Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Malam , 24 Juni 2015
----------------------------------
KRONIK “PULANG KAMPUNG” – (3)
* * *
----- Romo BASKARA WARDAYA Memperkenalkan Buku Greg POULGRAIN Yang Menarik:
------ “The Incubus Of Interventio Read more ...n”: Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles”.
* * *
Corat-coret – “Kronik Pulang Kampung” 1, dan 2 – yang diteruskan ke bagian ke-3 ini, memang sekadar corat-coret. Tetapi bagi penulis merupakan kesan mendalam dari kunjungannya ke Indonesia.
Salah satu acara bila berkunjung ke Indonesia, adalah menemui sahabat lama dan baru. Serta menjalin perkenalan dan persahabatan dengan sahabat baru lagi – khususnya mereka-mereka yang tergolong generasi muda Indonesia.
* * *
Meskipun aku pemegang paspor Belanda, dan berdomisili disitu selama puluhan tahun – namun bila berkunjung kembali ke Indonesia, perasaan dan fikiran selalu seperti “PULANG KAMPUNG”. Sering teringat kembali pertanyaan yang pernah diajukan seorang sahabat, mahasiswa Belanda, Philip van Aalst. Ia tanya, bagaimana identitas kalian yang sudah begitu lama terpisah dari tanah air? Dan berkewarganegaraan asing pula. Kujawab tegas: Rasanya seperti orang yang sedang bercintaan. Semakin jauh terpisah secara fisik, . . . semakin rindu dan semakin dekat di hati, – – – CINTA MENJADI SEMAKIN DALAM.
* * *
Mengesankan adalah pertemuan kembali dengan Prof. Dr. Baskara Wardaya dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, penulis a.l buku “Luka Kita adalah Luka Bangsa”. Kami berjabat tangan hangat dan berpelukan. Persis seperti dua orang kawan kental, yang sudah lama berpisah dan bertemu lagi. Kenyataannya, -- kami sebenarnya baru beberapa tahun ini saja berkenalan. Tiga tahun yang lalu masih bertemu beliau bersama mahasiswa-mahasiswinya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Aku bilang kepada Romo Baskoro: Kita belum begitu lama berkenalan, tapi rasanya, --- bila bertemu Anda, kok, seperti berjumpa dengan sahabat-lama. Ya, saya juga merasa begitu -- Jawab Baskoro. Sebabnya ialah, karena kita punya fikiran dan ideal yang sama mengenai nasib tanah air dan bangsa ini. Ya, -- saya kira itulah penjelasannya.
Dua orang sahabat lagi dari pimpinan “Gelanggang Press”, sebuah badan penerbit Yogyakarta, yang terkenal di Indonesia – datang bergabung dan membikin percakapan kami lebih meriah dan hangat dengan masalah Papua sebagai fokus pembicaraan.Dan situsi tanah air umumnya.
* * *
Keesokan harinya, dengan diantar sahabatku Sutriyanto, kami berkunjung ke kantor “Galang Press”. Tak lama kemudian tiba Prof Dr Baskoro. Meskipun ia harus segera berangkat ke Solo dengan beberapa sahabat dari kelompok penggiat HAM, untuk beraudiensi dengan Walikota Solo – Baskoro memerlukan datang. -- Rupanya ia hendak menyampaikan sesuatu yang dirasanya penting untuk kita ketahui.
Yaitu -- Sekitar buku yang belum lama terbit, oleh Graig Poulgrain, berjudul “The Incubus Of Intervention”: Conflicting Indonesia Strtegies of John F. Kennedy and Allen Dulles”. Bahasa Indonesianya, kira-kira begini:
Pagi itu kami membicarakan sekitar masalah Papua. Dari berbagi segi dan sudut pandangan. Tercatat “Gelanggng Press”, adalah penerbit yang termasuk banyak menerbitkan buku-buku sekitar masalah Papua.
Romo Baskoro minta perhatian kami mengenai buku baru oleh penulis Graig Pulgrain. Pulgrain mengajukan masalah Papua dari segi pandangan lain.
Romo Baskoro: -- Buku Pulgrain menganalisis a.l. Masalah Papua yang tidak terlepas dari dampak kuat 'Perang Dingin” yang sedang bergolak ketika itu. Saling hubungannya dan dampaknya terhadap Indonesia.
“The Incubus of Intervention”. . . . . Merupakan gambaran yang rumit terhadap apa yang terjadi di masa lampau. Dari judulnya saja sudah tampak ketika penulis menggunakan kata 'incubus', suatu 'mimpi buruk' atau 'setan gendruwo'. Hakikatnya buku tsb adalah penamaan yang pas sekitar intervensi Amerika Serikat terhadap negeri yang ketika itu masih disebut sebagai “Hindia Belanda”. Amerika Serikat ingin menggantikan Belanda sebagai penguasa kolonial baru di Indonesia.
* * *
Mengenai pemberontakan PRRI-Permesta, yang dalam catatan sejarah kebanyakan digambarkan sebagai konflik yang berkembang dan meledak antara kekuasaan PUSAT yang didominasi PKI -- dengan penguasa (militer-politik) di daerah, yang menuntut otonomi yang lebih besar. Dimana CIA/AS merupakan pensuply senjata, uang dan pilot Bomber B-25 (Allan Pope). Menurut gambqarqan itu AS bukan arsitek dari pemberontakan PRRI/Permesta.
Buku Poulgrain, 'mengungkapkan' bahwa latar belakang sesunguhnya dari konflik tsb adalah permainan Kepala CIA -Allen Dulles – yang ketika itu sudah menjadi kekuatan dominan menyangkut politik AS terhadap Indonesia. Menurut Pulgrain, pemberontakan PRRI/Permesta merupakan manupulasi licik yang 'disulut (CIA) untuk gagal.' (menipulated to have it fall). Tujuannya ialah untuk 'menyelamatkan Indonesia' dari kungkungan Komunis. Dan memperokoh pengaruh militer di pemerinthan (pusat) Jakarta.
Buku Ploulgriain mengungkap inti masalahnya, yaitu, bahwa terdapat kepentingan AS untuk menguasai sumber minyak dan emas di Papua.
* * *
Analisa Puldgrain: -- Menunjuk pada Aarti penting ditemukannya sjumlah besar sumber tembaga dan emas di Irian Barat. Halmana menyebabkan AS semakin bernafsu untuk menguasai Indonesia. Ini sejalan dengan intrik dan komplotn CIA untuk menguasai sumber kekayaan alam di Afrika – Kongo dan terbunuhnya Sekjen PBB Dag Hammarskjold. Dibunuhnya Presiden AS John F Kennedy dianggap berkaitan erat dengan politik Kennedy terhadap Indonesia ketika itu – yang ingin memelihara hubungan baik dengan Presiden Sukarno – dan 'menyelamatkan' Indonesia dari pengaruh komunis. Ini bertentangan dengan strategi CIA yang besandar pada AD untuk menyingkirkan samasekali Presiden Sukarno.
Romo Baskoro menekankan bahwa apa yang ditulis Greg Poulgrain itu adalah salah satu pandangan dan analisis dari segi pandangan lainnya. Belum tentu betul, kata Baskoro ---- tetapi merupakan bahan pertimbangan penting, sebagai suatu bahan penilaian-kembali (reassessment) atas fakta-fakta sejarah menyangkut tanah air kita.
* * *
129 months ago
Ibrahim Isa Kolom Ibrahim Isa
Senin Pagi, 01 Juni 2015
--------------------------------
"BETER (te)LAAT DAN NOOIT"-
LEBIH BAIK TERLAMBAT Daripada TIDAK SAMASEKALI!
Kolom berjudul "MEGAWATI SUKARNOPUTRI . . . !!!,'PANDANGAN SEJARAH', DAN PENGUASAAN 'BAHASA IND Read more ...ONESIA' ANDA . . . . 'MEMRPIHATINKAN' ", memancing cukup banyak komentar. Seperti biasa. Ada yang setuju (banyak--- terutama di FB) Ada yang
menambahkannya dengan kritik-sinis-emosionil, ada yang tambah kritik dengan argumentasi. Ada yang 'wait and see'. Dan (surprise-suprise) ada YANG MEMBELA MEGA.
Respons yang beragam tsb semua ada. Media Indonesia sudah mulai biasa dengan suasana 'freedom of speech' - 'kebebasan menyatakan pendapat'. Ini wajar, sehat dan positif. Jangan di-rém -- TERUSKAN! Berguna sekali dalam menciptakan suasana serta syarat kerja yang sehat bagi Pemerintahan Presiden Jokowi, yang bertekad memberlakukan PERUBAHAN dan KEMAJUAN!
Di antara beliau-beliau yang memberikan komentar itu, termasuk sahabat-sahabatku Prof Dr Syafruddin Bahar dan Prof Dr Salim Said.
Salim Said merespons: "Tampaknya Pak Isa di Amsterdam terlambat Heran. Kita di Indonesia sudah terbiasa heran menghdapi
Ibu Megawati".
Responsku terhadap sikap sejarah dan pengetahuan serta penggunaan bahasa Indonesia Mega, masih sama. MEMPRIHATINKAN!.
Ini adalah (katakanlah) 'teguran bersahabat dan membangun', yang 'bermaksud baik'. Perumusan kalimat-kalimat yang menyalahi tata-bahasa Indonesia --- dan penggunaan istilah-istilah yang sulit dimengerti, amat mencerminkan cara dan suasana berfikir yang bersangkutan. Semrawut, kata orang Jawa. Mencerminkan kemiskinan khazanah kata-kata Indonesia yang dimiliki.
