Siapa pacar iqbal sebenarnya posts

Tivan
sang kyai
SANG KYAI Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian te Read more ... ngah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya. Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya. Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri. Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya. Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk. Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri. Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada. Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan. Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku. Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi. Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak, “Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.” “Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan. “ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah. Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati. Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalauKyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong. Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir. Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai. SANG KYAI
6 months ago
Afifah
tak percaya cinta
Tak Percaya Cinta   Masih tertinggal bayanganmu Yang telah membekas direlung hatiku Hujan tanpa henti Seolah pertanda, cinta tak disini lagi, kau tlah berpaling Biarkan aku menjaga perasaan ini, menjaga segenap cinta yng telah kau beri Engkau pergi Read more ... aku tak kan pergi, kau menjauh kau takkan jauh Sebenarnya,diriku masih mengharapkanmu.. Masih adakah, cahaya rindumu Yang dulu selalu cerminkan hatimu Aku takkan bisa menghapus dirimu meski ku lihat kini, kau disebelah sana.. []               Klik.. Firalangsung menekan tombol off pada radio mininya. Ia tak kuat lagi mendengar laguitu. Lagu itu mengingatkannya pada sosok yang Ia cintai. Izza. Ya, Izza. Iaamat mencintai Izza, begitu juga Izza. Izza pernah bilang padanya jika diriyamencintai Fira. Namun entah mengapa, Izza menghianati Fira. Peristiwa seminggulalu masih membekas dan terlihat jelas di pelupuk mata Fira.             Pagi itu, Fira berniat ingin mengunjungi rumah Izza. Iaingin bertemu dengan Izza dan juga orang tuanya. Selaku pacar Izza, Ia sudahkenal akrab dengan keluarga Izza. Tak hanya dengan orang tuanya, adik Izza pun,sangat dekat dengannya. Jadi tak heran jika semua teman Izza juga mengenalnya.Tak jarang pula banyak yang menyebut mereka berdua pasangan yang serasi.             Sosok Izza yang tinggi, sangat serasi jika dijejerkandengan Fira yang tinggi semampai. Ditambah dengan kacamata yang bertengerdimata Fira, menambah anggunnya gadis itu. Di SMAnya, Fira dikenal sebagaigadis yang aktiv. Ia sangat aktiv mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Sepertipramuka, OSIS, PMR, dan masih banyak lagi. Tak heran, jika Fira sangat dikenaldi SMAnya. Tak sulit untuk mencari dirinya, karena tempat yang paling seringaIa sambangi adalah perpustakaan.             Begitu pula dengan Izza, Ia seorang kapten basketsekaligus sepakbola. Banyak gadis-gadis di SMA yang menaruh hati padanya. Takjarang pula Izza menerima surat gelap dari beberapa siswi yang tak Ia ketahui.Hal itu, tak membuat Fira cemburu. Karena Fira sadar, tak selamanya apa yang Iamiliki akan abadi. Semua pasti akan kembali kepada-Nya.             “Hai, kokk ngelamun sih? Lagi mikirin aku ya?” ucap Izzamengejutkan Fira. Hampir saja Ia tersedak minumnya.             “Ih, apaan sih? Siapa juga yang ngelamun? Aku itu laginunggu makanaku biar agak dingin” jawab Fira bohong tentunya. Karenasebenarnya, Ia sedang memikirkan Izza.             “Udah lama ya nunggu aku?” tanya Izza.             “Lumayan, ini sampai es jerukku tinggal setengah” jawabFira dengan senyum manisnya.             “Hehe, maaf. Tadi aku lagi ngangkat telpon di kamarmandi. Eh, maksudku aku tadi kebelet, lalu cepet-cepet ke kamar mandi.” Izzalupa. Ia telah keceplosan bicara. Fira pasti curiga, hal itu terlihat dari mata Fira yang menyipit melihatnya.             “Angkat telponnya siapa? Kok sampe sembunyi di kamar mandi? Biasanya kan angkat telpon di depanku?” tanya Fira curiga.             “Itu, telpon dari tanteku yang ada di tangerang, katanya besok mau kerumah, tapi aku gak boleh bilang sama ayah dulu. Biar kejutan”jawab Izzs berbohong. Tanpa Fira ketahui sebenarnya yang menelpon dirinyaadalah Desi. Ya Desi.             Desi itu salah seorang siswi SMK MAJU JAYA. Letak sekolahitu sekitar dua ratus meter dari sekolah Fira dan Izza. Izza mengenal siswi ituketika Ia sedang mengantar adiknya ke tempat les privat. Di tempat les itu,Izza melihat sosok gadis yang memakai celana jins, kaos putih, dilapisi denganbolero ungu. Rambutnya digerai begitu saja, dan dibiarkan dipermainkan anginyang berhembus.             Desi tampak berbeda dengan Fira yang selalu memakaijilbab kemanapun dia pergi. Bahkan jika dirumah, Fira selalu memakai jilbab.Sekalipun Izza belum pernah melihat rambut Fira. Ia tak tahu, rambut Fira itupanjang atau pendek.             Lalu, tanpa pikir panjang, Izza mendekati Desi danmenyapanya.             “Hai, bimbingan disini juga ya?” tanya Izza basa-basi.             “Oh, aku? Nggak kok, aku Cuma nganterin adikku. Kamubimbingan disini?” tanya Desi. Ditelinga Izza, suara Desi sangat merdu. HinggaIa melamun.             “Hey !! kok melamun sih? Liatin apa?” tanya Desimenydarkan Izza dari lamunannya.             “Oh, eh, gak kok. Aku juga nggak bimbingan disini. Akujuga nganterin adikku.” Jawab Izza dengan cepat. Ia malu karena tadi sempatmemandang Desi dengan pandangan seperti itu.             “Oh, “ jawab Desi dengan singkat. Boleh juga nih cowok. Ganteng. Batin Desi.             “Kalau boleh aku tau, nama kamu siapa?” tanya Izza.             “Aku, Desy, kamu?” jawab Desi seraya menglurkan tangannya.             “Aku Fahrizza. Biasa dipanggil Izza aja.” Jawab Izzaseraya menyambut uluran tangan Desi. Ada perasaan senang ketika Ia menyentuhtelapak tangan Desi. Permukaan tangannya sangat halus.             Semenjak Ia menjalin hubungan dengan Fira, tak pernahsekalipun Ia menyentuh tangan Fira. Jangankan gandengan saat jalan,menyentuhpun belum. Ketika Ia ingin menyentuh atau berjabat tangan dengan Fira,selalu saja Fira bilang “Bukan mukhrim, Za” jauh berbeda denga Desi.Belum-belum saja, Ia sudah mengulurkan tangannya ketika berkenalan tadi.             “Tuh, kan. Melamun lagi. Ada masalah?” lagi-lagi Desimembuyarkan lamunannya.             “Maaf, kau nggak melamun kok.” Jawab Izza denganberbohong.             “Gitu, ya?” jawab Desi seraya menganggukkan kepalanya.             “Kalau boleh tau, kamu sekolah dimana?” tanya Izza, Iasudah bisa menguasai dirinya.             “Aku di SMK MAJU JAYA. Kalau kamu?” tanya Desi balik.             “Aku di SMA PURNA BAKTI. Kelas berapa?”             “Kelas sebelas. Eh, berarti sekolah kita deketan ya?”tanya Desi dengan sumringah.             “Iya. Paling dua ratus meter, kan?” tanya Izzamemastikan.             “Iya, kamu..” tiba-tiba, Ifa adik Desi sudah beradadibelakangnya.             “Kak, ayo pulang. Aku udah selesai nih” ajak Ifa dengangaya kekanak-kanakannya.             “Iya, sayang. Ayo. Za, aku duluan ya?” pamit Desi padaIzza.             “Des, tunggu. Boleh aku minta nomor telponmu?” tanya Izzaseraya memegang pergelangan tangan Desi. Desi hanya memandang pergelangantangannya ynag dipegang oleh Izza. Ia tak berontak sama sekali, seperti halnyaFira jika ada cowok yang memegang tangannya. Desi lanjut mengeluarkan senyummanisnya.             “Boleh, mana nomormu?” tanya Desi.             “085786975xxx. Nomor kamu mana? Ntar kau telpon kamu ya?”pinta Izza.             “Oke.” Jawab Desi singkat sambil senyum.             “Yaudah, silahkan kalau mau pulang” ucap Izza dengan hatiberbunga-bunga. Sampai Ia tak sadar jika tangan Desi masih Ia genggam.             “Bagaimana akau bisa pulang kalau tanganku aja masih kamupegang?” tanya Desi dengan tawa yang renyah.             “Oh, iya maaf. Lupa” jawab Izza dengan muka merah padam.Bukan karena marah, tapi karena malu.             “Iya. No proplem.”Tukas Desi.             Hari-hari selanjutnya, Izza dan Desi semakin dekat.Hingga hal itu terjadi, di sekolah, Izza tetap menjadi kekasih Fira, tapi jikadi tempat bimbingan Ia menjadi kekasih Desi. Hampir tiga bulan hunbungan Izzadan Desi tak diketahui oleh Fira. Namun, naas sekali sore itu. Nampaknya Tuhansudah berkehendak lain.             Sore itu, Fira berniat pergi silaturrahmi kerumah Izza.Sudah hampir satu bulan Ia tak bertemu dengan adik Izza. Namun, sore itu, Izzatak berada di rumah. Ia sedang menjemput Desi kerumahnya. Izza berniat mengajakDesi kerumahnya lagi. Ini sudah kali ke empat Izza mengajak Desi ke rumahnya.             “Assalamualaikum” sapa Fira pada Iqbal adik Izza.             “Waalaikumsalam, Mbak Fira” jawab Iqbal seraya berlarimenghampiri Fira.             “Mas Izza ada nggak, dik?” tanya Fira.             “Mas Izza lagi jemput pacarnya” jawab Iqbal polos. Deg! Pacar? Bukankah pacar Izza aku? TanyaFira dalam hati.             “Pacar Mas Izza yang mana, dik?” tanya Fira denganbersusah payah menahan gejolak hatinya.             “Pacar Mas Izza kan sekarang ada dua. Mbak Fira sama MbakDesi. Nah yang dijemput itu Mbak Desi” jawab Iqbal. Dengan santai.             “Jadi Mas Izza punya dua pacar, Dik?” tanya Firamemastikan.             “Iya, apa Mbak Fira nggak tau?” tanya Iqbal balik.             “Mbak nggak tau.” Tak begitu lama berselang, Izza munculdengan seorang cewek cantik yang memakai hot pants serta kaos merah ketat yangmemperlihatkann lekuk tubuhnya yang indah. Izza kaget melihat Fira berada dirumahnya. Tiba-tiba saja..             “Za, kau nggak nyangka kamu kayak begini. Kamu tegabanget selingkuh di belakangku” tegur Fira dengan air mata yang sudah menderas.             “Ra, aku bisa jelasin semuanya” ucap Izza dengan nadamemohon.             “Ini siapa sih, yang? Temen sekolahmu ya?” tanya Desi.             “mungkin ini saatnya aku harus bicara. Desi kenalin inipacar aku di sekolah. Dan Fira, kenalin ini pacar aku. Dia sekolah di SMK MAJUJAYA” jelas Izza dengan menunduk.             “Hah! Pacar kamu kayak gini?” ledek Desi ketika Iamemperhatikan pakaian yang dikenakan Fira. “Pakaiannya saja kuno banget kok”ledek Desi.             “Bukan pakaianku yang kuno. Tapi pakaianmu. Lihat!Pakaianmu sangat kurang bahan” tukas Fira dengan nada marah.             “Ini tren, sayang” sombong Desi.             “Terserah. Za, mulai sekarang kita putus” ucap Fira danlangsung berlari meninggalkan rumah Izza. Ia menangis.             Ra, maafkan aku.Aku udah menghianati kamu. Batin Izza.             “Ya sudah. Ayo masuk, Des.” Ajak Izza pada Desi. ***             Tak terasa air mata Fira meleleh lagi mengingat kejadianitu. Sungguh tega Izza menghianati cinta tulusnya. Izza tega berselingkuh dibelakangnya. Fira mengambil buku hariannya dan Ia menulis sesuatu di sana.. Cinta..             Cintaitu bahagia, tapi menyakitkan             Saatkita mencintai kita bahagia, saat kita cemburu, kita terluka             Cintaitu tak harus memiliki             Itubohong !!             Semuaorang ingin memiliki, bahkan terkadang merasa harus memiliki             Denganmelihat orang yang kita cintai bahagia, kita pun akan merasa bahagia,             Hahaha.. kata siapa?![]             Cintaitu menyakitkan! Sungguh ! [] Ketikahati berbisik tentng cinta             Hanyamata yang memaknai kenyataannya             Senyummuyang indah menjadi sebuah dilema             Yangmenutupi rasa yang ingin terucap             Maaf..             Bilasemua rasa tak pernah kukatakan             Bilasemua tak sempurna, seperti yang kau bayangkan             Akuhanya ingin kau tau Hariini, aku akan tetap mencintaimu             Esok,aku akan selalu menjagmu             Dan,kuharap suatu saat nanti kau kan jadi milikku []
6 months ago
Cerpen
Takdir (28)
Ini lanjutan takdirnya :-) Sehenernya mau post kemaren tapi filenya ilang terpaksa ngetik lagi uu Tapi gpp :-) tetep semangat :-)) ***** Minggu pagi yang indah.Cuaca yang cerah dengan embun pagi di dedaunan nan sejuk.Favorit thania.Berbeda den Read more ... gan clarissa yang lebih suka dengan gerimis.Thania sedang menikmati pagi harinya dengan secangkir teh hijau dengan gula non kalori favoritnya dengan beberapa potong donat keju yang dibeli dari pedagang kue dekat rumahnya tadi pagi.Sebenarnya thania lebih suka kopi tapi mengingat riwayat jantungnya ia tak berani menyesap minuman berwarna hitam itu. "Ah iqbal curang ihh.."clarissa menggerutu kesal dengan iqbal yang ikut menuntun sepeda dibelakangnya. "Kok iqbal sih yang curang?salah iqbal apa coba?" "Kamu nggak ikut ngayuh sepedanya,kakak capek tau.." "Iqbal ngayuh tau kak,cuma pelan aja haha.."iqbal tertawa melihat ekspresi clarissa yang semakin merengut. "Ini mbak,den minumnya.."pelayan rumah thania menaruh dua gelas orange juice dingin dan dua botol air mineral dingin di meja ruang tamu. "Makasih mbak.."iqbal. "Habis darimana sih kalian?tumben pagi pagi udah ngilang?"thania menyeruput tehnya sambil tetap fokus dengan tab di tangannya.Ia sedang gila dengan semua berita online tentangnya saat ini. "Sepedaan kak.." "Tumben?" "Yah sekali kali aja ya bal.."iqbal hanya mengangguk.Clarissa mengambil sepotong donat keju didepannya. "Ntar kalian ikut yah ,bersih bersih rumah.."keduanya hanya mengangguk. ***** Ting tong.Ting tong "Iya iya bentar.."tiara mengomel sepanjang jalan dari ruang makan sampai pintu utama rumahnya.Siapa yang mengganggu acara sarapan paginya.Bertamu sepagi ini dihari minggu pula. "Lama banget sih ra bukanya.."reza ngedumel pada tiara yang membuka pintu dengan perasaan malas sangat itu. "Lagian belagak ketok pintu,biasanya juga nyelonong aja deh.."balas tiara tak kalah nyolot.Terang saja reza memang aneh.Sudah bertamu pagi pagi masih saja ngedumel. "Coba lihat dong penampilan kita,udah rapi gini masak bertamu nggak secara manis sih ra.Uhh nggak banget.."balas ilham tak mau kalah. "Punya kaca nggak?cuma pake celana belel selutut sama kaos doang juga.Mana rapinya?" "Kamu itu haris mendalami fashion yang.." "Udah ah masuk aja.Ribet urusannya sama kalian.."tiara memotong ucapan ilham yang maaih tak terima ucapannya terpotong oleh tiara. "Siapa