Yusuf haji posts

Richard Liong
Timeline Photos
Morning Makro with Johntefon Empat, Anwar Soehendro, Franny Constantina, Robert Patilaya, Gabriel Siswanto Sunarko, Haji Aha, Uco Sugianto, Nahdy Graph, Lay Sulaiman, Fuad Muhammed, Fadilah Akbar, Luthfie Yusuf, Hamzah Fanrory, Iman Korut
Female
3 hours ago
Muhammad Najeeb Ahmad
Tujuh tanda di antara tanda-tanda akhir zaman
Tujuh tanda di antara tanda-tanda akhir zaman     Tanda pertama Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: “Pada satu ketika dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepotong emas. Emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dibawa ol Read more ...
eh Bani Sulaim dari pertambangan mereka. Maka sahabat berkata: “Hai Rasulullah! Emas ini adalah hasil dari tambang kita”. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan yang akan menguasainya adalah orang-orang jahat. (HR. Baihaqi) Kita telah mulai melihat bahwa penguasa-penguasa negara yang mengaku muslim namun mereka menyerahkan penguasaan tambang minyak, emas, tembaga kepada kaum non muslim. Tanda kedua Dan Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Abdurrahman Al Qari dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim 1681) Sekarang kita telah mulai menyaksikan kebenaran sabda junjungan kita ini. Kita banyak melihat tanah Arab yang dahulunya tandus dan kering kerontang tetapi sekarang telah mulai menghijau dan ditumbuhi rumput-rumputan dan pohon-pohon kayu. Contohnya, Padang Arafah yang ada di Mekkah al-Mukarramah yang dahulunya hanya dikenali sebagai padang pasir tandus dan tidak ada pohon-pohonan. Sekarang ini Padang Arafah mulai dipenuhi pohon-pohonan, sehingga kelihatan menghijau dan kita dapat berteduh di bawah naungannya. Keadaan ini walaupun menyejukkan mata memandang namun ia mengurangi gambaran keadaan padang Mahsyar, tempat berhimpunnya seluruh makhluk pada hari qiamat nanti yang merupakan tujuan utama dan pelajaran penting yang diambil dari ibadah wuquf jamaah Haji di Padang Arafah pada setiap 9 Zulhijjah tahun Hijriyah. Tanda ketiga.  Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binti Abu Salamah bercerita kepadanya dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan dari Zainab binti Jahsy radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya dengan gemetar sambil berkata: Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?. Beliau menjawab: Ya, benar jika keburukan telah merajalela.  (HR Bukhari 3097 , 3331,  6535, 6602) (HR Muslim 128, 5129) Ketika itu bangsa Arab, banyak orang muslim tetapi tidak banyak lagi muslim yang shalih, di tanah Arab tidak banyak lagi orang muslim yang mencapai maqom disisiNya Tanda keempat Dari Sahl bin Saad as-Sa ‘idi Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ya Allah! Jangan Engkau pertemukan aku dan mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu zaman dikala para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).” (HR. Ahmad) Orang banyak mengikuti ulama yang fasih berbahasa arab akan tetapi mereka tidak dapat menggunakan hati mereka untuk memahami Al Qur’an dan Hadits. Tanda kelima Dari Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada di bawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali .” (HR. al-Baihaqi) Orang banyak mengikuti ulama yang berilmu namun kosong hidayah dan menebar fitnah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh” Tanda keenam Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan (HR Bukhari 98) Keadaan orang banyak mengikuti mereka yang berfatwa tanpa ilmu. Berfatwa menggunakan akal pikiran sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad) Ilmu agama atau ilmuNya bukan berasal dari akal pikiran manusia namun berasal dari lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berasal dari apa yang telah diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla. Kemudian dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disampaikan melalui lisan ke lisan ulama yang sholeh sampai kepada hambaNya. Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani) Mereka yang berfatwa tanpa ilmu, mereka memahami agama bersandarkan muthola’ah (menelaah kitab) dengan akal pikirannya sendiri. Ulama keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Habib Munzir Al Musawa menyampaikan “Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah” Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 ) Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi) Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”. Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga” Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203 Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“ Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari) Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam. Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh Contoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra4. Al-Imam Malik bin Anas ra5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris raTanda ketujuh Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umarsemuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR Muslim 208) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  telah mengabarkan bahwa Islam pada akhirnya akan asing pula sebagaimana pada awalnya karena pada umumnya kaum muslim walaupun mereka banyak dan menjalankan perkara syariat namun mereka gagal mencapai maqom disisiNya, mereka gagal menjadi muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang bermakrifat , muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh) “Orang yang asing,  orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya”. (HR. Ahmad) Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah,  siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. [HR. Ibnu Majah dan Thabrani] Islam pada awalnya datang dengan asing diantara manusia yang berakhlak buruk (non muslim / jahiliyah) .  Tujuan beragama adalah untuk menjadikan manusia yang berakhlakul karimah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad) Beruntunglah orang orang yang asing yakni orang yang sholeh diantara orang  yang rusak / buruk  maknanya semakin akhir zaman maka semakin sedikit muslim yang mencapai maqom disisiNya atau muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh). Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus  menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“ Begitupula Imam Syafi’i ~rahimahullah menasehatkan kita agar mencapai ke-sholeh-an sebagaimana salaf yang sholeh adalah dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47] Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah,zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…” Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi) Wassalam
5 hours ago
Richard Liong Fujifilm XT1 FG by Haji Aha
Timeline Photos
Super Black and White No.5 Action by Johntefon Empat with Haji Aha, Erliansyah Narpan Apoi, Eko Smc Kapuas, Masdi Grlt, Anwar Soehendro, Robert Patilaya, Franny Constantina, Martha Suherman, Mia Enduthobimoto, Tomy Nurseta, Xiezz Lim, Akmal Martadina Read more ...
ta, Ahmad Fadilah, Herry Wibowo, M Fitri Hernadi, Herman Bunawan, Teddy Suhardja, Klaas Stoppels, Epow Photoworks, Eric Soesilo, Floura Chandra, Andre Chandra, Andreas T. Lukito, Rivan Nwb, Gabriel Siswanto Sunarko, Debby Budiman, Dharma Pratama, Uco Sugianto, Nahdy Graph, Lay Sulaiman, Fuad Muhammed, Ridho Fadly Arifuddin, Fadilah Akbar, Luthfie Yusuf, Luthfian Noor, Budhi, Surya New, Bambang Sri Tjahjono, Dimas W Prasetyo, Henry Gh, Alex Hartawan, Henry Oka, Iman Korut, Imam Musanif, Hamzah Fanrory, Doury Putra Mahkota, Borneo digital, Wewey Cheptady
Female
8 hours ago
Kafaalo
Kafaalo
Asalamu Calaykum EAU's students have been enjoying increased access to information technology. Sh. Mohamud Haji Yusuf head of EAU Garowe Campus and students are thankful for Somali Diaspora and Kafaalo. Kafaalo has sent around 100 computers to East Read more ...
Africa University in Puntland and Kafaalo Schools Ganaane (KSG) in Jubaland, where they are now used in University students, University projects and pupils in KSG. ----------------------------- Ardayda Jaamacadda East Afrika fareeceeda Garoowe oo ka faa'iidaysanaya computers-kii ay Kafaalo u gaysay. Waxayna uga faa'iideen hawlo iyo mashaariic waxbarashada jaamacadda. Sh. Maxamuud Xaaji Yuusuf iyo ardayduba waxay aad ugu mahad celinayaan inta dawr ka ciyaartay hawshaas.
8 hours ago
Abu Lukman Hidayah
PENGERTIAN IKHLAS
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِل Read more ...
ى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk. Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”. Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”. Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”. Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata : “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”. Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”.[1] Ikhlas ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau karena mencari harta rampasan perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang, karena syahwat, kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang banyak, mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu; maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan. Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah, apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan mencapai tempat kemuliaanNya. SULITNYA MEWUJUDKAN IKHLAS Mewujudkan ikhlas bukan pekerjaan yang mudah seperti anggapan orang jahil. Para ulama yang telah meniti jalan kepada Allah telah menegaskan sulitnya ikhlas dan beratnya mewujudkan ikhlas di dalam hati, kecuali orang yang memang dimudahkan Allah. Imam Sufyan Ats Tsauri berkata,”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.” [2] Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a: يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu. Lalu seorang sahabat berkata,”Ya Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau bawa kepada kami?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Ya, karena sesungguhnya seluruh hati manusia di antara dua jari tangan Allah, dan Allah membolak-balikan hati sekehendakNya. [HR Ahmad, VI/302; Hakim, I/525; Tirmidzi, no. 3522, lihat Shahih At Tirmidzi, III/171 no. 2792; Shahih Jami’ush Shagir, no.7987 dan Zhilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah, no. 225 dari sahabat Anas]. Yahya bin Abi Katsir berkata,”Belajarlah niat, karena niat lebih penting daripada amal.” [3] Muththarif bin Abdullah berkata,”Kebaikan hati tergantung kepada kebaikan amal, dan kebaikan amal bergantung kepada kebaikan niat.” [4] Pernah ada orang bertanya kepada Suhail: “Apakah yang paling berat bagi nafsu manusia?” Ia menjawab,”Ikhlas, sebab nafsu tidak pernah memiliki bagian dari ikhlas.” [5] Dikisahkan ada seorang ‘alim yang selalu shalat di shaf paling depan. Suatu hari ia datang terlambat, maka ia mendapat shalat di shaf kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada para jama’ah lain yang melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya kesenangan dan ketenangan hatinya ketika shalat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya disebabkan karena ingin dilihat orang lain. [6] Yusuf bin Husain Ar Razi berkata,”Sesuatu yang paling sulit di dunia adalah ikhlas. Aku sudah bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, seolah-olah timbul riya, dengan warna lain.” [7] Ada pendapat lain, ikhlas sesaat saja merupakan keselamatan sepanjang masa, karena ikhlas sesuatu yang sangat mulia. Ada lagi yang berkata, barangsiapa melakukan ibadah sepanjang umurnya, lalu dari ibadah itu satu saat saja ikhlas karena Allah, maka ia akan selamat. Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan. Merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللهِ مَالَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَاكَسَبُوا وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat … [Az Zumar : 47-48] قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا Katakanlah:"Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi : 103-104].[8] Bila Anda melihat seseorang, yang menurut penglihatan Anda telah melakukan amalan Islam secara murni dan benar, bahkan boleh jadi dia juga beranggapan seperti itu. Tapi bila Anda tahu dan hanya Allah saja yang tahu, Anda mendapatkannya sebagai orang yang rakus terhadap dunia, dengan cara berkedok pakaian agama. Dia berbuat untuk dirinya sendiri agar dapat mengecoh orang lain, bahwa seakan-akan dia berbuat untuk Allah. Ada lagi yang lain, yaitu beramal karena ingin disanjung, dipuji, ingin dikatakan sebagai orang yang baik, atau yang paling baik, atau terbetik dalam hatinya bahwa dia sajalah yang konsekwen terhadap Sunnah, sedangkan yang lainnya tidak. Ada lagi yang belajar karena ingin lebih tinggi dari yang lain, supaya dapat penghormatan dan harta. Tujuannya ingin berbangga dengan para ulama, mengalahkan orang yang bodoh, atau agar orang lain berpaling kepadanya. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam orang itu dengan ancaman, bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam neraka jahannam. Nasalullaha As Salamah wal ‘Afiyah. [9] Membersihkan diri dari hawa nafsu yang tampak maupun yang tersembunyi, membersihkan niat dari berbagai noda, nafsu pribadi dan duniawi, juga tidak mudah. memerlukan usaha yang maksimal, selalu memperhatikan pintu-pintu masuk bagi setan ke dalam jiwa, membersihkan hati dari unsur riya’, kesombongan, gila kedudukan, pangkat, harta untuk pamer dan lainnya. Sulitnya mewujudkan ikhlas, dikarenakan hati manusia selalu berbolak-balik. Setan selalu menggoda, menghiasi dan memberikan perasaan was-was ke dalam hati manusia, serta adanya dorongan hawa nafsu yang selalu menyuruh berbuat jelek. Karena itu kita diperintahkan berlindung dari godaan setan. Allah berfirman, yang artinya : Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al A’raf : 200]. Jadi, solusi ikhlas ialah dengan mengenyahkan pertimbangan-pertimbangan pribadi, memotong kerakusan terhadap dunia, mengikis dorongan-dorongan nafsu dan lainnya. Dan bersungguh-sunguh beramal ikhlas karena Allah, akan mendorong seseorang melakukan ibadah karena taat kepada perintah Allah dan Rasul, ingin selamat di dunia-akhirat, dan mengharap ganjaran dari Allah. Upaya mewujudkan ikhlas bisa tercapai, bila kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan jejak Salafush Shalih dalam beramal dan taqarrub kepada Allah, selalu mendengar nasihat mereka, serta berupaya semaksimal mungkin dan bersungguh-sungguh mengekang dorongan nafsu, dan selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala. HUKUM BERAMAL YANG BERCAMPUR ANTARA IKHLAS DAN TUJUAN-TUJUAN LAIN Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin menjelaskan tentang seseorang yang beribadah kepada Allah, tetapi ada tujuan lain. Beliau membagi menjadi tiga golongan. Pertama : Seseorang bermaksud untuk taqarrub kepada selain Allah dalam ibadahnya, dan untuk mendapat sanjungan dari orang lain. Perbuatan seperti membatalkan amalnya dan termasuk syirik, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal mempersekutukanKu dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya. [HSR Muslim, no. 2985; Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah]. Kedua : Ibadahnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan duniawi, seperti ingin menjadi pemimpin, mendapatkan kedudukan dan harta, tanpa bermaksud untuk taqarrub kepada Allah. Amal seperti ini akan terhapus dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. [Hud : 15-16]. Perbedaan antara golongan kedua dan pertama ialah, jika golongan pertama bermaksud agar mendapat sanjungan dari ibadahnya kepada Allah; sedangkan golongan kedua tidak bermaksud agar dia disanjung sebagai ahli ibadah kepada Allah dan dia tidak ada kepentingan dengan sanjungan manusia karena perbuatannya. Ketiga : Seseorang yang dalam ibadahnya bertujuan untuk taqarrub kepada Allah sekaligus untuk tujuan duniawi yang akan diperoleh. Misalnya : •- Tatkala melakukan thaharah, disamping berniat ibadah kepada Allah, juga berniat untuk membersihkan badan. •- Puasa dengan tujuan diet dan taqarrub kepada Allah. •- Menunaikan ibadah haji untuk melihat tempat-tempat bersejarah, tempat-tempat pelaksaan ibadah haji dan melihat para jamaah haji. Semua ini dapat mengurangi balasan keikhlasan. Andaikata yang lebih banyak adalah niat ibadahnya, maka akan luput baginya ganjaran yang sempurna. Tetapi hal itu tidak menyeret pada dosa, seperti firman Allah tentang jama’ah haji disebutkan dalam KitabNya:[10] لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Rabb-mu……[Al Baqarah : 198]. Namun, apabila yang lebih berat bukan niat untuk beribadah, maka ia tidak memperoleh ganjaran di akhirat, tetapi balasannya hanya diperoleh di dunia; bahkan dikhawatirkan akan menyeretnya pada dosa. Sebab ia menjadikan ibadah yang mestinya karena Allah sebagai tujuan yang paling tinggi, ia jadikan sebagai sarana untuk mendapatkan dunia yang rendah nilainya. Keadaan seperti itu difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala : وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَآ إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang pembagian zakat, jika mereka diberi sebagian darinya mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta mereka menjadi marah. [At Taubah : 58]. Dalam Sunan Abu Dawud [11], dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ada seseorang bertanya: “Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ! Seseorang ingin berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ingin mendapatkan harta (imbalan) dunia?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Tidak ada pahala baginya,” orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm menjawab,”Tidak ada pahala baginya.” Di dalam Shahihain (Shahih Bukhari, no.54 dan Shahih Muslim, no.1907), dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىمَا هَاجَرَ إِلَيْهِ Barangsiapa hijrahnya diniatkan untuk dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka nilai hijrahnya sesuai dengan tujuan niat dia berhijrah. Apabila ada dua tujuan dalam takaran yang berimbang, niat ibadah karena Allah dan tujuan lainnya beratnya sama, maka dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama. Pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran ialah, bahwa orang tersebut tidak mendapatkan apa-apa. Perbedaan golongan ini dengan golongan sebelumnya, bahwa tujuan selain ibadah pada golongan sebelumnya merupakan pokok sasarannya, kehendaknya merupakan kehendak yang berasal dari amalnya, seakan-akan yang dituntut dari pekerjaannya hanyalah urusan dunia belaka. Apabila ditanyakan “bagaimana neraca untuk mengetahui tujuan orang yang termasuk dalam golongan ini, lebih banyak tujuan untuk ibadah atau selain ibadah?” Jawaban kami: “Neracanya ialah, apabila ia tidak menaruh perhatian kecuali kepada ibadah saja, berhasil ia kerjakan atau tidak. Maka hal ini menunjukkan niatnya lebih besar tertuju untuk ibadah. Dan bila sebaliknya, ia tidak mendapat pahala”. Bagaimanapun juga niat merupakan perkara hati, yang urusannya amat besar dan penting. Seseorang, bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan dengan niatnya. Ada seorang ulama Salaf berkata: “Tidak ada satu perjuangan yang paling berat atas diriku, melainkan upayaku untuk ikhlas. Kita memohon kepada Allah agar diberi keikhlasan dalam niat dan dibereskan seluruh amal” [12]. IKHLAS ADALAH SYARAT DITERIMANYA AMAL Di dalam Al Qur`an dan Sunnah banyak disebutkan perintah untuk berlaku ikhlas, kedudukan dan keutamaan ikhlas. Ada disebutkan wajibnya ikhlas kaitannya dengan kemurnian tauhid dan meluruskan aqidah, dan ada yang kaitannya dengan kemurnian amal dari berbagai tujuan. Yang pokok dari keutamaan ikhlas ialah, bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal. Sesungguhnya setiap amal harus mempunyai dua syarat yang tidak akan di terima di sisi Allah, kecuali dengan keduanya. Pertama. Niat dan ikhlas karena Allah. Kedua. Sesuai dengan Sunnah; yakni sesuai dengan KitabNya atau yang dijelaskan RasulNya dan sunnahnya. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak, sebagaimana hal ini ditunjukan dalam firmanNya: وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb- nya. [Al Kahfi : 110]. Di dalam ayat ini, Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selainNya.[13] Al Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsir-nya [14]: “Inilah dua landasan amalan yang diterima, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ”. Dari Umamah, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata,”Bagaimanakah pendapatmu (tentang) seseorang yang berperang demi mencari upah dan sanjungan, apa yang diperolehnya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm selalu menjawab, orang itu tidak mendapatkan apa-apa (tidak mendapatkan ganjaran), kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. [HR Nasa-i, VI/25 dan sanad-nya jayyid sebagaimana perkataan Imam Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib, I/26-27 no. 9. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib, I/106, no. 8]. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta) _______ Footnote [1]. Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Imam An Nawawi (I/16-17), Cet. Darul Fikr; Madarijus Salikin (II/95-96), Cet. Darul Hadits Kairo; Al Ikhlas, oleh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hlm. 16-17, Cet. III, Darul Nafa-is, Tahun 1415 H; Al Ikhlas Wasy Syirkul Asghar, oleh Abdul Lathif, Cet. I, Darul Wathan, Th. 1412 H. [2]. Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (I/17); Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam (I/70). [3]. Jami’ul Ulum Wal Hikam (I/70). [4]. Ibid. (I/71). [5]. Madarijus Salikin (II/95). [6]. Tazkiyatun Nufus, hlm. 15-17. [7]. Madarijus Salikin (II/96). [8]. Tazkiyatun Nufus, hlm. 15-17. [9]. Lihat hadits yang semakna dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib (I/153-155); At Tarhib Min Ta’allumil Ilmi Lighairi Wajhillah Ta’ala, hadits no. 105-110; dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah. [10]. Ada beberapa amal lain yang mirip dengan contoh di atas, seperti: • Menunaikan ibadah haji dan umrah, disamping bertujuan ibadah, juga untuk bertamasya (tour). • Mendirikan shalat malam, tujuannya supaya lulus ujian, usahanya berhasil dan lainnya. • Berpuasa, agar tidak boros dan tidak disibukkan dengan urusan makan. • Menjenguk orang sakit, agar ia dijenguk pula bila ia sakit. • Mendatangi walimah nikah, agar yang mengundang datang bila diundang. • I’tikaf di masjid, supaya ringan biaya kontrak (sewa) tempat, atau untuk melepas kepenatan mengurus keluarga. Apapun yang mendorongnya, semua pekerjaan yang tujuannya taqarrub, akan menjadi berkurang nilainya dan bisa jadi terhapus. Wallahu a’lam. (Pen). [11]. Sunan Abu Dawud, Kitabul Jihad, Bab Fi Man Yaghzu Yaltamisud Dunya, no. 2516. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, no. 2196. [12]. Majmu’ Fatawaa wa Rasa-il, I/98-100, Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Tartib Fahd bin Nashir bin Ibrahim As Sulaiman, Cet. II Darul Wathan Lin Nasyr, Th. 1413 H. [13]. Lihat At Tawassul Anwa’uhu Wa Ahkamuhu, Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. III, Darus Salafiyyah, Th. 1405 H. [14]. Tafsir Ibnu Katsir (III/120-121), Cet. Maktabah Darus Salam  