Bermaksud baik terhadap Megawati Sukarnoputri. Satu sebab pokok, karena 'mengenal' Mega sebagai seorang pejuang politik (satu-satunya) di periode masih jaya-jayanya Presiden Suharto, yang tampil dengan suara nyaring: "KALAU RAKYAT SETUJU- SAYA BERSEDIA JADI PRESIDEN". Artinya berani menggantikan Suharto kalau rakyat setuju.
Pernyataan ini 'bukan main-main' di saat Suharto masih kuasa penuh. Dan Suharto tidak ayal bertindak. Segera saja dimulai kampanye untuk mendeskreditkan dan mendongkel Megawati dari PDI. Suharto dan Intelnya (biasalah) memulai 'opsus' untuk menghantam Mega.
Suharto gagal . . Mega tidak mundur --- bahkan tambah berani dan bersemangat . Cerita ini bukan dongeng!
Suharto jatuh, rezim Orde Baru (formalnya) gulung tikar. Mega bersama Gus Dur, Amin Rais dan Sri Sultan Yogya, aktif
dalam kegiatan politik yang berani --- demi REFORMASI DAN DEMOKRATISASI di negeri ini. Ini juga fakta. Merupakan tambahan kekuatan politik dan masyarakat pada kekuatan utama Reformasi dan Demokratisasi, yang terdiri dari kaum muda mahasiswa, pelajar, cendekiawan dan pelbagai pekerja dari berbagai lapisan masyarakat. Ini juga fakta.
Itulah sebab utama mengapa timbul penilaian positif terhadap Mega, yang punya peranan dalam penggulingan rezim Orde Baru, dan
mendorong maju Reformasi dan Demokratisasi. Bisa ditambahkan pelbagai sikap politik dan kebijakan positif yang dilaksanakannya selama menjabat sebagai Presiden ke-V Republik Indonesia.
Last but not least, Megawati sebagai Ketum PDI-P, -- adalah tokoh pimpinan parpol yang telah mengusung JOKOWI sampai jadi Presiden
RI. Halmana merupakan suatu kemenangan bagi kekuatan politik PERUBAHAN demi KEMAJUAN, DEMI TRISAKTI.
* * *
Tetapi serentetan politik dan kegiatan Megawati Sukarnoputri, juga dapat digolongkan NEGATIF. Antara lain ketika beliau, aktif
bersama Amin Rais, Akbar Tanjung dan Jendral Wiranto, mereka bersama mendongkel Gus Dur dari jabatn Presiden Ke-IV RI dan menggantikan kedudukan Gus Dur, sebagai Presiden Ke-V Republik Indonesia. Dan masih bisa ditambahkan sejumlah sikap politik
dan kebijakannya yang, a.l, -- mengambil jarak dari para pemuda anggota gerakan pemuda (PRD), yang mati-matian membela Mega -sekitar Peristiwa Penyerbuan terhadap kantor PDI - Mega di Jl Diponegoro, Jakarta. ketika masih berkuasanya Presiden Suharto.
Masyarakat juga kecewa besar, ketika Mega menjabat sebagai Presiden RI - praktis beliau tidak melakukan yang signifikan untuk
merehabilitasi nama baik Presiden Sukarno. Bung Karno adalah salah seorang tokoh yang sesungguhnya patut dikatagorikan sebagai salah seorang "K O R B A N Peristiwa 1965". Dan Megawati dan keluarga Sukarno adalah KELUARGA KORBAN. Yang merupakan sasaran utama Jendral Suharto, ketika memulai proses kudeta merangkaknya.
* * *
Apakah penulis ini sudah cukup mengenal Megawati sebagai salah satu tokoh politik dan pimpinan partai penting dewasa ini?
Jawabnya: Masih belum. . . maka sering (seperti kata Salim Said|) jadi HERAN. Sebagai ilustrasi yang bikin orng heran ialah:
kaitannya dengan sikap beliau yang 'mengherankan' terhadap SBY. Terakhir SBY khusus, a.l mengirimkan putranya untuk mengundang beliau hadir di Kongres Ke-IV Partai Demokrat. Sebagai biasa, Mega tidak datang memenuhi undangan SBY itu.
Heran kan??
* * *
Megawati Sukarnoputri ---- tetap akan memainkan peranannya dalam perkembangan politik Indonesia mendatang.
Lebih-lebih lagi -- PDI-P yang dipimpinnya adalah (seyogianya) salah satu sandaran utama bagi berlangsungnya PEMERINTAHAN JOKOWI.
Ini sikap politik realis a.d. Realisme – satu-satunya – untuk melangsungkan dan mensukseskan jalannyua PERUBAHAN DAN KEMAJUAN DEWASA INI.
* * *
130 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Malam, 21 April 2015
-------------------------------------
"MINI-SEMINAR" --- KASUS SEJARAH TERPENTING INDONESIA
* * *
Sepertinya, --- seakan-akan, . .. kejadian itu, sebagai sesuatu yang 'kebetulan' saja!
Pe Read more ...nulis muda Leila S Chudori menempakan posting di FB. Tentang kesan dan komentarnya setelah melihat sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005).Aktivis dan pemeduli HAM Indonesia umumnya sudah melihat Film "40th Kesunyian". < Untuk kata 'silence' --- terjemahan yang lebih cocok, mungkin: 'keheningan' , atau 'kebisuan'>.
"40 Years of Silence", -- adalah sebuah dokumenter sekitar Peristiwa Pembantaian Masal 1965/66/67. Situs www.40yearsofsilence.com/2008, a.l menulis sbb :
SEBUAH TRAGEDI INDONESIA:
Adalah kisah empat keluarga Indonesia yang menjadi korban tragedi 1965-1966. Keluarga Lanny di Jawa Tengah, Keluarga Budi di Jogjakarta, Degung dan Kereta di Bali.
Diperkirakan 500 ribu sampai 1 juta orang dibunuh pada Oktober 1965 sampai April 1966. Salah satu kejahatan terhadap kemanusiaan yang belum terungkap di Indoensia.
Alex, ayah Lanny adalah tokoh Baperki. Penangkapan dan kematian Alex telah mengubah kehidupan Lanny sekeluarga.
Budi mengalamai trauma dendam akan apa yang dialami Kris, kakaknya yang mengalami cap sebagai anak PKI. Budi seperti hidup di dua dunia: hitam dan putih, dendam dan bersabar.
Orang tua Degung menjadi korban saat Degung berumur lima tahun. Degung masuk dalam dunia intelektual dan kebudayaan.
Kereta menyakiskan berbagai pembunuhan terhadap orangtua dan keluarganya. Saat ini Kereta hidup dengan roh-roh yang merasuki dirinya. Rob Lawson menekankan diagnosa Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) terhadap empat keluarga itu.
Tiga sejarawan, Baskara T Wardaya, John Rossa dan Geoffrey Robison, menerangkan temuan penelitian mereka bahwa pembunuhan massal itu diorganisasikan, berkait erat dengan politik nasional dan internasional masa perang dingin.
* * *
Lalu, --- Leila S. Chudori memberikan komentar dan kesannya a.l sbb: (19 April) 2015
“Semalam saya menyaksikan sebuah film dokumenter berjudul "40 Years of Silence" karya Robert Lemelson (2005), seorang antropolog AS tentang tapol dan keluarganya dengan akibat fisik dan mentalnya.
Sebelumnya saya menyaksikan dokumenter ini sepotong-sepotong melalui trailer saja dan tempo hari Lemelson mengirimkan jauh-jauh dari AS.Sebelum ada nama Joshua Oppenheimer, dokumenter ini saya rasa lengkap (dengan cara dokumenter 'konvensional) mengikuti 4 narasumber di Jawa dan Bali serta komentar beberapa pengamat seperti Baskara Wardaya dan John Roosa.
Meski sudah bertahun-tahun saya melakukan riset soal 1965, tetap saja cerita para saksi masih mengejutkan dan menggedor hati. Salah satu anak yang diikuti dengan sabar oleh sutradara, sejak dia masih remaja hingga agak dewasa berkisah bagaimana dia menyaksikan sendiri kakaknya dianiaya di depan dia.
Anak ini tumbuh jadi anak pemarah dan sering berkelahi. Yang agak membuat dia sekarang lebih tenang dan tidak murka seperti masa kanak-kanaknya adalah karena dia kini ikut latihan bela diri dan meditasi.
"Dulu rasanya saya ingin membunuh para penyiksa kakak saya," katanya.
Tapi kini kemarahan itu dia salurkan pada olahraga. Saya jadi ingat itu sosok yang saya bayangkan tentang Segara Alam dalam Pulang, hasil wawancara dengan beberapa kawan, putera tahanan di Salemba dan Nusakambangan serta Pulau Buru. Kawan-kawan, 50 Tahun sudah peristiwa itu.
Saya hormat kepada rekan-rekan IPT (International People's Tribunal) yang setia bergerak mencari keadilan.