ra?"erfina yang masih menikmati sarapannya bertanya pada tiara yang baru datang. "Biasa mah,geng alaynya kak morgan.."sungut tiara. "Pagi tante pagi om.."ilham menyapa dengan riang gembira erfina dan rudi yang sedang menikmati sarapannya. "Oh kalian ternyata.Tante kira siapa.." "Ayo sarapan bareng.."lanjut erfina. "Siap tante.."ilham reza berbarengan. "Kak bisma tumben kalem?"tiara. "Sariawan!"sungut bisma. "Ya biasa aja keles.."sungut tiara tak mau kalah dari bisma. "Kok sensian banget sih ra?pms yah.."ilham bertanya dengan wajah tanpa dosa miliknya.Yang ditanya hanya diam tak menanggapi. "Habis berantem sama kakaknya ham.."erfina menjawab ilham. "Ra.."tiara masih tak mau membuka mulut.Ia masih marah dengan kakaknya yang semalam membuang sepatu kesayangan tiara.Tak sengaja sebenarnya. "Minta maaf lah dek.."tiara masih enggan membuk mulut.Terang saja tiara mogok bicara dengan kakaknya karena itu sneakers kesayangan tiara. "Ntar papah beliin lagi yang baru ra.."rudi ikut angkat bicara. "Nggak mau titik!" "Lagian salah kamu juga.Sepatu ya naruhnya di rak sepatu bukan dibungkus kantong plastik item ditaruh deket dapur pula.." "Ya kan abis dipake mau aku cuci.." "Gini aja deh.Karena mau nggak mau kakak harus merasa bersalah,kakak akan nebusnya dehh.." "Aku kan udah bilang nggak mau diganti sepatu baru!"sungut tiara. "Siapa yang mau gantiin sepatu baru.GR banget.."balas morgan cuek. "Hahaha.."tawa ilham dan reza meledak melihat morgan berhasil membuat tiara merutuk kesal.Bisma sendiri masih kalem.Mungkin karena kejadian kemarin bersama clarissa.Ia masih harus berpikir keras bagaimana cara meminta maaf pada clarissa.Entah bagaimanapun caranya. "Terus apa?" "Kamu ntar ikut kakak deh.." "Kemana?ngapain?" "Ketemu kak thania.." "Really?"tiara sangat antusias jika diajak bertemu dengan thania.Entah apa alasannya tapi tiara mersa nyaman bersama calon kakak iparnya itu. "Heem.." "Jam berapa?" "Agak ntaran siang sih,nunggu thania kasih kabar mau kesana jam berapa.." "Mau kemana bis?"ilham bertanya pada bisma yang bearanjak dari kursinya. "Tidur.." "Loe nggak ikut bis?"reza bertanya sebwlum bisma benar benar meninggalkan ruang makan. "Kan maaih ntaran.Gue mau tidur dulu.Pusing.." "Loh loh,yang punya rumah padahal nggak nyuruh tidur dimana tapi main nyelonong aja keatas.."gerutu tiara. "Udah udah boarin aja.."erfina menengahi. "Yaudah mah rara berangkat dulu ke supermarket depan.." "Iyaa.."sahut semua serentak. ***** Suasana pagi yang cerah ternyata berbanding terbalik dengan cuaca di siang harinya.Gerimis mulai turun.Acara berkumpul dihalaman belakang rumah baru morgan yang seharusnya menyenangkan mendadak gagal karena gerimis.Halaman rumah yang hanya memiliki satu gazebo medium size tidak akan muat menampung 6 orang dewasa dan 2 orang remaja. "Ahh sepi nih nggak asik.."reza.Memang suasana sangat hening.Bagi reza seperti dalam film horor.Hanya duduk diruang tamu dengan makanan ringan dan snack juga softdrink biasa. "Ya bakar aja ini rumah biar rame.."cetus ilham.Kontan saja jawaban asal ilham mendapat lemparan bantal sofa dari pemilik rumah. "Ya bener dong gue.."kilah ilham sambil melempar balik bantal ke morgan. "Nyanyi aja bal.."usul clarissa menunjuk iqbal. "Nggak ada musik iringannya nggak enak kak.." "Nggakapa bal yang penting ngeramein suasana.."clarissa terus mendesak iqbal untuk menyanyi.Iqbal tak menanggapi ucapan clarissa tapi malah clingak clinguk nggak jelas. "Cari apa bal?"thania. "Ada piano atau apa gitu nggak?"thania menggeleng.Iqbal memang cukup piawai memainkan piano.Sama halnya dengan thania yang juga piawai memainkan piano karena baik iqbal maupun thania sudah mengikuti les piano sejak umur 3 tahun yang maaih rutin diikuti iqbal setiap 1 minggu sekali karena kegiatan iqnal yang semakin banyak sedangkan thania sendiri berhenti ketika ia memutuskan untuk melanjutkan study di negeri orang. "Gitar mau bal?"ilham menawarkan. "Nggak ada gitar ham.Jangan ngaco deh gitar siapa juga.."sanggah morgan.Terang saja karena memang ia tak merasa menyimpan gitar dirumah ini. "Tenang semuanya.Kan pasti ada gitar di mobil bisma.."sahut ilham.Tak lama ilham meninggalkan ruang tamu menuju garasi untuk mengambil gitar.Memang tadi ilham,bisma,reza,tiara dan morgan berangkat mrnggunakan mobil bisma.Sedangkan thania,clarissa dan iqbal datang sendiri dengan mobil thania. "Tapi iqbal nggak pinter main gitar kak.."sanggah iqbal saat ilham menyerahkan gitar pada iqbal. "Kak bisma kak pinter main gitar.Biar kak bisma yang main gitarnya.."usul tiara.Memang benar bisma piawai memainkan alat musik petik itu.Dan kemampuannya pun sudah tak diragukan. "Yaudah sini aku aja yang nyanyi.."sahut bisma.Ilham langsung menyerahkan gitar itu pada bisma.Sedangkan iqbal langaung mengambil posisi duduk disebelah clarissa. "Jreeng..Jreeng.."bisma mulai memetik gitarnya dengan pelan. Aku pergi bukan berarti tak setia Aku pergi demi untuk cita-cita Semua menyimak bisma menyanyi.Suasana mulai hening sehingga hanya suara bisma yang didengar. Maaf bila Mungkin kita harus terpisah Relakanlah mungkin ini sudah takdirnya Ku tak ingin ada benci Ku tak ingin ada caci Yang aku ingin kita selalu baik-baik saja Perlahan tapi pasti clarissa mulai merasakan sesak didadanya.Entah benar atau tidak ia merasa bisma menyanyikan lagu itu untuknya.Semua maaih jelas diingatan clarissa.Saat bisma akan pergi tanpa meninggalkan kabar selama 5tahun terakhir.Clarissa memang menginginkan semua baik baik saja tapi apa daya hatinya menolak itu. Kenangan kita tak aku lupa Ketika kita masih bersama Kita pernah menangis Kita pernah tertawa bahagia bersama Semua akan slalu ku ingat Semua akan slalu membekas Kita pernah bersatu dalam satu cinta Dan kini kita harus terpisah Alunan petikan gitar bisma semakin menghanyutkan suasana saat itu.Mati matian clarissa menahan air mata dan sesak didadanya.Clarissa selalu ingat dengan bisma yang sering menyanyikan lagu untuknya.Bahkan sekedar menghabiskan malam minggu bersama di halaman rumah clarissa sambil mendengarkan bisma menyanyi untuknya.Tapi itu dulu.Saat maaih berlakunya kata 'kita' bukan aku dan kamu seperti saat ini. Aku pergi hoo..ooo Aku pergii.... Aku pergii..hoo..ooo Ku tak ingin ada benci Ku tak ingin ada caci Yang aku ingin kita selalu baik-baik saja Kenangan kita tak aku lupa Ketika kita masih bersama Kita pernah menangis Kita pernah tertawa bahagia bersama Semua akan slalu ku ingat Semua akan slalu membekas Kita pernah bersatu dalam satu cinta Dan kini kita harus terpisah Semua yang ada disana menghayati setiap kalimat lagu yang dinyanyikan bisma.Termasuk tiara dan ilham yang sangat antusias dengan lagu yang bisma nyanyikan.Namun berbeda dengan clarissa yang sejak tadi diam.Pandangannya mengarah pada bisma yang bernyanyi tapi pikirannya melayang entah kemana. Aku pergi... Bisma mengakhiri lagunya.Lagu yang dramatis. Prook..Prook.. Semua bertepuk tangan untuk bisma.Bisma meletakkan gitarnya lalu meneguk softdrink yang ada didepannya. "Wiih keren banget kak.."tiara memuji bisma habis habisan. "Kalau tiara yang muji itu perez bis jadi jangan percaya.."cetus ilham yang diikuti tawa dari yang lain. "Heem bis dia kan emang gitu terus tiap bisma abis nyanyi haha.."sahut reza. "Biarin.." "Tapi kok lagunya mellow abis sih bis?"morgan.Yang diikuti anggukan dari yang lain. "Emang kenapa kalau lagu mellow?" "Ya nggakapa sih bis tapi kok kayak dalem gitu ya.."ilham. "Itu lagu buat orang yang pernah gue tinggalin dulu.."lirih bisma.Dugaan clarissa benar.Ini lagu untuknya. "Oh yang mantan pacar loe itu bis?"tanya reza memastikan. "Bagi gue dia bukan mantan karena gue masih nganggep dia istimewa.."clarissa tersentak saat mendengar penuturan bisma barusan.Benarkah masih seperti itu? "Makanya loe usaha lebih keras lagi buat nemuin dia.."usul morgan. "Udah.Gue udah ketemu beberapa hari lalu.." "Terus?"tanya morgan antusias.Bisma hanya menggeleng. "Dia nggak bisa maafin gue.Lagian emang salah gue ninggalin dia.." "Bukan nggak maafin tapi belum maafin.Rara yakin pasti kak bisma akan dapet maaf lagian setiap orang kan punya salah jadi ya anggep aja ini titik kesalahan kak bisma yang memang harus diapahami.."tiara berusaha menguatkan bisma.Bisma hanya tersenyum.Mana mungkin tiara si anak manja bisa sebijak itu? "Oke fix.Kalau gue ketemu cewek itu gue bakal kasih tau dia tentang kesetiaan loe nitup hati buat cewek lain.."tingkah ilham barusan mengundang gelak tawa yang lain. "Korban sinetron haha.."reza. "Lagian loe kan setia bis jadi gue yakin loe dimaafin.."morgan. "Setia?mana mungkin ada pria mapan berpenghasilan tinggi pula bisa setia?mana mungkin?"cetus clarissa tajam.Pertanyaan itu menusuk bagi bisma.Seburuk itukah bisma bagi clarissa.Morgan sedikit kaget dengan clarissa.Kenapa bisa setajam itu pertanyaannya. "Setia kan bukan seberapa banyak kita ada buat pasangan tapi seberapa sering kita nutup hati pada lawan jenis selain pasangan.."sanggah ilham membela sahabatnya.Jika benar itu definisi setia berarti clarissa adalah tipe wanita setia.Karena 5 tahun terakhirnya ia tutup untuk pria manapun yang mrndekatinya. "Heem dan bisma ngelakuin itu sejak dia kuliah sampai sekarang.."sambung reza. Benarkah reza?bisma menutup hati untuk wanita lain selama 5 tahun terakhir?Entahlah.Karena hanya bisma yang tahu kebenarannya saat ini.Dan gengsinya terlalu tinggi untuk menanyakan itu. ***** Bagaimana dengan part ini? RCL yahh :-) Ikha
7 months ago
Muhammad
MY NAME MY PARENTS DREAM AND MY DREAMS
nama : Muhammad Iqbal Mansulrudin Namaku adalah cita-cita orangtuaku dan cita-citaku juga yaitu Muhammad Iqbal Mansulrudin.. yang artinya mungkin seperti ini: Muhammad : aku diharuskan untuk mencontoh dan mungkin bahkan jadi contoh seperti Read more ... nabi muhammad SAW yaitu dalam hal akhlak beliau yang sangat terpuji, dalam hal kepemimpinan, dalam panglima perang, sosial,politik,teologi,berdagang,wiraswasta,bisnis,ketuhanan,dan semua aspek kehidupan di dunia dan akhirat..walau dalam hal agama aku tidak terlalu tertarik dan menurut saya hanya buang-buang waktu tapi saya percaya agama itu penting.. tapi saya juga tidak tahu,, saya lebih tertarik dengan character building (membangun karakter) dan nations bulilding(membangun negara) yang bagus dan makmur :) karena beliaulah pusat agama islam dan dari beliaulah perantara/syafaat bagi kita semua dan kita harus meneladani sifat dan perilaku beliau didalam setiap kehidupan kita.. bahkan alquran pun berasal dari beliau jadi menurut saya takan mungkin apa yang dituliskan quran berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh Rasululloh SAW .. walaupun saya tidak terlalu fanatik dengan nabi Muhammad SAW karena saya takut karena keterlaluan cinta ini bisa mengakibatkan suatu hal kebencian nantinya.. karena beda antara benci dan cinta itu hanya sedikit saja.. kalau kita terlalu benci kita bisa melewati apa itu garis cinta,, jika kita terlalu cinta kita bisa melewati garis dan batas apa itu benci,, dan saya tidak mau seperti itu,, walaupaun saya percaya dan meyakini bahwa tak ada lagi yang berhak jadi idol dan panutan selain nabi muhammad SAW. yaa saya kira nabi Muhammad adalah quran berjalan,, jika kita tidak paham dengan quran dan apa kandungannya , menurut saya dengan mengikuti akhlak nabi Muhammad sudah cukup mewakili.. dan menurut saya juga manifestasi akhlak Alloh ada pada nabi Muhammad .. walau saya tetap beribadah kepada Alloh dan bukanlah kepada nabi Muhammad atau kepada yang lainnya :),, dan nama Muhammad adalah orang yang dipuji/terpuji yang kedua Iqbal : yah menurut di kamus artinya menerima atau piil amar yaitu kamu harus menerima.. yang artinya saya harus menerima segala hal.. aku juga tidak tahu artinya harus menerima apa? tapi menurut saya adalah kalau agama saya tetap kepada ahlu sunnah dan mazhab imam syafii yang saya anut dan percayai.. dan untuk agama saya Islam walau agama lain saya terima namun dalam batasan dan toleransi tentunya.. tidak dengan ikut ke gereja beribadah.. atau ikut dengan mazhab lain dan ikut acara dan ceremony nya tapi kalau menurut saya itu bagus saya ikut.,, tapi kalau menurut saya tidak bagus yaa saya tidak ikut.. yang jadi acuan saya adalah akal,perasaan dan hati saya.. setiap ilmu saya ambil dan terima perduli itu dari siapa dan dari apa meskipun dari seorang kafirpun atau dari seorang yahudi dan musyrik tidak apa? kenapa kita harus fanatik dengan agama lain? toh agama dan negara lain lebih maju daripada kita? kenapa kita tidak belajar saja.. saya tentunya selektif dan memilih juga mana yang baik dan benar tidak semua saya ambil.. saya ingat dengan perkataan Ali kwa bahwa " hikmah islam itu tersebar,, jadi dimanapun kalian mendapatkannya maka ambillah" gitu aja koq repot.. dan Rasululloh SAW bersabda "jangan lihat orang yang bicara tapi lihatlah yang dibicarakannya".dan saya baca di buku muhammad iqbal orang pakistan dan saya suka dengan tokoh itu karena pluralis dan lain-lain. karena saya percaya bahwa ada hkmah dari setiap peristiwa dan kata-kata,., dan saya yakin disetiap kata dan susunan kata mempunyai makna yang berbeda-beda. dan tidaklah sama.. yah,, seperti halnya memilih istri/pacar/wanita. saya juga harus selektif tentunya tidak setiap wanita saya ajak nikah dan pacaran tentunya tidak seperti itu juga kan,, kalau menurut saya sesuai kriteria saya dan setia itu sudah cukup :) yang ketiga Mansulrudin: saya masih bingung dengan segat ini tidak tahu isim maful atau isim fail? biasanya isim maful yang artinya yang ditolong agama,, jadi saya yang terus ditolong agama.. tapi bagi saya saya seharusnya menjadi seorang penolong agama dan bukan yang ditolong agama karena saya harus berperan aktif dalam menolong agama dan diri saya tentunya..jadi menurut saya makna isim maful disini adalah isim maful bimakna isim fail hahaa :D jadi yang menolong agama.. selain itu sebenarnya nama ini diambil dari seorang tokoh penyebar islam,, saya lupa di banten atau di Tasikmalaya atau dimana? waktu kecil saya pernah diajak untuk menziarahinya tapi saya lupa... dan sebenarnya nama Muhammad Iqbal Mansulrudin itu diberi oleh KH. Abdurrahman ketua pondok pesantren al-kamilah lame desa mekarsari karena saya masih punya kekerabatan kakek dan punya garis keturunan.. saya pun tidak tahu kenapa saya dinamai itu oleh Apa ajengan dan oleh ibu-bapak saya.. diri saya terserah saya dan bagaimana saya,,,, tapi satu hal yang selalu jadi cita-cita saya dari dulu adalah menjadi cendekiawan muslim,pebisnis yang kaya dan bisa bersadaqah kepada kaum miskin, miskin pengetahuan dan harta :) sempat saya ingin seperti bill gates juga dengan masuk informatika tapi yakh sekarang saya jadi jurusan filsafat islam dan saya lihat difilsafat islam ada pak haidar bagir yang menurut saya cukup sukses segalanya finansial dan agama dan saya dengar pak haidar bagir salah satu yang pergi ke harvard. walaupun saya tidak bisa pergi ke harvard setidaknya saya bisa belajar dari beliau atau mungkin kapan-kapan saya bisa ke hardvard university tempat bill gates dan mark zuckenberg kuliah :) saya ingin semua tercukupi dan seimbang. dan saya ingin membanggakan kedua orangtua saya,agama saya,negara saya dan dunia itulah cita-cita yang saya selalu katakan ketika ditanya didepan kelas dan saya juga tak tahu apakah cita-cita saya akan jadi benar atau tidak.. walau saya sendiri tidak tahu sekarang saya akan menjadi apa karena saya mengambil jurusan prodi filsafat islam kata orang-orang sih jurusannya madesu(masa depan suram) dan bikin gila? tapi saya yakin koq enggak bakalan seperti itu.. bahkan saya merasa keimanan saya bertambah walau saya tidak tahu.yakhh.. saya hanya berusaha saja untuk menjadi yang lebih baik dan lebih baik lagi :) dan belajar filsafat agar saya tahu rumus kehidupan dan lebih bijaksana,ingin jadi manager perusahaan dan CEO (chief excecutive organizer) di suatu perusahaan besar seperti pak haidar bagir di mizan atau jadi presiden atau bupati tak apa hhe cita-cita jangan tanggung-tanggung.. "bercita-citalah setinggi langit,jika kau jatuh maka kau akan jatuh diantara bintang-bintang. yakh itu mungkin data diri saya sekilas dari nama saya "tapi satu hal yang selalu jadi cita-cita saya dari dulu ingin membanggakan kedua orangtua saya,agama saya,negara saya dan dunia :)" cita-cita yang mengada-ngada dan terlau tinggi :) tapi insyalloh sukses