9 hours ago
Sono Sunny Khwaja Chisti Ajmer Events Dates Khawaja Chishti Ajmer Event Date The Life And Teaching Sufi Saint Hazrat Khawaja Moinuddin Chisti Gharib Nawaz books in urdu hindi Ajmeri life history Hazrat khwaja moinuddin chishti Garib Nawaz books in urdu hindi Read more ...
Dargah Ajmer Sharif Rajasthan India Holy Moharram 2nd Urs Hazrat Maroof Karkhi 4th Urs Hazrat Hassan Basri (110 H./728 A.D) 5th Urs Hazrat Fuzail bin Iyaz (87 H./705 A.D) 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni, urdu 5th Urs Hazrat Baba Farid Uddin (Pakpattan, Pakistan) (665 H. /1173-1265) 6th. Monthly Fateha Hazrat Khwaja Moinuddin Chisti in urdu, 10th Urs Hazrat Imam Hussain (Karbala,Iraq) (61H. / 680 A.D) 10th Urs Mirza Jan e Jana,Delhi 1195H 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 13th. Urs Waris Ali Shah (Deva Sharif),(1323 H / 5th.April 1905) 14th Urs Hazrat Khwaja Mumshad Dinoori (299 H./911 A.D.) 17th Urs Shah Mohammed Afaq Delvi, Delhi, 1251 H 18th Urs Imam Zain ul Abideen, Madina 95 H 19th. Urs Hazrat Shah Wali Ullah ,New Delhi 1176 H 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 26th Urs Taj Uddin Baba ( Nagpur) 27th Urs Ashraf Jahangir Samnani – (Kachocha Sharif, UP) 808 H Holy Safar 3rd Urs Khwaja Dana- (Surat ,Gujrat) 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni, History 6th. Monthly Fateha Hazrat Khwaja Moinuddin Chisti, Garib Nawaz History 7th Urs Hazrat Abdul Wahid bin Zaid 177 H./793 A.D 7th Urs Mohammed Suleman – Tosa Sharif,Pakistan 1267 H 9th Urs Syed Shah Amir Abul ullah (Agra) 1061 H 11th Urs Salman Farsi 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 17st Urs Baha Uddin Zakaria- (Multan, Pakistan) 666 H 19th Chehallum of Hazrat Imam Hussain 20th Urs Data Ganj Bakhsh (Lahore,Pakistan) 465 H 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 23th Urs Shah Mina Lucknow 884 H 28th Urs Hazrat Imam Hassan, Madina, 49H. / 669-70 A.D 28th. Urs Hazrayt Ahmed Mujaddid Alif Sani, Sirhind 1034 H Holy Rabi Ul awwal 1st Urs Hazrat Mohammad Mustufa, Madina 11H./571 A.D. 5th Monthly Mehfil- Hazrat Sufi Saint Khawaja Usman e Haruni, biography 6th Monthly Fateha Hazrat Sufi Saint Khwaja Moinuddin Chisti Garib Nawaz, biography 9th Birth Hazrat Mohammad Mustufa 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 12th Eid e Milad un Nabi (Holy Prophet’s birthday) 13th Urs Ala Uddin Sabir- Kaliyar Dist. Rurki U.P. 690 H 14th Urs Hazrat Qutubuddin Bakhtiar Kaki, Mehroli- New Delhi, 633 H./1235 AD 7th Urs Miyan Meer – Lahore, Pakistan 1045 H 11 Aug. 1635 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 21st Urs Abdul Haq Mohaddis Delhvi- Mehroli ,New Delhi 1051H 22nd Urs Molana Fazal ul Rehman Ganjmoradabad, U.P 1313 H 24th Urs Kalim ullah, Shah’jahan’badi,Red Fort,Delhi ,1142H Holy RabiUs Sani 4th Urs Hazrat Abu Yusuf Chishti, 459 H. /1067 A.D. 5th Monthly Mehfil- Hazrat, The Life And Teachings, Khawaja Usman e Haruni 6th Monthly Fateha Hazrat, The Life And Teachings, Garib Nawaz Khwaja Moinuddin Chisti 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 14th Urs Hazrat Abu Ishaq Chishti, 329 H./940 A.D 14th Urs Hazrat Abu Ahmed Chishti, 355 H./965-6 A.D. 11th Ghirvei Sharif of Hazrat Abdul Qadir Jilani 17th Urs Hazrat Abdul Qadir Jilani, Baghdad, Iraq 1166 AD 19th Urs Hazrat Nizam Uddin Aulia, New Delhi 725 H 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 26th. Urs Hazrat Dost Mohammed ,Aurangabad 1090 H 27th Urs Faqar Uddin Fakhrey Jahan,Mehroli,New Delhi 1199 H 29th Urs Sufi Hamid Uddin Nagori,Nagore Rajasthan 673 H Holy Jamadiul Awwal 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni, miracles 6th Monthly Fateha Hazrat Khwaja Moinuddin Chisti, Garib Nawaz miracles, miracle 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 17th Urs Maqdoom Sama Uddin, Mehroli, New Delhi 901 H 17th Urs Shah Badi Uddin Madar – Makhan Pur 838 H 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 29h Urs Farid Uddin Attar 25th Urs Khawaja Baqi Billah ,Delhi 1012 H Holy Jamadi Us sani 3rd Urs Sheikh Abdul Quddos – Gangoh 945H 4th Birthday Nawab Gudri Shah Baba & Inam Gudri Shah Baba 5th Monthly Mehfil- Hazrat Khwaja Usman e Haruni, 5th Urs Jalal uddin Rumi, Konia, Turkey 6th Monthly Fateha Hazrat Khwaja Moinuddin Chisti, Garib Nawaz Qawwal, Qawwali 6th Urs Shah Niyaz – Bareli 1250 H 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 15th Urs Shams Uddin Turk Pani pat, 716 H 16th Urs Imam Ghazali , 20th Birth Bibi Fatima 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 22 Urs Hazrat Abu baqr 25th Urs Mohammad Farhad Delvi, Delhi 1135 H 25th Urs Hazrat Khwaja Baqi Billah, Old Delhi, 1012 H Holy Rajab 1st Urs Hazrat Khwaja Abu Mohammad, 411 H. /1020 A.D. 1st Urs Hazrat Khwaja Maudood Chishti, 527 H. /1133 A.D. 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni 6th Urs Hazrat Haji Sharif Zandani, 612 H. /1215 A.D. 6th Urs Hazrat Khwaja Moin Uddin, 633 H. /1229 A.D. 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 13th Birthday Hazrat Ali 14th Urs Masood Salar Ghazi- Behraich 14th Urs Hassam Uddin – Sambar,Rajasthan 741 H 16th Urs Rukn Uddin Abul Fateh – Dargah Nizam Uddin 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 22nd Urs Imam Jaafar Sadiq 25th Urs Yadgar Chishti 25th Urs Fakhruddin Gurdezi 27th Shab-e-Mehraj 27th Urs Hazat Junaid Baghdadi Holy Shaban 5th Urs Hazrat Khwaja Faqrudin Abul Kher- Sarwar ,Rajasthan 661 H 5th .Monthly Mehfil- Hazrat Khwaja Usman e Haruni 6th. .Monthly Fateha Hazrat Khwaja Moinuddin Chishti, in urdu , urdu 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 15th Shab-e-Barat Celebration 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali Holy Ramzan 3rd Urs Bibi Fatima, Madina 11 H 571 A.D. 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni 6th .Monthly Fateha Hazrat Khawaja Moinuddin Chishti urs 9th Urs Qazi Hamid Uddin Nagori-Mehroli,New Delhi 643 H 9th Urs Bu Ali Shah Qalandar- Pani Path,Panjab 625 H 10th Urs Hazrat Malik Mohammed Alam, Gudri Shah Baba I Anasagar,Ganj,Ajmer 1909 AD 10th Urs Bibi Khatija,Macca 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 14th Urs Bayazid Bustami 18th Urs Nasir uddin Chiraq Delhvi 757 H 17th Urs Aisha Sadiqa 18th Urs Hazrat Khwaja Nasir Uddin Chiragh Delhvi, 757 H./1356 AD 21st Urs Hazrat Ali, 40H./661 A.D. 22nd Urs Shah Abu Sa’id Delhvi 1249 H 28th UrsHazrat Khadim Hasan ,Gudri Shah Baba III,Usmani Chillah,Ajmer ,29t.Nov.1970 29th Urs Shaikh Salim Chishti (Fateh pur Sikri,Agra Dist.) 979 H Holy Shawaal 1st Eid ul Fitr Celebration 1st Urs Hazrat Ibrahim Adham Balkhi, 161 H./776/790 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni 5th Urs.Hazrat Abdur Raheem Shah, Qazi Gudri Shah Baba II, Anasagar,Ajmer, 1344 H 6th. Urs Hazrat Khwaja Usman e Haruni (,d.Makkah) –Urs Celebration- Ajmer, 617 H./1220 A.D. 6th.. Monthly Fateha dargah of Khawaja Moinuddin Chishti 7th Urs Hazrat Abi Hubeyra Basri, 287 H. /900 A.D. 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 14th Urs Hazrat Khwaja Sadid Uddin, 252 H./866 A.D. 18th Urs Amir khusro,New Delhi, 725 H 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali oly Zi Qaad 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni 6th.. Monthly Fateha Hazrat Khawaja Moin Uddin Chishti 10th Urs Sheikh Jamali –Andheria Morh, Mehroli,New Delhi 942 H 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 16th Urs Banda Nawaz gesudaraz – Gulbargah AP 825 H 19th. Urs Hazrat Dr. Zahurul Hassan Sharib,Gudri Shah Baba IV,1996 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 28th. Urs Kamal Uddin-Delhi 756 H Holy Zil Hija 5th. Monthly Mehfil- Hazrat Khawaja Usman e Haruni 6th. Monthly Fateha Hazrat Khawaja Moin Uddin Chishti 9th. Haj in Macca 10th Eid Celebration 11th. Monthly Giyarvi of Hazrat Abdul Qadar Jilani 17th Urs khalif Hazrat Usman 18th. Coronation Day of Hazrat Ali 21st. Monthly Ekisvi Sharif of Hazrat Ali 23st Urs Sadar Uddin Arif – Multan,Pakistan 684 H 24th Urs Nizam Uddin Aragagabadi(Aurangabad) 989 H 26th Urs Khalifa Hazrat Umar Urs dates according to Georgian Calender 5th Feb. Hazrat Inayat Khan, Basti Hazrat Nizamuddin west 17th June Hazrat Vilayat Khan, Basti Hazrat Nizamuddin west
9 hours ago
Kafaalo
Kafaalo
Asalamu Calaykum EAU's students have been enjoying increased access to information technology. Sh. Mohamud Haji Yusuf head of EAU Garowe Campus and students are thankful for Somali Diaspora and Kafaalo. Kafaalo has sent around 100 computers to East Read more ...
Africa University in Puntland and Kafaalo Schools Ganaane (KSG) in Jubaland, where they are now used in University students, University projects and pupils in KSG. ----------------------------- Ardayda Jaamacadda East Afrika fareeceeda Garoowe oo ka faa'iidaysanaya computers-kii ay Kafaalo u gaysay. Waxayna uga faa'iideen hawlo iyo mashaariic waxbarashada jaamacadda. Sh. Maxamuud Xaaji Yuusuf iyo ardayduba waxay aad ugu mahad celinayaan inta dawr ka ciyaartay hawshaas.
10 hours ago
Kafaalo Asalamu Calaykum EAU's students have been enjoying increased access to information technology. Sh. Mohamud Haji Yusuf head of EAU Garowe Campus and students are thankful for Somali Diaspora and Kafaalo. Kafaalo has sent around 100 computers to East Read more ...
Africa University in Puntland and Kafaalo Schools Ganaane (KSG) in Jubaland, where they are now used in University students, University projects and pupils in KSG. ----------------------------- Ardayda Jaamacadda East Afrika fareeceeda Garoowe oo ka faa'iidaysanaya computers-kii ay Kafaalo u gaysay. Waxayna uga faa'iideen hawlo iyo mashaariic waxbarashada jaamacadda. Sh. Maxamuud Xaaji Yuusuf iyo ardayduba waxay aad ugu mahad celinayaan inta dawr ka ciyaartay hawshaas.
10 hours ago
De Shecoembank
SYIRIK DI DALAM RUBUBIYYAH
  AL HUKMU[1]   Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, Dia-lah Yang Maha Esa dengan hukum-Nya, dan tidak seorang pun berhak menentukan hukum selain-Nya, shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘ala Read more ...
ihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ “Keputusan ini hanyalah kepunyaan Allah” (Yusuf: 40) Dan firman-Nya juga: أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki” (Al Maidah: 50) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ هُوَ الْحَكَمُ وَإِلَيْهِِ الْحُكْمُ “Sesungguhnya Allah-lah Sang Pemutus itu, dan hanya kepada-Nyalah hukum itu dikembalikan” (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud dan An Nasai’iy) Para pembaca sekalian, di antara masalah yang sangat memerlukan penjelasan para ulama adalah masalah tahkim,[2] dan memang para ulama kita telah menjelaskan masalah ini secara detail, namun kita yang kurang perhatian akan tulisan mereka, terkadang sebagian kita hanya cukup dengan komentar si Fulan dan ta’liq si Alan. Ini adalah masalah serius yang perlu kejelasan ungkapan dan lontaran bukan kalimat yang samar atau justru menyesatkan dan mengkaburkan. Al Hukmu (penentuan hukum) adalah termasuk hak khusus Rububiyyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala[3] sebagaimana do’a adalah termasuk hak khusus Uluhiyyah-Nya, maka barangsiapa merampas hak-hak khusus itu berarti dia telah memposisikan dirinya sebagai rabb (tuhan) selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagaimana orang yang memalingkan hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu kepada selain-Nya berarti dia telah menyekutukan-Nya. Khawarij adalah firqah sesat yang menyimpang karena sikap ifrath (ekstrim)nya sedangkan Murji’ah adalah firqah sesat yang menyimpang karena sikap tafrith-nya, dan bahkan Murji’ah ini lebih berbahaya dari yang lainnya, Ibrahim An Nakha’iy rahimahullah  berkata: لَفِتْنَتُهُمْ – يَعْنِي الْمُرْجِئَةَ – أَخْوَفُ عَلَى هَذِهِ الأُمَّةِ مِنْ فِتْنَةِ الأَزَارِقَةِ “Sungguh fitnah mereka –maksudnya Murji’ah– lebih ditakutkan atas umat ini daripada fitnah Azariqah”[4] [5] Ini tidak mengherankan karena Murji’ah merupakan pendorong pembabatan syari’at, Az Zuhriy rahimahullah berkata: مَا ابْتُدِعَتْ فِي الإِسْلاَمٍِ بِدْعَةٌ أَضَرُّ عَلَى أَهْلِهِ مِنَ الإِرْجَاءِ “Di dalam Islam ini tidak pernah didatangkan bid’ah yang lebih berbahaya atas pemeluknya daripada Irja’ ”[6] Al Auzai’ rahimahullah berkata: Yahya Ibnu Abi Katsir dan Qatadah rahimahumallah pernah berkata: لَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الأَهْوَاءِ أَخْوَفُ عِنْدَهُمْ عَلَى الأُمَّةِ مِنَ الإِرْجَاءِ “Tidak ada satupun ahwaa (bid’ah) yang lebih mereka khawatirkan atas umat ini daripada Irja’”[7] Karena sangat besarnya bahaya mereka sehingga Syuraik Al Qadliy rahimahullah: هُمْ أَخْبَثُ قَوْمٍ حَسْبُكَ بِالرَّافِضَةِ خُبْثًا وَلَكِنَّ الْمُرْجِئَةَ يَكْذِبُوْنَ عَلَى اللهِ “Mereka itu (Murji’ah) adalah kaum yang paling busuk, cukuplah kebusukan Rafidlah bagimu, namun Murji’ah ini berdusta atas Nama Allah.”[8] Namun, Allah memberi petunjuk Ahlus Sunnah kepada jalan yang lurus. Masalah al hukmu ini adalah termasuk dalam kancah perang pemikiran dan perkataan antara kedua kelompok sesat tersebut dengan Ahlus Sunnah. Tentunya mana ada orang yang mengaku dirinya Khawarij, bisa saja ada orang Khawarij yang mengklaim dirinya paling sunnah dan mengecam pemikiran Khawarij, dan juga mana ada orang yang mengaku dirinya dari golongan Murji’ah, bahkan tidak mustahil ada orang Murji’ah yang mengecam dan menyesatkan pemikiran Murji’ah dan berlepas diri darinya, padahal dia itu adalah orang Murji’ah, semuanya mengaku paling sunnah sedangkan selain mereka bukan di atas sunnah. Bahkan orang Murji’ah pada masa sekarang mengaku dirinya adalah yang paling sunnah dan orang yang bertentangan dengan mereka dalam masalah tahkim ini, mereka vonis sebagai Khawarij padahal orang yang mereka vonis Khawarij itu adalah Ahlus Sunnah. Ada masalah-masalah yang perlu kita ketahui bersama, karena masalah-masalah itu sangat penting sekali, namun saya hanya menyebutkan sebagian nukilan-nukilan para Ulama Ahlus Sunnah saja, karena terlalu banyak kalau dimuat seluruhnya, dan para pembaca bisa merujuk kepada kitab-kitab yang telah saya sebutkan dalam catatan kaki[9] tadi. Oleh karena itu, mengenai tahkim ini perlu diketengahkan karena sangat penting, yakni: » Bila suatu negara menegakan hukum Islam secara keseluruhan tanpa kecuali dan diperintah oleh orang-orang muslim serta pengaruh di tangan mereka, maka ini adalah negara Islam meskipun mayoritas penduduknya orang-orang kafir.[10] Dan bila pemerintahnya itu adalah menegakkan dengan benar tanpa pandang bulu maka pemerintah itu adalah pemerintah muslim yang adil. » Bila syari’at Islam masih menjadi acuan dan landasan hukum negara secara utuh, namun dia (hakim) menyimpang dari keketentuan yang berlaku dalam kasus tertentu sedangkan hukum syari’at masih menjadi landasan dan hukum negeri itu dan dia juga  mengetahui bahwa dirinya menyimpang dan berdosa  karena penyimpangan ini serta dia masih meyakini hukum Islam itu adalah yang paling sempurna maka dia itu adalah muslim yang dhalim atau muslim yang fasiq atau kufrun duna kufrin menurut Ahlus Sunnah sedangkan menurut firqah Khawarij yang sesat dia itu adalah kafir. Namun, apabila dalam kasus di atas ini si hakim meyakini bahwa hukum itu lebih baik dari hukum Allah atau menganggap halal berhukum dengannya maka dia itu kafir menurut Ahlus Sunnah dan Murji’ah sekalipun, apalagi Khawarij. » Bila suatu negara membabat hukum Islam dan menyingkirkannya kemudian mereka menerapkan (qawaniin wadl’iyyah/undang-undang buatan manusia) baik dari mereka sendiri atau mengambil dari hukum-hukum lain baik dari Belanda, Amerika, Portugal, Inggris atau yang lainnya, maka pemerintahan itu adalah pemerintahan kafir dan negaranya adalah negara kafir[11] meskipun mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin.[12][13] Shalat, shaum, zakat, haji dan ibadah dhahir lainnya yang masih dilakukan oleh para penguasa tersebut ataupun nama Islam yang mereka sandang itu tidak ada manfaatnya jika mereka tetap bersikukuh di atas prinsip itu, karena mereka adalah kafir lagi murtad[14] dan negaranya adalah negara kafir. Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz –semoga Allah memaafkannya– mengatakan: وَكُلُّ دَوْلَةٍ لاَ تَحْكُمُ بِشَرْعِ اللهِ وَلاَ تَنْصَاعُ لِحُكْمِ اللهِ وَلاَ تَرْضَاهُ فَهِيَ دَوْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ كَافِرَةٌ ظَالِمَةٌ فَاسِقَةٌ بِنَصِّ هَذِهِ الآيَاتِ الْمُحْكَمَاتِ . يَجِبُ عَلَى أَهْلِ الإِسْلاَمِ بُغْضُهَا وَمُعَادَاتُهَا فِي اللهِ وَتَحْرُمُ عَلَيْهِمْ مَوَدَّتُهَا وَمُوَالاَتُهَا حَتَّى  تُؤْمِنَ بِاللهِ وَحْدَهُ وَتُحَكِّمَ شَرِيْعَتَهُ وَتَرْضَى لَهَا وَعَلَيْهَا “Setiap negara yang tidak berhukum dengan syari’at Allah dan tidak tunduk kepada hukum Allah, serta tidak ridla dengannya, maka itu adalah negara jahiliyah, kafirah, dhalimah, fasiqah dengan penegasan ayat-ayat muhkamat ini. Wajib atas pemeluk Islam untuk membenci dan memusuhinya karena Allah dan haram atas mereka mencintainya dan loyal kepadanya sampai beriman kepada Allah saja dan menjadikan syari’atnya sebagai rujukan hukum dan ridla dengannya.”[15] Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: اَلْمُرَادُ بِالْبِلاَدِ الإِسْلاَمِيَّةِ هِيَ الَّتِيْ تَتَوَلاَّهَا حُكُوْمَةٌ  تَحْكُمُ  بِالشَّرِيْعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ..لاَ الْبِلاَدُ الَّتِيْ فِيْهَا مُسْلِمُوْنَ وَتَتَوَلاَّهَا حُكُوْمَةٌ تَحْكُمُ بِغَيْرِ الشَّرِيْعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ فَهَذِهِ لَيْسَتْ إِسْلاَمِيَّةً “Yang dimaksud dengan negeri-negeri Islam adalah negeri yang dipimpin oleh pemerintahan yang menerapkan syari’at Islamiyah…bukan negeri yang di dalamnya banyak kaum muslimin dan dipimpin oleh pemerintahan yang menerapkan bukan syari’at Islamiyah, negeri seperti ini bukanlah negeri Islam.”[16] Hal serupa dikatakan oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridla rahimahullah bahwa negeri seperti itu bukanlah negeri Islam.[17] Para ulama yang tergabung dalam Al Lajnah Ad Daimah ketika ditanya tentang negara yang dihuni banyak kaum muslimin dan pemeluk agama lain dan tidak berhukum dengan hukum Islam, mereka mengatakan: إِذَا كَانَتْ تَحْكُمُ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ فَالْحُكُوْمَةُ غَيْرُ إِسْلاَمِيَّةٍ “Bila pemerintahan itu berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, maka pemerintahan itu bukan Islamiyah”[18] Bahkan pemerintahan atau hukum itu adalah hukum Thaghut, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: وَمَا لَمْ يُشَرِّعْهُ اللهُ وَلاَ رَسُوْلُهُ فِي السِّيَاسَةِ وَالْحُكْمِ بَيْنَ النَّاسِ فَهُوَحُكْمُ الطَّاغُوْتِ وَحُكْمُ الْجَاهِلِيَّةِ: أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقُوْمٍ يُوْقِنُوْنَ “Dan apa yang tidak disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya dalam masalah politik dan hukum di antara manusia, maka itu adalah hukum thaghut dan hukum jahiliyah “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin,”[19][20] Pernyataan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah, di mana mereka memvonis para penguasa yang menerapkan (qawaniin wadl’iyyah) undang-undang bukan Islam sebagai orang-orang kuffar murtaddun meskipun mereka itu masih melaksanakan shalat, shaum, haji dan lain-lain serta masih meyakini bahwa dirinya muslim, Syaikh Muhammad Hamid Al Faqiy rahimahullah berkata: مَنِ اتَّخَذَ مِنْ كَلاَمِ الْفَرَنْجَةِ قَوَانِيْنَ يَتَحَاكَمُ إِلَيْهَا فِي الدِّمَاءِ وَالْفُرُوْجِ وَالأَمْوَالِ وَيُقَدِّمُهَا عَلَى مَا عَلِمَ وَتَبَيَّنَ لَهُ مِنْ كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ بِلاَ شَكٍّ كَافِرٌ مُرْتَدٌّ إِذَا أَصَرَّ عَلَيْهَا وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَى الْحُكْمِ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ يَنْفَعُهُ أَيُّ اسْمٍ تَسَمَّىْ بِهِ وَلاَ أَيُّ عَمَلٍ مِنْ ظَوَاهِرِ الأَعْمَالِ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَنَحْوِهَا “Siapa yang menjadikan perkataan orang-orang barat sebagai undang-undang yang dijadikan rujukan hukum dalam masalah darah, kemaluan, dan harta, dan dia mendahulukannya terhadap apa yang sudah diketahui dan jelas baginya dari apa yang terdapat dalam Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu tanpa diragukan lagi adalah kafir murtad bila terus bersikeras di atasnya dan tidak kembali berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan tidak bermanfaat baginya nama apapun yang dengannya dia menamai dirinya (klaim muslim) dan (tidak bermanfaat juga baginya) amalan apa saja dari amalan-amalan dhahir, baik shalat, shaum, haji, dan yang lainnya.”[21] Bahkan vonis kafir murtad berlaku bagi hakim (pemerintah) yang menerapkan mayoritas hukum Islam namun dalam masalah tertentu (umpamanya dalam masalah zina) dibuat undang-undangan buatan yang bertentangan dengan Islam, sehingga setiap yang berzina tidak dikenakan hukum Islam tapi terkena undang-undang itu, maka sesuai aqidah Ahlus Sunnah si hakim itu adalah kafir murtad juga,[22] bahkan meskipun si hakim (pemerintahan) tersebut mengatakan bahwa Islam yang paling adil dan kami salah, Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asy Syaikh berkata: أَمَّا الَّذِيْ جُعِلَ قَوَانِيْنَ بِتَرْتِيْبٍ وَ تَخْضِيْعٍ فَهُوَ كُفْرٌ وَإِنْ قَالُوْا أَخْطَأْنَا وَحُكْمُ الشَّرْعِ أَعْدَلُ “Adapun hukum yang dijadikan undang-undang dengan begitu tertib dan rapi, maka itu adalah kekufuran, meskipun mereka mengatakan: “Kami mengaku salah dan hukum syari’at itu lebih adil.”[23] Camkanlah! ini adalah yang disebut dengan talaazum dhahir dengan bathin menurut Ahlus Sunnah, berbeda dengan Murji’ah. Ini disebabkan karena berhukum dengan undang-undang yang bertentangan dengan Islam merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam dengan sendirinya (al kufru bi ‘ainihi), bahkan merupakan bentuk (wala) loyal terbesar kepada orang-orang kafir, sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Abdurrahman Nashir Al Barrak hafidhahullah bahwa berhukum dengan selain hukum Allah merupakan kekufuran dengan sendirinya dan merupakan di antara bentuk loyal terbesar kepada orang-orang kafir.