* * *
Dari komentar Leila inilah dimulai “MINI SEMINAR” .. yang temanya berkembang menjadi hakikat yang sesungguhnya, dari massalahnya, yaitu KASUS PERISTIWA SEJARAH PEMBANTAIAN MASAL 1965/66/67. Dan keterlibatan para aktivis dan pemeduli mancanegara mengenai kasus tsb. Kemudian diseminarkan pada tgl 10 April 2015, di Den Haag, Belanda. Dalam suatu wadah kegiatan pro -korban pelanggaran HAM terbesar di Indnesia. Lembaga itu bernama “THE INTERNATIONAL PEOPLE'S TRIBUNAL 1965 (IPT-65)”. Badan kegiatan HAM ini berkedudukan di Den Haag. Dipandu oleh seorang sarjana Belanda, Prof Dr Saskia Swieringga dan Koordinator, seorang advokat Indonesia, Nursyahbani Kacasungkana.
* * *
Berbagai pendapat dan komentar diajukan di MINI-Seminar di FB. Sungguh penting dan menarik. Ini adalah diskusi, yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mau bergabung di Facebook.
Baik disoroti salah satu komentar – pendapat seorang partisipan yang diajukan a.l sbb:
“. . . . . saya khawatir fakta-fakta penting tentang peristiwa 30 Sep. 1965 itu tidak akan pernah terungkap sepenuhnya selama para pelaku atau keluarga dekat mereka masih berkuasa dan pasal-pasal tentang limitasi rahasia negara di dalam UU Keterbukaan Informasi Publik tidak segera direvisi. (Abdullah Alamudi).
Lalu ditanggapi oleh Leila S. Chudori a.l sbb:
“Sepenuhnya memang tidak mungkin . . . Di negara Barat yang sering sekali mengulik sejarah mereka saja tak pernah bisa sepenuhnya mengangkat 'the truth'. Tapi sekedar pengakuan dar pemerintah bahwa massacre itu terjadi, menurut saya penting, pasti ada caranya untuk mengatasi keterbatasan itu.
Leila melanjutkan: . . . . . “iya, tentu saya tidak mimpi semua pemimpin bisa membuat statement seperti Gus Dur. Semua kenyataan pak Alamudi itu betul sekali terutama soal Megawati dan SBY. Saya belajar banyak hal dan salah satunya: bersiap untuk kecewa. Tapi ya kalau kita duduk-duduk saja, saya tidak merasa tepat. Dalam film itu salah satu pengamat (kalau tak salah Baskara Wardaya) menyampaikan satu hal menarik: kalau kita diam tenang-tenang saja puluhan tahun, peristiwa berdarah ini terus terusan berulang dan nyawa orang sedemikian tidak dihargai.
* * *
Ada satu lagi yang perlu disoroti , yaitu pendapat sbb:
“ . . . . saya kira (re)solusi thd 1965 & dampaknya berat dan tidaklah mungkin tanpa gerakan politik dari masyarakat. Mendem jero, seperti dimaksud Lies M, benar itu dilakukan Orde Baru, bukan solusi, malah merupakan hipokrisi.
“Pengakuan pemerintah atau pengakuan oleh presiden seperti dilakukan Gus Dur, hanya Gus Dur yg (berani dan mampu) melakukannya.
“Tribunal Rakyat pun hanya satu jalan utk mendorong lahirnya momentum. IPT tidak mungkin menyelesaikan tanpa gerakan politik. Di Spanyol, gerakan masyarakat itu dimulai oleh kelompok cendekia dan seniman, diperkuat oleh guru2 sejarah, terutama setelah Franco mati (1975).
“Saya kira, betapa pun terbatas, upaya Spanyol resolving dampak Perang Saudara 1930an lumayan. Apalagi mengingat gerakan ini, selang 70 tahun (!) kemudian, berhasil menggolkan UU Historical Memory (2004) yg meruntuhkan peninggalan politik & senirupanya fasisme Franco dan mendorong rekonsiliasi eksil Spanyol mudik ke tanahairnya.
“Point saya: mendem jero, pengakuan, islah (menurut sebagian elite kini), juga IPT,semua itu mustahil menyelesaikan masalah warisan politik dan ideologis utk mengobati luka2 besar 1965.
“Mustahil bila tanpa gerakan politik dan budaya dari tengah masyarkat. (Aboeprijadi Santoso)
* * *
Seorang hadirin yang datang ke Seminar “IPT – 1965”, di Den Haag 10 April, 2015 y.l – mempertanyakan langsung padaku, apakah kegiatan pro-HAM Indonesia yg diadakan di luarnegeri seperti ini, akan punya dampak di Indonesia?
Aku tunjukkan, bahwa setiap kegiatan pro-HAM di luarnegeri, -- demi diberlakukannya HAM di Indonesia, --- pasti punya pengaruh dan efek tertentu, --- seperti banyak fakta membuktikan hal tsb.
Kegiatan-kegiatan di luar Indonesia merupakan manifestasi kepedulian dan solidaritas internasional pada rakyat Indonesia yang memperjuangkan diberlakukannya HAM di Indonesia. Sejak dulu , – -- kehidupan masyarakat negeri manapun di dunia ini, pertumbuhan dan perkembangnnya – tidak terpisah dan TIDAK BISA DIPISAHKAN, dari kehidupan masyarakat bangsa-bangsa dan negeri-negeri di dunia pada keseluruhannya.
Bagaimanapun penguasa dan kekuatan politik parpol dsb dari sementara negeri berusaha memisahkan dan membendung kehidupan masyarakat Indonesia dari kehidupan masyarakat dunia, --- usaha tsb pasti akan menemukan kegagalan.
Dengan sendirinya kekuatan dan gerakan politik dalam negeri merupakan faktor yang menentukan apakah penguasa akan memenuhi tuntutan keadilan yang diajukan di dalam maupun di luar negeri. Saling hubngannya dan adanya faktor pengaruh luarnegri – selalu merupakan 'pelengkap' untuk adanya suatu perubahan medasar dari suatu negeri.
* * *
Sementara itu, ---- “MINI – SEMINAR”, Mini-Seminar -- yang berlangsung di media mancanegara sekitar Hak-Hak Azasi Manuisa dan Demokrasi, sekitar tuntutan keadilan bagi para korban Peristiwa Persekusi dan Pembantaian Masal 1965-66-67 di Indonesia akan berlangsung terus! Terus dan terus, sampai cita-cita dan tujuannya tercapai.
* * *
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu Siang, 04 April 2015
---------------------------------
Pengantar:
Pada tanggl 22 Februari 2015, y.l Sebuah Panitya Gabungan NGO Perancis dan Indonesia di Paris -- menyelenggarkan Hari Indonesia, dalam rangka kegiatan Anti-K Read more ...olonialisme. Dalam kesempatan tsb saya diminta memberikan pandangan mengenai Konferensi Bandung (1955).
Hari ini pembicaraan tsb dipublikasikan di bawah ini sebagai sambutan MEMPERINGATI 60TH KONFRENSI ASIA AFRIKA (1955)
* * *
KONFERENSI ASIA-AFRIKA, BANDUNG (1955): SEBUAH TONGGAK SEJARAH.
* * *
Pertama-tama, saya menyatakan terima kasih kepada Panitia Penyelenggara Pertemuan ini dan kepada Miss Ibaruri Sudarsono, atas undangan hadir dalam pertemuan ini, dan kesempatan untuk menyampaikan pandangan sekitar Konferensi Asia-Afrika, Bandung 1955; peranan Sukarno; dan sekitar Gerakan Non-Aligned Movement (NAM), populer disebut GNB - Gerakan Non-Blok ; Non-Bloc Movement, sebagai kelanjutan dari Konferensi Bandung, 1955.
* * *
Pada periode kepresidenan Presiden Sukarno, pada bulan Agustus 1953, PM Ali Sastroamidjoyo dari Indonesia, atas petunjuk Presiden Sukarno, --- untuk pertama kalinya mengajukan, kepada para peserta Konferensi Colombo, -- IDE menggalang kerjasama Asia-Afrika, demi USAHA KEMERDEKAAN DAN PERDAMAIAN DUNIA. Visi Presiden Sukarno adalah: - - - Bangsa-bangsa dan negeri-negeri Asia dan Afrika, bangkitlah . . . . Pegang nasib dan haridepan ditangan sendiri. Harus menulis sejarahnya sendiri!
Gerakan ini harus terlepas dan bebas dari pengaruh geo-politik yang didominasi oleh semangat dan politik "Perang Dingin". IDE SUKARNO menolak bahwa haridepan dunia ditentukan oleh beberapa negara besar --- yang didasarkan atas konflik antara Blok Barat dan Blok Timur.
* * *
Sesungguhnya IDE Sukarno tsb yang inti-sarinya, ialah , ---- Keharusan berdiri serta berkirprahnya suatu KEKUATAN KETIGA, yang menolak keberpihakan pada salah satu blok, yang berkonflik keras dalam "Perang Dingin". Kekuatan, gerakan ini mengambil bentuk GNB - Gerakan Non-Blok.
Dalam proses selanjutnya - - - Dimulai dengan BANDUNG PRINCIPLES, tercipta gerakan dan persepakatan negeri-negeri NON BLOK, negeri-negeri yang NON-ALIGNED.. yang menempuh dan mempertahankan politik NON ALIGNMENT . . .Yang menolak berfihak, kepada salah satu fihak, ketika berkecamuk "Perang Dingin", dan TETAP MEMPERTAHANKAN POLITIK LUAR NGERI YANG BEBAS BERDIRI SENDIRI.
Tokoh-tokoh Konferensi AA Bandung: Sukarno (Indonesia), Nehru (India) , Nasser (Mesir) , Nkrumah (Ghana) merupakan pilar ide non-blok, Bersama Tito dari Yugoslavia, pada tahun 1961 berhasil meluncurkan Konferensi Non- Blok pertama di Belgrado, Jugoslavia. Gerakan Non Blok merupakan pengembangan dari PRINSIP-PRINSIp HUBUNGAN INTERNAIONAL yang dideklarasikan di Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955.
