolakan politik serta berkembangnya TRANSPARANSI dalam kehidupan berbangsa.
* * *
134 months ago
More sekadar kontrak wisnu posts »