[24] Sehingga pernyataan dia (hakim/pemerintah): “Kami tahu ini salah, ini sesat sedangkan Islam yang adil,” tidak ada artinya, layaknya orang yang sujud meminta-minta ke kuburan sedang dia mengatakan kami tahu ini syirik, namun dia tetap melakukannnya, maka orang seperti ini adalah kafir, oleh sebab itu Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asy Syaikh rahimahullah berkata lagi: لَوْ قَالَ مَنْ حَكَّمَ الْقَانُوْنَ أَنَا أَعْتَقِدُ أَنَّهُ بَاطِلٌ فَهَذَا لاَ أَثَرَ لَهُ بَلْ هُوَ عَزْلٌ لِلشَّرْعِ كَمَا لَوْ قَالَ أَحَدٌ أَنَا أَعْبُدُ الأَوْثَانَ وَأَعْتَقِدُ أَنَّهَا بَاطِلٌ “Seandainya orang yang menjadikan undang-undang itu sebagai hukum dia berkata: “Saya meyakini sesungguhnya ini adalah bathil,” maka (perkataan) ini tidak ada pengaruhnya, bahkan tindakannya itu merupakan pembabatan akan syari’at, sebagaimana halnya bila seseorang berkata: “Saya menyembah berhala dan saya meyakini bahwa ini adalah bathil.”[25] Orang (penguasa) yang berpaling dari syari’at Allah dan justru dia membuat hukum (undang-undang) sendiri atau mengambil dari hukum orang-orang kafir, sudah dipastikan dia itu berkeyakinan bahwa undang-undang buatan itu lebih layak dan lebih bermanfaat dari hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, karena orang tidak mungkin berpaling dari sesuatu kepada yang lain kecuali dia itu berkeyakinan bahwa itu lebih baik, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin –semoga Allah memaafkannya– berkata tentang macam-macam orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala: مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ اسْتِخْفَافًا بِهِ أَوِ احْتِقَارًا لَهُ أَوِ اعْتِقَادًا أَنَّ غَيْرَهُ أَصْلَحُ مِنْهُ وَأَنْفَعُ لِلْخَلْقِ فَهُوَ كَافِرٌ كُفْرًا مُخْرِجًا عَنِ الْمِلَّةِ , وَمِنْ هَؤُلاَءِ مَنْ يَضَعُوْنَ لِلنَّاسِ تَشْرِيْعَاتٍ تُخَالِفُ  التَّشْرِيْعَاتِ الإِسْلاَمِيَّةَ  لِتَكُوْنَ مِنْهَاجًا يَسِيْرُ النَّاسُ عَلَيْهِ فَإِنَّهُمْ لَمْ يَضَعُوْا تِلْكَ التَّشْرِيْعَاتِ الْمُخَالِفَةَ لِلشَّرِيْعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ  إِلاَّ وَهُمْ يَعْتَقِدُوْنَ أَنَّهَا أَصْلَحُ وَأَنْفَعُ لِلْخَلْقِ إِذْ مِنَ الْمَعْلُوْمِ بِالضَّرُوْرَةِ الْعَقْلِيَّةِ وَالْجِبِلَّةِ الْفِطْرِيَّةِ أَنَّ الإِنْسَانَ لاَ يَعْدِلُ عَنْ مِنْهَاجٍ إِلَى مِنْهَاجٍ يُخَالِفُهُ إِلاَّ وَهُوَ يَعْتَقِدُ فَضْلَ مَا عَدِلَ إِلَيْهِ وَنَقْصَ مَا عَدِلَ عَنْهُ “Siapa orangnya yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah karena menyepelekannya, atau menganggapnya hina, atau karena dia berkeyakinan bahwa hukum yang lain lebih maslahat darinya dan lebih manfaat bagi makhluk, maka orang itu adalah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkan dari agama ini, dan di antara mereka itu adalah orang-orang yang meletakan bagi manusia hukum-hukum (tasyri’at) yang bertentangan dengan Tasyri’at Islamiyah agar menjadi aturan yang di mana manusia berjalan di atasnya, maka sesungguhnya mereka itu tidaklah meletakan tasyri’at yang bertentangan dengan Syari’at Islamiyah kecuali karena mereka itu meyakini bahwa tasyri’at buatan tersebut lebih maslahat dan lebih manfaat bagi makhluk, sebab sudah termasuk sesuatu yang diketahui secara spontan oleh akal pikiran dan tabi’at fithrah bahwa manusia itu tidak berpaling dari satu jalan hidup (minhaaj) kepada minhaaj yang bertentangan dengannya kecuali dia itu meyakini keutamaan minhaaj yang dia tuju dan (meyakini) kekurangan minhaaj yang dia berpaling darinya.”[26] Beliau menjelaskan bahwa seseorang yang berpaling dari hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan malah membuat hukum (undang-undang) sendiri atau mengambil hukum dari rujukan yang lain, ini sudah dengan sepontan orang itu berkeyakinan bahwa undang-undang buatan itu lebih baik, meskipun dia mengingkari dengan lisannya, namun lisanul haal mengatakan sebaliknya, inilah yang dinamakan dalam manhaj Ahlus Sunnah dengan isthilah At Talaazum Bainadh Dhahir Wal Bathin,[27]berbeda dengan Murji’ah. Beliau juga mengatakan ketika menjelaskan bahwa ada perbedaan antara qadliyyah mu’ayyanah (kasus tertentu) yang harus dilihat keyakinan hati (sehingga ada kafir mukhrij minal millah dan kafir kufrun duna kufrin) dengan tasyri’ ‘aam (yang sifatnya undang-undang) yang tidak dilihat keyakinan hatinya, namun itu adalah (kafir muthlaq), ini juga adalah talaazum, beliau berkata: نَعَمْ هُنَاكَ فَرْقٌ فَإِنَّ الْمَسَائِلَ الَّتِيْ تُعْتَبَرُ تَشْرِيْعًا عَامًّا لاَ يَتَأَتَّى فِيْهَا التَّقْسِيْمُ السَّابِقُ  وَإِنَّمَا هِيَ مِنَ الْقِسْمِ الأَوَّلِ فَقَطْ , ِلأَنَّ هَذَا الْمُشَرِّعَ تَشْرِيْعًا يُخَالِفُ الإِسْلاَمَ إِنمَّاَ شَرَعَهُ ِلاعْتِقَادِهِ أَنَّهُ أَصْلَحُ مِنَ الإِسْلاَمِ  وَأَنْفَعُ لِلْعِبَادِ كَمَا سَبَقَتِ الإِشَارَةُ إِلَيْهِ “Ya, di sana ada perbedaan, karena sesungguhnya masalah-masalah yang sifatnya berupa tasyri’ ‘aam (undang-undang) tidak berlaku di dalamnya rincian tadi, namun itu termasuk dalam bagian pertama saja,[28] karena si pembuat syari’at (hukum) yang bertentangan dengan Islam ini dia membuat hukum ini karena berdasarkan keyakinan bahwa itu lebih baik daripada Islam dan lebih manfaat bagi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang telah diisyaratkan terhadapnya”[29]   Kalau sudah berupa undang-undang masalahnya sangat jelas sejelas matahari di siang bolong semua orang bisa melihatnya kecuali orang buta.  Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata: إِنَّ الأَمْرَ فِيْ هَذِهِ الْقَوَانِيْنِ الْوَضْعِيَّةِ وَاضِحٌ وُضُوْحَ الشَّمْسِ هِيَ كُفْرٌ بَوَّاحٌ لاَخَفَاءَ وَلاَ مُدَاوَرَةَ وَلاَ عُذْرَ ِلأََحَدٍ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ لِلإِسْلاَمِ  كَائِنًا مَنْ كَانَ فِي الْعَمَلِ بِهَا أَوِ الْخُضُوْعِ لَهَا أََوْ  إِقْرَارِهَا فَلْيَحْذَرِ امْرُؤٌ لِنَفْسِهِ وَكُلُّ امْرِئٍ حَسِيْبُ نَفْسِهِ “Sesungguhnya vonis bagi undang-undang buatan manusia (qawaaniin wadl’iyyah) ini adalah sangat jelas seterangnya matahari, yaitu kufrun bawwah (kekafiran yang membuat pelakunya murtad dengan jelas), tidak ada kesamaran, tidak perlu debat, dan tidak ada (udzur) alasan bagi orang yang menisbatkan dirinya ke dalam Islam ini, siapa saja orangnya, dalam mengamalkannya, tunduk kepadanya, atau mengakuinya. Hendaklah setiap orang hati-hati akan dirinya, karena setiap orang bertanggung jawab atas dirinya.”[30] Perkataan yang sangat jelas yang bersumber dari ulama Ahlus Sunnah, setiap orang memahaminya, hendaklah orang yang men-ta’liq perkataan beliau ini khawatir akan dirinya dan para pengikutnya. Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz –semoga Allah memaafkannya– berkata: لاَ إِيْمَانَ لِمَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ أَحْكَامَ النَّاسِ وَآرَاءَهُمْ خَيْرٌ مِنْ حُكْمِ اللهِ وَرَسُوْلِه,ِ أَوْ تُمَاثِلُهَا وَتُشَابِهُهَا, أَوْ تَرَكَهَا وَأَحَلَّ مَحَلَّهَا الأَحْكَامَ  الْوَضْعِيَّةَ وَالأَنْظِمَةَ الْبَشَرِيَّةَ وَإِنْ كَانَ مُعْتَقِدًا أَنَّ أَحْكَامَ اللهِ خَيْرٌ وَأَكْمَلُ وَأَعْدَلُ “Tidak ada iman bagi orang yang:Meyakini bahwa hukum-hukum manusia dan pendapat-pendapatnya lebih baik daripada hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya.Atau (meyakini) bahwa hukum-hukum (manusia dan pendapatnya) itu menyamainya (hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya) dan sejajar dengannya.Atau meninggalkan (hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya) dan justru dia menempatkan hukum-hukum buatan dan peraturan-peraturan manusia di tempatnya (yang semestinya hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya berada), meskipun dia meyakini bahwa hukum-hukum Allah lebih baik, lebih sempurna dan lebih adil.”[31] Ini semua adalah ijma’ para ulama, dan siapa yang tidak seperti itu, maka dia itu bukan Ahlus Sunnah meskipun mereka paling mengklaim akan nama ini dan hendaklah mereka bertaubat, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: فَمَنْ تَرَكَ الشَّرْعَ الْمُحْكَمَ الْمُنَزَّلَ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَتَحَاكَمَ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الشَّرَائِعِ الْمَنْسُوْخَةِ كَفَرَ, فَكَيْفَ بِمَنْ تَحَاكَمَ إِلَى إِلْيَاسَا وَقَدَّمَهَا عَلَيْهِ, مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَفَرَ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ “Siapa orangnya meninggalkan syari’at yang muhkam yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah khatamul Anbiyaa dan justru dia berhukum (merujuk) kepada selainnya berupa syari’at-syari’at yang sudah di-nasakh (dihapus), maka dia itu kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang bertahakum kepada Ilyaasaa[32] dan mendahulukannya atas (syari’at Rasulullah). Siapa yang melakukan hal itu maka dia itu kafir dengan ijma kaum muslimin”[33] Bila orang yang masih memakai hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sudah dihapus saja divonis kafir murtad, apa gerangan dengan yang membuat sendiri, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa bila satu kaum, satu kelompok, satu negara (pemerintahan) yang mengaku muslim orang-orangnya dan mereka itu melaksanakan sebagian syari’at Islam dan bahkan mengakui seluruh syari’at Islam, namun mereka menolak melaksanakan salah satu kewajiban yang jelas atau menolak meninggalkan salah satu yang diharamkan yang jelas, maka kelompok yang menolak tersebut wajib diperangi oleh Imam kaum muslimin sampai tunduk kepada aturan secara keseluruhan, dalam masalah ini tidak ada perbedaan pendapat di antara Ahlus Sunnah, dengan dalil bahwa para shahabat semua ijma’ untuk memerangi kaum yang menolak membayar zakat, dan para sahabat radliyallahu ‘anhum tidak pernah bertanya apakah mereka itu mengingkari kewajibannya atau tidak, dan justru mereka menggolongkan kaum yang menolak membayar zakat itu sebagai kaum murtaddun, ini dikarenakan mereka (yaitu orang-orang yang menolak membayar zakat) tidak melakukan hal itu kecuali setelah ada kesepakatan sebelumnya, sehingga para ulama muhaqqiqin menyatakan bahwa mereka bukan orang-orang Islam, berbeda bila sifatnya individu, maka ini tidak dianggap murtad selama dia meyakini wajibnya zakat.[34] Maka apa gerangan dengan pemerintahan yang menolak banyak syari’at Islam, seperti negeri-negeri yang banyak dihuni mayoritas kaum muslimin??? Al Imam Ishaq Ibnu Rahwiyah rahimahullah: أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ أَنَّ مَنْ سَبَّ اللهَ أَوْ رَسُوْلَهُ أَوْ دَفَعَ شَيْئًا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ أَنَّهُ كَافِرٌ بِذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُقِرًّا بِكُلِّ مَا أَنْزَلَ اللهُ ”Kaum muslimin telah berijma’ bahwa siapa orangnya yang mencaci Allah atau Rasul-Nya, atau menolak sesuatu yang telah diturunkan Allah, maka sesungguhnya dia itu adalah kafir dengan hal itu meskipun dia itu mengakui semua yang telah diturunkan Allah.”[35] Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah akan masalah ini yang sangat jelas, sejelas matahari di siang bolong, dan biar lebih jelas lagi perhatikanlah perkataan Al Imam Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah: أَنَّ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الْقَوَانِيْنَ الْوَضْعِيَّةَ الَّتِيْ شَرَعَهَا الشَّيْطَانُ عَلَى أَلْسِنَةِ أَوْلِيَائِهِ مُخَالِفَةً لِمَا شَرَعَهَا اللهُ جَلَّ وَعَلاَ عَلَى أَلْسِنَةِ رُسُلِهِ – صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ – أَنَّهُ لاَ يَشُكُّ فِيْ كُفْرِهِمْ وَشِرْكِهِمْ إِلاَّ مَنْ طَمَسَ اللهُ بَصِيْرَتَهُ وَ أَعْمَاهُ عَنْ نُوْرِ الْوَحْيِ مِثْلَهُمْ “Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti qawaaniin wadl’iyyah (undang-undang buatan) yang disyari’atkan oleh Syetan lewat lisan-lisan wali-walinya yang bertentangan dengan apa yang telah disyari’atkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala lewat lisan-lisan para Rasul-Nya –semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka–,  sesungguhnya tidak ada yang meragukan akan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang bashirah-nya telah dihapus oleh Allah dan dia itu dibutakan dari cahaya wahyu-Nya seperti mereka.”