7 months ago
Ratih
XII TKJ-E di Mata Bunda
Pagi itu di SMKSuryalaya,Tasikmalaya, Jawa Barat. Ibu yeti baru saja masuk ke dalam kelasdengan raut wajah yang berseri-seri. “apa yang kalian rasakanpada hari ini?” pertanyaan yang rutin di pertanyakan oleh beliau sebelum mengajar. Ibu yeti, Read more ... adalahseorang guru Sastra Indonesia di SMK Suryalaya untuk jurusan Teknik InformatikaJaringan di sekolah tercinta ini, selain mengajar sastra beliapun merupakanguru Produktif untuk Jurusan Bisnis Manageman dan ia begitu biasa disapamurid-muridnya, karna orangnya yang ramah, bersahabat dan amanah yang otomatismembuat nyaman ketika kenal dengan beliau. Ibu yeti sering kami panggil Bundaentah berawal darimana telaah itu berasal namun Bunda ini sangat menyukai panggilanitu , Bundapun sangat bersahabat dengan kelas yang sedang aku duduki ini,dimana merupakan abjad terakhir dari 5 kelas jurusan informatika. Namunsayangnya beliau bukan walikelas kami melainkan merupakan walikelas dari kelaslain ,namun kami selalu yakin di hati bunda tersimpan nama kami XII TKJ-E. Sedang asyik-asyiknyaaku mencari sebuah buku pelajaran di tas ku , aku dikejutkan dengan teman-temanyang menyanyikan sebuah lagu “Happy Birthday” dengan serempak, akupun ikutbernyanyi. Tenyata sesosok yang aku kagumi berulang tahun pada hari ini tepat18 Februari . Satu persatu kamipun maju ke depan bersalaman dan mengucapkan selamat ulangtahun , sementara bunda hanya terdiam . Ketika itu suasanamenjadi hening bundapun mulai berbicara cucuran airmataku menetes begitupundengan teman-temanku ,entah apa yang kurasa semua berkecamuk menjadi satu . dansemua terpampang begitu nyata ketika bunda memamparkan semuanya. Bundapunberdiri dan meminta 1 permintaan pada kami . “Bunda mempunyai 1permintaan , bisakah kalian wujudkan?” “insaalloh bun”serentak anak-anak menjawab “di hari ulang tahunbunda ini bunda meminta 1 permintaan, tuliskan dikertas 1 lembar apa yangkalian suka ataupun kritik yang nantinya bisa membangun bunda menjadi seorangyang lebih baik” terdengar  suara bundalirih dan beliapun berjalan keluar kelas. Aku dan teman-temanpunsegera menyobek kertas , pada saat itu suasana begitu mengharukan namunterlihat teman-teman bingung menguntai kata ,apa yang harus mereka tulis. Namunhatiku berontak ketika ku dengar permintaan bunda , aku ingin segera menggoreskantinta di selembar kertas putih ini tuk mengungkapkan kekaguman akan sosok yangaku banggakan ,aku menulis di baris terakhir kertas ku dengan huruf capital “ILOVE U BUN” tulisan yang berasal dari hati. Dan bundapun kembalidengan membawa sekeresek lollipop, beliaupun membagikanya dengan berbagai warna, ada yang menang warna hijau,cokelat dan ,pink , dan pada saat itu akumendapatkan warna pink untuk lollipopnya entah apa artinya yang pasti hanyaperefsesi ibu yang tau akan hal itu. Setelah 1 kelas terbagi ibupun kembaliduduk , ketika kami sedang menikmati lollipop pemberian beliau sambil kamihiasi tawa-tawa kecil dengan bercanda, namun tiba-tiba suasanapun kembalihening ketika bunda kembali memamparkan. “ sebenarnya kelasbunda itu cemburu pada kalian , tapi sesungguhnya mereka tidak berhak cemburupada kalian! 1 kalimat untuk kalian , I LOVE U” dengan suara lirih namun agaktegas beliaupun berdiri , ia mendatangi satu persatu murid yang ada di depanyaitu , namun entah kenapa lagi-lagi air mataku tidak bisa tertahan ketika bundamenuju bangku dimana aku duduk. Ku terharu ku memeluk beliau begitu erat ,entah apayang ku rasa aku tak mampu menahan ledakan air mataku sampai beliaumengatakan “ teh ingat! Sastrawan ituboleh menangis tapi jangan marah” dari pesan itu aku mengerti apa maksudnya,akupun berhenti menangis dan kucoba tersenyum pada beliau. Setelah semuaberpelukan dengan bunda bel pelajaran bunda pun berakhir , 2 jam kami lewatidengan penuh keharuan, mungkin tidak ada ilmu yang kami tulis di buku kami padahari ini tapi kami mendapatkan sebuah pelajaran yang begitu berarti. Bundapunkeluar kelas dengan senyumannya. Pada itu Ray sang juarakelas di kelas XII TKJ-E mengusulkan untuk patungan membeli sebuah kue untukbunda. Teman-temanpun setuju , uangpun terkumpul . Ray dan Anipun pergi membelisebuah kue yang lokasinya dekat dengan sekolah kami ia memilih kue berwarnaungu yang berpolet putih  yangbertuliskan “Happy Birthday bunda Yeti” . Dan waktu sangatmemihak pada kelas kami, pada hari ini kelas bunda itu 4 jam, 2 jam untukpelajaran dan 2 jam lagi untuk pengayaan atau sering kita sebut pemantapanuntuk Ujian Nasional (UN). Bel pengayaan punberbunyi . kami terlebih dahulu menghadiri kelas matematika yang di ajarkanoleh pak Dadan namun dipertengahan pengayaan bundapun datang dari balik pintubeliau mencuri waktu sebentar . “ pak maaf minta waktunya sebentar. Hey hari inipenganyaanya libur ya” kata bunda. Kami pun serentak protes dan akhirnyabundalah yang kalah . Kelas matematikapun berakhir , bundapun datang dengan membawasebuah paket soal Try Out yang mungkin awalnya beliau ingin membahas soal-soalitu namun rencana bunda kami gagalkan. Tiba-tiba setelah bunda duduk kamiserentak bernyanyi dan Tetenpun maju kedepan dengan membawa kue. Lucunyalilinya terbalik yang harusnya 31 menjadi 13 tahun, lebih muda 20 tahun deh. Yaitulah kelas E jail tapi rame. Bundapun untuk kedua kalinya terpaku tidak mampuberkata-kata. Pada saat lirik “tiup lilin nya…” beliaupun “make a wish” agaklama beliau berdoa ,dan beliaupun meniup lilinya . serentak tepuk tanganmenghapiri bunda. Sampai pada saatnya memotongan kue dan beliapun memulaipembicaraan . “apakah ini alasanbunda harus masuk? Terimakasih kalian sudah memberikan kebahagian buat bunda ,dan bunda akan berikan potongan petama ini buat sesosok yang bunda kagumi, iamembuat inspirasi dalam hidup bunda . maaf tapi ini dari hati bunda dan diaadalah…………… RULI SANDRIA” bunda punberdiri menuju Ruli yang bangkunya ada di paling belakang dan tanpa aba-abatepuk tanganpun bersorak pada saat itu. Bundapun kembali duduk. “ Maaf jika Ruli tidak suka potongan kue itu, diberikan padanya tapi alasankenapa bunda memilih dia karena dia telah memberikan warna dalam hidup bunda ,dia satu-satunya orang yang menjemput bunda dari pintu sampai kelas yang takpernah bunda alami selama bunda mengajar di sekolah ini , bunda tidak bermaksudmembeda-bedakan kalian semua , di kelas ini banyak yang bunda kagumi teh Ratih sang Sastrawan muda, bundakagum pada awal kenal teh ratih ,pada saat class meeating pada saat itu bunda selalu menjadi juri dalam acaraPentas Seni dan kebetulan pada saat itu MC nya adalah teh Ratih ,ibu bertanya siapa dia? Kelas berapa dan kelas apa? Ibumencari info tentang dia . yang kedua Iqbal dia mampu menjadi seorang sastrawandengan kata-kata yang dewasanya,trus Rafi pokoknya bunda sangat kagum padakelas ini pada kalian yang tak bias bunda sebut satu-satu sang kelasjuara,kelas yang kompak” suasana pada saat itu sangat hening dan bundapunmenghentikan ucapanya dan iapun mengarahnya matanya pada kami dan beliaupunmemamparkan kekagumanya dan arti kami dimatanya. “teh ANI RISTIANI, dengan diamnya dia itu pintar bunda lihat nilaiUjikomnya , ia mendapatkan nilai yang paling tinggi. Teh RAY RINDRIANI, pada awalnyabunda melihat kamu itu PD berjualan dan pada saat itu saya pernah membelipadanya , sang juara kelas yang tak pernah puas apa yang telah ia capai. ADITYAWARMAN, ketika pertama kali masuk XII TKJ-E bunda lihat papan nama yangbertuliskan Aditya Warman , bunda ingat seorang pahlawan dari cerpen yangpernah bunda baca , dan apakah adit yang ini berjiwa pahlawan juga?.SAEFULMILAH, ketika bunda masuk XII TKJ-E yang bunda kenal hanya a aef dan teh ratih karena mereka aktif dalamoraganisasi mereka mampu membagi waktu mereka antara organisasi dan pelajaran,bunda suka itu karena bunda bisa berdiri disini karena itu. Ketika kau sakitnak bunda itu rindu padamu, bunda selalu mencari kabar darimu. ADE MUGNI,dengan diamnya dia itu jenius apalagi dalam ilmu computer , terimakasih sudahmeminjamkan bunda laptop. PERMAS, calon ketua osis yang tertuda kemenanganyatanpa ia ketahui bunda memilihnya dan bunda tau dukungan para teman-temanpunikut mengalir, kenapa bunda memilih permas? Karena bunda yakin ia akan menjadiseorang pemimpin yang arif dan agamis. RAFI , fi kalo bunda kembali muda, bundamau jadi pacar kamu, karena bunda tau kamu orangnya menyenangkan. IQBAL, bal ,kamuitu orang sastra . bunda selalu mengintip setiap kamu update . kata-katamu yangdewasa walaupun agak kolot tapi kata-kata itu sungguh bermakna. Teh MILA , pertama kali bunda melihatmila pas jalan bersama silvi waktu kelas X dan bunda menanyakan siapa dia ? teh mila ini sedang mencari sesosokcinta sejati namun belum ada,suatu saat pasti ada sekarang belum saatnya teh. TehMIA, jangan bilang bunda itu tidak pernah memperhatikan kamu,bunda tau kamu ituadalah calon ibu, ya semuanya juga calon ibu tapi ia mempunyai titik kedewasaanyang lebih diantara teman-teman yang lain.Teh RATIH, kita sma-sama suka nulis ya teh,kita sama-sama suka sastra yainilah sang sastrawan muda bunda yakin suatu saat ia akan menjadi penulisterkenal karena ia selalu mengirimkan karya-karyanya di internet dan bundaadalah salah satu orang yang selalu mengintip karya dia 1 kritikan dari bundahati-hati dalam penulisan ya nak. Teh AI,sebelumnya bunda minta maaf bukan bunda bermaksud merebut ruli, awalnya bundatidak peduli dengan ai ,siapa ai? Tapi ternyata ai adalah bagian terpentingdari XII TKJ-E , bunda suka pribadi mu nak. CeuIDA (SANTI) , maafkan bunda yang selalu memanggil mu dengan sebutan itu ,tidak ada  sedikitpun niat bunda untukmeledek, menghina, tapi itu merupakan panggilan sayang bunda , pastikan suatusaat panggilan itu menjadi kenangan . DAROSALAM, siperantau yang menuntut ilmudi kota sebrang , terimakasih telah meminjamkan bunda speakernya ya nak.MAULANA, untuk yang keberapa kalinya bunda selalu bilang bunda selalu mencariinfo tentang XII TKJ-E begitupun dengan maulana ,maul kenapa pas MTS kamu ituluar biasa tapi sekarang?.Teh SILVI,cantik,putih,tinggi ,kayak Boneka ,itu yang selalu terucap dari orang-orangtapi menurut bunda ia tidak seperti boneka tapi ia adalah perempuan yang nyarissempurna dengan wajahnya yang begitu cantik tapi bunda sarankan hati dansikapnyapun harus cantik ya nak ,karena bunda sayang kamu. Teh NIA, dengan diamnya ia berprestasi ,walaupun ia selalucengengesan dengan silvi ketika bunda menjelaskan ,bunda sering tersinggungapakah kalian menertawakan bunda,tapi ternyata nia ini rajin ia selalu duduk didepan, ia mempunyai kemauan yang tinggi. TETEN,yang bunda tau teten itu kalauketawa susah berhenti dan mungkin iapun susah berhenti makan. YOGI,kita pernahmenangis bareng ya gi ,saya hutang budi padamu , karena dia pernah mendengarkeluh kesah bunda . dia bisa mengalahkan kedewaan saya . saya belajar dewasadari yogi dan dia adalah satu-satunya orang yang pernah menghapus airmata dipipi saya . gi bunda janji tidak akan ada air mata setelah ini. AA, kamu itupendiam tapi perkiraan bunda salah ! ternyata kamu itu orangnya riang .Mr.LIMBAD (YUDI), limbad ,mungkin karena jarang ngomong jadi kamu di panggil mr.limbad,tapi setiap bunda Tanya ia menjawab berarti bunda mampu menaklukan hati limbaddong, ANDRI , pertama kali saya bertemu andri pas pernikahan kakak andri danadik sepupu saya jadi kita itu masih ada ikatan keluarga ya dri. ARIS, bagibunda kamu itu atlet ,kita sama-sama sipit ya J . dan terakhirRULI terimakasih telah memberikan warna di hidup bunda ,telah memberikaninspirasi buat bunda.terimakasih untuk kalian semua kalian sangat berarti hidupbunda ,kalian kelas juara kalian kelas yang kompak sayangnya dulu bunda memilihkelas lain padahal bunda di suruh memilih antara kelas E dan yang lain tapibunda malah memilih kelas lain,kenapa? karena omongan dari guru-guru lain tentangkalian, tapi sekarang bunda dapat menepis semua omongan mereka bahwa omonganmereka tidak benar ! 1 kalimat  untukkalian I LOVE U, jangan pernah Tanya seberapa besar bunda sayang kalian ,kalianhebat telah mencuri perhatian bunda dan kasih sayang bunda” Setelah bundamemamparkan semuanya kini aku mengerti arti XII TKJ-E dimata bunda , ternyatakelas yang dianggap remeh oleh guru lain mempunyai sisi yang bermakna di mataBunda ,aku bangga di senja ini dengan langit yang tertutup awan Aku berikrar ,aku bangga menjadi salah seorang bagiandi XII TKJ-E .  