Gerakan Non-Alignment-Movement (NAM), berhasil mencakup lebih dari 100 negeri di dunia ini, termasuk Kuba yang diisolasi dan mengalami blokade ekonomi AS, yang bertujuan menghancurkan pemerintah Kuba.
* * *
Visi Sukarno sbb: --- Meskipun Asia-Afrika terdiri dari berbagai bangsa dan negeri yang berbeda-beda, mempunyai kultur dan tradisi sendiri-sendiri --- menempuh sistim politik yang berbeda-beda, serta menganut doktrin ekonomi yang beraneka ragam --- bangsa-bangsa dan negeri-negeri Asia dan Afrika, punya kesamaan besar. Yaitu, kebersamaan untuk berdiri tegak sebagai bangsa merdeka, yang sama derajat dan sama hak dengan bangsa-bangsa lainnya. Membangun dunia baru yang damai dan makmur! Mereka bertekad memegang nasib mereka di tangan mereka sendiri.
* * *
Di saat ketika "Perang Dingin" sedang berkecamuk dengan heibatnya ---, di kala Perancis berkeras kepala hendak memperpanjang masa
penjajahannya di Indocina. Dengan dukungan Blok Barat Perancis melancarkan perang penindasan/penghancuran terhadap rakyat Vietnam yang pada tanggal 02 September 1945, memproklamasikan kemerdekaan nasionalnya.
Di Semenanjung Korea, sejak 1950 meletus Perang Korea, yang nyaris menyeret dunia ke perang dunia baru!
* * *
Lebih separuh benua Afrika massih g e l a p ! -- Masih merana di bawah kekuasaan kolonialisme dan neokolonialisme Barat. Afrika Selatan masih merana di bawah kekuasaan rezim Apartheid. Di Rhodesia Utara dan Rhodesia Selatan ( yang kemudian menjadi Zambia dan Zimbabwe), kaum settlers kulit putih masih berkuasa. Aljazair disiapkan menjadi suatu negeri Apartheid lainnya di benua Afrika. Conggo masih gelap... dan banyak lagi wilayah dan negeri serta bangsa-bangsa Afrika masih didominasi oleh kekuasaan Barat -- Inggris, Perancis, Belgia, Portugis, Spanyol dan Amerika. Sementara negeri di Asia juga masih berada di bawah kekuasaan Barat yang lama.
Last but not least . . Israel masih menduduki sebagian besar wilayah Palestina! Rakyat Palestina dengan gigih mempertahankan dan mengembangkan perjuangn mereka untuk suatu negara Palestina Merdeka. Berjuang melawan politik Israel, yang tak henti-hentinya, memperluas perkampungan Yahudi, di daerah Palestina yang diduduki militer Israel.
* * *
Gerakan massa meluas di dunia ketika itu a.l. ----- Ditandai oleh hasrat besar bersama -- kehendak mencegah perang dunia baru, menentang bom A dan H serta percobannya yang membahayakan kesehatan umum rakyat di daerah tempat percobaan. .
Situasi mancanegara amat rumit. Rakyat-rakyat sedunia mempergencar kegiatan dan perjuangan demi perdamaian dunia. Gerakan Perdamaian Dunia adalah, gerakan besar yang melibatkan nasib negeri-negeri di dunia.
* * *
Dalam situasi dunia demikian itu . . . . . pada tanggal 19 April, 1955, - - - - 60 tahun yuang lalu, ----- Bandung, ibukota Provinsi Jawa Barat, -- Indonesia --- menjadi pusat perhatian dunia. Bukan saja -- karena keindahan panorama dan alam sekitarnya, ----- bukan semata-mata karena kecantikan pemandangan di sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Malabar; serta sifat ramah-bersahabat penduduknya saja, . . . . . tetapi ---- langkah bersejarah yang diayunkannya . maka Bandung menjadi pusat perhatian mancanegara.
* * *
Para wakil dan utusan dari 29 negeri dan wilayah benua Asia dan Afrika, yang sudah lama merdeka, yang baru merdeka, dan yang dalam proses memerdekakan diri dari kolonialisme, sedang berjuang melawan imperialisme, ---- berkumpul bersama, mengadakan musyawarah dan mufakat.
* * *
Perhatikan, bahwa IDE SUKARNO untuk suatu PERSATUAN DAN PERJUANGAN RAKYAT Asia-Afrika -- DEMI KEMERDEKAAN DAN PERDAMAIAN DUNIA, diluncurkan pada suatu periode ketika tentera ekspedisi Perancis (16.000 serdadu dan opsir) dipusatkan di Dien Bien Phu, sebuah desa di lereng gunun di perbatasan Vietaam dengan Laos.
Strategi militer Perancis ialah,-- hendak memancing masuk perangkap dan menghancurkan kekuatan bersenjata Vietminh , populer disebut Vietcong - yang sedang maju menderu menghalau tentara Perancis dari Indochina.
Menarik bahwa IDE SUKARNO tentang Persatuan dan Perjuangan Rakyat Asia-Afrika, diluncurkan, pada saat yang sama ketika tentara Vietminh di bawah Jendral Vo Nguyen Giap, dengan 40.000 psukan gerilyanya mengepung dan pada tanggal 07 Mei 1954, (dimulai pada tanggal 12 Maret - setelah bertempur siang malam selama 57 hari) -- , menghancurkan tentara ekspedisi kolonial Perancis di Dien Bien Phu. Kelanjutannya Perancis terpaksa angkat kaki dari Indochina, untuk digantikan oleh Amerika Serikat.
* * *
Banyak diajukan pertanyaan: APA PERAN INDONESIA dan Sukarno sekitar Konferensi A-A Bandung (1955) dan kaitannya dengan Non-Alignment, Gerakan Non-Blok?
Peran Sukarno dan Indonesia, adalah -- bahwa Sukarno dan Indonesia merupakan PEMRAKARSA, pengambil inisiatif IDE BESAR INI. Presiden Sukarno dan Indonesia tampil, maju ke depan --- , ambil inisiatif untuk mendorong maju GERAKAN KEMERDEKAAN DI ASIA DAN AFRIKA, mempersatukan dan mencapai kemenangan.
Berani melawan arus, berani menantang oposisi dan tantangan "Perang Dingin", menentang pandangan, bahwa konflik di dunia ini, antara Blok Timur dan Blok Barat, sebagai masalah yang "over-riding", yang di atas segala-galanya, yang menentukan siapa kawan siapa kawan. Yang menentukan haridepan dunia.
* * *
Ketika Konferensi AA Bndung (1955), aku baru berumur 25 tahun. Belum banyak mengerti tentang politik. nasional dan apalagi internasional.
Namun, 3 tahun sebelumnya, yaitu pada bulan Juli 1952, aku dikirimkan ke Kopenhagen, ibukota Denmark. Bersama seorng kawan ditugaskan untuk mewakili Pemuda Indonesia, dalam suatu konferensi persiapan internasional, yang akan menyelenggarakan Kongres Pemuda Sedunia, Di Wina, Austria. Pada waktu itu di Asia sedang berkobar Perang Korea.
Geo-politik mancanegara masih didominasi oleh suasana "PERANG DINGIN". Dua kekuatan di dunia ini berhadap-hadapan: Blok Barat, yang dikepalai oleh AS-- versus Blok Timur, dengan Uni Sovyet, sebagai pemimpinnya. Perang Korea, baru saja sedikit mereda.
Namun, Ada satu hal yang tidak mereda, bahkan semakin berkobar. Itu adalah perjuangaan bangsa-bangsa dan negeri-negeri terjajah di kawasan yang luas di benua Asia- dan Afrika, Perjuangan ini, adalah perjuangan dari bangsa-bangsa dan negeri-negeri terjajah, untuk merebut kemerdekaannya.
Kekuatan politik dari perjuangn ini, punya satu tujuan bersama: Yaitu, mengusir kekuasaan kolonial asing yang selama ini menguasai negeri dan bangsa mereka. Perjuangn ini adalah perjuangan anti-kolonialisme melawan kolonialisme, lama dan baru, untuk kemrdekaan bangsa dan tanah air.
* * *
Dunia tersentak! Tidak habis keheranan menyaksikan suatu peristiwa sejarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Terselenggaranya suatu konferensi yang terdiri dari bangsa-bangsa dan negeri-negeri merdeka, seperti Ethiopia, Mesir, Thailand, India, Burma, Indonesia dan Jepang; dan yang berada dalam proses mencapai kemerdekaannya, seperti Ghana dan Vietnam Selatan. Hadir di situ negeri-negeri yang terikat dengan pakta-pakta militer Barat seperti SEATO, CENTO DAN NATO.
Bagaimana mungkin negeri-negeri yang begitu beraneka ragam politik luar negeri dan aliansi militernya, bisa berkumpul dan mencapai PERSETUJUAN BERSAMA?
Negeri-negeri Barat yang selama ratusan tahun menjadi penjajah mayoritas negeri-negeri benua Asia dan Afrika, dan para juru-ramal mereka memprediksi dan mengharapkan bahwa Konferensi Asia-Afrika di Bandung itu akan berakhir dengan percekcokan dan kegagalan total. Di dunia ini tidak mungkin mengambil sikap bebas dan berdikari, begitu anggapan mereka. "Kalau kalian tidak berfihak kami, berarti kalian menentang dan jadi musuh kami"!