[36] Kita berlindung dari dibutakan oleh-Nya dari cahaya wahyu, karena banyak orang yang telah dibutakan pada masa sekarang ini karena hanya taqlid kepada Syaikhnya. Namun, menurut Murji’ah atau orang-orang yang terpengaruh olehnya bahwa pemerintah semacam itu adalah terkena hukum kufrun duna kufrin selama masih meyakini Islam adalah yang paling benar dan tidak menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau tidak mengingkari hukum-Nya. Orang-orang Murji’ah sekarang ini dengan mengklaim dirinya paling sunnah, mereka mengomentari perkataan para ulama Sunnah yang sudah jelas-jelas menvonis kafir para penguasa yang membabat syari’at Islam, mereka mengomentarinya, menta’liqnya, menafsirkannya sesuai hawa nafsunya, kemudian setelah itu mengatakan dan meneriakan: ”Ini (maksudnya penafsiran mereka atas perkataan para imam) adalah madzhab salaf,” terus mereka menghukumi orang yang berseberangan dengannya sebagai orang-orang Khawarij, pengikut paham inipun semakin merebak dan meluas tanpa mereka sadari. Hal ini dikarenakan para pengekor itu telah terkena penyakit orang awam yaitu mengangkat sosok seseorang sebagai acuan dalam segala hal selain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, mereka menganggap bahwa si Fulan itu mana mungkin sesat… Dan yang lebih mengenaskan lagi dan sangat memalukan dan mengerikan, mereka menisbatkan tidak kafir dan tidak murtadnya para penguasa yang membabat syari’at itu kepada Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma dan Abu Mijlaz As Saduusiy karena keduanya mengatakan kufrun duna kufrin, perumpamaan mereka ini tak jauh dengan tokoh paling terdepan dalam Islam liberal yang pernah mengatakan bahwa orang Yahudi dan Nashrani yang sekarang juga mungkin masuk surga dengan berdalih dengan surat Al Baqarah ayat 62, sepintas seolah betul jika tidak dikembalikan kepada sebab nuzul-nya, padahal ayat ini adalah berkenaan dengan status orang-orang Yahudi dan Nasrani sebelum datang Islam, jadi perkataan kufrun duna kufrin kalau tidak dikembalikan kepada sebab wurud-nya tentu hasilnya seperti itu, padahal perkataan ini diucapkan oleh Ibnu ‘Abbas dikala datang orang Khawarij yang mengkafirkan penguasa daulah Bani Umayyah, Ibnu ‘Abbas mengetahui permasalahan dan situasi yang ada pada waktu itu di mana Bani Umayyah tetap menerapkan syari’at Islam dan mereka tetap berjihad untuk menegakan kalimat Allah Subhanahu Wa Ta’ala namun sebagian mereka dhalim/menyimpang dalam (qadliyyah mu’ayyanah) kasus tertentu dari hukum semestinya, sedangkan dalam kamus orang Khawarij bahwa penguasa yang dhalim/menyimpang adalah kafir makanya Ibnu ‘Abbas mengatakan pernyataan seperti itu, begitu juga halnya Abu Mijlaz. Jadi masalahnya bukanlah atsar ini shahih, tapi apakah penempatan pernyataan ini tepat atau tidak? dan sebenarnya perkataan mereka ini tidak aneh bagi orang yang mengetahui manhaj mereka, karena dalam kamus mereka tidak ada yang namanya kekufuran ‘amaliyy, mereka hanya kembali kepada masalah juhuud (pengingkaran) dan istihlaal (menghalalkan yang haram), dalam kamus mereka juga tidak ada yang namanya talaazum antara dhahir dengan bathin,sehinggamenurut orang Murji’ah bila orang meyakini tauhid dengan hatinya dan mengucapkannya dengan lisan meskipun meninggalkan seluruh syari’at dan melaksanakan seluruh keharaman, maka orang itu tetap mu’min sempurna imannya menurut Murji’ah dahulu (karena mereka mengeluarkan amal dari definisi iman) dan mukmin kurang imannya menurut Murji’ah sekarang (karena mereka memasukan amal dalam definisi iman), namun dalam realita penjelasan dan penjabarannya mereka mengatakan bahwa amal itu adalah syarat kesempurnaan iman bukan syarat sah iman, sehingga orang yang jahil terpedaya dengan definisi itu dan membelanya secara membabi buta, padahal kalau kenyataannya seperti itu mana ada syarat kesempurnaan dimasukan dalam definisi !! sungguh orang Murji’ah dahulu lebih pandai dalam definisi dan komitmen dengannya, lain halnya dengan yang sekarang yang tidak karuan, tapi ini tidak heran, karena kalau menyalahi Ahlus Sunnah secara frontal dalam definisi tentu terlalu ketahuan dan tidak bisa mengaku bahwa dirinya pengikut sunnah, makanya mereka lakukan secara talbis.[37] Janganlah anda terkecoh dengan luar mereka yang intisab kepada sunnah atau salaf, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: وَكَثِيْرٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ لاَيُمَيِّزُوْنَ بَيْنَ مَذَاهِبِ السَّلَفِ وَأَقْوَالِ الْمُرْجِئَةِ وَ الْجَهْمِيَّةِ ِلاخْتِلاَطِ هَذَا بِهَذَا فِيْ كَلاَمِ  كَثِيْرٍ مِنْهُمْ  مِمَّنْ فِيْ بَاطِنِهِ يَرَى رَأْيَ الْجَهْمِيَّةِ وَالْمُرْجِئَةِ فِي الإِيْمَانِ وَهُوَ مُعَظِّمٌ لِلسَّلَفِ وَأَهْلِ الْحَدِيْثِ فَيَظُنُّ أَنَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا أَوْ يَجْمَعُ بَيْنَ كَلاَمِ أَمْثَالِهِ وَ كَلاَمِ السَّلَفِ. ”Dan banyak dari kalangan mutakhkhirin tidak (bisa) membedakan antara perkataan-perkataan salaf dengan perkataan Murji’ah dan Jahmiyah, karena berbaurnya (perkataan) ini dengan yang itu dalam perkataan banyak mereka, dari kalangan orang-orang yang di batinnya berpendapat seperti pendapat Jahmiyah dan Murji’ah dalam masalah iman, sedangkan dia itu mengagungkan salaf dan Ashhabul Hadits, sehingga dia mengira bahwa dia mampu menggabungkan antara keduanya atau menggabungkan antara perkataan orang-orang yang seperti dia dengan perkataan salaf”[38] Jadi tidak heran kalau mereka mengatakan bahwa para penguasa yang membabat syari’at Islam dan membuat undang-undang yang bertentangan dengan Islam itu tidak kafir selama tidak juhuud dan istihlaal. Padahal orang yang hanya yakin akan tauhid dengan hati dan mengucap dengan lisan saja tanpa mengamalkan sedikitpun syari’at Islam sedang dia mungkin untuk melakukannya[39] maka dia itu adalah murtad menurut ijma’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al Imam Muhammad Ibnu Idris Asy Syafi’iy rahimahullahberkata: كَانَ الإِجْمَاعُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعَيْنَ مِنْ بَعْدِهِمْ وَمَنْ أَدْرَكْنَاهُمْ يَقُوْلُوْنَ: اَلإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ لاَ يُجْزِئُ وَاحِدٍ مِنَ الثَّلاَثِ  إِلاَّ بِالآخَرِ “Adalah ijma dari para sahabat dan para tabi’in sesudahnya serta orang-orang yang kami dapatkan, semua mengatakan: Iman itu adalah ucapan, amal, dan niat, salah satu dari yang tiga itu tidak mencukupi (sah) kecuali dengan yang lainnya”[40] Syaikhul Islam rahimahullah  berkata: وَقَالَ حَنْبَل: حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيْ  قَالَ: وَأُخْبِرْتُ أَنَّ أُنَاسًا يَقُوْلُوْنَ: مَنْ أَقَرَّ بِالصَّلاَةِ وَالزَّكاَةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ وَلَمْ يَفْعَلْ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا حَتَّى يَمُوْتَ , وَيُصَلِّيْ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ حَتَّى يَمُوْتَ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مَا لَمْ يَكُنْ جَاحِدًا إِذَا عَلِمَ أَنَّ تَرْكَهُ ذَلِكَ فِيْهِ إِيْمَانُهُ إِذَا كَانَ مُقِرًّا بِالْفَرَائِضِ وَاسْتِقْبَالِ الْقِبْلِةِ , فَقُلْتُ: هَذَا الْكُفْرُ الصَّرَّاحُ وَخِلاَفُ كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَعُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ  قَالَ اللهُ: وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ “”الآية . وقال حنبل: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ أَحْمَدَ بنْ َحَنْبَل يَقُوْلُ: مَنْ قَالَ هَذَا فَقَدْ كَفَرَ بِاللهِ وَرَدَّ عَلَى أَمْرِهِ وَ عَلَى الرَّسُوْلِ مَا جَاءَ بِهِ “Hanbal berkata: Al Humaidiy telah memberitahu kami, beliau berkata: Dan saya diberitahu bahwa ada segolongan orang mengatakan: (“Siapa yang mengakui shalat, zakat, shaum, dan haji, dan dia tidak melakukan sedikitpun dari amalan-amalan itu hingga mati, dan dia itu shalat dengan membelakangi kiblat hingga mati, maka dia itu adalah orang mukmin selama dia tidak mengingkari (itu), bila dia mengetahui bahwa meskipun meninggalkan itu semua dia tetap memiliki iman apabila dia itu mengakui akan hal-hal yang difardlukan dan (mengakui keharusan) menghadap kiblat,”) Maka saya berkata: Ini adalah kekafiran yang sangat jelas dan menyalahi Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta ulama kaum muslimin, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,”padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. Dan Hanbal berkata: saya mendengar Abu Abdillah Ahmad Ibnu Hanbal berkata: “Siapa orangnya mengatakan hal ini, maka dia itu telah kafir kepada Allah dan menolak perintah-Nya dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dari Allah.”[41] Hendaklah takut orang yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan seluruh syari’at Islam itu adalah tidak kafir bila dia bertauhid yang murni, sebab apa ada tauhid dari orang semacam itu, lihat hukum dari para ulama atas orang yang berpendapat seperti itu. Al Imam Muhammad Ubnu Nashr Al Marwaziy rahimahullah  berkata: فَمَنْ كَانَ ظَاهِرُهُ أَعْمَالَ الإِسْلاَمِ وَلاَ يَرْجِعُ إِلَى عُقُوْدِ الإِيْمَانِ بِالْغَيْبِ فَهُوَ مُنَافِقٌ نِفَاقًا يَنْقُلُ مِنَ الْمِلَّةِ وَمَنْ كَانَ عَقْدُهُ الإِيْماَنَ بِالْغَيْبِ وَلاَ يَعْمَلُ بِأَحْكَامِ الإِيْمَانِ وَشَرَائِعِ الإِسْلاَمِ فَهُوَ كَافِرٌ كُفْرًا لاَيَثْبُتُ مَعَهُ تَوْحِيْدٌ “Siapa orang yang pada dhahirnya adalah (melakukan) amalan-amalan Islam dan (amalan-amalan) itu tidak kembali kepada keyakinan iman terhadap yang ghaib, maka dia itu adalah munafiq dengan kemunafikan yang mengeluarkan dari agama ini, dan siapa orang yang tali keyakinannya itu adalah iman kepada yang ghaib sedang dia itu sama sekali tidak mengamalkan hukum-hukum keimanan dan syari’at-syari’at Islam, maka dia itu adalah kafir dengan kekafiran yang tidak ada tauhid bersamanya”[42] Al Imam Al Aaajuriy rahimahullah  berkata: فَالأَعْمَالُ بِالْجَوَارِحِ تَصْدِيْقٌ عَنِ الإِيْمَانِ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ , فَمَنْ لَمْ يُصَدِّقِ الإِيْمَانَ بِعَمَلِهِ مِثْلِ الطَّهَارَةِ وَالصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّيَامِ وَالْحَجِّ وَالْجِهَادِ وَأَشْبَاهٍ لِهَذِهِ , وَرَضِيَ لِنَفْسِهِ بِالْمَعْرِفَةِ وَالْقَوْلِ دُوْنَ الْعَمَلِ لَمْ يَكُنْ مُؤْمِنًا وَلَمْ تَنْفَعْهُ الْمَعْرِفَةُ وَالْقَوْلُ وَكَانَ تَرْكُهُ لِلْعَمَلِ تَكْذِيْبًا مِنْهُ ِلإِيْمَانِهِ وَكاَنَ الْعَمَلُ بِمَا ذَكَرْنَا تَصْدِيْقًا مِنْهُ ِلإِيْمَانِهِ فَاعْلَمْ ذَلِكَ , هَذَا مَذْهَبُ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا فَمَنْ قاَل َغَيْرَ هَذَا فَهُوَ مُرْجِئٌ خَبِيْثٌ اِحْذَرْهُ عَلَى دِيْنِكَ . وَالدَّلِيْلُ عَلَى هَذَا قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاء َوَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ .” “Amal-amal jawaarih (amalan-amalan dhahir) merupakan tashdiq (pembenaran) dari keimanan dengan hati dan lisan, siapa orangnya yang tidak membenarkan keimanan itu dengan amalannya, seperti