8 months ago
Cerita
NABILAH JKT48 SEX
“Sampai jumpa, Nabilah!!” “Sampai jumpa!!” aku melambaikan tanganku pada kedua temanku, Melody dan Cleopatra yang sudah menggandeng kekasih mereka masing-masing, lalu menghela nafas. Hari ini aku pulang sendiri lagi. Biasanya kami bertig Read more ... a selalu pulang bersama karena rumah kami searah. Tapi sejak mereka memiliki kekasih, kami jadi jarang pulang bersama. Mereka sering menyuruhku agar berpacaran dan tidak sekali mereka mengenalkanku pada laki-laki. Tapi aku terlalu malas untuk berpacaran. Entahlah, mungkin belum ada yang membuatku nyaman. Yeah, kalian tahu kenapa? Karena saat berpacaran, pergi kencan, seks itu hal yang sudah biasa. Dan aku yakin, kedua temanku itu sudah pernah melakukannya. Tapi aku ingin melakukannya dengan seseorang yang benar-benar istimewa untukku. ”Meooong…” Suara itu menyadarkanku dari lamunan. Tidak terasa aku sudah berjalan cukup jauh dari sekolah. Kucari-cari di mana suara itu berasal dan kutemukan seekor kucing dengan bulu hitam pekat sedang tergeletak di bawah pohon Akasia besar di tepi jalan. Sepertinya kucing itu sudah tidak punya tenaga. Kuhampiri lalu kuambil. Badannya benar-benar lemas. Tapi hei, mata kucing ini berwarna biru. Sangat keren. Kuputuskan untuk membawanya pulang. Setidaknya aku masih punya teman di rumah. Kunamakan ia ‘Hiru’ karena bulunya yang hitam dan matanya yang berwarna biru. Ah, kucing ini sepertinya benar-benar kelelahan. Sampai di rumah, aku langsung membawanya ke kamar. Kuletakkan ia di atas karpet kamarku lalu memberinya susu. Ia minum dengan lahap. Lalu aku berjalan menuju lemari dan melepas bajuku. Aku merasa agak tidak nyaman saat melepas pakaianku. Kulihat Hiru, ia sedang menatapku, tajam. Ayolah, ia hanya seekor kucing. Kulanjutkan kegiatanku tapi tidak segera berganti pakaian. Aku berjalan menuju cermin besarku dan menatap diriku yang telanjang di sana. Kulihat dari cermin, Hiru masih menatapku. Apa ia berfikir aku ini cantik? Kuraba perut rataku lalu mengelus payudaraku sendiri dan memilin puntingnya. Sebenarnya aku ingin melakukannya. Ingin seseorang menyentuhku seperti ini. Hanya saja aku belum menemukan orang itu. Aku menghela nafas pelan lalu masuk ke dalam kamar mandi. *** Kucing itu ternyata sangat penurut. Sepertinya ia mengerti apa yang kuucapkan. Setiap aku pulang sekolah, ia selalu menyambutku di depan pintu. Ia juga tidak pernah buang kotoran di dalam rumah dan tubuhnya selalu bersih. Ia kucing yang pintar. Sekarang aku tidak sendirian lagi, Hiru selalu menemaniku. Saat makan, nonton tv, belajar, tidur, bahkan mandi. Selama ini aku memang hidup sendiri. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Hidupku dibiayai oleh pamanku yang tinggal di luar negeri. Aku tidak mau ikut mereka ke Amerika jadi aku tinggal sendiri di sini. Itulah sebabnya kenapa aku tidak ingin main-main dalam urusan cinta seperti teman-temanku. Aku tidak ingin merusak hidupku sendiri karena aku sendiri di dunia ini. Tidak akan ada yang menjagaku saat aku sakit, dan tidak akan ada yang menghiburku saat aku terpuruk. Setelah mandi, kupakai baju tidurku yang transparan. Aku tidak pernah memakai dalaman saat di rumah kecuali pada saat-saat tertentu. Aku lebih nyaman seperti itu karena tubuhku terasa bebas oleh baju-baju ketat. Kuambil Hiru yang sedang menjilati bulunya di atas meja belajarku lalu kubawa ke tempat tidur. Aku merebahkan tubuhku di ranjang sambil bersandar pada bantalku. Kuletakkan kucing itu di atas perutku. “Bulumu halus sekali…” kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Hiru hanya menatapku dengan mata birunya itu. Lalu ia mengendus-endus bajuku hingga ke putingku. “Aah…” aku mendesah pelan saat ujung hidungnya mengendus-endus putingku yang ada dibalik baju tidurku. Kubiarkan ia bermain-main disana, sementara aku hanya memejamkan mata menikmatinya. Lama-kelamaan aku tertidur. *** “Nabilah, kamu tidak ikut dengan kami nanti?” tanya Melody. “Ada yang ingin berkenalan denganmu lho,” sahut Cleopatra. Aku menoleh dan menatap mereka dengan malas “Siapa?” tanyaku. “Iqbal CJR, dia sangat tampan. Ah, andai saja aku belum punya pacar…” Tuuuk! “AUW!” Cleopatra meringis sambil mengusap-usap keningnya yang baru saja kulempar penghapus. “Kenapa tidak kamu pacari juga dia?!” dengusku. “Kamu tidak mau berkenalan dengannya, hah?” tanya Melody. Aku memalingkan wajahku malas. “Tidak. Aku tidak ingin pergi malam ini,” “Tapi kudengar nanti bulan purnama, pasti terlihat cantik di taman nanti, apalagi ini akhir minggu,” Cleo terus berusaha membujuk. “Benar,” dukung Melody. “Ada film favoriteku, aku harus menontonnya nanti!” sahutku tanpa menoleh. “Tapi...” kata-kata Cleo terputus saat seorang guru memasuki kelas dan mereka segera pindah ke tempat duduknya masing-masing. *** Aku menguap pelan saat film yang kutonton habis. Hiru masih ada dalam dekapanku. Rasanya hangaaaat… tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Cleo dan Melody tadi. Malam ini adalah malam purnama, benarkah? Pasti bulan terlihat sangat cantik. Aku beranjak dari sofa dan melirik jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Kugendong Hiru dan berjalan menghampiri jendela di kamarku. Tepat saat sinar bulan yang masuk melalui jendela mengenai tubuhku, seperti ada yang meledak di hadapanku. BLAM!!! “Gyaaaaaaaaaaaaa…!!!” aku menjerit sambil memejamkan mata. Kurasakan punggungku membentur lantai dengan keras. Lalu hening. Ada sesuatu di hadapanku, dan dia hidup karena aku dapat mendengar deru nafasnya. Kubuka mataku perlahan dan terbelak. Mata biru itu… Ada seorang laki-laki yang menindih tubuhku. Wajahnya… Apakah dia malaikat yang turun ke bumi? Rambutnya terjuntai berantakan, telinganya lebih panjang seperti kurcaci dan matanya berwarna biru. Sama dengan kucingku. Aku tersentak seketika. Kucingku? Nafas laki-laki itu tersegal dan… oh my god! DIA TIDAK MEMAKAI BAJU!!! “Gyaaaa! Hmmf...” aku menjerit, tapi langsung terputus saat bibirnya membungkam mulutku. Mataku terbelak dan sepertinya jantungku juga sudah berhenti. Ia melepaskan bibirnya sambil menatapku. Aku tidak bisa bergerak. Bahkan untuk berkedip. Sepertinya rohku sudah melayang jauh. “Beri aku waktu sebentar…” bisiknya. Apakah dia manusia? Atau malah siluman? “Akhirnya kau melihatku…” bisiknya sambil tersenyum. Aku mengerjap pelan “Si-siapa kau?” “Kau tidak ingat? Kau selalu memelukku, menggendongku, dan memanggilku dengan nama ‘Hiru’,” Aku terbelalak. “K-kau Hiru? Kucingku? K-kau si-siluman!!!” aku menelan ludahku dengan tubuh gemetar. Ia tertawa kecil. “Kau tahu,” ia mendekatkan bibirnya ke telingaku “... semua yang kau lakukan padaku dan di hadapanku itu membuatku sangat… terangsang! Hhhh…” ia mendesah pelan, membuat mukaku langsung terasa panas. “Saat kau melepas bajumu dihadapanku…” ia menghembuskan nafasnya di leherku, membuat tubuhku semakin menegang. Dan anehnya aku tidak dapat bergerak. Aku tidak bisa berteriak. Suaranya yang sehalus angin seperti menghipnotisku. “Saat kau mengusap payudaramu sendiri…” ia mengecup kulit leherku, membuatku mendongak sambil memejamkan mata. “Uuuugghh…” tanpa sadar aku mendesah pelan saat ada yang mengusap payudaraku lembut. Tanganku mengepal erat, tubuhku menegang. “Saat kau memilin putingmu, hhhh…” “Nghhhh…” nafasku mulai tersengal saat jari itu memilin salah satu putingku dari luar baju tidur transparanku. “Kau membuatku tersiksa, Nabilah Ratna Ayu Azalia…” bisiknya masih sambil mengecupi leherku, membuatku menggeliat di bawahnya. Perutku terasa geli, seperti ada yang menggelitik. “Si-siapa kau… ahhh…” tanyaku dengan susah payah. “Mmmhh…” ia menghisap kulit bahuku, menyingkirkan tali bajuku lalu membuat cupangan disana. “Panggil saja aku… Hiru.” “Hiru... aaahhh!” aku mendesah keras saat tangannya mengusap pahaku. Mengapa tubuhku tidak bisa menolak sentuhannya? Mengapa begitu mudah ia menguasaiku? Dan mengapa aku menyukai sentuhannya? Apakah aku sudah gila? Aku membiarkan siluman menyentuhku. Hiru menurunkan tali bajuku hingga ke bawah payudara lalu menyapukan hidungnya di kedua payudaraku. Menghirup aroma tubuhku dalam-dalam karena tidak ada bra yang menghalangi. Deru nafasnya membuatku bergairah. “H-Hiru… a-apa kau siluman? Oooohh…” aku memekik pelan saat sesuatu yang basah mengusap putingku. Lidahnya. Dan entah sejak kapan tanganku melingkar di lehernya, menyusupkan jari-jariku ke dalam rambut halusnya. Meremasnya perlahan. “Untuk saat ini, ya…” ia menjawab berbisik. “Nghhh… aaahhh…” aku mendesah saat bibirnya melumat putingku lembut. dikulumnya sambil disedot-sedotnya. Melumuri dengan air liurnya dan memainkannya dengan lidahnya. “Uuughh… ssshhh…” aku mendesis pelan. Apakah seks itu senikmat ini? “Tapi kau akan membantuku menjadi manusia, mmmhh…” tambahnya lalu melumat putingku lagi. “Nghhh… aaahh… ba-bagaimana... uughh… caranya?” “Bercintalah denganku,” jawabnya singkat. “Aaahhh…” aku mendesah saat tangannya menyusup dari bawah baju tidurku yang pendek, mengelus pinggangku. “Dan kau tidak bisa menolaknya, karena aku telah memilihmu!!” bisiknya, lalu tiba-tiba menarik tubuhku bangun dan mengangkat pinggangku, otomatis aku melingkarkan kakiku pada pinggangnya. “Aaahhh…” ia mendesah pelan saat merasakan vaginaku yang basah menekan perutnya. Aku tidak pernah memakai dalaman, dan tidak pernah menyangka kalau beberapa hari ini aku tinggal bersama siluman kucing. Dan bahkan aku mengajaknya mandi bersama. Oh tuhan, aku benar-benar gila! “Ngh,” ia membenturkan tubuhku pada dinding, menghimpit tubuhku. Aku menurunkan kakiku lalu ia mengecup bibirku. Kubiarkan baju tidurku itu meluncur turun ke bawah dengan mudahnya. Aku diam, menatap matanya yang sekarang berwarna biru gelap. Ia sama diamnya sambil menatapku. Lalu perlahan, wajahnya mendekat dan aku memejamkan mata. Ia mengecup bibirku lembut dengan teramat pelan. Manis… bibirnya terasa manis saat menekan bibirku lembut. lalu dikecupnya lagi, lagi, lalu dilumatnya bibirku pelan. Itu ciuman pertamaku… “Mmhh…” ia menghisap bibir atas dan bawahku bergantian. Mengulumnya sambil menekan-nekannya lebih dalam. Jemariku meremas rambutnya dan dadaku bergesekan dengan dadanya. Aroma tubuhnya memabukkan. Wangi yang tidak terlalu tajam namun lembut. Dibukanya bibirku dengan lidahnya, lalu menyusup masuk ke dalam. Tangannya menahan tengkukku, memperdalam ciuman kami. “Ngghhh…” lidahnya menari-nari di dalam mulutku, menjilati lidahku, mencampur air liur kami. Tangannya bergerak turun, mengusap punggungku, pinggangku, lalu pahaku, dan mengangkat satu kakiku lalu dilingkarkan ke pinggangnya. “Uggghh…” aku melepaskan ciuman kami sambil meringis pelan saat merasakan sesuatu menerobos vaginaku. “Sakit?” bisiknya di telingaku lalu mengecupi bahuku. “Ngghhhh…” aku meremas rambutnya kuat. Rasanya perih. Seperti luka saat terjatuh. Dan tanpa sadar, air mataku mengalir. Dijilatinya air mataku lalu dikecupnya mataku. “Aaahh…” ia mendesah pelan ketika penisnya masuk semua ke dalam vaginaku. Rasanya sesak! “Sekarang aku menjadi milikmu, Nabilah. Kamu tidak akan bisa mengusirku dari hidupmu.” “Uuughhh…” aku membenamkan wajahku ke dalam lehernya saat ia mulai bergerak. Tangan Hiru memeluk pinggangku, menarikku lebih rapat. “Nghhh… aahh… aaahh…” aku mulai mendesah saat rasa perih itu bercampur rasa nikmat yang belum pernah kurasakan. Kukecup lembut bahunya. Menghirup aromanya dalam-dalam. Tanganku turun ke bawah mengusap punggungnya yang basah oleh keringat. “Aaahh… sshhh…” dia mendesah, terlihat begitu menikmati rasa tubuhku. “Nghh… nghhh… aaahh… aasshh…” tubuhku terhentak-hentak saat ia mempercepat gerakannya. Aku bisa merasakan gesekan penisnya di dinding vaginaku. Membentur-bentur dinding rahimku. “Mmmhh…” Hiru menciumi tengkukku sementara satu tangannya memilin-milin putingku. “Aaahhh… uuughh… ngghhhh… hhh…” perutku terasa di aduk-aduk dan vaginaku berkedut-kedut cepat. “Ssshh… mmmhh… aaahhh…” demi apapun, aku sangat menyukai suara desahnya. Bunyi benturan alat kelamin kami menggema di kamarku yang mungil. “Ooouughh... aaah.... Na-naa... b-bi... laah... oooh...” desahnya putus-putus. Kuusap peluh yang ada di dahinya dengan lembut. Ia mempercepat tempo gerakannya membuatku menggelinjang. “Hiru, aaah... aah... ngghh...” penisnya menggesek dinding vaginaku dan menghentak kuat di dinding rahimku, menyentuh G-spot ku. “Aaah... ssshh... mmmh...” desahannya terdengar semakin keras. “Hhh... oooh... aaahh... l-lebih cepat... Hiru... oooh... uuugh...” Dihisapinya kulit leherku sementara ia semakin mempercepat gerakannya. “Aaah... uummhh...” pinggulku bergoyang mengikuti gerakannya. Bunyi benturan alat kemaluan kami terdengar sangat menggairahkan. “Aaakhh... Nabilah... oohhh... ssshh...” Ia memperdalam tusukannya dan mempercepat gerakannya. Ada yang ingin meledak di dalam vaginaku. Ruangan terasa panas, padahal jendela kamar tidak tertutup. Tubuh kami sudah basah dan lengket oleh keringat juga cairan-cairan dan air liur dari kecupan-kecupan. Tubuh Hiru mengejang. Ia semakin