Begitu logika blok Barat yang dikepalai oleh Amerika Serikat, Inggris dan Perancis ketika itu. "If you are not with us, you are against us!" Begitu John Foster Dullers, Menlu AS pernah mengancam . . . .
* * *
Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang berkumpul di Bandung selama seminggu itu, menyatakan bahwa mereka berhasrat dan bertekad untuk hadir di dunia ini sebagai kekuatan politik yang berjuang untuk bebas berdiri sendiri, tidak menjadi émbél-émbél blok-blok yang merupakan fihak-fihak terlibat dalam'Perang Dingin'. Hal mana sesungguhnya merupakan fenomena baru yang muncul di dunia geo-politik internasional.
Apakah mungkin suatu negeri atau kelompok negeri-negeri untuk berdiri sendiri, tidak 'mihak sana' tidak 'mihak sini'? Bukankah di antara yang hadir di Bandung itu ada yang terikat dengan blok Barat, seperi Filipina dan Thailand yang anggota SEATO, yang dikepalai oleh AS? Bukankah Tiongkok dan Vietnam Utara, adalah bagian dari Blok Timur yang dikepalai oleh Uni Sovyet? Bukankah Turki anggota NATO, dan bukankah Irak anggota CENTO, yang dikepalai oleh AS? Selain itu terdapat negeri-negeri yang menemp;uh politk luarnegeri yang 'bebas dan aktif' , yang sering dikatakan 'netral', tidak mihak sana dan tidak mihak sini, seperti India dan Indonesia?
Bisakah negeri-negeri yang demikian berbedanya politik luarnegerinya, berkumpul dan berunding. Di tengah-tengah situasi berkecamuknya 'Perang Dingin'?
Tetapi, ---- bangsa-bangsa Asia dan Afrika, yang para wakilnya berkumpul di Bandung 60 tahun yang lalu, telah menciptakan KEAJAIBAN SEJARAH . Suatu FONOMENA LANGKA DALAM GEO-POLITIK INTERNASIONAL menjadi suatu kenyataan.
* * *
Para utusan dari negeri-negeri Asia Afrika itu bisa berunding, bisa musyawarah dan TELAH MENCAPAI KATA SEPAKAT. Mereka mewakili bangsa-bangsa dan negeri-negeri yang mendambakan kermerdekaan dan kebebasan, kerjasama, kemajuan dan perdamaian dunia. Musuh bersama mereka adalah kolonialisme dalam segala manifestasinya!
* * *
Muncullah pertanyaan berikut ini? Apakah DASA SILA BANDUNG, 10 PRINSIP BANDUNG masih relevan. Memperingati Konferensi Bandung (1955), bukankah itu NOSTALGIA SEMATA?
Nyatanya - - - dimulai dengan BANDUNG PRINCIPLES, gerakan dan persepakatan negeri-negeri NON BLOK, negeri-negeri yang NON-ALIGNED.. yang menempuh dan mempertahankan politik NON ALIGNMENT . . .Yang menolak berfihak ketika berkecamuk "Perang Dingin", dan TETAP MEMPERTAHANKAN POLITIK LUAR NGERI YANG BEBAS BERDIRI SENDIRI. Tokoh-tokoh Konferensi AA Bandung: Sukarno, Nehru, Nasser, Nkrumah merupakan pilar ide non blok, Bersama Tito dari Yugoslavia, pada tahun 1961 meluncurkan Konferensi Non Blok pertama di Belgrado, Jugoslavia. Gerakan Non Blok merupakan pengembangan dari PRINSWIP-PRINSIp HUBUNGN INTERNAIONAL yang dideklarasikan di Konferensi Asia-Afrika di Bandung, 1955.
Dalam situasi dunia yang bertambah rumit, masih terjadinya berbagai konflik kekerasan serta munculnya kecenderungan baru hegemonisme pasca 'Perang Dingin', benarlah sikap Indonesia dan sementara negeri AA lainnya bahwa SEMANGAT BANDUNG dan 10 PRINSIP BANDUNG MASIH RELEVAN!
* * *
Kelanjutan dari Konferensi AA di Bandung (1955), yang merupakan kegiatan di jajaran pemerintah--- adalah berdirinya gerakan besar setiakawan rakyat-rakyat Asia dan Afrika melawan kolonialisme dan neokolonialisme. Gerakan ini adalah gerakan non-governmental. Muncul AAPSO, Konferensi Mahasiswa AA, Konferensi Pengarang AA, Konferensi Wanita AA, Festival Film AA , KIAPPMA, dan Ganefo. Yang dilengkapi dengan Konferensi Trikontinental di Havana, Cuba, 1966. Sebagai aktivis setiakawan Raqkyt-Rakyat Asia Afrika aku sepenuhnya menceburkan diri dalam kegiatan dan gerakan besar ini.
* * *
Menarik membaca ulang yang pernah ditulis oleh waratawan senior Indonesia, Rosihan Anwar (almarhum) tentang Konferensi Bandung:
"Dewasa ini ada orang yang bertanya apakah gunanya bagi kita memperingati 50 tahun KAA Bandung, sedangkan dunia sudah berubah?
Sebagai wartawan yang meliput KAA dulu saya ingin menjawabnya dengan mengemukakan bahwa betul dunia sudah berubah, namun kita mesti berusaha menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda Indonesia. Generasi muda jangan sampai melihat sejarah bangsa kita seperti terputus- putus, merasa hidup hanya dalam zamannya saja, bersikap bagaikan "muara melupakan hilirnya".
"50 Tahun yang lalu Indonesia tampil aktif di gelanggang politik internasional dengan tujuan membebaskan bangsa Asia-Afrika dari kolonialisme."Indonesia sukses menyelenggarakan KAA walaupun keadaannya masih sukar dan pengalamannya masih kurang. Tapi, Indonesia tetap maju ke depan dan aktif bergerak dalam human pilgrimage, perjalanan umat manusia.
"Apakah pengetahuan sejarah tentang KAA itu tidak memberi inspirasi dan optimisme bagi generasi sekarang untuk menatap masa depan? Saya yakin ada, karena itu ada gunanya memperingati 50 tahun KAA Bandung. God bless Indonesia.'
* * *
Lampiran: -- I
Dibawah ini bisa dibaca lagi apa itu DEKLARASI BANDUNG?
Isi Dasasila Bandung – Bandung Principles:
1.. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB
2.. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
3.. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
4.. Tidak melakukan intervensiatau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
5.. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
6.. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
7.. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritaw wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
8.. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
9.. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
10.. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional
* * *
Lampiran II
PESERTA KONFERENSI ASIA-AFRIKA, BANDUNG 1955
1.. Afganistan
2.. Indonesia
3.. Pakistan
4.. Birma
5.. IranFilipina
6.. Kamboja
7.. Irak
8.. Iran
9.. Arab Saudi
10.. Ceylon
11.. Jepang
12.. Sudan
13.. Republik Rakyat Tiongkok
14.. Yordania
15.. Suriah
16.. Laos
17.. Thailand
18.. Mesir
19.. Libanon
20.. Turki
21.. Ethiopia
22.. Liberia
23.. Vietnam (Utara)
24.. Vietnam (Selatan)
25.. Pantai Emas
26.. Libya
27.. India
28.. Nepal
29.. Yaman
* * *
Lampiran III
Non-Aligned Movement/NAM)
adalah suatu organisasi internaswional yang terdiri dari lebih dari 100 negara-negara yang tidak menganggap dirinya beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun.
Tujuan dari organisasi ini, seperti yang tercantum dalam Deklarasi Havana tahun 1979, adalah untuk
menjamin "kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara nonblok" dalam perjuangan mereka menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme, Apartheid Zionisme, rasisme dan segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi, interferensi atau hegemonii dan menentang segala bentuk blok politik.
Mereka merepresentasikan 55 persen penduduk dunia dan hampir 2/3 keangotaan PBB. Negara-negara yang telah menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT).
Paris, 22 Februari, 2015
* * *
132 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at Sore, 03 April 2015
--------------------------------- -
Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Dikatagorikan Pemimpin Terbesar Dunia
Sebuah majalah terkenal Dunia Bisnis mancanegara (AS), “FORTUNE”, dalam edisi Eropah, 05 Ap Read more ...ril 2015, “Fortune.com” Number 5, memfokuskan 'cover-story-nya', pada - “Limapuluh Pemimpin Terbesar Dunia” -- “THE WORLD'S 50 GREATEST LEADERS”.
Yang terpilih masuk katagori 50 pemimpin terbesar dunia, a.l tokoh-tokoh seperti Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (karena berhasil memimpin Tiongkok maju, stabil dan konsisten dalam usaha menangani masalah korupsi - di bawah pimpinannya bukan saja koruptor klas 'nyamuk 'yang ditindak, --- tetapi juga koruptor klas 'harimau', sepert Zhou Yungkang); --- Pemenang Hadiah Nobel Kailash Sayarthi, pemimpin perjuangan melawan pekerja kanak-kanak sedunia; --- Joanne Liu, Presiden International Medecine Sans Frontiers; Mark Zuckerberg – CEO Facebook, dan CEO APPLE, Tim Cook . .
Dan 45 tokoh-tokoh selebriti mancanegara lainnya dari dunia politik, ekonomi, finans, sosial, ilmu, kemanuiaan, religi, dan bisnis.