thaharah, shalat, zakat, shaum, haji, jihad dan yang lainnya, dan dia justru ridla bagi dirinya dengan hanya ma’rifah dan ucapan tanpa adanya amalan, maka dia itu tidaklah beriman, dan ma’rifah berikut ucapannya itu tidak bermanfaat baginya, serta peninggalan (seluruh) amalannya itu merupakan takdzib (pendustaan) darinya terhadap imannya itu. Jadi amalan sesuai yang kami jelaskan itu adalah tashdiq (pembenaran) darinya atas imannya, camkanlah ini. Ini adalah madzhab ulama-ulama kaum muslimin baik dahulu maupun sekarang, siapa orangnya yang mengatakan selain ini maka dia itu adalah orang Murji’ah yang busuk, jagalah agamamu darinya, dan dalil yang menunjukan hal ini adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nyadalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus,”[43][44] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang hanya mencukupkan dengan keyakinan dan mengucapkan dua kalimah syahadat namun dia meninggalkan seluruh amalan adalah orang kafir, beliau berkata: فَإِنَّ اللهَ  لَمَّا بَعَثَ مُحَمَّدًا رَسُوْلاً إِلَى الْخَلْقِ كَانَ الْوَاجِبُ عَلَى الْخَلْقِ تَصْدِيْقُهُ فِيْمَا أَخْبَرَ وَطَاعَتُهُ فِيْمَا أَمَرَ وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ حِيْنَئِذٍ بِالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَلاَ صِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَلاَ حَجِّ الْبَيْتِ وَلاَ حَرَّمَ عَلَيْهِمُ الْخَمْرُ وَالرِّبَا وَنَحْوِ ذَلِكَ وَلاَ كَانَ أَكْثَرُ الْقُرْآنِ قَدْ نَزَلَ فَمَنْ صَدَّقَهُ حِيْنَئِذٍ فِيْمَا نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ وَأَقَرَّ بِمَا أَمَرَ بِهِ مِنَ الشَّهَادَتَيْنِ وَتَوَابِعِ ذَلِكَ كَانَ الشَّخْصُ حِيْنَئِذٍ مُؤْمِنًا تَامَ الإِيْمَانِ الَّذِيْ وَجَبَ عَلَيْهِ  وَإِنْ كاَنَ مِثْلُ ذَلِكَ الإِيْمَانِ (أي الإيمان الباطن والإقرار باللسان) لَوْ أَتَى بِهِ بَعْدَ الْهِجْرَةِ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ كَانَ كَافِرًا “Karena sesungguhnya Allah tatkala mengutus Muhammad sebagai Rasul kepada makhluk, maka kewajiban atas makhluk adalah membenarkan apa yang dia beritakan, dan mentaatinya dalam apa yang diperintahkannya, dan saat itu beliau belum memerintahkan mereka untuk shalat yang lima waktu, shaum Ramadlan, dan haji ke Baitullah, dan beliau tidak mengharamkan khamar, riba dan lain sebagainya atas mereka, serta mayoritas Al Qur’an pun belum turun. Siapa yang membenarkannya saat itu terhadap apa yang turun dari Al Qur’an serta mengakui apa yang diperintahkan atas mereka berupa dua kalimah syahadat dan hal-hal yang mengikutinya, maka orang itu adalah orang mukmin yang sempurna imannya yang wajib atas dia, dan bila dia itu membawa keimanan semacam itu (maksudnya iman di hati dan pengakuan dengan lisan) setelah hijrah tentu tidak diterima darinya, dan bila dia hanya membatasi diri atas (iman semacam) itu maka dia itu adalah kafir”[45]  [46] Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: لاَ خِلاَفَ أَنَّ التَّوْحِيْدَ لاَ بُدَّ أَنْ يَكُوْنَ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْعَمَلِ فَإِنِ اخْتَلَّ شَيْءٌ مِنْ هَذَا لَمْ يَكُنِ الرَّجُلُ مُسْلِمًا فَإِنْ عَرَفَ التَّوْحِيْدَ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ فَهُوَ كَافِرٌ مُعَانِدٌ كَفِرْعَوْنَ وَإِبْلِيْسَ وَأَمْثَالِهِمَا “Tidak ada perbedaan bahwa tauhid itu harus dengan hati, lisan, dan amal, bila salah satu dari yang tiga ini tidak ada maka orang itu bukanlah orang muslim. Dan bila dia mengetahui tauhid namun tidak mengamalkannya maka dia itu adalah kafir mu’aanid (yang membangkang) seperti Fira’un, Iblis dan sebangsanya”[47] Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah berkata: وَ أَمَّا إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِمُقْتَضَى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاكْتَفَى بِمُجَرَّدِ النُّطْقِ بِهَا أَوْ عَمِلَ بِخِلاَفِهَا فَإِنَّهُ يُحْكَمُ بِرِدَّتِهِ وَيُعَامَلُ مُعَامَلَةَ الْمُرْتَدِّيْنَ “Dan adapun bila dia tidak beramal sesuai dengan tuntutan Laa illaaha Illallah dan justru dia merasa cukup dengan sekedar mengucapkannya atau melakukan hal yang bertentangan dengannya, maka sesungguhnya dia itu dihukumi murtad dan diperlakukan layaknya orang-orang murtad”[48] Dan masih banyak pernyataan ulama sunnah yang senada dengan pernyataan-pernyataan itu. Setelah kita mengetahui status penguasa yang ada pada umumnya, maka bukan maksudnya kita harus langsung khuruj terhadap mereka, karena khuruj itu ada syaratnya yaitu (istitha’ah) kemampuan dan pertimbangan mashlahat, tapi anehnya adalah orang-orang yang sudah mengetahui bahwa para penguasa/pemerintahan yang membabat syari’at dan menerapkan quwaniin wadl’iyyah itu adalah kuffar murtaddun, namun mereka justru ikut andil di dalamnya dan senang duduk berdampingan dengan mereka dengan dalih ishlah dan perbaikan, serta merta mereka meneriakan demokrasi, sehingga mereka itu dikhawatirkan terjatuh menjadi bagian dari thaghut. Syaikh Muhammad Abdul Hadiy Al Mishriy berkata: “Dan thaghut macam ini (syirik tha’at dan ittiba) bisa berupa penguasa, hakim, dukun atau bisa juga berupa lembaga tasyri’iyyah (Legislatif), undang-undang, adat kebiasaan, taqaaliid, ‘urf, Majlis (Dewan) Perwakilan, parlemen, qawaaniin, dasaatiir, hawa nafsu….”[49] Apakah mungkin memperjuangkan Islam dengan atau lewat sistem syirik dan kafir, bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladan, beliau ditawari untuk menjadi raja oleh orang-orang musyrikun dengan syarat ikut sistem mereka, namun beliau menolaknya, padahal yang namanya raja memiliki wewenang yang luas, bisa saja beliau memanfaatkan jabatannya untuk menyebarkan Islam, namun beliau menolak dikarenakan mengetahui bahwa itu bertentangan dengan tauhid dan itu adalah pertanda ridla akan kekufuran, sedangkan ridla akan kekufuran adalah kekufuran, hendaklah mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara meninggalkannya dan jauh darinya, karena merasa bersalah dalam perbuatan syirik tidak ada artinya kalau masih melakukannya dan bermukim di dalam kemusyrikan itu, apa artinya orang yang mengatakan bahwa meminta kepada orang yang sudah mati itu adalah syirik, namun dia ikut melakukannya, takutlah akan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang orang-orang seperti mereka وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهاَ وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ فِيْ جَهَنَّمَ جَمِيْعًا “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta  mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.  Karena sesungguhnya kamu (kalau berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkansemua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam Jahannam””(An Nisaa: 140) Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan “Karena sesungguhnya kamu (kalau  berbuat demikian), tentulah kamu  serupa dengan mereka.” Sesungguhnya kalian bila melanggar larangan setelah sampai kepada kalian, dan kalian ridla duduk (misalnya di parlemen)  bersama mereka di tempat yang di mana di dalamnya ayat-ayat Allah diperolok-olokan dan dilecehkan dan kalian mengakuinya atas hal itu, maka berarti kalian telah berstatus sama dalam apa yang mereka ada di dalamnya (kekafiran). Terus ketika menafsirkan, “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” beliau berkata: “Sebagaimana mereka (orang-orang munafiq) andil bersama mereka (orang-orang kafir) di dalam kekufurannya, maka begitu juga Allah menyamakan mereka semuanya dalam kekekalan di Jahannam selama-lamanya”.[50] Bukankah sistem yang menyerahkan segala hukum dan keputusan dalam segala hal kepada rakyat adalah syirik dalam rububiyyah yaitu dalam hukum-Nya, bukankah ikut andil di dalam kemusyrikan itu adalah syirik juga meskipun hati tidak suka akan hal itu, bukankah sistem demokrasi sekuler dan yang lainnya itu adalah syirik, Syaikh Muhammad Abdul Hadiy Al Mishriy berkata: إِنَّ الْعِلْمَانِيَّةَ بِاخْتِصَارٍ: نِظَامٌ طَاغُوْتِيٌّ جَاهِلِيٌّ كَافِرٌ يَتَنَافَى وَيَتَعَارَضُ تَمَامًا مَعَ شَهَادَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مِنْ نَاحِيَتَيْنِ: أولا: مِنْ نَاحِيَةِ كَوْنِهَا حُكْمًا بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ ُثانيا: مِنْ نَاحِيَةِ كُوْنِهَا شِرْكًا فِيْ عِبَادَةِ اللهِ “Sesungguhnya Sekuler ringkasnya adalah: Sistem thaghut, jahiliyah, kafir, bertentangan dan berseberangan dengan syahadat Laa ilaaha illallaah dari dua sisi:Pertama:  Sisi karena berhukum dengan selain apa yang telah diturunkan Allah.Kedua:  Sisi karena syirik dalam ibadah kepada Allah.[51] Bukankah duduk di sana merupakan duduk-duduk di majelis di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan ayat-ayat-Nya diingkari dan diperolok-olokan? Bisakah walaa dan baraa itu akan diterapkan bila dia masuk kepada sistem syirik? Adakah yang berani dari orang yang katanya memperjuangkan Islam lewat sistem itu berkata kepada anggota Majelis di depan sidang “Sesungguhnya sistem ini kafir jahiliyyah, kalian semua harus bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan cepat tegakkan syari’at Islam secara menyeluruh!” Katakan kepada kami: Bagaimana pendapat anda bila ada penguasa yang berkata kepada anda “Saya jamin negara ini menerapkan hukum Islam, dan saya konsisten dengan janji saya ini, namun dengan syarat anda kafir terlebih dahulu!” Bagaimana sikap anda, seandainya anda orang muslim muwahhid tentu akan menolak tawaran itu meskipun jaminannya sangat besar, maka apa gerangan dengan orang yang rela masuk kepada sistem syirik kafir untuk meraih sesuatu yang tidak mungkin tercapai dan tidak ada jaminan. Bila anda berkilah: “Kalau kami tidak ikut duduk dengan mereka tentu kursi penuh oleh orang-orang kafir dan umat Islam tidak dapat kursi!” Sungguh mengherankan kenapa umat Islam berselera dengan kursi kekufuran, apakah anda yakin ketika anda duduk di sana, anda masih bisa berstatus sebagai orang Islam? Islam tidak mungkin tegak dengan jalan kekufuran dan kemusyrikan. Ingatlah perkataan para ulama tadi: Bahwa nama Islam yang dia sandang, shalat, shaum, haji yang dia lakukan tidak ada manfaatnya, ini isyarat bahwa kaum murtaddin itu merasa dirinya masih Islam sehingga dia masih aktif shalat dan amalan yang lainnya, padahal dia itu sudah bukan Islam lagi, namun dia tidak merasa dirinya sudah murtad, sebab kalau merasa dirinya sudah murtad dan dia mengetahui bahwa amalannya tidak ada artinya tentu dia tidak akan shalat lagi, oleh sebab itu Abul Wafaa Ibnu ‘Uqail rahimahullah  berkata: إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ مَحَلَّ الإِسْلاَمِ مِنْ أَهْلِ الزَّمَانِ فَلاَ تَنْظُرْ إِلَى ازْدِحَامِهِمْ فِيْ أَبْوَابِ الْمَسَاجِدِ وَلاَ إِلَى ضَجِيْجِهِمْ بِلَبَّيْكَ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى مُوَاطَأَتِهِمْ ِلأَعْدَاءِ الشَّرِيْعَةِ “Bila anda ingin mengetahui posisi Islam di tengah-tengah manusia zaman sekarang ini, janganlah anda melihat pada berjubelnya mereka di pintu-pintu mesjid dan jangan pula melihat gemuruhnya mereka dengan ucapan labbaik (ibadah haji), tapi lihatlah pada kebersamaan (keserasian) mereka dengan musuh-musuh syari’at.”[52]   bersambung....
10 hours ago
De Shecoembank
Inilah Aqaidah Kami Menjual Diri hanya kepada Allah tidak kpd yang lain ...
  I. Tauhidullah   Kami katakan tentang Tauhidullah bahwa Allah itu Esa lagi tidak ada sekutu bagiNya, baik dalam RububiyyahNya maupun dalam UluhiyyahNya ataupun dalam Asma dan SifatNya. Maka tidak ada Pencipta selainNya, tidak ada Rabb selain Read more ...