kuat menghentak ke dalam vaginaku. Ujung penisnya membentur keras dinding rahimku. Vaginaku terasa semakin sesak karena penisnya yang semakin membengkak. “Aaah... uuumhh... aaahh... sshhh... Hiru, ooh... aah... ahh... aah...” Hiru menghujamkannya dalam-dalam, lalu... “Aaaaaaaaarrrgghh...!!!” tubuh kami mengejang sambil melenguh bersamaan saat kenikmatan itu meledak membuat vaginaku berdenyut kuat mengeluarkan cairanku dan aku merasakan sesuatu mengalir di bawah perutku. Spermanya. Tubuhku melemas. Ia menahanku agar tidak jatuh merosot ke bawah. Diangkatnya tubuhku lalu dibawanya ke tempat tidur. Dibaringkannya tubuhku diranjang. Aku masih memeluk erat lehernya. Kami saling bertatapan dan kusadari kalau kini telinganya sudah berubah sama seperti telinga manusia. Lalu ia mengecup bibirku lembut berkali-kali. “Ngghhh… Hiru!” aku menggeliat hingga payudaraku menggesek dadanya. Kulingkarkan kakiku ke pinggangnya, memeluknya erat. “Aaahhh…” ciumannya turun ke daguku, leherku, belahan dadaku. “Uuuunghhh…” aku melenguh saat ia mengulum putingku. Melumurinya dengan air liur. Perutku terasa geli, seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalamnya. Membuat vaginaku berkedut-kedut hingga tanpa sadar, aku menggerakkan pinggulku, menggesek penisnya yang masih berada di dalam vaginaku. “Mmhhh… aaahh…” Hiru melenguh pelan, dia tarik penisnya hingga terlepas dari jepitan vaginaku. Ia mengulum putingku. Dipilin-pilinnya yang sebelah kiri. Digigitnya kecil-kecil lalu dimainkan dengan lidahnya. “Aahhhsss…” aku meraba pinggangnya, membuatnya melenguh pelan. “Aaahhh... Nabilah, mmmhh…” ia pindah pada putingku yang satunya, memperlakukannya sama. Decakan kecupannya membuat perutku menegang berkali-kali. Hiru turun mengecupi perutku, membuatku semakin menggelinjang, “Ooohhh… ssshhh…” tanganku meremas sprei kuat-kuat. Ia membuka pahaku lebar-lebar lalu menunduk, menyapukan lidahnya pada daging vaginaku, membasahinya dengan air liur. “Mmmhh… sshhh… aaahhh…” aku mendesis-desis sambil menggeliat. Lidah Hiru menari-nari di vaginaku. Dibelahnya lipitan daging vaginaku yang memerah kini, lalu menjilat klitorisku. “Aaahhh… sshhh…” aku mendesah keras. Vaginaku terasa berkedut cepat. Dikulumnya klitorisku. Dihisapinya pelan. “Nghhh…” Bunyi decakan bibirnya di vaginaku terdengar merdu. Aku terus menggeliat merasakan tarian lidahnya. Setelah puas mengulum klitorisku dan membuat vaginaku membengkak, lidah Hiru turun menyapu lubang vaginaku. “Oohhh… hhh…” aku mengerang nikmat. Lidahnya yang basah terasa lembut. “Mmmhh… sshh… Hiru, aaah…” dijilatinya lubang vaginaku seperti saat ia menjilati susu waktu masih jadi kucing. Aku hanya bisa merintih dan meremas rambutnya kuat-kuat. “Aaakkh...!!!” aku menjerit tertahan. Ia menyedot kuat lubang vaginaku dan menggelitiki bagian dalamnya dengan lidahnya yang menari dengan lincah. “Aah... aah... Hiiirruuuu... aahku...” kurasakan sesuatu ingin meledak dari dalam tubuhku. “Aaaaarrgh...!!!” aku melenguh dan mengeluarkan cairan dari vaginaku. Rasa nikmat itu datang lagi, menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku bergetar. Hiru masih menghisap lubang vaginaku. Menelan seluruh cairan yang keluar. Aku diam memejamkan mata mengatur nafasku. Lalu, ada sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh bibirku. Mengolesi bibirku dengan cairan kental. Aku membuka mataku dan melihat penisnya berada tepat di depan mulutku. “Kamu tidak ingin mencicipinya?” tanya Hiru sambil mengangkat kepalaku, membenarkan posisiku agar tidur lebih tinggi. Secara naluri, kupegang penisnya lalu kukecup lembut ujungnya. Testisnya terlihat mengerut. Kukecupi penisnyanya hingga ke pangkalnya. “Aaahhh… nghhhh…” Hiru mendesah keras, keenakan. Kukocok dan kuremas pelan penisnya yang sudah membengkak. Urat-uratnya jelas terlihat. “Aaaggh… terus, Nabilah… hhhsss…” desah Hiru dengan mata terpejam dan mulut terbuka. Kujilati terus dengan lembut, melumurkan air liurku. Lalu, kusedot buah zakarnya. “Uuugghh… aaaahhh…” Hiru mengerang keras sambil meremas rambutku kuat. Kukulum ujung penisnya yang terasa asin. Memainkannya dengan lidah di dalam mulutku. Kusibak belahan tetisnya dan kuhisap kuat. “Enghhhhh…” Hiru melenguh pelan. “Aaahhh… hhh… hhhh…” kumasukkan penisnya ke dalam mulutku hingga mencapai tenggorokanku, lalu kukulum naik turun sambil mengocoknya dengan tanganku. “Oohhh… terus… engghhhh…” Hiru merintih nikmat. Penisnya sudah basah dengan air liurku, sementara aku masih terus mengulumnya. Mempercepat gerakanku. “Na-Nabilah, berhenti... ooohh…” ia melepaskan penisnya dari dalam mulutku, lalu turun ke bawah, mengangkat kakiku dan melingkarkannya ke lehernya. “Ooohh...” bibirku mulai mendesah lagi saat merasakan ujung penisnya yang menggesek-gesek lubang vaginaku. “Ngghhh...” aku mencengkeram kuat seprei saat ia memasukkan miliknya perlahan hingga terbenam sempurna. Bibirnya mengecupi bagian bawah telingaku hingga ke bahu. “Aaahh... mmmmhh... ssssshhhhh...” Hiru mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Aku mengimbangi permainannya dengan menggerakan pinggulku berlawanan arah dengannya. “Ngghh... oooohh... aaaaahhh...” desahnya terdengar jelas di telingaku. Nafasnya menggelitik leherku. “Hiru, oooh... uuumhh... aaah...” aku mendesis penuh kenikmatan. “Hhh... uuuggh... sssshhh...” Hiru membalas tak kalah nikmat. “Nabilah, ooohh...” Aku merasakan tubuhnya semakin menegang, hentakannya semakin kuat. Rasa ngilu dan nikmat bercampur menjadi satu. “Uuuhh... aaaaah... oooohhh... sssshhhh…” aku merintih semakin keras. “Mmhhh... nghhh... hhhh...” begitu juga dengan Hiru. “Aaah... aaah... aaaaaaaarrrghh…” jeritan panjangku. “Aaaaaaaaaaarrrrggghh...” dibalasnya dengan teriakan yang tak kalah panjang. Cairanku dan spermanya keluar bersama dengan lenguhan panjang itu. Bercampur menjadi satu, mengalir di dalam rahimku, dan sebagian menetes keluar. Vaginaku dan penisnya masih berdenyut-denyut kuat. “Aaah...” Hiru melepas penisnya, lalu tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Aku memejamkan mata, mengatur nafas. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhku. “Terima kasih…” bisiknya lembut. Aku membuka mataku lalu menatapnya. Kusentuh ujung matanya dengan jari-jariku. “Matamu…” gumamku pelan saat menyadari warna mata itu kini berubah menjadi coklat gelap. Hiru tersenyum lembut. “Aku manusia kini, seutuhnya…” jawabnya. “Aku membutuhkan dongeng sebelum tidur,” bisikku manja, kubiarkan tangannya membelai puncak dadaku. “Akan kuceritakan,” ia membenarkan posisi kami. Menyelipkan lengannya ke bawah leherku lalu memelukku dari belakang dan merapatkan selimut. Aku menarik lengannya yang melingkar di pinggangku hingga tubuhnya menempel di punggungku dan ia mulai bercerita. “Aku tinggal di dunia yang lain dari bumi, di sana hampir sama dengan bumi, tapi kami mempunyai sedikit kelebihan dan perbedaan fisik, seperti warna mata dan bentuk telingaku. Bangsa kami memiliki jiwa yang setia. Begitu mereka mengabdikan diri kepada sesuatu, mereka akan menyerahkan diri mereka untuk hal itu hingga akhir hidup. kami mempunyai kelebihan seperti hewan. Dapat berlari cepat, memandang dengan fokus, penciuman yang tajam, dan daya ingat yang kuat. Itulah kenapa saat makhluk dari kami dibuang ke bumi, maka evolusinya adalah menjadi hewan,” “Lalu, bagaimana bisa kau berada di sini?” aku bertanya. “Aku tidak lulus ujian karena sering bermain. Ayah tiriku murka dan membuangku ke bumi dalam wujud kucing. Aku hanya punya waktu sebelum purnama ke tujuh. Aku bisa berubah menjadi manusia, atau menjadi kucing selamanya. Untuk menjadi manusia, aku harus bercinta dengan seorang gadis di saat malam purnama,” “Jadi… ini purnama yang ke berapa?” “Ke-enam! Selama ini aku tidak bisa melakukannya karena aku belum menemukan gadis yang tepat. Aku tidak bisa melakukannya dengan sembarang gadis karena ini pertama kalinya untukku. Dan saat pertama kali kau menemukanku, aku sudah terpikat kepadamu…” Aku sedikit bergidik mendengarnya. Apakah ini benar-benar nyata? “Ini… juga pertama kalinya untukku.” gumamku pelan. “Benarkah? Terima kasih sudah melakukannya denganku. Sekarang aku milikmu, aku tidak akan bisa pergi darimu meskipun kau mengusirku kecuali jika kau membunuhku karena saat tubuh kita menyatu, hidupku sudah menjadi milikmu,” “Jadi kau tidak akan meninggalkanku?” “Tentu saja, dan alasan kedua adalah, karena aku sudah... jatuh cinta kepadamu,” ia menatap mataku. “Mungkin… a-aku juga, sudah jatuh cinta kepadamu, Hiru.” Aku merasakan senyumnya. “Aku sangat bahagia bisa menjadi manusia, Nabilah, karena aku bisa menyentuhmu, mendekapmu seperti ini,” bisiknya di telingaku. “Jadi sebelumnya saat… saat aku… saat aku tidak tahu kalau kamu adalah si-siluman, ka-kamu melihat semuanya?” tanyaku gugup. “Tentu saja. Dan kau benar-benar menyiksaku. Selalu telanjang di depanku, hanya memakai baju tidur transparan tanpa dalaman apapun, bahkan mengajakku mandi bersama, kau tidak tahu betapa tersiksanya aku.” “M-maaf, aku tidak tahu…” Hiru tertawa kecil. “Tidak apa-apa, sekarang tidurlah… mulai kini, aku akan selalu ada di saat kau akan memejamkan mata dan saat kau membuka matamu,”“Kau berjanji tidak akan menghilang besok pagi?” kupegang tangannya. “Aku berjanji…” dan Hiru meremas jari-jariku, mesra. END
8 months ago
Cerita
Malam Bulan Purnama
“Sampai jumpa, Nabilah!!”     “Sampai jumpa!!” aku melambaikan tanganku pada kedua temanku, Melody  dan Cleopatra yang sudah menggandeng kekasih mereka masing-masing, lalu menghela nafas.     Hari ini aku pulang sendiri lagi. Biasanya k Read more ... ami bertiga selalu pulang bersama karena rumah kami searah. Tapi sejak mereka memiliki kekasih, kami jadi jarang pulang bersama.     Mereka sering menyuruhku agar berpacaran dan tidak sekali mereka mengenalkanku pada laki-laki. Tapi aku terlalu malas untuk berpacaran. Entahlah, mungkin belum ada yang membuatku nyaman. Yeah, kalian tahu kenapa? Karena saat berpacaran, pergi kencan, seks itu hal yang sudah biasa. Dan aku yakin, kedua temanku itu sudah pernah melakukannya. Tapi aku ingin melakukannya dengan seseorang yang benar-benar istimewa untukku.     ”Meooong…”     Suara itu menyadarkanku dari lamunan. Tidak terasa aku sudah berjalan cukup jauh dari sekolah. Kucari-cari di mana suara itu berasal dan kutemukan seekor kucing dengan bulu hitam pekat sedang tergeletak di bawah pohon Akasia besar di tepi jalan. Sepertinya kucing itu sudah tidak punya tenaga. Kuhampiri lalu kuambil. Badannya benar-benar lemas. Tapi hei, mata kucing ini berwarna biru. Sangat keren.     Kuputuskan untuk membawanya pulang. Setidaknya aku masih punya teman di rumah. Kunamakan ia ‘Hiru’ karena bulunya yang hitam dan matanya yang berwarna biru. Ah, kucing ini sepertinya benar-benar kelelahan.     Sampai di rumah, aku langsung membawanya ke kamar. Kuletakkan ia di atas karpet kamarku lalu memberinya susu. Ia minum dengan lahap. Lalu aku berjalan menuju lemari dan melepas bajuku. Aku merasa agak tidak nyaman saat melepas pakaianku. Kulihat Hiru, ia sedang menatapku, tajam. Ayolah, ia hanya seekor kucing. Kulanjutkan kegiatanku tapi tidak segera berganti pakaian. Aku berjalan menuju cermin besarku dan menatap diriku yang telanjang di sana. Kulihat dari cermin, Hiru masih menatapku. Apa ia berfikir aku ini cantik?     Kuraba perut rataku lalu mengelus payudaraku sendiri dan memilin puntingnya. Sebenarnya aku ingin melakukannya. Ingin seseorang menyentuhku seperti ini. Hanya saja aku belum menemukan orang itu. Aku menghela nafas pelan lalu masuk ke dalam kamar mandi.     ***     Kucing itu ternyata sangat penurut. Sepertinya ia mengerti apa yang kuucapkan. Setiap aku pulang sekolah, ia selalu menyambutku di depan pintu. Ia juga tidak pernah buang kotoran di dalam rumah dan tubuhnya selalu bersih. Ia kucing yang pintar. Sekarang aku tidak sendirian lagi, Hiru selalu menemaniku. Saat makan, nonton tv, belajar, tidur, bahkan mandi.     Selama ini aku memang hidup sendiri. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Hidupku dibiayai oleh pamanku yang tinggal di luar negeri. Aku tidak mau ikut mereka ke Amerika jadi aku tinggal sendiri di sini. Itulah sebabnya kenapa aku tidak ingin main-main dalam urusan cinta seperti teman-temanku. Aku tidak ingin merusak hidupku sendiri karena aku sendiri di dunia ini. Tidak akan ada yang menjagaku saat aku sakit, dan tidak akan ada yang menghiburku saat aku terpuruk.     Setelah mandi, kupakai baju tidurku yang transparan. Aku tidak pernah memakai dalaman saat di rumah kecuali pada saat-saat tertentu. Aku lebih nyaman seperti itu karena tubuhku terasa bebas oleh baju-baju ketat. Kuambil Hiru yang sedang menjilati bulunya di atas meja belajarku lalu kubawa ke tempat tidur. Aku merebahkan tubuhku di ranjang sambil bersandar pada bantalku. Kuletakkan kucing itu di atas perutku.     “Bulumu halus sekali…” kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Hiru hanya menatapku dengan mata birunya itu. Lalu ia mengendus-endus bajuku hingga ke putingku. “Aah…” aku mendesah pelan saat ujung hidungnya mengendus-endus putingku yang ada dibalik baju tidurku.     Kubiarkan ia bermain-main disana, sementara aku hanya memejamkan mata menikmatinya. Lama-kelamaan aku tertidur.     ***     “Nabilah, kamu tidak ikut dengan kami nanti?” tanya Melody.     “Ada yang ingin berkenalan denganmu lho,” sahut Cleopatra.     Aku menoleh dan menatap mereka dengan malas “Siapa?” tanyaku.     “Iqbal CJR, dia sangat tampan. Ah, andai saja aku belum punya pacar…”     Tuuuk!     “AUW!” Cleopatra meringis sambil mengusap-usap keningnya yang baru saja kulempar penghapus.     “Kenapa tidak kamu pacari juga dia?!” dengusku.     “Kamu tidak mau berkenalan dengannya, hah?” tanya Melody.     Aku memalingkan wajahku malas. “Tidak. Aku tidak ingin pergi malam ini,”     “Tapi kudengar nanti bulan purnama, pasti terlihat cantik di taman nanti, apalagi ini akhir minggu,” Cleo terus berusaha membujuk.     “Benar,” dukung Melody.     “Ada film favoriteku, aku harus menontonnya nanti!” sahutku tanpa menoleh.     “Tapi...” kata-kata Cleo terputus saat seorang guru memasuki kelas dan mereka segera pindah ke tempat duduknya masing-masing.     ***     Aku menguap pelan saat film yang kutonton habis. Hiru masih ada dalam dekapanku. Rasanya hangaaaat… tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Cleo dan Melody tadi. Malam ini adalah malam purnama, benarkah? Pasti bulan terlihat sangat cantik. Aku beranjak dari sofa dan melirik jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Kugendong Hiru dan berjalan menghampiri jendela di kamarku.     Tepat saat sinar bulan yang masuk melalui jendela mengenai tubuhku, seperti ada yang meledak di hadapanku. BLAM!!!     “Gyaaaaaaaaaaaaa…!!!” aku menjerit sambil memejamkan mata. Kurasakan punggungku membentur lantai dengan keras. Lalu hening. Ada sesuatu di hadapanku, dan dia hidup karena aku dapat mendengar deru nafasnya. Kubuka mataku perlahan dan terbelak. Mata biru itu…     Ada seorang laki-laki yang menindih tubuhku. Wajahnya… Apakah dia malaikat yang turun ke bumi? Rambutnya terjuntai berantakan, telinganya lebih panjang seperti kurcaci dan matanya berwarna biru. Sama dengan kucingku. Aku tersentak seketika. Kucingku?     Nafas laki-laki itu tersegal dan… oh my god! DIA TIDAK MEMAKAI BAJU!!!     “Gyaaaa! Hmmf...” aku menjerit, tapi langsung terputus saat bibirnya membungkam mulutku. Mataku terbelak dan sepertinya jantungku juga sudah berhenti.     Ia melepaskan bibirnya sambil menatapku. Aku tidak bisa bergerak. Bahkan untuk berkedip. Sepertinya rohku sudah melayang jauh. “Beri aku waktu sebentar…” bisiknya.     Apakah dia manusia? Atau malah siluman?     “Akhirnya kau melihatku…” bisiknya sambil tersenyum.     Aku mengerjap pelan “Si-siapa kau?”     “Kau tidak ingat? Kau selalu memelukku, menggendongku, dan memanggilku dengan nama ‘Hiru’,”     Aku terbelalak. “K-kau Hiru? Kucingku? K-kau si-siluman!!!” aku menelan ludahku dengan tubuh gemetar.     Ia tertawa kecil. “Kau tahu,” ia mendekatkan bibirnya ke telingaku “... semua yang kau lakukan padaku dan di hadapanku itu membuatku sangat… terangsang! Hhhh…” ia mendesah pelan, membuat mukaku langsung terasa panas.     “Saat kau melepas bajumu dihadapanku…” ia menghembuskan nafasnya di leherku, membuat tubuhku semakin menegang. Dan anehnya aku tidak dapat bergerak. Aku tidak bisa berteriak. Suaranya yang sehalus angin seperti menghipnotisku.     “Saat kau mengusap payudaramu sendiri…” ia mengecup kulit leherku, membuatku mendongak sambil memejamkan mata.     “Uuuugghh…” tanpa sadar aku mendesah pelan saat ada yang mengusap payudaraku lembut. Tanganku mengepal erat, tubuhku menegang.     “Saat kau memilin putingmu, hhhh…”     “Nghhhh…” nafasku mulai tersengal saat jari itu memilin salah satu putingku dari luar baju tidur transparanku.     “Kau membuatku tersiksa, Nabilah Ratna Ayu Azalia…” bisiknya masih sambil mengecupi leherku, membuatku menggeliat di bawahnya. Perutku terasa geli, seperti ada yang menggelitik.     “Si-siapa kau… ahhh…” tanyaku dengan susah payah.     “Mmmhh…” ia menghisap kulit bahuku, menyingkirkan tali bajuku lalu membuat cupangan disana. “Panggil saja aku… Hiru.”     “Hiru... aaahhh!” aku mendesah keras saat tangannya mengusap pahaku.     Mengapa tubuhku tidak bisa menolak sentuhannya? Mengapa begitu mudah ia menguasaiku? Dan mengapa aku menyukai sentuhannya? Apakah aku sudah gila? Aku membiarkan siluman menyentuhku.     Hiru menurunkan tali bajuku hingga ke bawah payudara lalu menyapukan hidungnya di kedua payudaraku. Menghirup aroma tubuhku dalam-dalam karena tidak ada bra yang menghalangi. Deru nafasnya membuatku bergairah.     “H-Hiru… a-apa kau siluman? Oooohh…” aku memekik pelan saat sesuatu yang basah mengusap putingku. Lidahnya. Dan entah sejak kapan tanganku melingkar di lehernya, menyusupkan jari-jariku ke dalam rambut halusnya. Meremasnya perlahan.     “Untuk saat ini, ya…” ia menjawab berbisik.     “Nghhh… aaahhh…” aku mendesah saat bibirnya melumat putingku lembut. dikulumnya sambil disedot-sedotnya. Melumuri dengan air liurnya dan memainkannya dengan lidahnya.     “Uuughh… ssshhh…” aku mendesis pelan. Apakah seks itu senikmat ini?     “Tapi kau akan membantuku menjadi manusia, mmmhh…” tambahnya lalu melumat putingku lagi.     “Nghhh… aaahh… ba-bagaimana... uughh… caranya?”     “Bercintalah denganku,” jawabnya singkat.     “Aaahhh…” aku mendesah saat tangannya menyusup dari bawah baju tidurku yang pendek, mengelus pinggangku.     “Dan kau tidak bisa menolaknya, karena aku telah memilihmu!!” bisiknya, lalu tiba-tiba menarik tubuhku bangun dan mengangkat pinggangku, otomatis aku melingkarkan kakiku pada pinggangnya.     “Aaahhh…” ia mendesah pelan saat merasakan vaginaku yang basah menekan perutnya. Aku tidak pernah memakai dalaman, dan tidak pernah menyangka kalau beberapa hari ini aku tinggal bersama siluman kucing. Dan bahkan aku mengajaknya mandi bersama. Oh tuhan, aku benar-benar gila!     “Ngh,” ia membenturkan tubuhku pada dinding, menghimpit tubuhku. Aku menurunkan kakiku lalu ia mengecup bibirku. Kubiarkan baju tidurku itu meluncur turun ke bawah dengan mudahnya.     Aku diam, menatap matanya yang sekarang berwarna biru gelap. Ia sama diamnya sambil menatapku. Lalu perlahan, wajahnya mendekat dan aku memejamkan mata. Ia mengecup bibirku lembut dengan teramat pelan. Manis… bibirnya terasa manis saat menekan bibirku lembut. lalu dikecupnya lagi, lagi, lalu dilumatnya bibirku pelan. Itu ciuman pertamaku…     “Mmhh…” ia menghisap bibir atas dan bawahku bergantian. Mengulumnya sambil menekan-nekannya lebih dalam.     Jemariku meremas rambutnya dan dadaku bergesekan dengan dadanya. Aroma tubuhnya memabukkan. Wangi yang tidak terlalu tajam namun lembut. Dibukanya bibirku dengan lidahnya, lalu menyusup masuk ke dalam. Tangannya menahan tengkukku, memperdalam ciuman kami.     “Ngghhh…” lidahnya menari-nari di dalam mulutku, menjilati lidahku, mencampur air liur kami. Tangannya bergerak turun, mengusap punggungku, pinggangku, lalu pahaku, dan mengangkat satu kakiku lalu dilingkarkan ke pinggangnya.     “Uggghh…” aku melepaskan ciuman kami sambil meringis pelan saat merasakan sesuatu menerobos vaginaku.     “Sakit?” bisiknya di telingaku lalu mengecupi bahuku.     “Ngghhhh…” aku meremas rambutnya kuat. Rasanya perih. Seperti luka saat terjatuh. Dan tanpa sadar, air mataku mengalir.     Dijilatinya air mataku lalu dikecupnya mataku. “Aaahh…” ia mendesah pelan ketika penisnya masuk semua ke dalam vaginaku. Rasanya sesak! “Sekarang aku menjadi milikmu, Nabilah. Kamu tidak akan bisa mengusirku dari hidupmu.”     “Uuughhh…” aku membenamkan wajahku ke dalam lehernya saat ia mulai bergerak. Tangan Hiru memeluk pinggangku, menarikku lebih rapat.     “Nghhh… aahh… aaahh…” aku mulai mendesah saat rasa perih itu bercampur rasa nikmat yang belum pernah kurasakan. Kukecup lembut bahunya. Menghirup aromanya dalam-dalam. Tanganku turun ke bawah mengusap punggungnya yang basah oleh keringat.     “Aaahh… sshhh…” dia mendesah, terlihat begitu menikmati rasa tubuhku.     “Nghh… nghhh… aaahh… aasshh…” tubuhku terhentak-hentak saat ia mempercepat gerakannya. Aku bisa merasakan gesekan penisnya di dinding vaginaku. Membentur-bentur dinding rahimku.     “Mmmhh…” Hiru menciumi tengkukku sementara satu tangannya memilin-milin putingku.     “Aaahhh… uuughh… ngghhhh… hhh…” perutku terasa di aduk-aduk dan vaginaku berkedut-kedut cepat.     “Ssshh… mmmhh… aaahhh…” demi apapun, aku sangat menyukai suara desahnya. Bunyi benturan alat kelamin kami menggema di kamarku yang mungil.     “Ooouughh... aaah.... Na-naa... b-bi... laah... oooh...” desahnya putus-putus.     Kuusap peluh yang ada di dahinya dengan lembut. Ia mempercepat tempo gerakannya membuatku menggelinjang. “Hiru, aaah... aah... ngghh...” penisnya menggesek dinding vaginaku dan menghentak kuat di dinding rahimku, menyentuh G-spot ku.     “Aaah... ssshh... mmmh...” desahannya terdengar semakin keras.     “Hhh... oooh... aaahh... l-lebih cepat... Hiru... oooh... uuugh...” Dihisapinya kulit leherku sementara ia semakin mempercepat gerakannya. “Aaah... uummhh...” pinggulku bergoyang mengikuti gerakannya. Bunyi benturan alat kemaluan kami terdengar sangat menggairahkan.     “Aaakhh... Nabilah... oohhh... ssshh...” Ia memperdalam tusukannya dan mempercepat gerakannya. Ada yang ingin meledak di dalam vaginaku. Ruangan terasa panas, padahal jendela kamar tidak tertutup. Tubuh kami sudah basah dan lengket oleh keringat juga cairan-cairan dan air liur dari kecupan-kecupan.     Tubuh Hiru mengejang. Ia semakin kuat menghentak ke dalam vaginaku. Ujung penisnya membentur keras dinding rahimku. Vaginaku terasa semakin sesak karena penisnya yang semakin membengkak.     “Aaah... uuumhh... aaahh... sshhh... Hiru, ooh... aah... ahh... aah...” Hiru menghujamkannya dalam-dalam, lalu...     “Aaaaaaaaarrrgghh...!!!” tubuh kami mengejang sambil melenguh bersamaan saat kenikmatan itu meledak membuat vaginaku berdenyut kuat mengeluarkan cairanku dan aku merasakan sesuatu mengalir di bawah perutku. Spermanya.     Tubuhku melemas. Ia menahanku agar tidak jatuh merosot ke bawah. Diangkatnya tubuhku lalu dibawanya ke tempat tidur. Dibaringkannya tubuhku diranjang. Aku masih memeluk erat lehernya. Kami saling bertatapan dan kusadari kalau kini telinganya sudah berubah sama seperti telinga manusia. Lalu ia mengecup bibirku lembut berkali-kali.     “Ngghhh… Hiru!” aku menggeliat hingga payudaraku menggesek dadanya. Kulingkarkan kakiku ke pinggangnya, memeluknya erat.     “Aaahhh…” ciumannya turun ke daguku, leherku, belahan dadaku.     “Uuuunghhh…” aku melenguh saat ia mengulum putingku. Melumurinya dengan air liur. Perutku terasa geli, seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalamnya. Membuat vaginaku berkedut-kedut hingga tanpa sadar, aku menggerakkan pinggulku, menggesek penisnya yang masih berada di dalam vaginaku.     “Mmhhh… aaahh…” Hiru melenguh pelan, dia tarik penisnya hingga terlepas dari jepitan vaginaku. Ia mengulum putingku. Dipilin-pilinnya yang sebelah kiri. Digigitnya kecil-kecil lalu dimainkan dengan lidahnya.     “Aahhhsss…” aku meraba pinggangnya, membuatnya melenguh pelan. “Aaahhh... Nabilah, mmmhh…” ia pindah pada putingku yang satunya, memperlakukannya sama. Decakan kecupannya membuat perutku menegang berkali-kali.     Hiru turun mengecupi perutku, membuatku semakin menggelinjang, “Ooohhh… ssshhh…” tanganku meremas sprei kuat-kuat. Ia membuka pahaku lebar-lebar lalu menunduk, menyapukan lidahnya pada daging vaginaku, membasahinya dengan air liur.     “Mmmhh… sshhh… aaahhh…” aku mendesis-desis sambil menggeliat. Lidah Hiru menari-nari di vaginaku. Dibelahnya lipitan daging vaginaku yang memerah kini, lalu menjilat klitorisku.     “Aaahhh… sshhh…” aku mendesah keras. Vaginaku terasa berkedut cepat. Dikulumnya klitorisku. Dihisapinya pelan. “Nghhh…” Bunyi decakan bibirnya di vaginaku terdengar merdu. Aku terus menggeliat merasakan tarian lidahnya.     Setelah puas mengulum klitorisku dan membuat vaginaku membengkak, lidah Hiru turun menyapu lubang vaginaku. “Oohhh… hhh…” aku mengerang nikmat. Lidahnya yang basah terasa lembut.     “Mmmhh… sshh… Hiru, aaah…” dijilatinya lubang vaginaku seperti saat ia menjilati susu waktu masih jadi kucing. Aku hanya bisa merintih  dan meremas rambutnya kuat-kuat.     “Aaakkh...!!!” aku menjerit tertahan. Ia menyedot kuat lubang vaginaku dan menggelitiki bagian dalamnya dengan lidahnya yang menari dengan lincah.     “Aah... aah... Hiiirruuuu... aahku...” kurasakan sesuatu ingin meledak dari dalam tubuhku. “Aaaaarrgh...!!!” aku melenguh dan mengeluarkan cairan dari vaginaku. Rasa nikmat itu datang lagi, menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku bergetar.     Hiru masih menghisap lubang vaginaku. Menelan seluruh cairan yang keluar. Aku diam memejamkan mata mengatur nafasku. Lalu, ada sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh bibirku. Mengolesi bibirku dengan cairan kental.     