* * *
Namun, yang membikin tergerak dibuatnya tulisan ini adalah,--- dimasukkannya nama Walikota Surabaya TRI RISMAHARINI - (54th), yang dinilai oleh “FORTUNE” sejajar dengan nama-nama selebriti seperti Kailash Sayarthi, Xi Jinping, Paus Frnciscus, Putin, Presiden Liberia, dll, sebagai tokoh-tokoh dunia tergolong LIMA PULUH PEMIMPIN TERBESAR DUNIA dewasa ini.
Setiap warga Indonesia yang punya rasa KEBANGSAAN PATRIOTIK tidak-bisa-tidak akan bangga. Bangga bahwa di kalangan pengelola pemerintahan (daerah) di Indonesia juga terdapat pegawai negeri – birokrat – yang baik, bersih, yang dengan sepenuh hati mengabdi warga yang memilihnya sebagai pejabat walikota yang baik.
SIAPA TRI RISMAHARINI?
Pada tanggal 30 Desember 2013, kutulis di kolomku, a.l sbb:
“Pada penghujung tahun 2013 ini, seyogianya bahagia kita membaca berita baik sekitar prestasi yang dicapai oleh warga kota Surabaya.
Warga Surabaya, di bawah asuhan Walikota Bu Risma, berhasil meraih penghargaan nasional dan internasional dalam mengelola dan memperindah kota Surbaya. Prestasi ini untuk kesekian kalinya mendesak ke belakang segala keluhan dan rintihan fihak-fihak yang hanya bisa melihat segi-segi negatif bangsa ini.
Melihat gejala-gejala negatif dalam kehidupan bangsa, seperti belum tegaknya hukum, membudayanya birokrasi, nepotisme, manipulasi, korupsi dengan mencuatnya a.l kasus korupsi mantan Ketua MK dan kasus korupsi Gubernur Banten, dll . . . lalu . . . menjadi pesimis mengenai haridepan bangsa dan negeri ini. Selanjutnya berkembanglah fikiran masa-bodoh dan pasrah. Tidak punya kepercayaan pada kemampuan berjuang dan sukses dari bangsa Indonesia. Sesungguhnya mereka seolah-olah lupa bahwa berdirinya negara REPUBLIK INDONESIA, TEGAKNYA BANGSA INDONESIA. . . . menunjukkan WATAK NASION INDONESIA, yang sessungguhnya.
Pandangan pesimis demikian itu, tidak mampu mengkhayati sejarah bangsa kita. Bukankah para pejuang-bangsa para pendahulu kita telah membuktikan bahwa mereka adalah insan-insan yang berkarakter! Yang telah memberikan sumbangan besar?
Yang paling fatal ialah munculnya suara yang minta dikasihani seperti celetukan : “SAYA MALU JADI ORANG INDONESIA”
* * *
Rakyat Surabaya, . . . . bukan saja pada periode Awal Perang Kemerdekaan, tetapi juga dalam periode damai dan pembangunan dewasa ini menunjukkan bahwa bangsa ini, di bawah pimpinan seorang "jurumudi" yang benar-benar punya visi. . . dan yang tujuan utamanya adalah mengabdi rakyat yang dipimpinnya, PUNYA KEMAMPUAN TINGGI DAN SANGGUP BERPRESTASI TIDAK KALAH DARI BANGSA-BANGSA LAINNYA.
* * *
Apa yang ditunjukkan oleh Walikota Bu Risma dan warga Surabaya, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tetapi, . . . dalam situasi dimana sebagian masyarakat meragukan apakah bangsa dan negeri ini bisa survive, mampu menghadapi tantangan dan maju, menjadi bangsa dan negeri yang kuat, adil dan makmur, – – yang disebabkan begitu merajalelanya kultur korupsi dan nepotisme, berlanjutmya suasana was-was terhadap pemberlakuan hukum, . . . maka semangat dan prestasi warga Surabaya, pasti punya arti besar!
Perkembangan tsb menunjukkan satu hal kongkrit: -- Walikota Surabaya dan rakyat yang dipimpinnya, dengan perbuatan nyata, telah membuktikan kesekian kalinya, bahwa dikalangan bangsa ini tidak sedikit abdi-abdi rakyat yang sejati. Asal saja ada kesempatan yang wajar untuk tercapainya PRESTASI yang memajukan bangsa ini.
* * *
Ketika mengakatagoprikan TRI HISMARINI sebagai salah seorang dari tokoh PEMIMPIN DUNIA TERBESAR, majalah FPRTUNE, menulis:
“Terpilih sebagai Walikota Surabaya pada tahun 2010 Rismaharini telah mentransformasi kota berpenduduk 2,7 juta tswb menjadi sebuah kota metropolis Indonesia, yang kaya dengan ruang hijau dan lingkugan yang bagus. Kota Surabaya yang dikenal lama kaena polusinya dan lalu-lintas yang macet, dewasa ini bangg dengan 11 lokasi daerah taman yang indah subur dan daerh-darah hijau lainnya.”
* * *
Penilaian lainnya yang bisa dibaca di media a.l sbb:
“Ia adalah wanita pertama yang terpilih sebagai Walikota Surabaya sepanjang sejarah. Risma adalah perempuan pertama Indonesia yang berulang kali masuk daftar walikota terbaik dunia.
“Risma adalah insinyur lulusan Arsitektur dan pasca sarjana Manajemen Pembangunan Kota. . . Ia tercatat sebagai wanita pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia pasca Reformasi 98.
“Pada 4 Maret 2015, ia mendapatkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Insitut Teknologi Spuluh Nopember Surbaya (ITS]. Gelar kehormatan tersebut diberikan dalam bidang Manajemen Pembangunan Kota di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.
* * *
“Belum setahun menjabat, pada tanggal 31 Januari 2011,
Ketua DPRD Surabaya Whisnu Wardhana menurunkan Risma dengan hak angketnya. Alasannya adalah karena adanya Peraturan Wali Kota Surabaya (Perwali) Nomor 56 tahun 2010 tentang Perhitungan nilai sewa reklame dan Peraturan wali kota Surabaya Nomor 57 tentang perhitungan nilai sewa reklame terbatas di kawasan khusus kota Surabaya yang menaikkan pajak reklame menjadi 25%. Risma dianggap telah melanggar undang-undang, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) nomor 16/2006 tentang prosedur penyusunan hukum daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008. Sebab Walikota tidak melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dalam membahas maupun menyusun Perwali.
Keputusan ini didukung oleh 6 dari 7 fraksi politik yang ada di dewan, termasuk PDI-P; - - - - - (Catat ini: Tri Hismaharini adalah kader parpol PDI-P. Namun, wakil PDI-P di DPRD, ikut-ikut rencana 'memecat' kader parpolnya sendiri -- Fikiran orang tiba-tiba teringat pada Gubernur Jakarta Ahok, yang sedang bernafsunya digembosi oleh DPRD, dimana terdapat wakil PDI-P)
* * *
Tentang Perwali nomor 57 yang diterbitkannya itu, Risma beralasan, pajak di kawasan khusus perlu dinaikkan agar pengusaha tidak seenaknya memasang iklan di jalan umum, dan agar kota tak menjadi belantara iklan. Dengan pajak yang tinggi itu, pemerintah berharap, pengusaha iklan beralih memasang iklan di media massa, ketimbang memasang baliho di jalan-jalan kota.[9]
Akhirnya, Mendagri Gamawan Fauzi angkat bicara akan hal ini dan menegaskan bahwa Tri Risma tetap menjabat sebagai Wali Kota Surabaya dan menilai alasan pemakzulan Risma adalah hal yang mengada-ada.
Belakangan kemudian beredar kabar bahwa hal ini disebabkan banyaknya kalangan DPRD Kota Surabaya yang tidak senang dengan sepak terjang politik Tri Risma yang terkenal tidak kompromi dan terus maju berjuang membangun Kota Surabaya, termasuk menolak keras pembangunan tol tengah Kota Surabaya yang dinilai tidak akan bermanfaat untuk mengurai kemacetan dan lebih memilih meneruskan proyek frontage road dan MERR-IIC (Middle East Ring Road) yang akan menghubungkan area industri Rungkut hingga ke Jembatan Suramadu via area timur Surabaya yang juga akan bermanfaat untuk pemerataan pembangunan kota. (Narasumber: Wikipedia).
* * *
132 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Sore, 25 Maret 2015
-----------------------
LEE KUAN YEW
BERAKHIRNYA HIDUP SEORANG DIKTATOR YG MENGHARAMKAN KRITIK Dan OPOSISI
* * *
Meskipun formalnya sudah lama Lee Kuan Yew ti Read more ...dak lagi perdana mentri Singapur, sudah digantikan oleh pilihannya sendiri, PUTRANYA, -- namun, ia masih terus memberikan 'pengarahan dari belakang layar' mengenai urusan bagaimana mengelola negeri dan penduduknya, sampai akhir hidupnya.
Matinya LEE KUAN YEW, membuka kesempatan baru bagi masyarakat mancanegara, dan bagi generasi muda Singapur, mempertanyakan, mempersoalkan . . . . menilai peranan kepemimpinan Lee Kuan Yew atas Singapur selama kurang lebih setengah abad. Berapa persen positifnya dan berapa persen negatifnya terhadap negeri dan warga Singapur. Berapa besar pengaruhnya terhadap negeri-negeri lain.
* * *
Pemimpin “Singapore Democratic Party” (SDP), ---- Dr Chee Soon Juan, mengecam keras sistim pemerintahan otoriter Lee Kuan Yew. Yang melalui fitnah dan tuduhan terhadap para pengkritisinya, kemudian menjebloskannya ke penjara.