Dia dan tidak ada Pemberi rizki yang Memiliki dan Mengatur semua wujud ini kecuali Dia, dan kami mentauhidkan Allah dalam semua perbuatanNya Subhanahu, sebagaimana kami mentauhidkanNya dengan semua perbuatan kami. Kami bersaksi sebagaimana Allah bersaksi bagi DiriNya sendiri dan juga malaikat-malaikat dan para ulama, Dia-lah yang menegakan keadilan, tidak ada ilah yang berhak diibadati kecuali Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana seraya kami menetapkan apa yang ditetapkan oleh kalimat yang agung ini berupa pemurnian seluruh ibadah kepada Allah saja, konsekwensi-konsekwensinya, kewajiban-kewajibannya dan hak-haknya, juga kami menafikan (meniadakan) apa yang dinafikan oleh kalimat ini berupa berbagai macam kemusyrikan dan tandingan serta hal-hal yang menyertainya. Dan kami beriman, bahwa tujuan yang karenanya Allah ta’ala menciptakan semua makhluk adalah ibadah kepadaNya saja, sebagaimana firman Allah: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk berubadah kepadaKu” (Adz Dzariyat : 65) Kami menyeru kepada Tauhidullah subahanahu dalam seluruh macam-macam ibadah berupa sujud atau ruku’ atau atau nazar atau thawaf atau haji atau sembelihan atau hukum dan yang lainnya. “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (Al An’am: 162-163)] Perintah Allah Subhanahu   Wa Ta’ala adalah mencakup perintah kauni(ketentuan alam) dan syar’iy (ketentuan syari’at), dan sebagaimana hanya milik Dia Subhanahu hukum kauni qadariy (ketentuan alam yang bersifat taqdir), dimana Dia-lah yang mengatur alam ini lagi menentukan di dalamnya dengan ketentuan yang Dia inginkan dan sesuai apa yang dituntut oleh hikmahNya, maka begitu juga kami mentauhidkan Allah Subhanahu   Wa Ta’ala dalam hukumNya yang bersifat syar’iy sehingga tidak menyekutukan seorangpun dalam hukumNya dan kami tidak menyekutukan seorangpun dalam ibadahNya: “Ingatlah, menciptakan dan memerintah-kan hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah Tuhan Semesta Alam” (Al A’raf: 54)] Halal adalah apa yang Dia halalkan dan haram adalah apa yang Dia haramkan. [“Keputusan itu hanyakah keputusan Allah, Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia” (Yusuf: 40)], Maka tidak ada yang berhak membuat hukum kecuali Dia Subhanahu Wa Ta’ala, dan kami berlepas diri dan menanggalkan diri serta kafir (ingkar) terhadap setiap musyarri’ (pembuat hukum) selainNya, maka kami tidak mencari tuhan pengatur selain Allah, dan kami tidak menjadikan selain AllahSubhananhu sebagai sembahan, dan kami tidak mencari aturan selain Islam, karena sesungguhnya orang yang menjadikan penentu hukum dan pembuat hukum selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala dimana orang tersebut mengikutinya dan bersepakat bersama-nya terhadap undang-undang yang menyelisihi aturan Allah maka dia itu telah menjadikan tuhan pengatur selain Allah dan telah mencari aturan selain Islam. Allah Subhanahu   Wa Ta’alaberfirman: “Sesungguhnya syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik” (Al An’am; 121) Dan firmanNya: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (At Taubah: 31) Sebagaimana kami mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Asma dan SifatNya, maka tidak ada orang yang menyerupaiNya dan tidak pula yang serupa denganNya dan tidak pula yang sepertiNya dan tidak pula tandingan dan yang sepadan denganNya. [”Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Al Ikhlas: 1-4)] Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyendiri dengan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan yang Dia tetapkan bagi DiriNya dalam kitabNya atau yang disebutkan oleh NabiNya dalam sunnahnya, sehingga kita tidak mensifati satupun dari makhlukNya dengan sifat-sifatNya, dan kami tidak tidak membuatkan nama bagiNya dari nama-namaNya, dan kami tidak membuatkan bagiNya perumpamaan-perumpamaan atau menyerupakanNya dengan salah satu dari makhlukNya, serta kami tidak melakukan penyimpangan dalam nama-nama dan sifat-sifat Rabb kami. Akan tetapi kami beriman terhadap semua sifat Allah yang Dia tetapkan bagi DiriNya  dan terhadap sifat-sifat Allah yang diutarakan oleh RasulNyaShalallahu ‘alaihi wasallam sesuai hakikat yang sebenarnya, bukan majaz(kiasan), tanpa tahrif (memalingkan maknanya), tanpa takyif (mereka-reka), dan tanpa tamtsil (penyerupan). [“Dan bagiNyalah sifat-sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Ar Rum: 27)], Maka kami tidak meniadakan darinya sedikitpun dari sifat-sifat yang telah Dia tetapkan bagiNya Subahanahu, dan kami tidak memalingkan kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya, dan kami tidak masuk di dalamnya seraya melakukan takwil dengan pikiran-pikiran kami, atau melakukan dugaan-dugaan dengan dudaan-dugaan kami dengan dalih tanzih (mensucikan Alah), maka tidak selamat dalam agamnya kecuali orang yang menerima putusan Allah ‘Azza Wa Jalla dan RasulNya Shalallahu ‘alaihi wasallam, serta mengembalikan ilmu yang samar atas dia kepada yang mengetahuinya, dan tidak kokoh pijakan Islam bagi seseorang kecuali di atas panggung penerimaan dan penyerahan diri, barangsiapa menginginkan pengetahuan apa yang dia dilarang darinya dan dia tidak puas pemahamannya dengan penerimaan penuh, maka keinginannya itu menghalangi dia dari kebenaran iman dan kemurnian Tauhid. Kami beriman bahwa Allah telah menurunkan kitabNya dengan bahasa Arab yang jelas, maka kami tidak menyerahkan ilmu tentang makna-makna sifat (kepada Allah), akan tetapi yang kami serahkan kepadaNya adalah ilmu tentang kaifiyat (bentuk sebenarnya) sifat-sifatNya dan kami mengatakan  [“Kami beriman kepadaNya, semuanya itu dari sisi Tuhan kami” (Ali Imran: 7)]. Kami berlepas diri kepada Allah dari ta’thil kaum Jahmiyyah dan tamtsilkaum Musyabbihah, maka kami tidak cenderung kepada yang ini dan yang itu, akan tetapi kami bersikap pertengahan dan lurus sebagaimana yang diinginkan Rabb kami antara penafian dan penetapan. Dia ta’ala berfirman: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy Syura: 11). Barangsiapa tidak menghindari ta’thil dan tasybih maka dia tergelincir dan tidak tepat pada tanzih. Kami dalam bab ini ~sebagaimana dalam bab-bab yang lain~ adalah di atas apa yang diyakini salafush shalih Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan di antara hal itu adalah apa yang di kabarkan dalam kitabNya dan telah mutawatir dari Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa Dia Subhanahu Wa Ta’ala di atas langit-langit-Nya bersemayam di atas Arasy-Nya sebagaimana dalam firmanNya: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikan bumi bersama-sama, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu tergoncang?” (Al Mulk: 16) Dan sebagaimana hadits budak wanita yang ditanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam: ”Dimana Allah?”, dia menjawab: “Di atas”, Rasul berkata: “Saya siapa?”, dia menjawab: “Engkau rasulullah”, beliau berkata: “Merdekakanlah dia karena dia itu wanita beriman” [2] Dan ini adalah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya bagi kami. Akan tetapi kita menjagaNya sebagaimana As Salaf Ash Shalih telah menjagaNya dari dugaan-dugaan yang dusta seperti diduga bahwa langit itu menaungiNya atau menjadi pijakanNya, maka ini adalah bathil yang memaksa kami menyebutkannya dan menafikannya dan mensucikan Allah darinya ~walaupun generasi Salaf tidak secara jelas menyinggungnya~ adalah sikap gaduh para ahli bid’ah dan ilzam-ilzam (pengharusan-pengharusan) mereka yang bathil terhadap Ahlus Sunah. Allah Subhanahu  Wa Ta’ala berfirman: “Kursi Allah meliputi langit dan bumi” (Al Baqarah: 255) Dan: “Menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap” (Fathir: 41) Dan: “Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi kecuali dengan izinNya” (Al Hajj: 65) “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya” (Ar Rum: 25) Dan kami beriman bahwa Dia Subhanahu istiwa (bersemayam) di atas Arasy-Nya sebagaimana firman-Nya ta’ala: “Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arasy” (Thaha: 5) Dan kami tidak mentakwil istiwa dengan istiila-istiila (menguasai), akan tetapi istiwa itu sesuai dengan maknanya dalam bahasa Arab yang mana Al Qur’an  Allah turunkan dengan bahasa itu, dan kami tidak menyerupakan istiwaNya dengan istiwa sesuatupun dari makhlukNya, akan tetapi kami mengatakan seperti apa yang dikatakan Imam Malik : “Istiwa itu sudah di ketahui, iman terhadapnya adalah wajib dan kaifiyyahnya adalah tidak diketahui, sedangkan bertanya tentangnya adalah bid’ah” Dan terhadap ini kami memahami sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Subhanahu   Wa Ta’ala yang lainnya seperti turun, datang, dan hal-hal lainnya yang telah Allah kabarkan dalam kitabNya atau telah ada dalam Sunnah yang shahih. Dan kami beriman bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala walaupun Dia istiwa di atas Arasy-Nya lagi tinggi di atas langit-lanngit-Nya, bahwa Dia dekat dari hamba-hamba-Nya sebagaimana firman-Nya: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat” (Al Baqarah: 186) Dan sebagaimana dalam hadits Muttafaq ‘alaih:“Hai manusia kasihanilah diri kalian karena sesungguhnya kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli dan jauh, namun kalian ini menyeru Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Melihat lagi Dekat, sesungguhnya Dzat yang kalian seru itu adalah lebih dekat kepada seorang di antara kalian daripada leher hewan tunggangannya” Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersama hamba-hamba-Nya dimana saja mereka berada. Dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan sebagaiman firman-Nya ta’ala: “Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada, dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (Al Hadid: 4) Dan kami tidak memahami dari firman-Nya “Dan Dia bersama kamu” apa yang di pahami oleh orang-orang zindiq bahwa Allah itu berbaur dengan hamba-hamba-Nya atau menempati pada sebagian mereka atau menyatu dengan mereka, dan keyakinan-keyakinan kafir dan sesat lainnya, akan tetapi kami berlepas diri di hadapan Allah dari itu semuanya. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memiliki bersama hamba-hamba-Nya yang mukmin memiliki kebersamaan yang lain yang khusus selain kebersamaan yang umum, yaitu kebersamaan pertolongan dan bimbingan serta pelurusan sebagaimana dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kabaikan” (An Nahl: 128). Allah Subhanahu Wa Ta’ala walaupun Dia bersemayam di atas Arasy-Nya dan Tinggi di atas langit-langit-Nya namun Dia bersama hamba-hambaNya di mana saja mereka berada seraya mengetahui apa yang mereka lakukan, dan Dia  Subhanahu Wa Ta’ala dekat dari orang yang menyeru-Nya, dan Dia bersama hamba-hambaNya yang beriman; menjaga mereka, menolong mereka, dan memelihara mereka, maka kedekatan dan kebersamaan Allah tidak menafikan Tingginya Dia, karena tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dalam sifat-sifatNya, dan Dia itu Tinggi pada kedekatan-Nya lagi dekat pada Ketinggian-Nya. Dan di antara buah-buah tauhid yang agung yang merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya ini adalah keberhasilan orang yang bertauhid dengan surga Tuhannya dan keselamatan dari api neraka sebagaimana dalam hadits Mu’adz Ibnu Jabbal, dan di antaranya juga pengagungan Allah dan pemuliaan-Nya dengan mengenal sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, mensucikan-Nya dan membersihkan-Nya dari yang menyerupai atau menyamai, dan mengetahui kebodohan orang-orang yang menjadikan tuhan-tuhan selain-Nya yang mereka sekutukan bersama-Nya dalam ibadah atau hukum-hukum dan aturan, serta kehinaan dan kenistaan orang yang menjadikan dirinya sebagai sekutu dalam sesuatu dari hal itu, padahal mereka itu tidak ikut dalam penciptaan dan tidak memiliki sedikitpun bagian dalam kekuasaan atau pemberian rizki atau pengaturan. Dan di antara buah tauhid ini juga keberlepasan hati dan jiwa dari perbudakan terhadap makhluk dan keteguhan si hamba dalam kehidupan dunia dan akhirat karena orang yang menyembah sekutu-sekutu yang berselisih dimana dia menyeru mereka dan terpecah-pecah rasa takut dan pengharapannya di antara mereka tidaklah seperti orang yang mentauhidkan Tuhannya Subhanahu Wa Ta’ala dan yang memurnikan bagi-Nya rasa takut, pengharapan, tujuan, keinginan dan ibadah. Ya Allah, wahai pelindung Islam dan para pemeluknya, teguhkanlah kami di atas tauhidMu sampai hari berjumpa denganMu…
12 hours ago
More Yusuf haji posts »

Yusuf haji news

Kenya: Police Summon Farah Over Al Shabaab
[The Star]Former Deputy Speaker Farah Maalim yesterday denied any link to Al Shabaab. He has been summoned to appear before the Anti-Terrorism Police Unit at 11 this morning to respond to allegations that his remarks yesterday morning on Citizen TV constituted hate speech.
8 days ago
Comment on A-G Gani Patail is not above the Law by looes74
Semper, With due respect while black box (that consists of flight data recorder) may be much complicated than a normal tape recorder, I simply can't believe that Malaysians even in Malaysia is that dumb & incompetent that they can't do analysis at all. Again, it's downright insulting to them. As for those in down south, well, if singapore has people who can modify avionics within F15 ...
14 days ago
Polls Close After Afghan Voters Cast Ballots for New Leader
Afghanistan’s polling stations closed Saturday after what election officials are calling a successful turnout for the nation's first democratic transfer of power. Across the country, security was tight following a spate of recent attacks by Taliban militants who vowed to disrupt Saturday's vote, but the moment everyone was dreading never happened. Despite confirmed reports of violence, the ...
20 days ago
Commemorating Architect of Modern Brunei
Bandar Seri Begawan: His Majesty the Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah, the Sultan and Yang Di-Pertuan of Brunei Darussalam yesterday had consented to welcome and express appreciation for the support shown by the Adat Istiadat Council in choosing the pre-eminent figure in customs and traditions to be made the foundation and highest beacon of the country's customs and traditions ...
24 days ago
More Yusuf haji news »

Yusuf haji videos

AKIBAT MENINGGALKAN SHALAT 1 - YUSUF MANSURINTERVIEW: Abdul Haji recounts rescuing Westgate hostagesKhutba juma by Mufti Tariq MasoodYUSUF MANSUR - EFFEK SEDEKAH DGN HARTA TERCINTA ( DUA )Yusuf Mansur Wisata Hati 3WACANA PERDANA 3 (6/45) - Untuk Apa?, Gagal Bersatu, Islam Babitkan Semua, Bawa Prinsip Islam - Asri
More Yusuf haji videos »