Aku membuka mataku dan melihat penisnya berada tepat di depan mulutku. “Kamu tidak ingin mencicipinya?” tanya Hiru sambil mengangkat kepalaku, membenarkan posisiku agar tidur lebih tinggi.     Secara naluri, kupegang penisnya lalu kukecup lembut ujungnya. Testisnya terlihat mengerut. Kukecupi penisnyanya hingga ke pangkalnya. “Aaahhh… nghhhh…” Hiru mendesah keras, keenakan.     Kukocok dan kuremas pelan penisnya yang sudah membengkak. Urat-uratnya jelas terlihat. “Aaaggh… terus, Nabilah… hhhsss…” desah Hiru dengan mata terpejam dan mulut terbuka.     Kujilati terus dengan lembut, melumurkan air liurku. Lalu, kusedot buah zakarnya. “Uuugghh… aaaahhh…” Hiru mengerang keras sambil meremas rambutku kuat.     Kukulum ujung penisnya yang terasa asin. Memainkannya dengan lidah di dalam mulutku. Kusibak belahan tetisnya dan kuhisap kuat. “Enghhhhh…” Hiru melenguh pelan.     “Aaahhh… hhh… hhhh…” kumasukkan penisnya ke dalam mulutku hingga mencapai tenggorokanku, lalu kukulum naik turun sambil mengocoknya dengan tanganku.     “Oohhh… terus… engghhhh…” Hiru merintih nikmat. Penisnya sudah basah dengan air liurku, sementara aku masih terus mengulumnya. Mempercepat gerakanku.     “Na-Nabilah, berhenti... ooohh…” ia melepaskan penisnya dari dalam mulutku, lalu turun ke bawah, mengangkat kakiku dan melingkarkannya ke lehernya.     “Ooohh...” bibirku mulai mendesah lagi saat merasakan ujung penisnya yang menggesek-gesek lubang vaginaku. “Ngghhh...” aku mencengkeram kuat seprei saat ia memasukkan miliknya perlahan hingga terbenam sempurna. Bibirnya mengecupi bagian bawah telingaku hingga ke bahu.     “Aaahh... mmmmhh... ssssshhhhh...” Hiru mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Aku mengimbangi permainannya dengan menggerakan pinggulku berlawanan arah dengannya. “Ngghh... oooohh... aaaaahhh...” desahnya terdengar jelas di telingaku. Nafasnya menggelitik leherku.     “Hiru, oooh... uuumhh... aaah...” aku mendesis penuh kenikmatan.     “Hhh... uuuggh... sssshhh...” Hiru membalas tak kalah nikmat. “Nabilah, ooohh...” Aku merasakan tubuhnya semakin menegang, hentakannya semakin kuat. Rasa ngilu dan nikmat bercampur menjadi satu.     “Uuuhh... aaaaah... oooohhh... sssshhhh…” aku merintih semakin keras.     “Mmhhh... nghhh... hhhh...” begitu juga dengan Hiru.     “Aaah... aaah... aaaaaaaarrrghh…” jeritan panjangku.     “Aaaaaaaaaaarrrrggghh...” dibalasnya dengan teriakan yang tak kalah panjang.     Cairanku dan spermanya keluar bersama dengan lenguhan panjang itu. Bercampur menjadi satu, mengalir di dalam rahimku, dan sebagian menetes keluar. Vaginaku dan penisnya masih berdenyut-denyut kuat.     “Aaah...” Hiru melepas penisnya, lalu tubuhnya ambruk di atas tubuhku. Aku memejamkan mata, mengatur nafas. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhku. “Terima kasih…” bisiknya lembut.     Aku membuka mataku lalu menatapnya. Kusentuh ujung matanya dengan jari-jariku. “Matamu…” gumamku pelan saat menyadari warna mata itu kini berubah menjadi coklat gelap.     Hiru tersenyum lembut. “Aku manusia kini, seutuhnya…” jawabnya.     “Aku membutuhkan dongeng sebelum tidur,” bisikku manja, kubiarkan tangannya membelai puncak dadaku.     “Akan kuceritakan,” ia membenarkan posisi kami. Menyelipkan lengannya ke bawah leherku lalu memelukku dari belakang dan merapatkan selimut.     Aku menarik lengannya yang melingkar di pinggangku hingga tubuhnya menempel di punggungku dan ia mulai bercerita. “Aku tinggal di dunia yang lain dari bumi, di sana hampir sama dengan bumi, tapi kami mempunyai sedikit kelebihan dan perbedaan fisik, seperti warna mata dan bentuk telingaku. Bangsa kami memiliki jiwa yang setia. Begitu mereka mengabdikan diri kepada sesuatu, mereka akan menyerahkan diri mereka untuk hal itu hingga akhir hidup. kami mempunyai kelebihan seperti hewan. Dapat berlari cepat, memandang dengan fokus, penciuman yang tajam, dan daya ingat yang kuat. Itulah kenapa saat makhluk dari kami dibuang ke bumi, maka evolusinya adalah menjadi hewan,”     “Lalu, bagaimana bisa kau berada di sini?” aku bertanya.     “Aku tidak lulus ujian karena sering bermain. Ayah tiriku murka dan membuangku ke bumi dalam wujud kucing. Aku hanya punya waktu sebelum purnama ke tujuh. Aku bisa berubah menjadi manusia, atau menjadi kucing selamanya. Untuk menjadi manusia, aku harus bercinta dengan seorang gadis di saat malam purnama,”     “Jadi… ini purnama yang ke berapa?”     “Ke-enam! Selama ini aku tidak bisa melakukannya karena aku belum menemukan gadis yang tepat. Aku tidak bisa melakukannya dengan sembarang gadis karena ini pertama kalinya untukku. Dan saat pertama kali kau menemukanku, aku sudah terpikat kepadamu…”     Aku sedikit bergidik mendengarnya. Apakah ini benar-benar nyata? “Ini… juga pertama kalinya untukku.” gumamku pelan.     “Benarkah? Terima kasih sudah melakukannya denganku. Sekarang aku milikmu, aku tidak akan bisa pergi darimu meskipun kau mengusirku kecuali jika kau membunuhku karena saat tubuh kita menyatu, hidupku sudah menjadi milikmu,”     “Jadi kau tidak akan meninggalkanku?”     “Tentu saja, dan alasan kedua adalah, karena aku sudah... jatuh cinta kepadamu,” ia menatap mataku.     “Mungkin… a-aku juga, sudah jatuh cinta kepadamu, Hiru.”     Aku merasakan senyumnya. “Aku sangat bahagia bisa menjadi manusia, Nabilah, karena aku bisa menyentuhmu, mendekapmu seperti ini,” bisiknya di telingaku.     “Jadi sebelumnya saat… saat aku… saat aku tidak tahu kalau kamu adalah si-siluman, ka-kamu melihat semuanya?” tanyaku gugup.     “Tentu saja. Dan kau benar-benar menyiksaku. Selalu telanjang di depanku, hanya memakai baju tidur transparan tanpa dalaman apapun, bahkan mengajakku mandi bersama, kau tidak tahu betapa tersiksanya aku.”     “M-maaf, aku tidak tahu…”     Hiru tertawa kecil. “Tidak apa-apa, sekarang tidurlah… mulai kini, aku akan selalu ada di saat kau akan memejamkan mata dan saat kau membuka matamu,”     “Kau berjanji tidak akan menghilang besok pagi?” kupegang tangannya.     “Aku berjanji…” dan Hiru meremas jari-jariku, mesra.     END  
12 months ago
Iqbaal SEHARUSNYA PERCAYA 4 Rina Adriani Gunawan No coppas.. **** KeEsokan pagi nya Gadis ini sudah Mempersiapkan dirinya untuk pergi kesekolah. Ia mencari cari kakanya. "Bang kikiiiii.."Teriak gadis ini. Tapi hasilnya Nihil , Bang kiki tidak menyaut. Read more ... "Kemana sihh, "Guman Gadis ini. Ia menengok ke arah bagasi, di lihatnya tidak ada mobil yang terparkir "Pasti pergi"gumannya lagi. (Namakamu) berjalan mencari-cari taxi, tapi sial hari ini gak ada taksi lewat. "sungguh menyebalkan tuhan"gumannya. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Haahh jam 7 .. bisa bisa telat gue"ucap (namakamu) langsung berlari sekuat tenaga. TIN TIN Suara kelakson itu menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke belakang, di belakangnya sudah ada pria menggunakan Motor ninjanya. "Ayo naik.."suruh Iqbaal Tanpa pikir panjang (namakamu) langsung naik ke atas motor iqbaal. sementara itu Iqbaal sengaja mengencangkan kecepatannya. Gadis ini memeluk erat pinggang Iqbaal. Ia melihat dari kaca spionnya sambil senyum senyum sendiri. *** "Yeeeee Gue Lulussssssss"Teriak salsha langsung memeluk sahabat sahabatnya. "kita juga dong shaa.."ucap (namakamu), cessie dan steffy. " Tapi gue harus ninggalin kalian.."rutuk steffy "Gue juga .."timpal cessie " Hey ayolah kalian gak boleh sesih begitu. kita masih bisa ko ketemu walaupun gak kaya sekarang.."ucap (namakamu) seketika itu steffy dan cessie langsung tersenyum. ''Kita kan sahabat"Teriak salsha. "hahahahhaah" tawa mereka semua. "Ehem Ehem Lagi seneng yah.."Tanya bastian yang baru datang "Iya Egois gak ngajak2 kita nih"Timpal aldi "Gak gitu juga , kita lagi seneng aja. kan kita Lulus " Girang salshaa "Oiya lo berdua mau lanjutin kuliah dimana?" Tanya (Namakamu) "Gue mau di Universitas indonesia aja"Ucap aldi dan bastian bebarengan "Sama dong sama gue dan salshaa"Balas kamu "Lalu cessie steffy mau kemana?"tanya bastian Antusias "Gue jerman.."rutuk steffy "Gue amrik.." timpal cessie. "jangan Sedih gitu dong sayang.."ucap bastian sambil merangkul cessie. cessie pun tersenyum ke arah bastian. note : Ini lagi di Kantin yah "Boleh Gue gabung.."Tanya seseorang dari arah belakang. mereka semua melempar pandangan dan tersenyum jijik. sementara (namakamu) hanya diam. "Yaudah kalo gak boleh"Ucap Iqbaal. saat Iqbaal ingin membalikan tubuhnya. tiba-tiba, tangan (namakamu) menahan tangan Iqbaal. "Duduk gih.."pinta (namakamu). "Kalo lo ga duduk lo mau makan dimana, Liat bangku kantin ini udah penuh"Lanjut (namakamu) dengan senyuman yang terukir dalam bibirnya. Iqbaal meLihat semua penjuru kantin 'Gak ada bangku kosong' batinya. Dengan Ragu ia duduk di samping (namakamu). "shaaa gimana kalo kita nge'kos aja"tanya (namakamu) pada salshaa "Hahhh.."Cengo salsha "Lo yakin (namakamu). lo kan anaknya manja tar kalo lo ngekos berarti lo gak bisa bawa mobil mewah lo lagi dong"celetuk bastian. Mereka semua terkekeh, sementara (namakamu) mengerucutkan bibirnya. Iqbaal terkekeh melihat ekpresi (namakamu). "Ngapain lo ketawa baal.. lo seneng yah"tanya (namakamu) masih cemberut. Iqbaal tidak menjawab meLainkan masih sibuk terkekeh. " Iya gue sih mau aja (namakamu)" ucap salsha " Bener sha.. Tapi gue bingung rumah gue di isi sama siapa? Sementara itu ortu gue lagi di aussie sana"ucapmu "Iya juga sih"Balas salshaa "Kalo lo baal mau lanjutin kemana?"tanya kamu "gue di sini aja deh"ucap iqbaal mendekatkan wajahnya ke wajah (namakamu). (namakamu) nervos. ia diam seketika PLTAK jitakan itu mendarat di atas kepala iqbaal. "Apaan Lo jitak pala gue di"rengek Iqbal sambil mengelus kepalanya. "Mantan kekasih gak boleh kaya gitu"sinis aldi Iqbaal diam tak bergeming. Ia menunduk masih memikirkan gadis yang berada di sampingnya. Ia lupa bahwa sekarang Ia bukan Kekasihnya Lagi melainkan 'Mantan'. Apakah Mantan harus seperti ini?"batin Iqbaal. *** Sekolah pun di Bubarkan mungkin karena guru guru sibuk memberi nilai rafot buat anak murid nya. Gadis ini berjalan beriringan bersama sahabat2nya. Ia melihat ke arah parkiran di sana terlihat mobil mewah miliknya. "Itu mobil gue kan?"tanya (namakamu) "Iya terus mobil siapa lagi (namakamu). cuman lo kan yang punya mobil kaya gituh"balas salsha (Namakamu) berlari menuju parkiran mendekatkan ke arah mobilnya. ia melihat seorang pria duduk manis di bangku pengemudi. "Randdy"pekik (namakamu) "Hey (Namakamu) ayo masuk?" perintah randy. Baru saja (namakamu) Ingin membuka pintu. seseorang menarik lengannya. "Pulang bareng gue ya.."ucap aldi "Tapi al mobil gue?"tanya (namakamu) "Kan ada supir lo.. itu supir lo kan?"tanya balik aldi telunjuknya menunjuk ke arah randy "Apa lo bilang gue supir.."geram randy Langsung keluar dari dalam mobil "Maaf al gue gak bisa pulang bareng, Lain waktu aja yah"ucap (namakamu) "Tapi gue mau ngomong sswatu sama lo. ini serius "balas aldi "Lain waktu kan bisa"bentak randy langsung Mendorong (namakamu) ke dalem mobil. Sementara randy hanya tersenyum sinis. "Gue cinta sama lo (namakamu). Tapi lo gak pernah peka sama perasaan gue"gumannya.. ** Randy memberhentikan mobilnya di pinggir taman kota. Ia menarik paksa lengan (namakamu) . sementara itu kamu hanya meringis. "Duduk"Pinta randdy. (Namakamu) pun duduk "Ada apa?"tanya (namakamu) "Gue cuma mau ngomong serius sama lo dek?"jawab randy. "mau ngomong apa?"tanya kamu lagi "Sebenarnya gue suka sama lo dek gue sayang sama lo. lo mau jadi pacar gue?"tanya randy sambil memegang erat kedua tangan gadis ini. (namakamu) cengo.. ia gak tau harus bilang apa? . di pikirannya saat ini hanya ada Iqbaal. Ia membuka mulutnya dan berkata "......"balas (namakamu) -bersammbung- Maaf jelek. Bukan penulis handal sih Utamakan like and komen. Follow : @rinaj37 Owner : @dyane_puspa
12 months ago