“Kewajiban barisan oposisi, masyarakat dan gerakan buruh, telah dilumpuhkan, dalam kurun waktu 50 tahun y.l, melalui pemenjaraan tanpa proses pengadilan dan persekusi kriminil, dan hampir semua surat-kabar, siaran TV dan radio dimiliki dan dikelola oleh negara” tulis Dr Chee.
Dr Chee Soon Juan dewasa ini adalah Sekjen Singapore Demovrtic Party (SADP). Ia pemimpin oposisi. Oleh Amnesty International Dr Chee dinyatakan sebagai “prisoner of conscience”(tahanan politik). Dr Chee S.J dipenjarakan lebih dari duabelas kali, karena kegiatan oposisi yang dilakukannya. Sementara ini, -- ia 'bebas' setelah menunaikan pembayaran uang tebus untuk menckhiri keadaan 'bangkrut' seperti yang dinyatakan oleh pemerintah, mengenai dirinya. Halmana mencegah Dr Chee Soon Juan ambil bagian dalam pemilu yang lalu.
Namun, Ia akan ambil bagian dalam pemilu 2016 yad.
* * *
Tan Wah Piow, adalah Presiden dari Persatuan Mahasiswea Universitas Singpur (the University of Singapore Students’ Union (USSU). (1974). USSU dan Singapore Polytechnic Students’ Union. Pernah mengadakan kampanye untuk demokraswi dan keadilan sosial bagi kaum pekerja.
Ia pun pernah masuk penjara (setahun) atas tuduhan mengadakan 'kerusuhan'. Begitu keluar penjara (1975) ia 'tiarap' , kemudian dapat asilum di Inggris.
Tan Wah Piow dituduh pemerintah sebagi 'biang keladi' “konspirasi Marxis”. Ketika itu ia berumur 35th dan sedang memberikan kuliah di Oxford University. Ia membantah fitnahan dan tuduhan pemerintah Singapur itu. Setelah pada tahun 1987, ditngkap lagi -- kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah Singapur.
Dewasa ini Tan Wsah Piow praktek sebagai advokat di London, dan berharap kewarganegaraannya sebagai warga Singapur dipulihkan.
* * *
Tan Wah Piow , yang terpaksa tinggal sebagiai eksil di Inggris, memprediksi, bahwa kematian Lee Kusan Yew akan membebaskan rakyat Singapur dari otoriterisme. Dari tindakan supresi terhadap hak-hak demokrasi.
“Semasa hidupnya satu-satunya kepedulian Lee Kuan Yew adalah supaya ia ditakuti oleh rakyat. Ia begitu luar biasa sukses dalam ushanya itu, sehingga pada saat kematiannya, ia tidak meninggalkan satupun pengikut: --- hanyalah ANTÉK.”, demikian dinyatakan oleh disiden politik Singapur tsb.
“Ia akan dikenang sebagai seorang diktator yang sempurna yang mempertahankan semacam (a veneer of) demokrasi dan mengenai ilusi besar tentang supremasi hukum, hingga akhir hidupnya.
Demikianlkah hasil yang dicapainya, sehingga diktator dimana-mana memandang sistim-kontrolnya dengan rasa iri-hati”.
* * *
“Matinya Lee Kuan Yew pasti akan menghilangkan rintangan dan membebaskan rakyat dari suasana takut. Takut terhadap persekusi politik yang telah melumpuhkan warga dan penduduk Singapur- sehingga tak ada samanya di negeri manapun, yang telah berkembang, -- sedemikian parahnya, sehingga bahkan lapisan yang amat kaya sekalipun, yang amat pandai, dan mereka yang menjabat posisi tinggi di pemerintahan, takut memberikan pendapat yang berbeda (dengan pendapat resmi).
Dengan kematiannya, kebenaran tentang orang ini akan muncul. Untunglah yang sudah mati itu, tidak bisa lagi mengayunkan tongkat undang-undang yang mempersekusi siapa saja yang dianggap memfitnah, untuk menyumbat mulut pengkritisinya, Lee cepat sekali brtindak seperti itu, selama hidupnya. Demikian antara lain Tan Wah Piow.
* * *
Semasa hidupnya Lee Kuan Yew menolak kriitk-kritik terhadap sistim politik otoriter yang dijalankannya di Singapur.
“ Saya menghendaki kedamaian-sipil dan stabilitas di negeri ini, saya tidak mengikuti resep apapoun yang disodorkan pada saya oleh akhli teori manapun mengenai demokrasi”. Demikian tukas Lee Kuan Yew menangkis kritik-kritik dan membela sistim otoriter yang dipaksakannya di dalam negeri.
* * *
Seperti yang banyak dikomentari okeh pers mancanegar: Di satu fihak Lee Kuan Yew dikenang oleh banyak orang Singapur dengan rasa hormat dan bangga. Sementara tokoh politik elit negeri yang sedang berkembang, menganggp sistim otoriter/diktatorial Kee Kuan Yew – sebagai teladan bagi negeri yang sedang berkembang.
Tetapi bagi generasi muda ----- ia dikenang sebagai SEORANG DIKTATOR. Yang mewarisi KEMISKINAN DAN KEKERASAN pada periode lahirnya Singapur sebagai negeri dan bangsa.
Kaum muda mempersoalkan, pengontrolan dinasti Lee Kuan Yew atas politik Singapur . Kaum muda berjuang untuk demokrasi yang lebih luas.
* * *
Sebagai ilustrasi: -- Siapa Lee kuan Yew, baik baca a.l seleksi Kompas sekitar sejumlah ucapan Lee Kuan Yew ketika masih berjaya:
---- "Dicintai atau ditakuti, saya selalu percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Machiavelli adalah benar. Jika tidak ada yang menakuti saya sebagai pemimpin, maka saya tidak ada artinya."
---- "Saya harus memenjarakan lawan, tanpa pengadilan, baik komunis, sauvinis, atau ekstremis agama. Jika saya tidak melakukannya, negara ini akan hancur."
Terkadang saya harus melakukan sesuatu yang kejam, seperti memenjarakan orang tanpa pengadilan."
* * *
* * *
132 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Selasa Sore , 17 Maret 2015
-----------------------------------
Tidak Mustahil: Aksi CORAT-CORÉT “PALU ARIT” Di MAGETAN , Adalah "BIKINAN SENDIRI"
* * *
Hari ini tersiar berita berjudul : FENOMENA PALU ARIT:
Grafit Read more ...i Simbol Palu Arit, TNI Magetan Kalang Kabut
* * *
Selanjutnya: SURYAMALANG.COM, MAGETAN – “. . .TNI Magetan dibuat geger dengan munculnya graffiti atau coretan dinding mirip simbol palu arit di sejumlah infrastruktur dan fasilitas umum di Magetan. . . . . Simbol ini dinilai telah terlarang. Tidak boleh satu pun warga menggambar simbol palu arit ini di fasilitas umum. Namun di kota Kabuptern Mgetan tiba-tiba muncul symbol terlarang itu. . . .
“TNI pun terusik dan merspons kuat coretan di sejumlah fasilitas umum itu. “Simbol tersebut dinilai membangkitkan trauma masyarakat. Setiap melintas di pusat kota kabupaten itu, TNI terusik dan makin tak nyaman.
“Tim intelijen TNI itu menyisir lokasi. . . . .
“Intelijen juga masih belum memahami tulisan BBK pada graffiti di Magetan tersebut. Kemudian ditemukan kepanjangannya bahwa BBK adalah kepanjangan dari Barikade Baru Komunis.
“Dari temuan itu, tim intelijen gabungan ini menyisir daerah daerah yang menjadi tempat nongkrong anak-anak muda. Belum ada konfirmasi dari pihak TNI Magetan. (Doni Prasetyo). Demikian a.l diberitakan oleh SURYAMALANG.,COM.
* * *
Dalam sejarah politik mancanaegara tercatat, bahwa, kaum fasis Jerman di bawah pimpinan Adolf Hitler, pada 27 Februri 1933, merekayasa pembakaran gedung Reichstag (Parlemen Jerman). Berikutnya menuding kaum Komunis yang melakukan pembakaran. Seorang tokoh pimpinan Komunis, G. Dimitrov, diseret ke pengadilan. 4.000 Komunis Jerman dijebloskan dalam penjara. Pengadilan Leipzig kemudin “mengadili” Dimitrov.
* * *
Di Indonesia, Kabinet PM Dr Sukiman (Masyumi), merekayasa “suatu serangan PKI Malam di Tjilincing.” Sebagai dalih dan awal melegitimasi “Razia Agustus 1951”. Dimana kaum Komunis dan sementara kader PSI dan Partai Murba dijebloskan dalam penjara.
Apa yang dilakukan oleh Adolf Hitler di Jerman dan Dr Sukiman di Indonesia, adalah cara provokasi klasik merekayasa suatu peristiwa, seperti dibakarnya gedung Reichstag, di Indonesia merekayasa suatu 'serangan bersenjata” terhadap pemerintah, kemudian menuduh 'PKI Malam' yang bertanggungjawab. Ini sebuah varian dari taktik “maling-teriak-maling”.
Jendral Suharto dan klik militernya juga mentrapkan taktik “maling-teriak maling”. Merekayasa, menyebar kebohongan dan fitnah sekitar, 'perbuatan mesum perempuan Gerwani/PKI' di Lubang Buaya. Yang melakukan “orgi” kemudian dengan kejam dan biadab menyiksa para jendral sebelum mereka itu dibunuh. Jendral Suharto, mengawali genosidanya terhadap warga Indonesia tak bersalah yang PKI atau dituduh PKI, dengan suatu kampanye besar-besaran sekitar kebiadaban perempuan-perempuan Gerwani.
Ternyata kemudian semua itu adalah fitnah dan bohong besar belaka, diakukan dalam rangka mencari 'legitimasi' pembunuhan masal yang dilakukannya.
* * *
Kali ini apa yang terjadi di Magetan -- suatu aksi corat-coret 'mirip Palu-Arit', itu, bukan mustahil, dilakukan oleh 'mereka-mereka sendiri'. Penglaman menunjukkan tidak sekali-dua, taktik “maling-teriak maling” digunakan oleh penguasa. Pembantaian 1965 dimulai oleh fihak militer dengan mentrapkan 'cara Hitler' itu.
Persis terjadi apa yang sudah bisa diduga. . . Mereka dengan riuh-rendah menabuh genderang, sambil berteriak-teriak 'Awas Bahaya Laten PKI'.
* * *
BUKANKAH BELAKANGAN INI 'MEREKA' KEPÉPÉT? KARENA ADA SATU KESATUAN TNI YANG MEMUTAR FILM DOKUMENTER "SENYAP" . Disusul oleh kegagalan fihak tertentu universitas Yogyakarta, yang berrencana melarang pemutaran film dokumenter SENYA di kampus universitas Yogyakarta. * * *
132 months ago
Ibrahim Isa Kolom IBRAHIM ISA
Sabtu, 31 Januari 2015
--------------------------------
Ikuti Bagaimana KEBIJAKAN JOKOWI “Menangani” . . . . Kemelut Perpolitikan . . .
* * *
“ALOTNYA” MELAKSANAKAN “PERUBAHAN” . . .
Sejak periode Presiden BJ Habibi Read more ...e, Indonesia memasuki periode Reformasi dan Demokratisasi. Jatuhnya Suharto menunjukkan, bahwa proses Reformasi dan Demokratisasi itu tidak berlangsung dengan aman, damai dan tenteram. “Perubahan mendadak dan bergejolak”, menuju pada penjungkir-balikkan politik dan birokrasi yang puluhan tahun lamanya bergelimang dan berkubang di lumpur kekerasan dan ketiadaan hukum. Rezim Orde Baru telah menghancur-luluhkan tradisi pemerintah Republik Indonesia, yang didasarkan pada UUD dan hukum.
Sejak dibangunnya, --- rezim Orde Baru, --- 32 tahun lamanya, penguasa menjalankan pemerintahannya, dengan menginjak-injak UUD, hukum dan rasa keadilan. Segala plosok kekuasaan negara: --- eksekutif, legeslatif, dan yudikatif . .,., dicengkam disatu tangan besi yang TUNGGAL : Tangan besi Presiden Jendral Suharto.
Satu-satunya lembaga negara yang berfungsi, yang maha kuasa, adalah Tentara. Melalui pemberlakuan sistim kekuasaan menuruti logika dan falsafah fasis DWIFUNGSI ABRI, rezim Orde Baru menjadikan pemerinth sebagai kekuasaan amgkara murka.
* * *
Itulah sebabnya, -- proses Reformasi dan Demokrtisasi berlangsung BUKAN TANPA KEKERASAN. Sebut saja gerakan massa unjuk rasa protes yang meluas secara nasional --menuntut perubahan kebijakan ekonomi pemerintah yang menggantungkan nasib negeri pada kekuasaan asing, yang kemudian bermuara pada tuntutan turunnya Presiden Suharto. Gerakan ini ditindas penguasa dengan kekerasan. Telah juga minta korban beberapa mahasiswa Trisakti. Lalu “Perisiwa Mei 1998”, dimana warga etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, pembunuhan, pembakaran, perampokan, pemerkosaan. Yang semua itu direkayasa oleh penguasa. Peristiwa berdarah yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kemudian peristiwa penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan/penghilangan aktivis-aktivis Demokrasi dan Reformasi dari PRD, yang sampai detik ini masih merupakan kasus misterius.
* * *
Bangsa ini punya daya hidup dan berkembang yang luar biasa. Buktinya: suatu pertumpahan darah yang dicetuskan penguasa – terkenal dengan Pembantaian dan Persekusi Masal 1965/66/67; dimana kaum Kiri dan pendukung Presiden Sukarno
Pernah disinggung oleh salah seorang tokoh PDI-P, --- Rieke Pitalongga, bahwa situasi politik yang 'kemelut' ini, ada baiknya. Transparansi memperoleh kesempatan diberlakukan dan berkembang. Transparansi pemerintahan dan lembaga negeri lainnya, --- bila digalakkan, dijadikan kegiatan penting media dan kehidupan politik sehari-hari, akan lebih banyak lagi mengikut-sertakan publik dalam mengontrol penguasa. Rakyat pasti gairah menyambut usaha mengawasi, mengontrol, mengungkap, mengkoreksi dan menciptakan kekuatan pendorong positif, --- dalam kehidupan berdemokrasi di zaman Reformasi ini.
Muncul dan berkembangnya TRANSPARANSI -- biasanya terjadi dan tumbuh di kala fihak-fihak yang berkonflik itu, terutama yang ngeloni kedudukan kekuasaan, semakin gairah dan bersemangat dalam kegiatan 'saling bongkar' . Situasi seperti itu sering terjadi pada periode pra dan selama kampanye pemilihan daerah, apalagi pemilihan presiden.
* * *
Bagaimana Presiden Jokowi – Menghadapi pelbagai konflik-politik dan 'conflict of interest' sekitar pengangkatan Kapolri baru Budi Gunawan; penetapan BG sebagai tersangka kasus korupi oleh KPK; dan ditangkapnya untuk beberapa saat, Wakil Ketua KPK, serta pergesekan yang semakin meningkat antara yang pro “KPK” dan lawannya -- yang “pro-Polri”.
Setelah menghentikan Kepala Polri yang lama dan mengangkat pelaksana tugas Kapolri , --- Jokowi “menunda” pelantikan kepala Polri yang baru Budi Gunawan. Selanjutnya Jokowi memanggil pemimpin-pemimpin KPK dan Polri yang melakukan tugas masing-masing agar bertindak sesuai aturan dan hukum. Tidak boleh melakukan tindakan 'kriminalisasi'. --- Jokowi selanjutnya membentuk 'tim atau panitia independen' terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat yang kredibel, diketuai oleh mantan Ketua Muhammadiyah, Syafei Maarif.
Panitia Independen telah mengajukan sarannya agar Presiden Jokowi mengangkat KaPolri yang baru. Karena adalah tidak etis dan merusak kepercayaan publik bila Presiden melantik Kapolri yang 'bermasaalah'.
* * *
Sebegitu jauh duduk perkaranya sudah jelas bagi publik, bagi masyarakat dan bagi siapa saja. Sebuah panitia independen, yang dibentuk Presiden, telah mengajukan saran solusinya.
Budi Gunawan harus mundur, sebaiknya atas inisiatif sendiri, kalau tidak, Presiden yang membatalkan pencalonannya sebagai Kapolri.
Sebelumnya Syafii Maarif --- Ketua tim independen Konflik KPK dan Kepolisian RI, -- menegaskan a.l:
“Pokoknya kami ingin selamatkan KPK dan Polri. Jangan dibiarkan negara rusak oleh oknum-oknum yang meng-atas-namakan institusi” (27/1/2015).
* * *
Dalam pada itu, Jokowi mengambil langkah “surprise” -- yang strategis, yaitu mengadakan pertemuan, berkonsultasi dengan mantan saingannya dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto. (mungkin juga sampai sekarang Prabowo merupakan saingan Jokowi yang paling serius). - Hasil pertemuan, tidak banyak yang meramalkan sebelumnya:
Prabowo Subianto, Ketua Gerindra dan tokoh KMP yang selama ini, mengambil sikap oposisi – tapi dalam DPR bermanuver mendukung pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri --- , kini mengambil MENDUKUNG SIKAP APAPUN YANG AKAN DIAMBIL OLEH PRESIDEN JOKOWI DALAM MENANGANI KONFLIK KPK – POLRI.
Sungguh menarik dan mempesonakan perkembangan baru ini, yang disebabkan oleh kebijakan Presiden Jokowi. Ternyata langkah-langkah Jokowi, diambil secara hati-hati. Dengan memperimbangkan situasi keseluruhan, serta menomor-satukan kepentingan bangsa dan negara secra nasional . . untuk masa kini dan di hari depan.
* * *
Bukankah perkembangan situasi politik Indonesia belakangan ini, merupakan pengungkapan gamblang di muka umum, untuk lebih mengenal, siapa-siapa, yang terlibat dalan konflik, bagaimana sikap masing-masing. Dan -- APA . . . . SESUNGGUHNYA YANG DIRIBUTKAN SELAMA INI.
* * *
Seruan menggelédeék Relawan Jokowi -- – “KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKAN JOKOWI SENDIRIAN” , a.l menunjukkan bahwa kebangkitan kekuatan masyarakat, khususnya para Relawan Jokowi, tidak akan berhenti. Ia bahkan akan berkembang dan bertambah besar dan kokoh.
Proses ini akan berlangsung terus --- justru dalam pergolakan politik serta berkembangnya TRANSPARANSI dalam kehidupan berbangsa.
* * *