Herp “Sampai jumpa, Nabilah!!” “Sampai jumpa!!” aku melambaikan tanganku pada kedua temanku, Melody dan Cleopatra yang sudah menggandeng kekasih mereka masing-masing, lalu menghela nafas. Hari ini aku pulang sendiri lagi. Biasanya kami bertiga Read more ... selalu pulang bersama karena rumah kami searah. Tapi sejak mereka memiliki kekasih, kami jadi jarang pulang bersama. Mereka sering menyuruhku agar berpacaran dan tidak sekali mereka mengenalkanku pada laki-laki. Tapi aku terlalu malas untuk berpacaran. Entahlah, mungkin belum ada yang membuatku nyaman. Yeah, kalian tahu kenapa? Karena saat berpacaran, pergi kencan, seks itu hal yang sudah biasa. Dan aku yakin, kedua temanku itu sudah pernah melakukannya. Tapi aku ingin melakukannya dengan seseorang yang benar-benar istimewa untukku. ”Meooong…” Suara itu menyadarkanku dari lamunan. Tidak terasa aku sudah berjalan cukup jauh dari sekolah. Kucari-cari di mana suara itu berasal dan kutemukan seekor kucing dengan bulu hitam pekat sedang tergeletak di bawah pohon Akasia besar di tepi jalan. Sepertinya kucing itu sudah tidak punya tenaga. Kuhampiri lalu kuambil. Badannya benar-benar lemas. Tapi hei, mata kucing ini berwarna biru. Sangat keren. Kuputuskan untuk membawanya pulang. Setidaknya aku masih punya teman di rumah. Kunamakan ia ‘Hiru’ karena bulunya yang hitam dan matanya yang berwarna biru. Ah, kucing ini sepertinya benar-benar kelelahan. Sampai di rumah, aku langsung membawanya ke kamar. Kuletakkan ia di atas karpet kamarku lalu memberinya susu. Ia minum dengan lahap. Lalu aku berjalan menuju lemari dan melepas bajuku. Aku merasa agak tidak nyaman saat melepas pakaianku. Kulihat Hiru, ia sedang menatapku, tajam. Ayolah, ia hanya seekor kucing. Kulanjutkan kegiatanku tapi tidak segera berganti pakaian. Aku berjalan menuju cermin besarku dan menatap diriku yang telanjang di sana. Kulihat dari cermin, Hiru masih menatapku. Apa ia berfikir aku ini cantik? Kuraba perut rataku lalu mengelus payudaraku sendiri dan memilin puntingnya. Sebenarnya aku ingin melakukannya. Ingin seseorang menyentuhku seperti ini. Hanya saja aku belum menemukan orang itu. Aku menghela nafas pelan lalu masuk ke dalam kamar mandi. *** Kucing itu ternyata sangat penurut. Sepertinya ia mengerti apa yang kuucapkan. Setiap aku pulang sekolah, ia selalu menyambutku di depan pintu. Ia juga tidak pernah buang kotoran di dalam rumah dan tubuhnya selalu bersih. Ia kucing yang pintar. Sekarang aku tidak sendirian lagi, Hiru selalu menemaniku. Saat makan, nonton tv, belajar, tidur, bahkan mandi. Selama ini aku memang hidup sendiri. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Hidupku dibiayai oleh pamanku yang tinggal di luar negeri. Aku tidak mau ikut mereka ke Amerika jadi aku tinggal sendiri di sini. Itulah sebabnya kenapa aku tidak ingin main-main dalam urusan cinta seperti teman-temanku. Aku tidak ingin merusak hidupku sendiri karena aku sendiri di dunia ini. Tidak akan ada yang menjagaku saat aku sakit, dan tidak akan ada yang menghiburku saat aku terpuruk. Setelah mandi, kupakai baju tidurku yang transparan. Aku tidak pernah memakai dalaman saat di rumah kecuali pada saat-saat tertentu. Aku lebih nyaman seperti itu karena tubuhku terasa bebas oleh baju-baju ketat. Kuambil Hiru yang sedang menjilati bulunya di atas meja belajarku lalu kubawa ke tempat tidur. Aku merebahkan tubuhku di ranjang sambil bersandar pada bantalku. Kuletakkan kucing itu di atas perutku. “Bulumu halus sekali…” kataku sambil mengelus-elus punggungnya. Hiru hanya menatapku dengan mata birunya itu. Lalu ia mengendus-endus bajuku hingga ke putingku. “Aah…” aku mendesah pelan saat ujung hidungnya mengendus-endus putingku yang ada dibalik baju tidurku. Kubiarkan ia bermain-main disana, sementara aku hanya memejamkan mata menikmatinya. Lama-kelamaan aku tertidur. *** “Nabilah, kamu tidak ikut dengan kami nanti?” tanya Melody. “Ada yang ingin berkenalan denganmu lho,” sahut Cleopatra. Aku menoleh dan menatap mereka dengan malas “Siapa?” tanyaku. “Iqbal CJR, dia sangat tampan. Ah, andai saja aku belum punya pacar…” Tuuuk! “AUW!” Cleopatra meringis sambil mengusap-usap keningnya yang baru saja kulempar penghapus. “Kenapa tidak kamu pacari juga dia?!” dengusku. “Kamu tidak mau berkenalan dengannya, hah?” tanya Melody. Aku memalingkan wajahku malas. “Tidak. Aku tidak ingin pergi malam ini,” “Tapi kudengar nanti bulan purnama, pasti terlihat cantik di taman nanti, apalagi ini akhir minggu,” Cleo terus berusaha membujuk. “Benar,” dukung Melody. “Ada film favoriteku, aku harus menontonnya nanti!” sahutku tanpa menoleh. “Tapi...” kata-kata Cleo terputus saat seorang guru memasuki kelas dan mereka segera pindah ke tempat duduknya masing-masing. *** Aku menguap pelan saat film yang kutonton habis. Hiru masih ada dalam dekapanku. Rasanya hangaaaat… tiba-tiba saja aku teringat kata-kata Cleo dan Melody tadi. Malam ini adalah malam purnama, benarkah? Pasti bulan terlihat sangat cantik. Aku beranjak dari sofa dan melirik jam dinding. Sudah jam sebelas malam. Kugendong Hiru dan berjalan menghampiri jendela di kamarku. Tepat saat sinar bulan yang masuk melalui jendela mengenai tubuhku, seperti ada yang meledak di hadapanku. BLAM!!! “Gyaaaaaaaaaaaaa…!!!” aku menjerit sambil memejamkan mata. Kurasakan punggungku membentur lantai dengan keras. Lalu hening. Ada sesuatu di hadapanku, dan dia hidup karena aku dapat mendengar deru nafasnya. Kubuka mataku perlahan dan terbelak. Mata biru itu… Ada seorang laki-laki yang menindih tubuhku. Wajahnya… Apakah dia malaikat yang turun ke bumi? Rambutnya terjuntai berantakan, telinganya lebih panjang seperti kurcaci dan matanya berwarna biru. Sama dengan kucingku. Aku tersentak seketika. Kucingku? Nafas laki-laki itu tersegal dan… oh my god! DIA TIDAK MEMAKAI BAJU!!! “Gyaaaa! Hmmf...” aku menjerit, tapi langsung terputus saat bibirnya membungkam mulutku. Mataku terbelak dan sepertinya jantungku juga sudah berhenti. Ia melepaskan bibirnya sambil menatapku. Aku tidak bisa bergerak. Bahkan untuk berkedip. Sepertinya rohku sudah melayang jauh. “Beri aku waktu sebentar…” bisiknya. Apakah dia manusia? Atau malah siluman? “Akhirnya kau melihatku…” bisiknya sambil tersenyum. Aku mengerjap pelan “Si-siapa kau?” “Kau tidak ingat? Kau selalu memelukku, menggendongku, dan memanggilku dengan nama ‘Hiru’,” Aku terbelalak. “K-kau Hiru? Kucingku? K-kau si-siluman!!!” aku menelan ludahku dengan tubuh gemetar. Ia tertawa kecil. “Kau tahu,” ia mendekatkan bibirnya ke telingaku “... semua yang kau lakukan padaku dan di hadapanku itu membuatku sangat… terangsang! Hhhh…” ia mendesah pelan, membuat mukaku langsung terasa panas. “Saat kau melepas bajumu dihadapanku…” ia menghembuskan nafasnya di leherku, membuat tubuhku semakin menegang. Dan anehnya aku tidak dapat bergerak. Aku tidak bisa berteriak. Suaranya yang sehalus angin seperti menghipnotisku. “Saat kau mengusap payudaramu sendiri…” ia mengecup kulit leherku, membuatku mendongak sambil memejamkan mata. “Uuuugghh…” tanpa sadar aku mendesah pelan saat ada yang mengusap payudaraku lembut. Tanganku mengepal erat, tubuhku menegang. “Saat kau memilin putingmu, hhhh…” “Nghhhh…” nafasku mulai tersengal saat jari itu memilin salah satu putingku dari luar baju tidur transparanku. “Kau membuatku tersiksa, Nabilah Ratna Ayu Azalia…” bisiknya masih sambil mengecupi leherku, membuatku menggeliat di bawahnya. Perutku terasa geli, seperti ada yang menggelitik. “Si-siapa kau… ahhh…” tanyaku dengan susah payah. “Mmmhh…” ia menghisap kulit bahuku, menyingkirkan tali bajuku lalu membuat cupangan disana. “Panggil saja aku… Hiru.” “Hiru... aaahhh!” aku mendesah keras saat tangannya mengusap pahaku. Mengapa tubuhku tidak bisa menolak sentuhannya? Mengapa begitu mudah ia menguasaiku? Dan mengapa aku menyukai sentuhannya? Apakah aku sudah gila? Aku membiarkan siluman menyentuhku. Hiru menurunkan tali bajuku hingga ke bawah payudara lalu menyapukan hidungnya di kedua payudaraku. Menghirup aroma tubuhku dalam-dalam karena tidak ada bra yang menghalangi. Deru nafasnya membuatku bergairah. “H-Hiru… a-apa kau siluman? Oooohh…” aku memekik pelan saat sesuatu yang basah mengusap putingku. Lidahnya. Dan entah sejak kapan tanganku melingkar di lehernya, menyusupkan jari-jariku ke dalam rambut halusnya. Meremasnya perlahan. “Untuk saat ini, ya…” ia menjawab berbisik. “Nghhh… aaahhh…” aku mendesah saat bibirnya melumat putingku lembut. dikulumnya sambil disedot-sedotnya. Melumuri dengan air liurnya dan memainkannya dengan lidahnya. “Uuughh… ssshhh…” aku mendesis pelan. Apakah seks itu senikmat ini? “Tapi kau akan membantuku menjadi manusia, mmmhh…” tambahnya lalu melumat putingku lagi. “Nghhh… aaahh… ba-bagaimana... uughh… caranya?” “Bercintalah denganku,” jawabnya singkat. “Aaahhh…” aku mendesah saat tangannya menyusup dari bawah baju tidurku yang pendek, mengelus pinggangku. “Dan kau tidak bisa menolaknya, karena aku telah memilihmu!!” bisiknya, lalu tiba-tiba menarik tubuhku bangun dan mengangkat pinggangku, otomatis aku melingkarkan kakiku pada pinggangnya. “Aaahhh…” ia mendesah pelan saat merasakan vaginaku yang basah menekan perutnya. Aku tidak pernah memakai dalaman, dan tidak pernah menyangka kalau beberapa hari ini aku tinggal bersama siluman kucing. Dan bahkan aku mengajaknya mandi bersama. Oh tuhan, aku benar-benar gila! “Ngh,” ia membenturkan tubuhku pada dinding, menghimpit tubuhku. Aku menurunkan kakiku lalu ia mengecup bibirku. Kubiarkan baju tidurku itu meluncur turun ke bawah de
12 months ago
Untuk SANG KYAI 1 Pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian Read more ... tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya. Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan wajah biasa, namun memancarkan wibawa yang tiada taranya. Presiden sekalipun akan dibuat tunduk bila berdiri di hadapannya. Di sebelah rumah Sang Kyai ada rumah bambu lagi yang lumayan besar, dindingnya dari kerai, yaitu bambu yang disisik halus kecil-kecil kemudian disusun rapi dengan tambang, sehingga bisa dibuka tutup dengan digulung, dalamnya juga beralaskan bambu seperti di rumah Kyai, nampak banyak orang lelaki tiduran dengan nyenyak. Mereka ada sekitar 20 orang, kesemuanya lelaki. Karena tempat para tamu perempuan ada tempatnya sendiri. Para tamu ini bukanlah orang yang biasa-biasa. Seperti pak Udin, yang seorang tentara yang punya kedudukan di angkatan udara. Pak Yusup yang seorang jaksa dari Jakarta, juga ada para pemilik perusahaan raksasa di Indonesia. Ada lagi yang aku tidak tahu, kata temanku dua orang menteri, seorang duta besar, juga ada artis, tukang cukur rambut, tukang es keliling dan lain-lain, semua tidur sama kedudukannya. Siapakah sebenarnya Sang Kyai, akupun tak tau pasti. Yang ku tau lelaki muda usia itu, sering dipanggil Kyai Lentik, dari ayahnya nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, dari ibunya sampai ke Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Kyai yang tuturnya lembut berkasih sayang kepada siapa saja. Pagi itu seperti biasa, mbok Titing, janda tua penjual sarapan pagi nasi uduk lewat di depan rumah Kyai. Umur tua dan tubuh yang mulai bongkok ditambah rinjing di punggungnya yang penuh dengan nasi uduk bungkus diikat dengan selendang, tangan kanannya menjinjing tas krawangan berisi lauk pauk. Seperti biasa pula, nenek tua itu berhenti di depan pintu Kyai sambil menawarkan dagangannya, sekalipun dia tau bahwa Kyai Lentik tiap hari puasa, nenek itu hanya menunggu Kyai menjawab teriakannya menawarkan dagangannya, meser Kyai? ndak bogah duwit mbok. Dan cuma itu jawaban Kyai, sudah membuat girang bukan main, dan segera berlalu, tersenyum bahagia dan tak sampai setengah jam dagangannya sudah habis ludes dibeli orang. Nenek itu sangat murung, apabila dia menawarkan dagangannya di depan pintu Kyai, tapi Kyai ternyata pergi, itu baginya berarti perjuangan seharian menawarkan dagangan, dan itupun belum tentu habis, itulah tiap pagi yang terjadi di pondok Pacung, lereng gunung putri. Masih banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai. Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada. Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami, tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah, berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan. Nah, pada waktu itu setiap ada yang ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan, dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku, kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga sepertiku. Saat aku menengadahkan wajah entah untuk yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun di depan rumah Kyai. Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih, dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi. Kami semua melongo melihat perempuan itu melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih kusam ringkas membentak, “Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.” “Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan. “ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!” katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah. Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur, houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang menjadi penyakit hati. Tapi para penduduk sekitar juga para tamu yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya kalau Kyai bertarung dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati, gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau, aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum Iqbal ngomong. Begitulah Kyai selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir. Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ke tempat Kyai. Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty, Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu dari Kyai. next part 2
12 months ago
More siapa pacar iqbal sebenarnya posts »

Siapa pacar iqbal sebenarnya news

No news about siapa pacar iqbal sebenarnya

Siapa pacar iqbal sebenarnya videos

No videos about siapa pacar iqbal sebenarnya